ArabicChinese (Simplified)EnglishFrenchGermanIndonesianKorean

Pelukis Kota Malang Protes Diusir Dari Kawasan  Kayutangan Heritage

July 7, 2023 by  
Filed under Serba-Serbi

Share this news

Lukisan seniman di Kayutangan Heritage

MALANG  – Seniman lukis (perupa) Malang  protes atas sikap Satpol PP Kota Malang yang melakukan operasi dan penggusuran dari areal sepanjang koridor kawasan Kayutangan Heritage.Selasa ( 4/7/ 2023 ) lalu.

Sukrul Amin salah satu pelukis yang kerap mangkal di Kayutangan Heritage menyebutkan seniman lukis tidak bisa disamakan dengan Pedagang Kaki Lima (PKL). Seniman lukis, tarik suara maupun juru foto yang ada di kawasan Heritage tidak mengganggu pejalan kaki atau merusak suasana, justru ikut mendukung keberadaan kawasan heritage.

Dikatakan Sukrul Amin, ia dan rekan-rekannya merasa tersinggung saat dilakukan operasi satpol PP Selasa lalu. Menurutnya, kelompoknya bukan PKL  namun kelompok seniman yang ikut membantu mengembangkan dan mendukung kegiatan yang ada di kawasan Kayutangan Heritage.

“Walikota Setiaji sudah ngomong akan memberi tempat bagi perupah (seniman lukis), kini malah kami diusir, “ ungkap Sukrul, Jumat ( 7/7/2023 ).

Disebutkan, seniman perupa yang ada di kawasan heritage tergabung dalam komunitas namanya “ Sikil“.  Mereka tidak berjualan hanya memaperkan hasil karyanya seperti protret gedung kuno Malang, seni topeng atau bidikan obyek lainnya. Tujuan adalah memperindah dan mempercantik kayutangan heritage, tetapi jika ada yang berminat membeli atau pesan bisa dilakukan dilokasi pameran yang menempati “emper“ toko atau pesan ke pelukisnya langsung dan bisa dikirim dari rumah.

Suasana Kayutangan Heritage Kota Malang

“Kami semata-mata tidak berjualan, anggap emper toko sebagai galeri kami yang tentu sudah ada ijin pemiliknya. Kami tidak mengganggu pejalan kaki atau merusak suasana. Justru kami mempercantik dan memperindah kayutangan heritage,“ lanjutnya Sukrul yang juga pedagang kuliner ini.

Sukrul tidak menyalahkan seutuhnya kepada petugas Satpol PP yang hanya menjalankan perintah atasan, wajar kalau mereka tidak mengerti perbedaan Seniman dengan Pedagang kaki Lima.

“Seni rupa, seni musik awalnya tidak apa-apa, bahkan seniman musik mendapat fasiltas dan bantuan dana operasional dari Pemkot Malang. Seniman lukis tidak iri dan hanya minta kami seniman lukis diberi tempat dan tidak diusir dari galeri jalanan kami, sehingga wisatawan baik dalam maupun manca negara bisa menikmati keindahkan lukisan kami dan pulangnya ada oleh-oleh khas Malang,“ papar Sukrul.

Anggota komunitas lukis “ Sikil : di Kota Malang mencapai 45 -an. Namun yang sering tampil dalam galeri emper toko hanya 5 sampai 10 pelukis saja.

“Kalau kita gelar semua, mulai ujung selatan hingga utara akan penuh dengan lukisan,“ tandas Sukrul.

Sementara pelukis lainya Endik Asto menyebutkan, peminat karya lukisan komunitas “ Sikil “ malah bukan dari Malang, melainkan dari luar kota Malang bahkan ada dari Mancanegara, terutama jenis lukisan banguna kuno tinggal Belanda.

“Kami menggelar hasil karya lukisan ini, membantu Pemda untuk mengenalkan obyek kayu tangan heritage. Banyak wisatawan dalam negeri luar kota Malang bahkan manca negara yang membeli atau memesan lukisan, kebanyak tentang obyek gedung kuno peninggal Belanda yang banyak di Kota Malang. Dengan demikian, kami ini membantu Pemkot Malang dalam mempromosikan Kota Malang,“ papar Endik.

Pemkot Malang gencar menertibkan fasilitas umum yang digunakan sebagai tempat berdagang, para PKL  terutama di sepanjang koridor kawasan Kayutangan Heritage. Hal itu dilalukan merespon keluhan masyarakat terkait gangguan kenyamanan yang disebabkan banyaknya PKL yang berjualan di koridor Kayutangan Heritage. Satpol PP memasang papan larangan PKL untuk berjualan di koridor Kayutangan Heritage dengan tujuan untuk memberdayakan UMKM di dalam kampung.

Papan larangan dipasang  di 6 titik strategis di sepanjang koridor Kayutangan Heritage yakni di depan Telkom ada 2, di bagian tengah 2 papan, kemudian di depan kantor BNI juga 2 papan di sebelah kanan. Setiap hari ada petugas Satpol PP yang melakukan pengawasan secara berkeliling. (buang supeno)


Share this news

Respon Pembaca

Silahkan tulis komentar anda...





Redaksi menerima komentar terkait artikel diatas. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak tidak menampilkan komentar jika mengandung perkataan kasar, menyinggung, mengandung fitnah, tidak etis, atau berbau SARA.