ArabicChinese (Simplified)EnglishFrenchGermanIndonesianKorean

Dampak Pandemi Covid, Nasib Seniman Ludruk RRI Surabaya Menjerit

July 27, 2021 by  
Filed under Religi, Sosial & Budaya

Share this news

MALANG – Nasib para seniman di masa pandemi Corona jauh dari untung. Ibarat sudah jatuh tertimpa tangga, kini nasib seniman mencoba bertahan hidup ketika panggung – panggung hiburan seni nyaris sepi. Seniman yang kerap bikin tertawa kini menjerit merenungi nasib

Koordinator Seniman Ludruk RRI Surabaya Kukuh Setyo Budi menjelaskan, seniman ludruk kini sudah tidak ada kegiatan sama sekali. Mereka hanya di rumah. Apalagi kondisi RRI Surabaya di “ Lockdown “. Praktis tidak ada pekerjaan. Selama ini siaran ludruk yang ada di Radio, hanya memutar rekaman lama dengan mengganti nama saja.

“Maklum tidak ada produksi baru,” Ungkap Kukuh Setyo Budi saat dikonfirmasi, Senin ( 26/7/2021 ).

Disebutkan seniman menjadi salah satu profesi yang terpuruk di tengah pandemi dan larangan berkerumun. Panggung mereka terbiasa menampilkan karya terbaiknya, harus berhenti. Sementara dapur tetap harus mengepul. Bagaimana para seniman Ludruk RRI Surabaya dan seniman lainnya di Tanah Air berjibaku di tengah sepinya kerumunan dan tak adanya panggung tempat pementasan?

Menurut Kukuh, jika ada yang mampu membuat program virtual atau di Youtube bagus. Ttetapi hal itu tidak mudah, perlu biaya dan modal juga dan hasilnya belum tentu dapat dinikmati tergantung berapa jumlah yang melihatnya.

Apapun mereka lakukan, termasuk banting setir, untuk sementara waktu. Sudah hampir 1 tahun lebih mereka harus memutar otak untuk hidup. Apalagi yang hanya menggantungkan hidupnya sebagai seniman. Terpaksa ada yang beralih profesi menjadi ojek online, bagi yang punya kendaraan bermotor. Ada juga yang jualan makanan, alat kesehatan seperti masker dan tissue serta kerja apa saja yang penting bisa untuk menyambung hidup. Kalau yang punya asset terpaksa harus dijualnya.

Diakui Kukuh, Pemprov Jatim pernah memberikan bantuan bagi seniman terdampak pandemi covid, pada bulan puasa lalu tetapi sangat terbatas jumlahnya. Sehingga seniman Ludruk RRI Surabaya tidak mendapat bagian. Tetapi hal itu tidak membuatnya berkecil hati. Sebagai seorang koordinator ludruk RRI Surabaya yang mempunyai anggota 50 sampai 60 seniman tetap melakukan berbagai terobosan, agar anggotanya bisa hidup dalam situasi seperti ini, dengan menggalang kerjasama dengan pihak pengusaha. Namun, hasilnya tetap nihil.

Dikatakan Kukuh, banyak seniman yang meninggal, bukan karena Covid tetapi karena stress, depresi karena tidak bisa manggung lagi. Pentas dan berkarya bagi seniman adalah hidup.

Kukuh berharap kepada Pemerintah untuk memberikan ruang dan waktu bagi seniman untuk bisa pentas, berkarya meskipun dengan aturan yang ketat. Pemerintah bisa memfasilitasi dengan virtual dan lain-lain. Jangan keseniannya yang dimatikan tetapi aturlah penontonnya.

“Misalkan ada warung jual pecel yang ramai pembelinya, masa warungnya yang di robohkan. Pembelinya diatur biar tidak berkerumun. Disitu satgas harus berperan menata bukan malah membongkar,” papar Kukuh Setyo Budi yang alumni Sekolah Menengah Karawitan Indonesia (SMKI) Surabaya yang pernah meraih penata musik terbaik dalam festival Karya Tari Jatim 2014, penata pakeliran terbaik festival dalang bocah Surabaya 2016 dan menjadi duta Indonesia dalam tim kesenian keliling Perancis 1994, Keliling Eropa 2009 dan Tim kesenian keliling Australia 2011

Disebutkan Selama ini pihak RRI dalam setiap pertemuan atau rapat pleno selalu menyampaikan seniman harap bersabar, dalam menghadapi pandemi covid . Tetapi tidak ada solusi bagaimana bisa keluar dari jeratan kesulitan ekonomi para seniman ludruk RRI Surabaya yang terdampak pandemic covid, Padahal kondisi ludruk RRI Surabaya, bagai hidup segan matipun tidak mau. (Buang Supeno)

 


Share this news

Respon Pembaca

Silahkan tulis komentar anda...





Redaksi menerima komentar terkait artikel diatas. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak tidak menampilkan komentar jika mengandung perkataan kasar, menyinggung, mengandung fitnah, tidak etis, atau berbau SARA.