Bintang dan Bulan Buktikan Potensi Anak Indonesia Mendunia

July 23, 2026 by  
Filed under Serba-Serbi

SAMARINDA – Tema Hari Anak Nasional (HAN) 2026, “Sayang Anak, Lindungi dan Bangun Masa Depan,” mengingatkan bahwa setiap anak berhak memperoleh kasih sayang, perlindungan, pendidikan yang berkualitas, serta kesempatan untuk mengembangkan seluruh potensi yang dimilikinya. Ketika keluarga, sekolah, dan lingkungan berjalan beriringan, anak-anak Indonesia mampu tumbuh menjadi generasi berkarakter yang siap bersaing di tingkat global.

Semangat itulah yang tercermin dari perjalanan kakak beradik asal Samarinda, Muhammad Bintang Prabu Adinata dan Maharatu Bulan Adinata, yang berhasil mengharumkan nama Indonesia pada Llangollen International Musical Eisteddfod 2026 di Wales, Britania Raya.

Festival yang berlangsung pada 7–12 Juli 2026 di Royal International Pavilion, Llangollen, North Wales, tersebut merupakan salah satu festival musik dan tari internasional paling bergengsi di dunia. Diselenggarakan sejak 1947, ajang yang diikuti peserta dari sekitar 50 negara itu telah menjadi simbol persahabatan antarbangsa melalui seni dan budaya, sekaligus menjadi panggung bagi ribuan seniman dunia untuk memperkenalkan identitas budaya masing-masing.

Bersama Yayasan Kiny Kultura, Bintang dan Bulan menjadi bagian dari 26 anggota Delegasi Indonesia. Dari seluruh peserta, keduanya merupakan satu-satunya delegasi asal Samarinda yang mewakili Kalimantan Timur.

Delegasi Indonesia tampil membawakan kekayaan budaya Nusantara melalui tarian tradisional, musik, serta busana adat yang memikat perhatian penonton internasional. Penampilan tersebut membuahkan hasil membanggakan dengan meraih Juara I Folk Dance Group Category dan Juara III Children Folk Dance Category. Selain membawa pulang piala dan sertifikat, delegasi Indonesia juga menerima penghargaan berupa uang pembinaan dan sponsorship dari penyelenggara.

Selama festival, Bintang dan Bulan turut memperkenalkan budaya Indonesia melalui busana adat Dayak Kalimantan yang dikenakan dalam berbagai penampilan dan kegiatan budaya. Keikutsertaan mereka bukan sekadar mengikuti kompetisi, tetapi juga menjadi bagian dari diplomasi budaya Indonesia, memperkenalkan keberagaman tradisi Nusantara sekaligus membangun persahabatan dengan peserta dari berbagai negara.

Sebagai bagian dari delegasi Indonesia, keduanya tidak hanya tampil pada sesi kompetisi, tetapi juga mengikuti parade budaya, pertunjukan persahabatan, dan berbagai kegiatan pertukaran budaya bersama peserta dari berbagai belahan dunia. Pengalaman tersebut menjadi ruang belajar yang memperkaya wawasan internasional sekaligus menumbuhkan rasa bangga terhadap budaya bangsa.

Di balik keberhasilan tersebut tersimpan perjuangan yang tidak ringan. Seluruh biaya perjalanan ke Britania Raya, mulai dari tiket pesawat, akomodasi, konsumsi, hingga kebutuhan selama mengikuti festival, ditanggung secara mandiri oleh keluarga tanpa dukungan pendanaan dari instansi maupun lembaga pemerintah. Meski demikian, keterbatasan itu tidak menyurutkan langkah mereka untuk membawa Merah Putih berkibar di panggung dunia.

Keberhasilan itu juga tidak diraih secara instan. Selama berbulan-bulan, seluruh anggota delegasi menjalani latihan intensif untuk menyempurnakan teknik tari, kekompakan tim, ekspresi, hingga penguasaan panggung. Disiplin, kerja keras, konsistensi, dan semangat belajar menjadi fondasi yang mengantarkan mereka meraih prestasi di tingkat internasional.

Bagi keluarga, pencapaian tersebut merupakan buah dari proses pembinaan yang dilakukan sejak usia dini. Sang ibu, Nia Nuswantari, secara konsisten mendampingi kedua anaknya mengembangkan bakat di berbagai bidang, mulai dari seni, olahraga, akademik, teknologi, komunikasi, hingga keterampilan hidup. Baginya, tujuan utama bukan sekadar mengejar gelar juara, melainkan membentuk karakter anak yang disiplin, mandiri, kreatif, serta berani menghadapi tantangan.

“Kami tidak pernah menargetkan anak-anak harus menjadi juara. Yang kami tanamkan adalah keberanian untuk mencoba, disiplin menjalani proses, dan terus belajar. Prestasi hanyalah bonus dari usaha dan doa,” ujar Nia.

Perjalanan Muhammad Bintang Prabu Adinata, yang lahir di Samarinda pada 13 Januari 2014, menunjukkan bagaimana pembinaan yang konsisten mampu melahirkan prestasi di berbagai bidang. Kini ia menempuh pendidikan di Thursina Islamic International Boarding School, Malang.

Sebelum mengharumkan nama Indonesia di Wales, Bintang telah menjadi Delegasi UNESCO Asia Youth International Model United Nations (AYIMUN) di Kuala Lumpur, Malaysia, sekaligus meraih penghargaan Best Dress berkat busana adat Dayak Kenyah Kalimantan Timur yang dikenakannya dalam forum internasional tersebut.

Ia juga mengikuti berbagai program pengembangan kepemimpinan dan teknologi di Jepang melalui Schoters by Ruangguru, antara lain di Keio University, Waseda University, dan The Institute of Science Tokyo, dengan materi kepemimpinan, quantum computing, coding, kecerdasan buatan (artificial intelligence), dan machine learning. Di bidang olahraga, Bintang pernah mengikuti pembinaan di Real Madrid Foundation, Cruzeiro FC Brazil Soccer Academy, dan Barça Academy Camps, selain aktif dalam sepak bola, basket, renang, catur, bela diri, serta berbagai cabang olahraga lainnya.

Ketertarikannya juga berkembang pada seni tari, permainan alat musik sape dan drum, penguasaan Bahasa Inggris dan Bahasa Jepang, public speaking melalui Model United Nations, debat, dan pidato. Di luar itu, ia membekali diri dengan berbagai keterampilan hidup seperti fotografi, memasak, baking, barista, pertanian, pertukangan, pelatihan pertolongan pertama (first aid), serta kemampuan di bidang web development, coding, programming, dan desain digital.

Sementara itu, Maharatu Bulan Adinata, yang lahir di Samarinda pada 27 November 2016, saat ini bersekolah di SD Islamic Center Samarinda. Meski usianya masih belia, Bulan telah mengoleksi berbagai prestasi di tingkat daerah, nasional, hingga internasional. Ia pernah menjadi finalis Olimpiade Omni Sains Indonesia (OSI) tingkat kota dan Provinsi Kalimantan Timur, meraih berbagai penghargaan pada kompetisi fashion show, menjadi Juara II Public Speaking Championship, Juara III English News Reading Competition, serta Juara Harapan I Lomba Dongeng Cerita Rakyat Kalimantan Timur tingkat provinsi.

Di bidang seni tari, Bulan juga meraih Bronze Prize pada World Dance Festival Indonesia 2026 sebelum akhirnya mengantarkan Indonesia meraih prestasi di Wales. Kemampuannya terus berkembang melalui seni tari, menyanyi, memainkan drum dan alat musik sape, membatik, serta aktif sebagai master of ceremony (MC), pendongeng, news presenter cilik, dan voice over talent. Selain itu, ia juga mengembangkan keterampilan di bidang fashion design, fotografi, baking, memasak, pottery, merajut, makrame, meronce, bertani, serta mulai diperkenalkan pada coding, desain digital, dan pengembangan web.

Prestasi mereka di Britania Raya tidak berhenti pada kompetisi seni. Selama berada di Inggris, Bintang dan Bulan juga mengikuti Meta Artificial Intelligence Program 2026 yang diselenggarakan oleh Meta untuk memperkenalkan perkembangan teknologi kecerdasan buatan kepada generasi muda. Keduanya juga mengikuti Leadership Program yang diselenggarakan oleh CIE Oxford di Oxford, Inggris, yang membekali peserta dengan wawasan kepemimpinan, komunikasi, kolaborasi, dan perspektif global.

Perjalanan Bintang dan Bulan menunjukkan bahwa pengembangan potensi anak tidak perlu dibatasi hanya pada satu bidang. Keduanya dibimbing untuk bertumbuh secara seimbang melalui seni, akademik, olahraga, teknologi, bahasa asing, kepemimpinan, komunikasi, serta berbagai keterampilan hidup. Pendekatan tersebut tidak hanya melahirkan prestasi, tetapi juga membentuk karakter anak yang mandiri, kreatif, adaptif, dan memiliki kepedulian terhadap budaya serta masyarakat.

Dalam membangun kemampuan komunikasi, Bintang dan Bulan juga mengikuti pelatihan private public speaking di Semesta Academy Samarinda. Direktur sekaligus Co-Founder Semesta Academy, Endro S. Efendi, mengatakan keberhasilan kedua anak tersebut menjadi bukti bahwa kolaborasi antara keluarga, sekolah, dan lingkungan pengembangan karakter mampu melahirkan generasi yang siap bersaing di tingkat internasional.

“Tema Hari Anak Nasional tahun ini mengingatkan bahwa bentuk kasih sayang terbaik kepada anak bukan hanya memenuhi kebutuhan mereka, tetapi juga memberikan ruang untuk belajar, berlatih, membangun karakter, dan mengembangkan potensinya. Prestasi Bintang dan Bulan membuktikan bahwa ketika keluarga, sekolah, dan lembaga pengembangan karakter berjalan beriringan, anak-anak Indonesia mampu tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri, berkarakter, serta siap menjadi warga dunia tanpa kehilangan jati diri sebagai bangsa Indonesia,” ujar Endro.

Kisah Muhammad Bintang Prabu Adinata dan Maharatu Bulan Adinata membuktikan bahwa prestasi anak tidak lahir secara instan. Di balik setiap penghargaan terdapat keluarga yang terus mendampingi, guru yang membimbing, lingkungan yang mendukung, serta kesempatan yang diberikan kepada anak untuk belajar, berlatih, dan berkarya.

Semangat itulah yang sejalan dengan tema Hari Anak Nasional 2026, “Sayang Anak, Lindungi dan Bangun Masa Depan.” Ketika anak diberi ruang untuk bermimpi, mengembangkan potensi, dan mengekspresikan kemampuannya, mereka tidak hanya mampu mengharumkan nama daerah dan bangsa, tetapi juga menjadi duta budaya Indonesia yang membawa pesan persahabatan, kolaborasi, dan harapan di panggung dunia. (*)

MUI Kaltim Waspadai Pelecehan Berkedok Agama

July 16, 2026 by  
Filed under Serba-Serbi

SAMARINDA – Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Kalimantan Timur menerbitkan tausiyah tentang kewaspadaan terhadap modus pelecehan seksual berkedok ajaran agama, sekaligus mengeluarkan fatwa yang menegaskan praktik “nikah batin” atau “nikah Daud” tanpa wali dan saksi adalah haram dan tidak sah menurut syariat Islam.

Ketua MUI Kaltim, KH. Muhammad Rasyid menyampaikan, penerbitan tausiyah tersebut dilatarbelakangi laporan masyarakat yang diterima MUI Kalimantan Timur pada 22 Mei 2026 mengenai dugaan kasus pencabulan di salah satu pondok pesantren di Kalimantan Timur. Dugaan tindak pidana tersebut disebut dilakukan dengan menyalahgunakan ajaran agama serta memanfaatkan relasi guru dan murid. Selain itu, MUI Kaltim juga memperhatikan sejumlah kasus pelecehan seksual serupa yang terjadi di pondok pesantren di luar Kalimantan Timur.

MUI menilai laporan dan berbagai kasus tersebut telah menimbulkan keresahan di tengah masyarakat muslim, mencederai kehormatan lembaga pendidikan agama, serta berpotensi mengurangi kepercayaan umat terhadap institusi pesantren dan para ulama.

“Atas dasar itu, MUI Kalimantan Timur memandang perlu mengeluarkan tausiyah sebagai pedoman bagi masyarakat agar dapat menjalankan ajaran Islam secara benar dan tidak mudah terjebak dalam penyimpangan yang mengatasnamakan agama,” kata KH. Muhammad Rasyid, Rabu (15/07/2026).

Dalam tausiyahnya, MUI mengungkap sejumlah modus yang diduga digunakan pelaku, di antaranya memanfaatkan kepatuhan murid kepada guru, memelintir ayat Al-Qur’an dan hadis untuk membenarkan tindakan maksiat, mencatut nama ulama, meminta “kaffarah” berupa harta maupun kehormatan diri, hingga melakukan praktik “nikah batin” tanpa memenuhi rukun dan syarat sah pernikahan.

Sejalan dengan itu, Komisi Fatwa MUI Kalimantan Timur menerbitkan Fatwa Nomor Kep-025/DP-P/XX/VII/2026 tentang “Nikah Batin” atau “Nikah Daud” (Nikah Tanpa Wali dan/atau Tanpa Saksi). Fatwa tersebut menegaskan baha pernikahan tanpa wali yang sah dan tanpa dua orang saksi adalah batal dan tidak sah menurut syariat Islam.

“MUI juga menegaskan, praktik “nikah batin” hukumnya haram dan batal secara mutlak. Hubungan seksual yang dilakukan atas dasar praktik tersebut dikategorikan sebagai zina. Selain itu, klaim yang menyebut praktik tersebut sah berdasarkan pendapat Imam Dawud az-Zahiri dinyatakan tidak memiliki dasar yang benar dan merupakan pemutarbalikan ajaran agama,” ujarnya.

Melalui tausiyah dan fatwa tersebut, MUI Kalimantan Timur mengimbau masyarakat agar tidak mudah mempercayai ajaran yang membenarkan pelecehan seksual maupun praktik keagamaan yang menyimpang. Masyarakat juga diminta lebih selektif dalam memilih guru agama serta memastikan setiap ajaran memiliki dasar syariat yang benar dan sanad keilmuan yang jelas. (RAD)

Nobar Piala Dunia di Kantor Gubernur Kaltim Disambut Antusias

July 15, 2026 by  
Filed under Serba-Serbi

SAMARINDA – Nonton bareng semifinal Piala Dunia antara Prancis melawan Spanyol yang digelar Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur di halaman Kantor Gubernur, Rabu (15/7/26) dini hari, tak sekadar menjadi ajang menyaksikan pertandingan sepak bola. Kegiatan tersebut juga menjadi wadah mempererat silaturahmi dan kebersamaan antara masyarakat dengan pemerintah.

Ratusan warga dari berbagai kalangan memadati lokasi nobar. Selain masyarakat umum, kegiatan itu juga dihadiri jajaran organisasi perangkat daerah (OPD), pegawai pemerintah, hingga para pencinta olahraga yang datang bersama keluarga maupun rekan-rekannya.

Suasana halaman Kantor Gubernur tampak semarak sejak sebelum pertandingan dimulai. Sorak sorai dan tepuk tangan bergemuruh setiap kali kedua tim menciptakan peluang di depan gawang.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kalimantan Timur, Rasman Rading, mengatakan kegiatan nobar tersebut merupakan bentuk upaya pemerintah menghadirkan hiburan yang dapat dinikmati masyarakat secara bersama-sama sekaligus mempererat kebersamaan antara pemerintah dan warga.

“Kegiatan ini kami selenggarakan agar masyarakat Samarinda memiliki ruang agar menikmati pertandingan sepak bola kelas dunia secara bersama-sama. Kami ingin halaman Kantor Gubernur menjadi tempat yang terbuka bagi masyarakat untuk berkumpul, berinteraksi, sekaligus menikmati hiburan yang positif,” ujarnya.

Menurut Rasman, olahraga, khususnya sepak bola, memiliki kekuatan menyatukan berbagai kalangan tanpa memandang latar belakang. Karena itu, pemerintah berupaya menghadirkan kegiatan yang tidak hanya bersifat seremonial, tetapi juga memberikan manfaat sosial bagi masyarakat.

“Sepak bola adalah olahraga yang mampu menyatukan banyak orang. Melalui kegiatan seperti ini kami berharap semangat kebersamaan, persaudaraan, dan sportivitas terus tumbuh di tengah masyarakat. Kegiatan akan terus dilaksanakan sampai final nanti,” katanya.

Dirinya mengaku pada pertandingan semifinal tersebut dirinya menjagokan Timnas Spanyol untuk melaju ke partai final.

“Semifinal Prancis Vs Spanyol, saya mendukung Spanyol Mudah-mudahan Spanyol bisa tampil maksimal dan lolos ke final bertemu dengan Inggris, dua kekuatan raksasa Liga Dunia, Liga Ingris dan Liga Spanyol yang paling di gandrungi pecinta sepakbola dan kita tunggu siapa yang betul betul menjadi juara Piala Dunia tahun ini,” ucapnya.

Sementara itu, salah seorang warga Samarinda yang mengikuti nobar, Abdul Rahman, mengaku senang dengan inisiatif Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur yang membuka halaman Kantor Gubernur sebagai lokasi penyelenggaraan acara.

Menurutnya, kegiatan tersebut memberikan kesempatan bagi masyarakat agar menikmati pertandingan dalam suasana yang berbeda dibandingkan menonton di rumah.

“Saya sangat senang bisa ikut nonton bareng di halaman Kantor Gubernur. Jarang ada kesempatan seperti ini. Biasanya kami hanya melihat kantor gubernur dari luar, tetapi sekarang bisa datang, berkumpul dengan banyak warga, dan menikmati pertandingan bersama,” katanya.

Ia menilai kegiatan nobar tidak hanya menjadi hiburan bagi masyarakat, tetapi juga mempererat hubungan antarsesama warga yang memiliki kegemaran terhadap sepak bola.

“Suasananya terasa hangat karena semua orang datang dengan semangat yang sama. Walaupun berbeda tim yang didukung, semua tetap saling menghargai dan menikmati pertandingan dengan tertib. Saya berharap kegiatan seperti ini bisa lebih sering diadakan, terutama ketika ada pertandingan besar lainnya,” ujarnya.

Ia pun mengaku menjagokan Timnas Prancis pada laga semifinal tersebut dan berharap tim favoritnya mampu melangkah ke babak final.

“Malam ini saya mendukung Prancis. Mudah-mudahan mereka bisa bermain bagus dan meraih kemenangan sehingga lolos ke final,” tutupnya. (yud)

Pembina PWI Kubar Beri Kenang-kenangan di Pisah Sambut Kapolres Kutai Barat

July 12, 2026 by  
Filed under Serba-Serbi

SENDAWAR – Acara pisah sambut Kapolres Kutai Barat (Kubar) berlangsung khidmat dan penuh kehangatan. Dalam momen serimosional tersebut, dihadiri Bupati Kubar, Frederickk Edwin, Wakil Bupati Kubar H Nanag Adriani, Ketua DPRD Kubar Ridwai dan Sekda Kubar Erik Viktory, serta jajaran tokoh masyarakat diwilayah ini.

Agenda penting bagi masyarakat di Bumi Tana Purai Ngeriman ini dihadiri oleh jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), jajaran pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD), perwakilan dunia usaha, serta tokoh masyarakat setempat, yang berlangsung di Auditorium Aji Tulur Jejangkat (ATJ) Setkab Kubar, Sabtu (11/7/2026) malam.

Tidak hanya itu, kehadiran para pemangku kepentingan, mulai dari jajaran perbankan hingga seluruh jajaran perusahaan daerah, hingga jajaran pimpinan organisasi kemasyarakatan, tokoh adat, tokoh agama, tokoh pemuda, menunjukkan kuatnya sinergi yang telah terbangun dalam menjaga stabilitas keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) di wilayah ini.

Sebagai bentuk penghargaan atas dedikasi dan sinergi yang terjalin baik selama ini, Tokoh Masyarakat sekaligus Pembina Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kubar, Wilhelmus menyerahkan cinderamata khusus kepada Kapolres Kubar yang lama AKBP Bonye Wahyu Wicaksono dengan jabatan barunya sebagai Wadirlantas Polda Banten.

Wilhelmus juga menyerahkan cinderamata kepada Kapolres Kubar yang baru AKBP Haris Kurniawan. Penyerahan kenang-kenangan ini menjadi simbol rasa terimakasih warga dan insan pers atas pengabdian serta kerja keras dalam menjaga keamanan dan ketertiban di wilayah Kutai Barat.

“Hubungan antara kepolisian, masyarakat, dan media di Kubar telah berjalan dengan sangat harmonis. Mereka berharap agar Kapolres yang baru dapat melanjutkan program-program positif yang sudah berjalan, sekaligus mempertahankan sinergi kuat yang telah terbangun demi kemajuan dan kedamaian Bumi Tanaa Purai Ngeriman,” ujar Wilhelmus didampingi Ketua PWI Kubar, Alfian Nur.

AKBP Boney Wahyu Wicaksono menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih yang mendalam kepada seluruh elemen masyarakat dan pemerintah daerah. Menurutnya, dukungan dari semua pihak termasuk sektor swasta dan perbankan sangat membantu kelancaran tugas kepolisian selama ia menjabat.

Sementara itu, Kapolres Kubar yang baru AKBP Haris Kurniawan, menyatakan komitmennya untuk melanjutkan program-program kerja yang sudah berjalan baik. Ia juga menegaskan pentingnya memperkuat kolaborasi dengan Forkopimda, OPD, pelaku usaha, dan para tokoh adat serta tokoh masyarakat demi kemajuan dan kedamaian di Kutai Barat.

Acara yang dihadiri oleh berbagai unsur pimpinan daerah, tokoh adat, dan tamu undangan ini ditutup dengan sesi foto bersama serta ucapan selamat bertugas di tempat yang baru bagi pejabat lama, dan selamat datang bagi Kapolres Kubar yang baru. (*)

Petani Sayur Tanjung Batu Harapkan Bantuan Pemerintah

July 12, 2026 by  
Filed under Serba-Serbi

TANJUNG BATU, KUKAR – Afian (46 tahun), warga RT 003 Desa Tanjung Batu, Kecamatan Tenggarong Seberang, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur (Kaltim) mengandalkan hasil bertani sayur-mayur untuk memenuhi kebutuhan rumah tangganya.

“Saya menggarap lahan seluas seperempat hektare yang dipinjam dari PT PLN. Di sana saya menanam kangkung, kemangi, dan bayam,” ujar Afian saat beristirahat di pondoknya, Sabtu (11/7/2026).

Afian bercerita, sebelumnya ia berkebun kelapa sawit. Namun lahan miliknya sempat dibeli pengusaha tambang, sehingga ia pun beralih usaha menanam padi.

“Ketika menanam padi, kendala terberat muncul saat musim hujan tiba, yaitu banjir yang menyebabkan gagal panen. Dulu daerah ini jarang banjir, namun kini berubah karena banyaknya alih fungsi lahan di wilayah hulu,” tuturnya.

Sebagai petani sayur, ia sangat membutuhkan dukungan berupa bibit unggul, pupuk, dan obat tanaman.

“Biaya pengeluaran sekitar Rp1 juta dengan masa panen sekitar 25 hari, dan hasil yang didapat bisa mencapai Rp3 juta. Penghasilan ini hanya cukup untuk menutupi kebutuhan sehari-hari. Oleh karena itu saya sangat berharap pemerintah dapat memberikan bantuan berupa bibit, pupuk, dan obat tanaman, mengingat harganya yang terus meningkat saat ini,” tambahnya.

Sementara itu, Ketua Kelompok Tani (Poktan) Desa Tanjung Batu, Jumli (52 tahun), menyampaikan, pihaknya telah mengajukan proposal bantuan ke pemerintah desa untuk memenuhi kebutuhan anggotanya.

“Saat ini kami memiliki sekitar 40 orang anggota dan proposal permohonan bantuan sudah diajukan, kini tinggal menunggu persetujuan,” kata Jumli didampingi salah satu anggotanya, Mukri (50 tahun).

Jumli menambahkan, kelompok tani mereka sebelumnya pernah menerima bantuan berupa satu unit mesin rotari (alat pencacah tanah) .

“Alat tersebut kami gunakan secara bergantian. Sebenarnya jika untuk 40 anggota idealnya dibutuhkan 4 unit mesin rotari, namun kami tetap berterima kasih atas bantuan yang sudah diberikan,” pungkasnya. (Misman).

Next Page »

  • vb