ArabicChinese (Simplified)EnglishFrenchGermanIndonesianKorean

Grebek Kupat Hidupkan Tradisi dan Kearifan Lokal di Kota Wisata Batu

April 17, 2024 by  
Filed under Wisata

Share this news

BATU – Kota Wisata Batu menyelenggarakan acara Grebek Kupat sebagai bagian dari perayaan tradisional yang kaya akan makna, berlangsung di Alun- Alun Batu, Rabu sore ( 17/4/2024 ).

Acara gelaran perdana ini  digagas Dinas Pariwisata Batu dan didukung pelaku wisata yang ada. Salah satu elemen yang mencolok dari perayaan ini adalah gunungan setinggi 2 meter yang dibuat dari kupat matang. Gunungan tersebut tidak hanya menjadi simbol keberlimpahan hasil bumi, tetapi juga mencerminkan keberagaman budaya dan kekayaan tradisi lokal.

Gunungan Kupat, dibuat dengan teliti oleh para ahli pembuat kupat.  Gunungan tersebut merupakan karya seni yang memukau. Ditaruh di atas mobil hias, gunungan tersebut menjadi pusat perhatian saat diarak melalui jalanan dari rumah Dinas PJ. Walikota Batu menuju Alun- Alun Kota Batu.

Di belakangnya, terdapat pula gunungan kecil yang dibuat dari berbagai buah-buahan seperti tomat, apel, wortel, dan jeruk. Buah-buahan ini bukan hanya sekadar hiasan, tetapi juga merupakan representasi nyata dari hasil bumi yang melimpah di Kota Wisata Batu.

Tomat, dengan warna merah cerahnya, melambangkan semangat dan keberanian untuk berinovasi dalam mengembangkan pariwisata daerah. Apel, dengan rasa manisnya, menggambarkan keramahan dan kehangatan masyarakat Batu dalam menyambut para wisatawan.

Wortel, yang kaya akan nutrisi, mencerminkan komitmen untuk menjaga keberlangsungan lingkungan dan kesejahteraan masyarakat. Sedangkan jeruk, dengan keasamannya yang menyegarkan, mengingatkan akan pentingnya mempertahankan tradisi dan nilai-nilai budaya dalam menghadapi arus globalisasi.

Kepala Dinas Pariwisata Arief As Sidiq,  ketua Panitia dalam laporannya menyebutkan melalui Grebek Kupat, masyarakat Kota Wisata Batu tidak hanya merayakan keberagaman dan kekayaan alam, tetapi juga menghormati warisan leluhur serta menjaga kelestarian lingkungan.

“Acara ini akan dilangsungkan setiap tahun sebagai agenda rutin setiap memperingati hari lebaran ketujuh atau lebaran ketupat. Tentu akan melibatkan semua komponen masyarakat ” ungkap Arief.

Disebutkan, acara ini menjadi momentum untuk memperkuat rasa kebersamaan dan identitas lokal, sambil tetap terbuka untuk merangkul perubahan dan kemajuan.

Grebek Kupat bukan hanya sekadar acara tahunan, tetapi sebuah perayaan yang menghidupkan tradisi dan kearifan lokal yang tak ternilai harganya.

Sekretaris Daerah yang mewakili PJ.Walikota Batu, Zadim Effisiensi mengapresiasi gagasan menggelar Grebek Kupat sebagai upaya uri-uri budaya. Diharapkan acara budaya ini terus dikembangkan dengan melibatlan semua komponen masyarakat dan dengan persiapan yang matang.

“Acara ini menarik dan sebagai upaya melestarikan atau uri- uri.budaya kearifan lokal. Saya berharap lebih banyak lagi masyarakat yang terlibat sehingga menjadi daya taril wisata ” tandas Zadim.

Grebek kupat berhasil mengundang warga dari berbagai lapisan masyarakat untuk merayakan keberagaman budaya yang dimiliki Kota Batu.

Kupat tumpeng, hidangan khas Jawa Timur yang identik dengan momen-momen spesial, menjadi pusat perhatian dalam acara tersebut.

Dengan paduan rasa yang kaya dan aroma yang menggugah selera, hidangan ini tidak hanya mengundang decak kagum dari para peserta, tetapi juga menyatukan mereka dalam kebersamaan dan kegembiraan.

Grebek Kupat Tumpeng Syawalan” juga menampilkan beragam pertunjukan seni dan budaya lokal. Mulai dari drum band,  musik daerah, hingga prosesi adat Jawa dan doa-doanya ( ujub ).

Yang menarik dalam acara Grebek Kupat adalah rebutan Gunungan Kupat maupun gunungan buah- buahan.

Usai sang Kyai membacakan doa bahkan doa belum selesai masyarakat yang sejak siang berkumpul di Alun- Alun sudah tak sabar lagi, langsung merebut gunungan, suasana jadi ribut saling rebutan.

Khusnul warga asal Kalimantan sedang berlibur menyebutkan dia berebut gunungan buah dan sayur karena ini mendapat berkah dari acara ini dan ungkapan kegembiraan.

“Senang sekali dan saya ingin mendapatkan berkah dari membawh hasil pertanian ini ” ungkapnya sambil membopong hasil rebutannya.

Dalam keramaian di Alun-Alun Kota Batu, berbagai suku, agama, dan budaya berkumpul dalam semangat persaudaraan, mengukuhkan komitmen untuk menjaga harmoni dan toleransi di tengah kehidupan masyarakat yang majemuk.

Rebutan gunungan Kupat dan Buah-buahan menjadi simbol kebersamaan dan keberkahan dalam hidup.

Rebutan Gunungan Kupat dan Buah-buahan bukan hanya sekadar tradisi, tetapi juga representasi dari kearifan lokal dan kebersamaan masyarakat.Tradisi ini telah mengikat generasi-generasi dalam sebuah ikatan yang kuat. Oleh karena itu, penting  untuk terus menjaga dan merayakan warisan budaya ini sebagai bagian dari identitas dan kebanggaan sebagai bangsa.

Melalui “Grebek Kupat Tumpeng Syawalan perdana”, Kota Batu membuktikan dirinya sebagai pusat kegiatan budaya yang bersemangat dan inklusif. (Buang Supeno).


Share this news

Respon Pembaca

Silahkan tulis komentar anda...





Redaksi menerima komentar terkait artikel diatas. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak tidak menampilkan komentar jika mengandung perkataan kasar, menyinggung, mengandung fitnah, tidak etis, atau berbau SARA.