ArabicChinese (Simplified)EnglishFrenchGermanIndonesianKorean

Pangeran Harry dan Andi

June 29, 2022 by  
Filed under Opini

Catatan Rizal Effendi

Disaksikan Andi Burhanuddin, Pangeran Dr Harry Bachroel menyerahkan kue HUT Fekon kepada Dr Fitriadi.

SABTU (25/6) lalu saya ke Samarinda menghadiri undangan teman-teman alumni Fakultas Ekonomi Universitas Mulawarman (Fekon Unmul) di Cafe Bagio’s Jl Basuki Rahmat. Saya lulusan Fekon tahun 1986. Nyaris kena DO, tapi akhirnya selamat. Maklum dulu keasyikan dengan aktivitas lain, lupa menyelesaikan kuliah.

Saya senang bisa bertemu teman-teman. Rata-rata ya sudah berumur. Setidaknya kepala lima atau malah di atas 60-an seperti saya. Ada yang sudah janda, ada juga yang jadi duda. “Ada 60-an teman-teman yang sudah  almarhum dan almarhumah,” kata Syaiful M, salah satu penggagas reuni.

Saya jadi teringat rekan yang sudah mendahului. Di antaranya Anjar Rahman, Maruji Hamid (adik Pak Imdaad Hamid), Winaryati alias Wiwien (istri Syaiful M), Soehartono Soetjipto (pernah menjadi ketua DPRD Kaltim), Taufik Rusdi (suami Dwi), Ismail Meje, Wirasni Dahlan (istri mantan sekprov Syaiful Teteng), Evy Bachroel, M Ali (suami Rusdiana), Baharuddin Baraq, Khairil Fahmi (suami Andri Yama) dan lainnya.

Saya senang bisa bertemu Buyung alias Abi Wahyu Hanafi. Dia pensiunan kadis Koperasi Pemkab Kutim. Suka menyanyi. Ada Dr Jonathan Pongtuluran SE, M.Agr, dosen Fekon Unmul. Dia hadir bersama Dr Fitriadi SE, MSi, Dr PS Siburian, SE M.Agr dan Dr Anis Rahma Utari, SE, MSi (mantan dekan Ekonomi dan Bisnis).    Ada Nilam, sahabat istri saya di BCA Samarinda. Ada Nanik dan Ersofyan, pasangan dari Tenggarong yang selalu mesra. Ada Agus Sunda Wiwaha, SE (mantan sekretaris Tenaga Kerja Samarinda), Wahdiah dan M Fadli.

Selain itu ada Dr H Amransyah, SE, MSi, direktur STIE Nusantara Sangatta. Ada Samuel Robert Djukuw, SE MM, mantan kadis Pariwisata Kukar. Ada H Fathul Halim, SE MM, mantan asisten III sekprov Kaltim. Abu Helmi SE, MSi (mantan asisten II sekprov Kaltim), H La Sapada SE (kabag Anggaran Pemprov Kaltim), dan H Asranudin, SE (mantan kadis Koperasi Balikpapan).

Meski reuni alumni Fekon, ada juga yang datang dari fakultas lain. Di antaranya Mamat Permana alias Aji Surya Darma, mantan kadis Pariwisata Kukar. Dia datang seperti penyanyi country. Baju kotak-kotak merah dan topi cowboy. Sempat nyanyi dan bercaca-ria dengan Yama.  Juga Safur alias Syafruddin alumnus Faperta, eks Sekkab Kutim dan Erna Ijab, alumnus Fisipol.

Acara reuni diberi label “Merajut Silaturahmi dalam Kenangan. Kampus Flores Samarinda.” Dulu kampus pusat Unmul di Jl Flores untuk kuliah anak-anak Fekon dan Fakultas Sospol. Ada satu kampus lagi di Sidomulyo untuk Fakultas Kehutanan dan Pertanian.

Kami semua tidak sempat kuliah di kampus baru Gunung Kelua. Rektornya waktu itu Prof Sambas Wirakusumah. Setelah itu Prof. Sutrisno Hadi. Sedang dekan Fekon di antaranya Drs Baharuddin Agie, Drs Waris, Drs Manase Rupang, dan Drs Daniel Sambo.

Sebagai provokator acara, rekan Andi Burhanuddin, yang sekarang tinggal di Makassar. Karena memang itu kampungnya. Andi satu angkatan dengan saya. Dulu seniman dan tidak jelas juntrungannya. Suka baca puisi dan pernah main teater dengan saya, “Api di Azora.” Sutradaranya, Syaiful M, seniman dan Cassanova-nya kampus kala itu.

Tak seorang pun menyangka Andi bisa menjadi orang bank. Apalagi Bank Indonesia (BI). Mulai BI Palu sampai menjadi Deputi Pemimpin BI Kendari. Juga manajer IKU (KPI).  Selama 28 tahun  dia berkarier. Sempat jadi pegawai teladan, mitra teladan dan Bapak Satpam BI. Hebatnya lagi tiba-tiba minta pensiun dini di tahun 2010. Alasannya, karena merasa banyak mimpi belum terwujud. Sepertinya idealisme. Tapi bisa jadi karena sudah mapan juga. He he

Meski jadi orang bank, semangat senimannya tetap terjaga. Dia menulis novel judulnya “Bangkir.” Juga membuat buku motivasi berjudul “The Power of Your Dreams,” yang best seller di tahun 2012. Karena banyaknya permintaan sempat tiga kali cetak. Kini bersama Lembaga Masdaeng Communication, dia memberikan pelatihan kepada BPD-BPD. Termasuk kepada BPD Kaltimtara, ketika dia di Samarinda kemarin. Sambil nyelam minum air. Jadi honornya bisa bayar tiket dan nginap. Dalam istilah bank dan teori ekonomi, itu namanya “break even point (BEP).”

Andi menjadi inspirasi hidup yang menarik. Dari seniman yang acak-acakan menjadi orang bank yang tertib dan profesional. Bahkan bisa menyandingkan dua profesi yang jauh bumi dari langit. Sesuatu yang luar biasa.

Ada kata-kata motivasi dari dia, yang sangat inspiratif. “Jangan pernah takut untuk menjadi hitam ataupun putih.  Jangan takut kehilangan warna. Jika itu pilihan kebaikan.”

Selain Andi, yang menarik perhatian juga kehadiran Harry Bachroel lengkapnya Dr H Aji Harry Bachroel, SE, MM bersama istrinya Dayang Telchief Suryani. Dia lebih senior dari saya.   Kariernya di pemerintahan cukup baik. Pernah menjadi sekretaris daerah (Sekda) Kabupaten Kutai tahun 2013, di era kepemimpinan Bupati Rita Widyasari

Karena Harry keluarga bangsawan Kesultanan Kutai, dia sempat diangkat menjadi Menteri Sekretaris Kedaton Kutai Kertanegara Ing Martadipura. Diberi gelar Pangeran Harry Gondo Prawiro. Sedang istrinya bergelar Raden Putrowati. Dia bertugas di zaman Sultan Haji Adji Mohamad  Salehuddin II.

Sewaktu  menjadi wali kota Balikpapan tahun 2012, saya pernah diberi gelar oleh Sultan Salehudin II. Gelar saya Raden Nata Praja Anum. Saya juga sempat bertemu sultan sekarang, Adji Muhammad Arifin, Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura XXI.

Meski Harry terutama istrinya lebih banyak duduk di kursi roda, tapi dia sangat semangat di arena reuni. Salah satu penggagasnya juga. Dia sempat bernyanyi, yang memang salah satu hobby-nya. Dia sudah pernah menerbitkan beberapa album lagu. Mulai di kampus, dia memang sering tampil menjadi penari Kutai dan penyanyi. Sering terlibat dalam berbagai kegiatan kesenian kampus.

Saya sempat diberinya Majalah Warisan Budaya Nusantara terbitan Jakarta. Kebetulan laporan utama dan sampul mukanya foto Pangeran Harry Gondo Prawiro. Ada delapan halaman isinya tentang Pangeran Harry berikut foto-fotonya. Ada bersama keluarga dan juga dengan Sultan Kutai. Juga dengan Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono dan Presiden Jokowi.

“Sekarang saya aktif sebagai penjaga seni dan budaya Kutai.  Budaya kepemimpinan Kutai Ing Martadipura tetap harus dipelihara baik untuk kepentingan menjaga adat istiadat, juga untuk kepentingan ekonomi dan pariwisata,” katanya bersemangat.

Bicara soal Kutai, saya jadi teringat “dingsanak” saya, H Zairin Fauzi, adiknya Wirasni Dahlan alias Kak Wiwi. Saya sama-sama waktu SMEA.  Ayahandanya adalah Drs Achmad Dahlan, bupati Kutai (1965-1975). Kalau lagi pesta Erau, saya tidur di rumah bupati. Saya mengagumi tari ganjar ganjur di Kedaton, yang pernah juga dibawakan oleh Pangeran Harry. Saya juga suka nasi bekepor-nya bersama sambal raja.

Zairin yang tinggal di Jakarta baru pulang ke Samarinda. Adiknya, Dr Erwin Resmawan Dahlan MSi, dosen Fisipol Unmul meninggal karena stroke.

Dalam acara reuni, saya sempat didaulat menyanyi. Padahal saya lebih suka bercerita humor. Untunglah bisa lulus menyanyikan lagu Anji, “Menunggu Kamu.” Meski tak selalu enak didengar. Saya lebih suka cerita-cerita yang membuat rekan-rekan tertawa segar. “Wah, Pak Rizal berhenti jadi wali kota alih profesi ya? Sekarang jadi stand up comedy,” kata teman-teman.

Tidak puas di Cafe Bagio’s, sebagian bergeser ke Warung Kong Jie di Citra Niaga. Saya ikut bergabung karena di sana ada wadai kesukaan saya, lempeng, yang dibuat dari tepung dan pisang mahuli atau pisang kepok. Di Balikpapan belum ada café yang jualan lempeng. Padahal bikinnya sangat mudah.

Mereka tidak sadar sampai sore di sana. Mendengarkan cerita lucu macam-macam dari saya. Termasuk setengah berbau he ….he. Selain melepas kangen, saya juga berkepentingan dengan mereka. Maklum saya perlu dukungan karena akan mencalonkan diri menjadi anggota DPR RI pada Pemilu 2024. “Oh jangan khawatir.  Kita semua siap jadi tim sukses gratis,” kata Syaiful menyemangati saya.(*)

Jadi Mabes Polri Kedua

June 27, 2022 by  
Filed under Opini

Catatan Rizal Effendi

Kapolri Jenderal Pol Listyo Sigit Prabowo bersama Gubernur Isran Noor, Kapolda Kaltim dan Bupati PPU Hamdam

JADI polisi sekarang benar-benar bukan polisi tidur. Sebab, kerjanya hampir full 24 jam. Hampir tak pernah tidur. Bukan saja sibuk menjalankan tugas pokok, tapi tugas-tugas baru yang unik dan khas. Misalnya dalam penanganan Covid-19. Tidak ada seorang pun membayangkan, tugas polisi ikut menangani Covid. Sangat aktif lagi terutama mencari dan memvaksin warga.

Suasana seperti inilah yang dihadapi polisi Indonesia menyambut hari jadinya ke-76, Hari Bhayangkara pada tanggal 1 Juli 2022. Sibuk dan makin luas tugas mengabdi untuk bangsa. “Ini saatnya kita menjadi polisi beneran. Betul, ibaratnya kita tak bisa tidur,” kata seorang polisi kepada saya.

Karena tugas polisi yang makin luas  dan dinamis itu, maka tema HUT ke-76 Bhayangkara  tahun ini adalah “Polri yang presisi mendukung pemulihan ekonomi dan reformasi struktural untuk mewujudkan Indonesia Tangguh-Indonesia Tumbuh.”

Presisi adalah visi Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo. Itu akronim dari kata prediktif, responsibilitas, transparansi, dan berkeadilan. Maksudnya, biar pelayanan kepolisian lebih terintegrasi, modern, mudah, dan cepat.

Dengan Presisi, Listyo semakin tegas terhadap jajarannya yang tidak bisa mengemban tugas Polri dengan baik. “Kalau tidak mampu membersihkan ekor, maka kepalanya akan saya potong. Ini semua untuk kebaikan organisasi,” kata-katanya yang terkenal.

Memang tidak gampang mewujudkan visi Kapolri. Perlu kerja keras dan konsistensi. Apalagi di tengah tantangan zaman yang sangat kompleks. “Tantangan tugas Polri ke depan memang semakin berat dan kompleks, tapi kita tak boleh gentar dan harus bisa mengatasinya,” kata Kapolda Kaltim Irjen Pol Drs Imam Sugianto, MSi membuka rakernis Polda beberapa waktu lalu.

Tugas jajaran Polda Kaltim pada era Imam sangatlah prestisius. Selain tugas-tugas umum, Imam juga mengemban amanat menjaga dan mengamankan kelancaran pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN), di Kecamatan Sepaku, Penajam Paser Utara (PPU). Ada yang bilang Markas Polda Kaltim itu seperti Mabes Polri kedua karena seringnya menjaga Presiden Jokowi ke lokasi IKN. Apalagi nantinya Mabes Polri juga boyongan ke Kaltim.

Saya tak sempat bertemu Irjen Imam dalam kedinasan. Ketika dia dilantik menjadi Kapolda Kaltim pada akhir Desember 2021, saya sudah tidak bertugas lagi sebagai wali kota. Tapi teman-teman wartawan Kaltim merasa surprised dengan Imam karena dia secara khusus datang ke markas Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kaltim di Samarinda.

Menurut Ketua PWI Kaltim Endro S Efendi, Kapolda datang ke PWI rasanya baru pertama kali terjadi. Itu pertanda Kapolda sangat menghargai tugas-tugas awak media. “Bagi saya wartawan itu sangat penting, mari kita bersama-sama membangun narasi positif untuk membangun keamanan dan ketertiban masyarakat,” kata Imam, yang pernah bertugas sebagai ajudan Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono.

Saya dulu berjuang dalam penanganan Covid bersama Kapolresta Balikpapan Kombes Pol Turmudi. Dia  sekarang pindah ke Polda NTB. Sempat mengarang lagu Covid. Kami sempat mendampingi Kapolda Irjen Pol Herry Rudolf Nahak membagi-bagi masker, vaksinasi, dan bantuan serta operasi Prokes di Pasar Balikpapan Permai dan berbagai tempat.  Saya sempat bertemu pengganti Turmudi, Kombes Pol Thirdy Hadmiarso, yang juga semangat menjaga Balikpapan.

Berdasarkan UU Nomor 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia, tugas pokok Polri ada tiga. Memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat. Menegakkan hukum. Dan memberikan perlindungan, pengayoman dan pelayanan kepada masyarakat.

Ketika wabah Covid merajalela dalam dua tahun terakhir, Polri tampil luar biasa dengan mengetengahkan aspek pelayanan kepada masyarakat. Saya dan masyarakat menyaksikan Kapolri Listyo Sigit dan seluruh jajarannya jatuh bangun menyelamatkan warga. “Kita sendiri hampir lupa dengan keluarga sendiri,” kata beberapa polisi.

Presiden Jokowi sangat mengapresiasi peran Polri selama pandemi. “Saya menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya atas kerja keras jajaran Polri dalam menangani pandemi Covid-19,” kata Presiden pada HUT ke-75 Bhayangkara di Istana Negara tahun lalu.

“Dengan mengerahkan kekuatannya mulai Polda, Polres sampai Polsek, Polri sangat sukses membantu penanganan Covid-19,” kata Hery Sucipto, direktur eksekutif Moya Institute.

Berkat perannya yang luar biasa itu, hasil survei Lembaga Survei Indikator Politik Indonesia yang dirilis November tahun lalu mengungkapkan kepercayaan publik terhadap Polri mencapai angka 80,2 persen. Itu angka tertinggi sepanjang delapan tahun terakhir. Data tahun 2020 misalnya, tingkat kepercayaan publik baru 72 persen. Suatu kenaikan yang sangat menakjubkan.

Wabah Covid-19 sudah mulai mereda. Berbagai pembatasan mulai dilonggarkan. Presiden Jokowi mulai mengarahkan seluruh kekuatan untuk pemulihan ekonomi dan kehidupan sosial masyarakat. Itu sebabnya tema HUT Bhayangkara tahun ini mengarah ke sana.

Tanggal 1 Juli sebagai Hari Bhayangkara atau hari Kepolisian Nasional diambil momentumnya ketika dikeluarkannya Peraturan Presiden No 11 Tahun 1946 oleh Presiden Soekarno.

Pada awalnya kepolisian berada dalam lingkungan Kementerian Dalam Negeri dengan nama Djawatan Kepolisian Negara. Pada tanggal 1 Juli 1946 begitu keluar Perpres No 11, Djawatan Kepolisian bertanggung jawab langsung kepada Presiden.

Sejatinya pada 1 Juli 1946 bukanlah pertama kalinya terbentuk korps polisi di Indonesia, melainkan penyatuan warga Bhayangkara yang berada di daerah-daerah menjadi satu kesatuan Kepolisian Republik Indonesia. Perjalanan kepolisian di Indonesia telah berlangsung sejak zaman pemerintah kolonial Belanda.

Nama Bhayangkara adalah istilah yang digunakan Patih Gadjah Mada dari Majapahit untuk menamai pasukan keamanan, yang ditugaskan menjaga raja dan kerajaan kala itu. Karena itu patung Gadjah Mada dibangun di depan Mabes Polri.

Selama 76 tahun, jabatan Kapolri sudah berganti 26 kali. Mulai Komjen Pol Raden Said Soekanto Tjokrodiatmodjo sebagai kapolri pertama tahun 1945 sampai Jenderal Pol Listyo Sigit Prabowo, yang mulai menjabat awal Januari 2021 sampai sekarang.

Tetap banyak harapan warga kepada Polri, baik dalam penegakan hukum maupun sebagai pengayom dan pelayan masyarakat. Soal pengamanan distribusi minyak goreng, BBM, pimjol, penipuan investasi sampai soal pengeksploitasian sumber daya alam termasuk batu bara. Juga yang tidak gampang mengamankan Pemilu 2024. Maklum Pemilu kali ini untuk pertama kali serentak, mulai pemilihan presiden, pemilihan legislatif sampai pemilihan kepala daerah.

Ketika memperingati Hari Bhayangkara, saya jadi teringat “utang” saya kepada Polresta Balikpapan. Pemerintah Kota  waktu itu  berkomitmen ikut membantu membangun Markas Polresta Balikpapan di Jl Jend Sudirman secara bertahap. Juga Markas Kodim 0905 yang sudah selesai, menyusul Kantor Kejaksaan Negeri.

Pembangunan dirancang sejak Kapolresta Balikpapan Kombes Jeffri Dian Juniarta,  Kombes  Wiwin Firta  dan Kombes Pol Turmudi. Insyaallah  pada era Thirdy sekarang dengan tetap mendapat dukungan dari Pemkot, Markas Polresta Balikpapan segera bisa rampung. Biar polisi di kota ini bisa bekerja lebih maksimal lagi. Selamat Hari Bhayangkara. Maju terus mengabdi untuk bangsa.(@@@@@)

Tanggal 29 Ke-29

June 26, 2022 by  
Filed under Opini

Catatan Rizal Effendi

JUDUL  tulisan saya agak unik. Tanggal 29 ke-29.  Maksudnya  tanggal  29 Juni 2022. Pada tanggal itu kebetulan  kita memperingati Hari Keluarga Nasional (Harganas) ke-29. Sepertinya jadi angka atau nomor cantik. 29 – 29.  Dalam numerologi, angka 29 itu termasuk angka keberuntungan. Mudah-mudahan saja Harganas tahun ini membawa keberuntungan bagi keluarga kita semua, setelah dua tahun  dihantam wabah Covid-19.

Banyak warga masyarakat yang kehilangan anggota keluarga  mereka akibat Covid-19. Berdasarkan catatan  terakhir, ada 6 juta orang di Indonesia yang terpapar dan 157 ribu meninggal dunia. Banyak ibu yang berstatus janda, dan banyak anak yang menjadi yatim atau yatim piatu.

Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil secara khusus mengambil anak angkat, di mana kedua orangtuanya meninggal dunia akibat Covid.   Sang anak masih berusia 2 tahun bernama Arkana Aidan Misbach. Cahaya yang menerangi dunia.  Arkana sekarang menjadi cahaya bagi Emil dan istrinya, Atalia Praratya menyusul terjadinya musibah yang menimpa anak sulungnya, Emmeril Kahn Mumtadz.

Peringatan Harganas sudah dilaksanakan sejak 29 Juni 1993. Kemudian diperkuat lagi melalui Keputusan Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono No 39 Tahun 2014.

Ada dua hal melatari ditetapkannya peringatan Harganas. Pertama, berkaitan dengan sejarah perjuangan bangsa. Seminggu setelah tanggal 22 Juni 1949, di mana Belanda akhirnya menyerahkan kedaulatan Bangsa Indonesia secara utuh, maka para pejuang kita baru bisa kembali ke rumah masing-masing untuk berkumpul dengan keluarga.

Suasana itu dirasakan para pejuang dan keluarga sesuatu yang sangat istimewa  dan  penuh sukacita. Walau ada juga yang bersedih karena sang ayah yang ditunggu tidak kembali. Dia gugur di medan perang demi membela bangsanya.

Kedua, tanggal 29 Juni bertepatan dengan dicanangkannya Gerakan Keluarga Berencana (KB) Nasional atau hari kebangkitan keluarga Indonesia. Tepatnya dicanangkan Presiden Soeharto pada tanggal 29 Juni 1970. Berkat Gerakan KB yang dahsyat itu, jumlah keluarga di Indonesia bisa dikelola dengan baik. “Dua anak cukup.” Begitu semboyannya waktu itu. Dan Indonesia berhasil meraih penghargaan UN Population Award dari PBB.

Penggagas Harganas adalah Prof Dr Haryono Suyono, kepala Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional  (BKKBN) pertama yang sangat populer pada tahun 1983. Dia juga konseptor Posyandu yang awalnya tempat konsultasi KB (Pos KB).  Lagu KB karangan Mochtar Embut sangat populer. “Keluarga Berencana sudah waktunya……” Pada era Presiden BJ Habibie, Haryono diangkat  sebagai menteri koordinator bidang kesejahteraan rakyat (menko kesra) dalam Kabinet Reformasi Pembangunan.

Tema Harganas tahun ini tidak terlalu jauh bergeser dari tahun sebelumnya. Kalau tahun lalu  “Keluarga Keren Cegah Stunting,” maka tahun ini mengangkat tema “Ayo Cegah Stunting Agar Keluarga Bebas Stunting.” Itu menunjukkan bahwa kita semua harus benar-benar serius dan peduli dengan masalah stunting karena sangat merugikan kualitas anak bangsa di masa mendatang.

Gubernur Kaltim Dr Isran Noor, seperti pernah saya tulis,  sering mengawali sambutannya dalam berbagai acara dengan canda soal stunting. Sambil menurunkan tiang mikrofon, dia bilang:  “Susah juga kalau jadi orang stunting.” Undangan tentu tertawa. Tapi di balik canda itu, sebenarnya Gubernur ingin mengajak masyarakat agar memperhatikan benar-benar kasus stunting di tengah lingkungan atau keluarga kita.

Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak balita (bayi di bawah 5 tahun) akibat o kekurangan gizi kronis sehingga anak tidak tumbuh atau terlalu pendek untuk usianya.

Bagaimana kita tahu anak masuk kategori stunting? Lihat saja apakah pertumbuhannya melambat. Wajah lebih muda dari anak seusianya. Pertumbuhan gigi terlambat. Kemampuan fokus dan memori belajarnya tidak terlalu baik. Biasanya pada usia 8 – 10 tahun dia lebih pendiam. Tidak banyak melakukan kontak mata terhadap orang di sekitarnya.

Ada anjuran untuk mengurangi risiko anak mengalami stunting sejak masa kehamilan sang ibu.  Di antaranya kita harus memenuhi kebutuhan nutrisinya. Lakukan pemeriksaan kandungan secara rutin. Terapkan perilaku hidup bersih dan sehat. Hindari paparan asap rokok. Lalu berolahragalah secara rutin.

Indonesia masih memiliki angka prevalensi stunting cukup tinggi, yakni 24,4 persen. Padahal WHO meminta di bawah 20 persen. Bahkan Wapres Ma’ruf Amin memasang target turun menjadi 14 persen pada 2024. Ini akibat tingginya angka anemia dan kurang gizi pada remaja putri sebelum nikah.  Sehingga pada saat hamil kemudian menghasilkan anak stunting.

Menurut Kepala BKKBN Dr (HC) dr Hasto Wardoyo, SP.OG berdasarkan  Survei Kementerian Kesehatan masih terdapat remaja putri usia 15 – 19 tahun dengan kondisi berisiko kurang energi kronik sebesar 36,3 persen. Wanita usia subur 15 – 49 tahun dengan kondisi yang sama 33,5 persen dan mengalami anemia sebesar 37,1 persen.

Saya kenal baik dengan dr Hasto. Sebelumnya dia menjadi bupati Kulonprogo (2011 – 2019) dengan berbagai prestasi. Saya sempat ke sana. Diberi minuman air kemasan bermerek AirKu (Air Kulonprogo), produksi Pak Bupati. Supaya warganya tak beli air kemasan dari luar. Dan dia pernah bertugas di Kaltim. Menjadi kepala Puskesmas Kahala dan Melak, Kukar. Juga di Lok Tuan Bontang.

Menurut dr Hasto, sangat penting inisiasi program wajib pendampingan, konseling, dan pemeriksaan tinggi serta berat badan bagi wanita yang akan menikah. Biar bisa dilakukan antisipasi jika sudah menikah dan hamil. Sekarang ini ada 200 ribu Tim Pendamping Keluarga (TPK) terdiri bidan desa, kader PKK dan KB, yang siap membantu.

Dalam keterangan terpisah, Ketua Umum Ikatan Bidan Indonesia (IBI)  Dr Emi Nurjasmi, M.Kes menyatakan 3.000 bidan yang tersebar di seluruh Indonesia siap mendukung upaya pengentasan stunting.

Dikatakannya, ada tiga strategi pengentasan kasus stunting di Indonesia. Selain pendekatan pendampingan remaja sebelum menikah, pendampingan ibu saat hamil dan pendampingan saat lahir dan usia dua tahun.

Puncak Perayaan Harganas akan berlangsung di Medan, Sumatera Utara. Tadinya tepat dilaksanakan 29 Juni,  tetapi karena Presiden Jokowi masih bertugas ke luar negeri, maka diundur tanggal 7 Juli. Meskipun begitu, tanggal 29 Juni akan tetap dilaksanakan Apel Siaga Hari Keluarga Nasional serentak seluruh Indonesia di lingkungan BKKBN.

Menurut Deputi Bidang Keluarga Sejahtera dan Pemberdayaan Keluarga BKKBN Nopian Andusti, ada empat kegiatan unggulan yang telah diusung BKKBN dalam acara Harganas tahun ini. Yakni Bapak Asuh Anak Stunting, Sepekan Elsimil (Elektronik Siap Nikah dan Hamil), Semarak Kampung KB, dan Pelayanan KB Serentak Sejuta Akseptor (PSA).

Ada cerita duka tentang Rifka Dina Aulia. Nasibnya tidak semujur Arkana yang diasuh keluarga Ridwan Kamil. Anak perempuan berusia 7 tahun ini juga yatim piatu. Ayah ibunya sudah meninggal. Arkana sehat, tapi Rifka yang tinggal di Dusun Krajan, Probolinggo, Jatim ini dalam keadaan lemah karena mengalami gizi buruk dan stunting. Dia hanya terbaring di gubuk yang reyot.

Nenek dan pamannya yang mengasuh tak mampu membiayai pengobatannya. Kartu Indonesia Sehat (KIS) yang dimiliki juga tak bisa dimanfaatkan secara maksimal. “Kami ingin Rifka sembuh, tersenyum dan bisa bersekolah bersama teman-temannya,” kata sang paman pilu ditayangkan Kompas.TV.

Coba kita cermati lingkungan di sekitar kita. Bisa jadi banyak Rifka lain yang nasibnya juga seperti itu. Stunting memang harus kita entaskan. Itu baru Harganas punya arti. Tidak sekadar kegiatan, yang besoknya sudah hilang tanpa bekas.@@@@@

Gunung Bayan, Datuk, dan H Asfia

June 26, 2022 by  
Filed under Opini

Catatan Rizal Effendi

GUNUNG BAYAN sempat didemo. Itu gara-gara berita tentang perusahaan itu memberi bantuan dana pendidikan atau beasiswa kepada perguruan tinggi (PT) di luar Kaltim sebesar Rp 500 miliar. Tentu saja menimbulkan kecemburuan. Tapi belakangan isu Rp 500 miliar itu tidak terlalu tepat. Karena ternyata jumlahnya Rp 200 miliar. Disalurkan ke beberapa PT. Apalagi dana yang diberikan adalah dana pribadi owner, bukan perusahaan.

Belakangan diketahui juga regulasi program kepedulian sosial atau CSR masih lemah. Karena tidak cukup aturan turunannya. Karena itu Gubernur Kaltim Isran Noor mengeluarkan Pergub untuk memberikan panduan, sehingga tidak terjadi lagi kesimpangsiuran dalam penerapannya di kemudian hari.

Terlepas soal dana CSR yang menghebohkan itu, Gunung Bayan saat ini memang salah satu perusahaan tambang batu bara terbesar di Kaltim bahkan di Indonesia. Saking besarnya, sang pemilik saham terbesar, Datuk Dr Low Tuck Kwong disebut Majalah Forbes sebagai salah satu dari 10 orang terkaya di Indonesia. Total kekayaannya mencapai Rp 30 triliun lebih atau 3 kali APBD Kaltim.

Datuk aslinya kelahiran Singapura, 17 April 1948. Berarti usianya sudah 74 tahun. Pada tahun 1972, saat berusia 24 tahun, dia memutuskan pindah ke Indonesia. Mulanya dia merintis usaha konstruksi seperti bisnis sang ayah, Low Sum di Singapura.

Ia membuat perusahaan konstruksi yang khusus menangani pekerjaan umum, konstruksi bawah tanah hingga konstruksi bawah laut. Perusahaan konstruksi sipil ini kemudian mendapat kontrak batu bara pada tahun 1988.

Sejalan dengan perkembangan usahanya, Datuk memutuskan berpindah kewarganegaraan dari warga negara Singapura menjadi  warga negara Indonesia (WNI) pada tahun 1992.

Datuk Low Tuck Kwong dianugerahi gelar Doktor HC (honoris causa) dari Universitas Notre Dame of Dadiangas, Filipina pada tanggal 17 Maret 2012 dan memiliki diploma di bidang teknik sipil (Civil Engineering) dari Japan Institute.

Ketika Pak Dahlan Iskan melakukan perjalanan ke Tabang, Datuk menerima langsung bersama Pak Lim. Dia memanggil Pak Dahlan sebagai Pak Menteri. Mungkin teringat waktu Pak Dahlan menjadi menteri BUMN.

Saya hanya satu dua kali saja pernah bertemu Datuk. Yang saya ingat pada acara HUT Kota, saya atas nama Pemerintah Kota memberikan penghargaan atas dedikasi dan pengabdiannya mengembangkan usaha  di Kaltim, khususnya di Balikpapan.

Nama Gunung Bayan memang sudah terlalu populer. Berawal ketika Datuk mengakuisisi perusahaan tambang PT Gunung Bayan Pratamacoal dan PT Dermaga Perkasapratama di tahun 1997. Setahun kemudian Datuk mengoperasikan terminal batu bara terbesar di Teluk Balikpapan. Saya pernah meninjau ke sana.

Dengan mengakuisisi sejumlah konsesi baru, Datuk membentuk perusahaan induk, yang belakangan dikenal sebagai  PT Bayan Resources Tbk (BYAN). Datuk bertindak sebagai direktur utama dengan didampingi 8 direktur. Salah satunya Pak Lim, lengkapnya Lim Chai Hock, yang banyak berada di Kaltim.

Sewaktu saya masih wali kota, saya sering bertemu Pak Lim berkaitan kerjasama pembangunan power plant dengan Perusda Pemkot, meneruskan apa yang sudah dirintis Pak Imdaad Hamid, wali kota sebelumnya. Sayang kerjasama itu putus di kemudian hari.

Dalam rilis resminya, Bayan Group mengklaim sebagai inovator di bidang industri pertambangan batu bara, yang terus mengembangkan teknologi baru sehingga mengukuhkan posisinya sebagai salah satu produsen batu bara berbiaya terendah di Indonesia.

Menurut laman resmi perusahaan, Bayan Resources memiliki lima kontrak batu bara dengan 16 izin usaha pertambangan (IUP) seluas 126 ribu hektare di Kaltim dan Kalsel. Saat ini, konsesi tersebut dibagi menjadi 4 proyek pertambangan aktif.

Ada tambang Teguh Sinar Abadi atau Firman Ketaun Perkasa (FKP) di Kutai Barat dengan produksi 3 juta ton setahun. Tambang Perkasa Inakakerta di Kutai Timur dengan produksi 1-2 juta ton setahun. Ada tambang Tabang/Pakar di Kutai Kartanegara yang produksinya akan ditingkatkan menjadi 50 juta ton per tahun. Terakhir tambang Wahana Baratama Mining di Satui, Kalsel dengan produksi 1-2 juta ton setahun.

Bayangkan, data yang saya peroleh sampai kuartal ketiga 2021 lalu, Bayan sudah memproduksi 27,3 juta ton. Batu bara itu terbesar dijual ke Filipina, menyusul China, Korea, India, dan Malaysia. Hasilnya, Bayan meraup laba sekitar Rp 9,5 triliun saat itu. Apalagi sekarang. Pasti lebih besar.

Ada kabar menarik dari Gubernur Isran. Gunung Bayan menyampaikan niatnya untuk memperbaiki dan meningkatkan Jembatan Mahakam (Jembatan Mahkota 1) sama dengan jembatan di sebelahnya, Jembatan Mahkota 2. Biaya semuanya ditanggung  Gunung Bayan.  “Itu disampaikan langsung oleh Datuk kepada saya,” kata Isran beberapa waktu lalu.

Tujuannya, selain jembatan kembar itu lebih serasi dan cantik, juga memungkinkan kapal dan ponton batu bara lewat lebih aman. Maklum selama ini Jembatan Mahkota 1 sering kena tabrak. Isran sendiri menyambut baik rencana itu. “Mudah-mudahan bisa segera direalisir,” katanya.

SPESIALIS KONTRAKTOR TAMBANG

Di tengah meningkatnya produksi batu bara Gunung Bayan terutama dari lokasi Tabang, di sana ada salah seorang kontraktornya dari pengusaha daerah. Dia adalah Haji  Ahmad Asfia, yang juga akrab dipanggil Aseng. Lengkapnya Djie Tjin Seng.

Haji Asfia adalah pengusaha asal Tarakan, yang besar di Balikpapan. Bersama beberapa tokoh pengusaha lainnya, dia  terbilang akrab dengan Pak Imdaad Hamid. Bahkan sampai sekarang. Kalau Pak Imdaad pulang dari Jakarta, dia yang sering memfasilitasi. Dia sangat menghormati wali kota ke-8 Balikpapan  tersebut karena dia mulai berkembang pada masa itu.

Di bawah bendera PT Karunia Wahana Nusa, H Asfia berkembang menjadi spesialis kontraktor perusahaan tambang batu bara. Awalnya dia kontraktor umum khususnya konstruksi. Sebelum di Gunung Bayan, dia juga kontraktor perusahaan tambang asal Korea, PT Kideco Jaya Agung di Kabupaten Paser. Dia mengendalikan ribuan pekerja di beberapa lokasi.

Ketika saya sibuk menangani wabah Covid-19 tahun 2020 lalu, bersama sejumlah pengusaha di antaranya Johny Santoso,  Charles, Hendry Tatang dan lainnya, Haji Asfia menggalang dana untuk pembelian APD (alat pelindung diri) untuk petugas kesehatan lewat Gerakan Balikpapan Peduli Corona (GBPC), yang diketuai Roy Nirwan.

Bersama Roy juga, Haji Asfia aktif menjadi pengurus Perbakin Kaltim. Dia pernah terlibat aktif dalam Kejuaraan Menembak Kapolda Kaltim. Di tengah kesibukannya menjadi pengusaha, perhatiannya terhadap kegiatan sosial dan olahraga tetap dilakukannya. Dia juga pembina organisasi Persaudaraan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) di daerah ini.

Saya sangat menghormati dan mengapresiasi tokoh pengusaha yang satu ini. Dia pekerja keras, tak banyak bicara, tapi terus berkiprah dan mampu tumbuh sebagai pengusaha daerah yang andal dan berkualitas. Itu sebabnya Datuk Low Tuck Kwong memberi kepercayaan besar dalam peningkatan produksi tambang batu bara Gunung Bayan.

Pak Dahlan sampai menulis khusus tentang Haji Asfia. Judulnya singkat, “Aseng.” Yang dipuji Pak Dahlan, selain prestasi usahanya yang luar biasa, juga aktivitas ibadahnya yang sangat kuat. Haji Asfia dikenal masyarakat setempat sangat perhatian terutama dalam membantu pembangunan masjid. Ia juga membangun masjid di hutan tambang dengan mendatangkan imam dari Balikpapan, lulusan Pondok Salafiyah Bangil, Jatim.

“Dalam hal salat, saya kalah jauh dari Aseng. Bukan saja seringnya, juga khusyuknya. Saya perhatikan salatnya: tiga kali lebih lama dari salat saya,” begitu kata Pak Dahlan.

Saya jadi teringat hadits Rasulullah SAW yang diriwayatkan Ibnu Umar ra. “Bekerjalah untuk duniamu seakan-akan engkau akan hidup selamanya. Dan bekerjalah (beramal ibadah) untuk akhiratmu, seakan-akan engkau akan mati besok pagi.” Sepertinya H Asfia mengamalkan hadis tersebut. Dan sukses.

Setelah Prananda, Puan

June 24, 2022 by  
Filed under Opini

Catatan Rizal Effendi

Gubernur Isran Noor dan Puan Maharani di lokasi pembibitan IKN

DALAM seminggu ini, Gubernur Isran Noor dua kali bikin kejutan. Itu berkaitan dengan soal nama calon presiden 2024. Dia menyebut dua nama dari generasi muda. Pertama Prananda, putra Ketua Umum Partai Nasdem Surya Paloh. Masih berusia 33 tahun. Yang kedua, Puan Maharani berusia 48 tahun, putri kesayangan Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri.

Prananda disebut Isran di forum Rakernas Nasdem di Jakarta Convention Center (JCC) 15-17 Juni lalu, yang memang fokus mengajukan nama-nama bakal capres. Sedang Puan disebut Isran pada acara pembukaan Kongres Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) di Samarinda, Rabu (22/6).

Dua potongan video ucapan Isran itu viral di mana-mana. Khususnya di medsos. Saya dikirimi teman-teman dari berbagai WA group. Lalu di-share ke mana-mana.

“Kalimantan Timur tidak mengusulkan calon presiden, kecuali yang namanya Kakak Prananda. Tapi kalau DPP Partai Nasdem ingin mencalonkan yang namanya Isran Noor, tidak salah. Sudah dapat dipastikan tidak akan ada pasangan lain yang bisa mengalahkannya. Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakaatuh,” kata Isran yang langsung disambut applaus ribuan peserta Rakernas Nasdem saat itu.

Kepada saya, Isran mengatakan dia memang cenderung di Rakernas itu fokus calon internal saja. “Kalau nama dari luar itu cukup dibahas di DPP saja,” katanya. Itu sebabnya dia tidak seperti daerah lain, yang mengusulkan nama Anies Baswedan, Ganjar Pranowo, Andika Perkasa, dan beberapa nama lainnya.

Tapi harapan Isran sepertinya belum kesampaian. Sebab, Wakil Ketua Umum Partai Nasdem, Ahmad Ali mengatakan, Partai Nasdem tidak akan mengusung nama Surya Paloh atau kader partai internal lainnya karena Surya Paloh lebih mengedepankan anak negeri.

Menurut Ali, Surya Paloh sudah memahami kondisi politik 2024, di mana banyak kandidat dari luar partai memiliki elektabilitas yang tinggi. “Jadi kami tidak memaksakan ketua umum seperti partai lain. Kami mau orang Indonesia yang punya gagasan dan visi membangun negeri,” katanya.

Mengenai kader partai, kemungkinan baru akan diusulkan sebagai capres pada 2029 mendatang. “Insyaallah kalau nanti ada kader internal Partai Nasdem yang memenuhi kualifikasi terbaik, tentu kami dorong,” tandasnya.

Dengan demikian, Partai Nasdem kukuh dengan tiga nama yang sudah disetor ke Surya Paloh. Pada saatnya nanti, ketua umum akan memilih dan mengumumkan salah satu dari ketiga nama tersebut.

Sepertinya pemilihan dan penetapan salah satu dari tiga nama itu, akan berproses setelah pertemuan dengan berbagai partai dilakukan Nasdem. Salah satu parpol yang menunjukkan tarikan napasnya hampir sejalan dengan Nasdem adalah PKS. Ada kemungkinan juga Partai Demokrat. Jika ketiga partai ini bergabung atau berkoalisi, memang mencukupi syarat untuk mengajukan capres pada Pilpres 2024.

Berbicara dengan PKS, tampaknya Nasdem bisa lebih lancar. Maklum salah satu kandidat PKS ada di tiga nama yang sudah ditetapkan Nasdem. Tapi dengan Demokrat sepertinya bakal memerlukan pembahasan yang lebih alot. Lantaran Demokrat juga ingin mengajukan nama ketua umumnya Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) sebagai capres. Apalagi dalam berbagai survei, nama AHY selalu muncul, meski berada di papan tengah.

Presiden PKS Ahmad Syaiku mengaku hasil pertemuan dengan Surya Paloh menunjukkan banyak kesamaan dan titik temu dari segala gagasan yang terdapat dalam kedua partai khususnya dalam menyongsong Pemilu 2024 mendatang. “Kami akan bertemu lagi untuk mematangkan titik persamaan yang sudah ada,” tambahnya.

Sementara itu, Ketua Umum Partai Demokrat AHY mengatakan pertemuan dengan Surya Paloh berlangsung sangat baik. “Saya bisa pastikan di sini hubungan kami terasa nyaman, semakin hari semakin kuat, dan juga lebih terbuka. Terbuka dalam artian tidak terburu-buru, semuanya harus diapit dengan baik,” tambahnya.

Peneliti Indikator Politik Indonesia, Bawono Kumoro menyimpulkan hasil pertemuan ketiga partai ini semakin memantapkan komunikasi politik mereka dalam menghadapi Pemilu 2024.

Bawono juga melihat perjodohan untuk menduetkan Anies Baswedan – AHY tampaknya sebagai opsi paling mungkin dimunculkan ketiga partai politik tersebut.

YANG MULIA PUAN

Isran terbilang gubernur yang “berani” memberi sambutan lepas di depan Presiden Jokowi termasuk menyinggung soal nama Puan sebagai calon presiden. Semua orang tidak mengira diucapkannya secara terbuka. Apalagi di depan kepala negara pada pembukaan Kongres PMKRI.

Setelah mengucapkan salam yang terhormat dan yang mulia kepada Presiden Jokowi, Isran melanjutkan kepada Puan Maharani, yang kedudukannya sebagai ketua DPR RI. Tapi semua orang kaget karena ditambah embel-embel sebagai capres.

“Yang terhormat, yang mulia, yang saya banggakan dan insyallah dimuliakan Allah SWT, ibu Ketua DPR RI, calon presiden Republik Indonesia,” kata Isran dengan tenangnya.

Kontan ucapan Isran Noor itu disambut gemuruh dari seluruh undangan yang hadir. Presiden yang duduk di samping Puan juga langsung tepuk tangan bersama-sama. Termasuk Menteri Investasi Bahlil Lahadalia serta Menteri Pemuda dan Olahraga Zainudin Amali. Sementara Menteri Sekretaris Negara Pratikno langsung menoleh ke Puan dengan senyum di balik masker. Ketua Presidium PMKRI Benidiktus Papa juga ikut memberi applaus.

Ketika ditanya wartawan di sela kunjungan ke lokasi Ibu Kota Nusantara (IKN), apakah Puan atau Ganjar yang dipilih, Jokowi sempat mengernyitkan kening. “Kalau Pak Ganjar ada di sini, saya akan jawab hehehe,” katanya berkilah.

Dalam penutupan Rakernas PDIP, Kamis (22/6) kemarin, Mega menyatakan dia belum menentukan siapa capres dari PDIP. “Kan masih lama, sabar sedikit. Biar saya umpetin dulu, katanya”. Tapi sekali lagi dia menegaskan bahwa dia mempunyai hak prerogatif sebagai amanat Kongres untuk menetapkan capres 2024 dari PDIP.

Sesuai dengan jadwal yang ditetapkan Komisi Pemilihan Umum (KPU), proses pendaftaran capres dan cawapres dilaksanakan pada tanggal 7 – 13 September 2023.

Meski belum ditetapkan oleh Bu Mega, semua orang tahu bahwa saat ini beredar dua nama capres dari PDIP, yaitu Puan Maharani dan Gubernur Jateng Ganjar Pranowo.

Publik mendapat kesan kalau Puan yang diinginkan PDIP atau Mega, bukan Ganjar. Tapi semua orang juga tahu hasil berbagai lembaga survei menunjukkan bahwa tingkat elektabilitas Ganjar jauh di atas Puan.

Berbagai “serangan” dari elite PDIP sering dilontarkan kepada Ganjar termasuk ucapan keras Mega terhadap kader yang dinilai bermain “dua kaki.” Tapi sejauh ini Ganjar bersikap tenang dan selalu menyatakan dia tegak lurus terhadap keputusan ketua umum Megawati.

Sepertinya pada hari-hari mendatang kita masih disuguhkan suasana drama, seperti yang dipertontonkan Isran. Kita belum tahu apakah Isran hanya penulis naskah atau juga jadi pemain. Yang pasti, kata seorang warga, si Raja Naga memang pandai berakrobat. Setidaknya ikut mewarnai “masa-masa romantis” parpol yang lagi mencari calon dan pasangan seperti digambarkan mantan wapres Jusuf Kalla.@@@@@

Next Page »