Pemimpin Harus mampu Menjadi Pendengar

July 31, 2026 by  
Filed under Serba-Serbi

Share this news

SAMARINDA – Staf Ahli Gubernur Bidang Ekonomi, Keuangan dan Pembangunan Sekda Provinsi Kalimantan Timur,  Farisya Yana membuka pelatihan Coaching for Leaders di Aula Besar BPSDM Kaltim, Samarinda, (29/7/2026). Kegiatan ini diikuti pejabat Administrator dan Pejabat Fungsional Widyaiswara Ahli Madya dan Ahli Utama serta Bimbingan Teknis bagi Koordinator dan Operator Inovasi Daerah di lingkungan Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur.

Sekretaris Daerah Kalimantan Timur, Sri Wahyuni dalam sambutan tertulis mengingatkan tentang keharusan pemimpin memiliki kemampuan untuk mendengar, membuka ruang diskusi, membangun kepercayaan serta membantu bawahan menemukan solusi dan mengembangkan kepasitas dirinya.

Farisya Yana usai membacakan sambutan tertulis memberikan pembekalan singkat kepada peserta pelatihan tentang pentingnya memahami tiga kontinum psikologis manusia.

Pertama, area minus, yaitu kondisi tidak sehat secara psikologis, seperti trauma atau depresi berat. Kedua, area netral, yaitu kondisi sehat dan normal, namun belum memiliki keterampilan dasar (basic konwledge & skills). Ketiga area plus, yaitu kondisi sehat, sudah memiliki keterampilan, namun membutuhkan optimasi untuk mencapai potensi maksimal.

“Tugas coach bukan menggurui. Ketika melakukan coaching hendaknya menjauhi kebiasaan memberikan nasehat secara langsung,” kata Yana.

Seorang coach dalam melaksanakan coaching disarankan untuk melakukan pendekatan inkuiri, yaitu menggunakan pertanyaan-pertanyaan strategis untuk mengajak coachee berpikir dan menggali dan mengembangkan potensi yang dimiliki.

Sementara itu, Kepala BPSDM Kaltim, Nina Dewi, menyampaikan, peserta pelatihan coaching  for leaders sebanyak 44 orang. Sedangkan untuk Bimtek bagi Koordinator dan operator diikuti oleh 77 orang peserta utusan dari seluruh Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) di lingkungan Pemprov. Kaltim.

Tujuan kedua pelatihan tersebut adalah untuk meningkatkan ekosistem inovasi di Provinsi Kalimantan Timur untuk mendukung percepatan transformasi birokrasi, meningkatkan kompetensi teknis aparatur serta mendorong budaya kerja ASN yang kreatif, inovatif dan adaptif.

Pelatihan Coaching for Leaders dipandu Coach Nasional yang sudah sangat terkenal di bidang peningkatan dan pengembangan budaya kerja bagi Aparatur Sipil Negara (ASN), yaitu Agung Solihin beserta Tim. Materi yang disampaikan selama 16 jam pelajaran (JP), meliputi Culture Design Review, The Important of Coaching, Teknik Coaching, Review Materi H1, Coaching Model, dan Roolplay Coaching.

Sedangkan Bimbingan Teknis bagi Koordinator dan Operator Inovasi Daerah menghadirkan narasumber dari Badan Kebijakan Strategi Dalam Negeri Kemendagri. Materi yang disampaikan tentang (1) Penjelasan Indikator Inovasi; (2)  Teori dan Praktik Menyusun Profil Inovasi.

Narasumber berikutnya dari  Pusat Pembelajaran Strategi Kebijakan Pelayanan Publik Lembaga Administrasi Negara Republik Indonesia (Pusjar SKPP LAN-RI). Materi yang disampaikan tentang Inovasi untuk Pendekatan Pelayanan dan Mempermudah Pekerjaan.

Sedangkan narasumber Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah, mengangkat materi tentang membangun ekosistem inovasi. Adapun materi yang disampaikan oleh narasumber yang berasal dari BPSDM Kaltim adalah tentang Konsep-konsep dasar inovasi. Selama dua hari pelatihan, peserta mendapatkan e-sertifikat sebanyak 17 jam pelajaran (JP).

Jauhar Efendi, Widyaiswara Ahli Utama BPSDM Kaltim sebagai salah satu peserta Coaching for Leader menyampaikan ucapan terima kasih kepada Kepala BPSDM Kaltim yang telah memberikan kesempatan untuk mengikuti pelatihan ini.

“Pelatihan ini sangat bermanfaat bagi saya pribadi ketika menjadi Coach di berbagai pelatihan, karena bisa membedakan kapan harus bertindak sebagai trainer, mentor, konsultan dan sebagai coach,” kata Jauhar.

Sementara itu, Syahrial Hidayat, Pejabat Administrator yang diberi kepercayaan sebagai Kepala Bidang Keperawatan dari Rumah Sakit Abdoel Wahab Sjachranie, Samarinda, mengaku bersyukur mengikuti Pelatihan Coaching for Leader. Hal ini dikarenakan dapat menambah wawasan menjadi lebih luas, terutama dalam membangun budaya organisasi, khususnya melalui metode coaching.

Dengan kekuatan 975 tenaga perawat dan bidan yang menjadi tanggungjawabnya, Syahrial semakin yakin ilmu coaching yang dia peroleh selama dua hari pelatihan akan lebih mudah diterapkan dalam mewujudkan budaya organisasi yang beorientasi pada pelayanan.

“Saya semakin memahami bahwa budaya organisasi yang baik tidak terbentuk secara instan, melainkan lahir dari kebiasaan-kebiasaan baik yang dilakukan setiap hari di lingkungan kerja” ujar Syahrial.

Pelajaran lain yang ia petik adalah perubahan organisasi bukan dikerjakan atau dilakukan oleh satu orang saja, tetapi dilakukan bersama-sama, dengan terus membiasakan perbaikan di setiap proses kerja. (*)


Share this news

Respon Pembaca

Silahkan tulis komentar anda...





Redaksi menerima komentar terkait artikel diatas. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak tidak menampilkan komentar jika mengandung perkataan kasar, menyinggung, mengandung fitnah, tidak etis, atau berbau SARA.

  • vb