ArabicChinese (Simplified)EnglishFrenchGermanIndonesianKorean

Guru, Pinjol, dan Benjol

November 26, 2022 by  
Filed under Opini

Catatan Rizal Effendi

CUCU saya Defa dan Dafin malas-malasan bangun pagi. Ketika pagi-pagi saya menemui mereka Jumat (25/11)  lalu, keduanya baru bangun mendengar saya datang. Saat disuruh mandi, mereka dorong-dorongan. “Abang aja yang duluan mandi,” kata Afin. “Enak aja, giliran Afin yang duluan, ‘kan kemarin Abang,” kata Defa.

Mereka memang lagi santai. Semua sekolah diliburkan. “Hari ini hari guru, Kai, gurunya upacara,” kata keduanya hampir serentak. Memang kalau guru upacara serentak, anak-anak tak sekolah. Maklum tidak ada yang menjaga dan mengajar.

Hari Guru memang ditetapkan diperingati setiap tanggal 25 November sekaligus hari lahirnya Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI). Sejarahnya merujuk kepada Kongres Guru Indonesia di Surakarta, 24-25 November 1945.

Dalam kongres yang mempertemukan berbagai organisasi guru yang ada waktu itu, maka lahirlah PGRI. Karena itu, melalui Keputusan Presiden No 78 Tahun 1994, ditetapkan juga sebagai Hari Guru Nasional untuk mendukung perjuangan guru di Indonesia.

Mengutip pgri.0r.id, jauh sebelum proklamasi kemerdekaan sebenarnya sudah ada organisasi perjuangan guru-guru. Setidaknya pada tahun 1912 ada yang namanya Persatuan Guru Hindia Belanda (PGHB). Lalu menyusul kemudian Persatuan Guru Bantu (PGB), Perserikatan Guru Ambachtsschool (PGAS) serta berbagai organisasi guru berbasis keagamaan dan kebangsaan seperti Christelijke Onderwijs Vereneging (COV) dan Katolieke Onderwijsbond (KOB).

Semua organisasi itu akhirnya bersatu di dalam organisasi gabungan, PGRI. Karena itu, PGRI menjadi salah satu organisasi profesi dengan jumlah anggota terbesar. Bayangkan angkanya mencapai 3,3 juta orang. Hampir sama dengan jumlah penduduk Kaltim. Belum lagi guru honor yang jumlahnya di atas satu juta orang.

Meski PGRI nonpartai, toh  menjelang perhelatan demokrasi tahun 2024  PGRI termasuk kue manis yang jadi rebutan. Calon presiden, parpol, dan politisi berusaha meraup suara sebanyak-banyaknya dari para guru. Janji manis bertaburan, tapi nasib guru sejauh ini belum terangkat dengan baik.

Saya jadi teringat waktu saya masih menjadi wali kota. Saya selalu menjadi inspektur upacara peringatan Hari Guru Nasional. Acara apa pun saya tinggalkan termasuk berangkat ke luar daerah. Kecuali ada hal yang mendesak dan tidak bisa ditinggalkan. Karena itu saya punya koleksi baju batik guru hampir 10 lembar. Baju yang didesain warna hitam putih itu ditaburi logo PGRI. Saya pakai setiap menjadi irup hari guru.

Ada tiga hal mengapa saya harus selalu menghadiri upacara hari guru. Pertama, saya menyadari betul peranan guru membangun kualitas anak bangsa. Kedua, saya menghargai betul pengabdian para guru sekalipun dia guru honor dengan gaji kecil tapi tidak pernah kendur mengajari anak-anak kita. Dan ketiga, ayah saya juga seorang guru. Guru SD.

Ayah saya, Suhaimi Effendi di tahun 60-an menjadi guru di Gunung Malang, Samboja. Malah sempat menjadi kepala sekolah. Lalu pindah jadi guru di SDN Tjong Hwa Tjong Hwe Samarinda, yang belakangan jadi kompleks pertokoan Pinang Babaris dan ganti lagi menjadi  lokasi Hotel Ibis dan Mercure. Kemudian sekolahnya tergusur ke SD 028 di Jl Aminah Syukur.

Sebagai guru senior, ayah saya juga aktif menjadi pengurus PGRI Samarinda. Sampai akhirnya terpilih menjadi anggota DPRD. Satu angkatan dengan mantan gubernur Awang Faroek Ishak. Dulu Pak Awang sempat menjadi ketua PGRI Kaltim, yang ikut mengantarnya berkarier di arena politik.

Ayah saya bilang, guru adalah medan pengabdian yang abadi. Dia sangat mencintai profesi yang mulia itu. Sampai akhir hayatnya.

KAPAN MERDEKANYA?

Dari Senayan, saya mendengar suara lirih penyanyi cantik Krisdayanti (KD) menyambut Hari Guru Nasional tahun 2022. “Masih ada guru yang bergaji Rp300 ribu sebulan. Itu guru honor ada di sekitar kita. Ada yang tinggal di lingkungan sekolah, di bagian toilet, sesuatu yang tidak pantas kita berikan kepada para guru,” kata anggota Komisi IX DPR RI yang membidangi pendidikan dan kesehatan ini.

KD berharap Pemerintah ke depannya bisa memberikan kesejahteraan yang sepantasnya bagi guru. Sebab para guru termasuk guru honorer dengan kondisi kesejahteraan yang terbatas, masih dapat memberikan yang terbaik untuk anak didiknya.

Lebih jelas lagi, seperti  yang diungkapkan Satriwan Salim, koordinator Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G). “Pemerintah ingkar penanganan janji. Presiden Jokowi harus turun tangan menuntaskan karut marut nasib guru di Tanah Air,” katanya seperti dilansir medcom.id.

Manurut Satriwan, kesejahteraan guru khususnya guru honorer masih jauh panggang dari api. Padahal negara berutang besar dari mereka. Indonesia saat ini mengalami darurat kekurangan guru ASN, dan itu diisi atau diselamatkan dengan kehadiran tenaga guru honorer.

Tahun 2021 Indonesia membutuhkan satu juta guru ASN PPPK secara nasional. Tapi sialnya, hanya 293.860 guru yang lulus dan dapat formasi dari Pemda. Lebih mengenaskan lagi, sebanyak 193 ribu lebih guru lulus tes PPPK namun tak mendapatkan formasi hingga November ini.

“Janji Mendikbudristek dan Menpan RB akan mengangkat 1 juta guru ASN PPPK tinggal janji saja. Para guru honor seolah di-‘ghosting’ Pemerintah. Nasib 193 ribu guru itu terombang-ambing dengan kacaunya seleksi PPPK. Belum lagi guru madrasah swasta yang tak bisa ikut, terkesan diskriminatif,” kata Satriwan.

Program ASN PPPK (Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja)  adalah mereka yang diangkat berdasarkan perjanjian kerja untuk jangka waktu tertentu. Paling singkat satu tahun dan bisa diperpanjang. Yang boleh ikut seleksi berusia antara 20 sampai 59 tahun.

Selain masih riuh tahap pengangkatannya, kesejahteraan guru honor pun dirasakan sangat miris. Mereka masih menerima gaji di bawah UMP/UMK daerah. Masih banyak yang menerima antara 500 ribu sampai satu juta rupiah per bulan. Padahal berdasarkan UU No 14 Tahun 2005 tentang guru dan dosen, guru berhak memperoleh penghasilan di atas kebutuhan hidup minimum dan jaminan kesejahteraan sosial lainnya.

Akibat kesejahteraan yang minim itu, kini terungkap bahwa  banyak guru menjadi korban praktik pinjaman online (pinjol) ilegal. Hal itu diungkapkan Friderica Widyasari, anggota Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Bidang Edukasi dan Perlindungan Konsumen mengutip hasil riset No Limit Indonesia.

“Berdasarkan demografi, 42 persen yang terjerat pinjol ilegal adalah guru. Mungkin karena mereka butuh uang untuk kepeluan hidup mendesak dan kebetulan ada dana pinjol yang bisa cair lebih  cepat,” kata Widyasari.

Pinjol ilegal memang manis di awal,  benjol di masa penagihan. Selain bunganya tinggi mereka tak segan-segan mengancam dan mempermalukan si peminjam. Itu baru saja juga dialami 311 mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB), yang terjerat pinjol bernilai miliaran rupiah.

Urusan kesejahteraan guru ini juga mengusik aktivitas Wali Kota Samarinda Andi Harun. Ia harus menghadapi demo ribuan guru yang menolak dihapuskannya tambahan insentif guru Rp700 ribu per bulan dari APBD. Doktor ilmu hukum alumnus UMI Makassar itu harus menghadapi  situasi yang dilematis, sebab  secara aturan dianggap double anggaran. “Demi Allah saya ingin insentif tetap ada, bahkan kalau bisa ditinggikan,” katanya.

Menteri Pendidikan Nadiem Anwar Makarim mengakui ada yang belum lancar dalam proses pengangkatan guru honorer. “Saya tidak menutup mata memang masih banyak hal yang harus disempurnakan. Karena itu kita harus gotong royong agar target kita satu juta guru diangkat sebagai ASN PPPK dapat segera terwujud,” begitu kata Mas Nadiem di bagian akhir sambutannya menyambut Hari Guru Nasional 2022.

Banyak guru honorer menilai sambutan Mas Menteri itu terasa hambar. Malah lebih terkesan basa-basi tanpa diwarnai semangat untuk segera menuntaskannya. “Kalau cuma begitu komentarnya, kapan guru honorer merdeka? Percuma layar Merdeka Belajar dibentangkan,” tandas mereka. Dirgahayu Hari Guru Nasional 2022. Terima kasih, guruku, meski belum bisa tersenyum lebar.(*)

Pohon Jadi Mas Kawin

November 26, 2022 by  
Filed under Opini

Catatan Rizal Effendi

SALAH satu acara menarik dalam rangkaian kegiatan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 di Bali adalah saat Presiden Jokowi mengajak para pemimpin dunia menanam pohon mangrove di Kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) Ngurah Rai.

Ratusan wartawan dari mancanegara termasuk “wartawan dadakan” Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono ikut berebut mengabadikan peristiwa tersebut. Maklum kegiatan ini merupakan objek menarik kamera. Jarang pemimpin dunia melakukannya. Bahkan mungkin ada yang baru pertama kali memegang cangkul.

Kita saksikan dari layar TV, betapa cerianya para pemimpin dunia menanam mangrove. Termasuk Presiden AS Joe Biden, PM India Narendra Modi, PM Italia Giorgia Meloni, Presiden Prancis Emmanuel Macron, Direktur Pelaksana WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus, Direktur IMF Kristalina Georgieva hingga Sekretaris Jenderal OECD Mathias Cormann.

“Ini wujud konkret Indonesia dalam menyikapi perubahan iklim. Sebagai negara pemilik hutan mangrove terluas di dunia, yaitu 3,3 juta hektare, Indonesia ingin berkontribusi kepada perubahan iklim dengan serius,” ungkap Presiden Jokowi.

Jokowi menjelaskan, Tahura Ngurah Rai merupakan sebuah contoh kesuksesan restorasi ekosistem mangrove yang dilakukan Indonesia. Kawasan seluas 1.300 hektare tersebut sebelumnya adalah area tambak ikan yang tergerus abrasi, namun kini sudah berubah menjadi rumah bagi 33 spesies mangrove dan 300 ragam fauna.

Hutan mangrove atau hutan bakau juga ada di Kaltim  termasuk di Balikpapan. Bahkan menjadi salah satu kawasan terbesar di Indonesia. Tahun 2018 tercatat luasnya 244.437,22 hektare.  Sebagian ada di Delta Mahakam. Luasnya 113.503,77 hektare dengan tutupan lahan (vegetasi) sebesar  37,73 persen. Meskipun terus dilakukan rehabilitasi dan penanaman, luasan mangrove cenderung menyusut karena pesatnya kegiatan ekonomi masyarakat, mulai pembukaan hutan untuk pertambakan ikan, pelabuhan, dan aktivitas lainnya.

Sekalipun ada yang mengkritik,  penanaman yang dilakukan pemimpin dunia G-20 di Bali sangat menginspirasi warga di bumi. Menanam pohon bukan sekadar acara seremonial, melainkan sudah menjadi wajib hukumnya bagi  semua orang. Karena itu dunia menetapkan 21 November adalah Hari Pohon Sedunia (World Tree Day). Sedang Indonesia melalui Keppres No 24 Tahun 2008, yang ditandatangani Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menetapkan 28 November sebagai Hari Menanam Pohon Indonesia (HMPI) sekaligus selama Desember ditetapkan sebagai Bulan Menanam Nasional (BMN).

Sebelumnya ada juga Gerakan Hari Sejuta Pohon Sedunia yang dilaksanakan setiap tanggal 10 Januari. Di Indonesia, gerakan ini pertama kali dicanangkan Presiden Soeharto tanggal 10 Januari 1993. Soeharto waktu itu menginstruksikan tiap provinsi menanam minimal satu juta pohon.

Pada era Presiden SBY, menandai HMPI dicanangkan Gerakan 1 Miliar Pohon. Tiap orang diminta menanam 5 pohon. Dengan penduduk sekitar 200 juta orang, maka Indonesia tiap  tahun bisa menyumbang satu miliar pohon kepada dunia.

Rasanya pada era kepemimpinan saya selaku wali kota, Balikpapan dua kali meraih penghargaan menanam pohon terbanyak di tingkat kota se-Indonesia. Di antaranya saya menerima langsung penghargaan itu dari Presiden SBY waktu penanaman di kawasan hutan kota Bandara Soekarno-Hatta, 28 November 2012.

Waktu acara HMPI tahun 2014 di Wonogiri, Jateng,  pada awal kepemimpinan Presiden Jokowi, dia minta agar kegiatan menanam pohon tidak lagi terlalu seremonial. “Acara simbolis harus dihentikan, yang penting praktiknya. Tanam dan pelihara,” tandasnya.

Jokowi juga mencanangkan konsep pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) di Sepaku, Kaltim adalah kota di dalam hutan (forest city) . Dia sudah menyiapkan kebun persemaian di Mentawir seluas 120 hektare untuk memproduksi 15 juta batang pohon per tahun. Semua akan ditanam di lokasi IKN.

Menurut Menteri Kehutanan dan Lingkungan Hidup (KLH) Prof Siti Nurbaya, mereka akan menanam jenis pohon endemik Kalimantan seperti belangeran (Shorea balangeran), kapur (Dryobalanops sp.) dan sejenisnya. Juga jenis pohon multipurpose tree species untuk naungan dan sumber pakan satwa seperti jengkol (Archidendron pauciflorum), rambai (Baccaurea motleyana), mangga (Mangifera indica), dan nyawai (Ficus wariegata).

AYO KERJA DAN TANAM

Hari Pohon Sedunia digagas Julius Sterling Morton, seorang pencinta alam dari Amerika Serikat, yang hidup pada tahun 1832-1902. Dia bersama istrinya, Caroline Joy French pindah dari Michigan ke Nebraska, suatu wilayah permukiman yang baru terbentuk tanpa  pepohonan. Tandus.

Dia mendorong warga untuk menanam pohon sehingga wilayahnya tidak gersang lagi. Bahkan pada 10 April 1872, dia mengusulkan semua orang menyisihkan waktunya sehari penuh untuk menanam pohon. Itulah yang menginspirasi ditetapkannya Hari Pohon Sedunia 21 November, yang pertama kali dilaksanakan di Spanyol dengan sebutan Arbor Day atau Hari Pohon.

Tujuan dilaksanakannya Hari Pohon Sedunia adalah untuk membangkitkan kesadaran kita tentang pentingnya menjaga dan memelihara pohon. Tegaknya ribuan pohon sangat disadari bisa memerangi pemanasan global, mencegah banjir, tanah longsor, tempat hidup fauna dan membuat iklim mikro yang sehat.

Tema HMPI 2022 ini adalah “Ayo Kerja, Tanam dan Pelihara Pohon untuk Hidup yang Lebih Baik.” Maksudnya semangat kerja kita terus membara sambil terus menanam dan memelihara pohon untuk kehidupan yang lebih baik.

Saya jadi teringat peristiwa ketika saya menikahkan putri saya. Saya minta salah satu mas kawinnya dua pohon mangga, yang waktu itu ditanam di halaman belakang Masjid Madinatul Iman, Balikpapan Islamic Center. Biar buahnya jadi buah kebahagiaan buat mereka dan siapa saja, yang memakannya.

Saya menyarankan warga setiap ada peristiwa kehidupan seperti pernikahan, ulang tahun, kenaikan pangkat, promosi, kenaikan kelas dan lulus sekolah ditandai dengan menanam pohon. Setidaknya di bulan Desember, yang sudah ditetapkan sebagai bulan menanam. Ayo menanam untuk kehidupan yang lebih baik. Juga menjadi amal jariyah yang bisa membuat kita masuk surga. Taman surga niscaya penuh pepohonan.(*)

*) Rizal Effendi

– Wartawan Senior Kalimantan Timur

– Wali Kota Balikpapan dua periode (2011-2021)

“Telur Inflasi” dari Samarinda

November 25, 2022 by  
Filed under Opini

Catatan Rizal Effendi

Dirut Perumda Varia Niaga Samarinda bersama Telur S, yang mau dipasarkan ke seluruh daerah.

ADA inovasi baru dari Perumda Varia Niaga Samarinda.  Mereka memproduksi dan memasarkan telur sehat atau lebih dikenal sebagai “Telur S.” Saya belum pernah mengonsumsinya. Tapi menurut sang dirut, Syamsuddin Hamade, permintaan telur S terus meningkat. “Tahun depan kita bisa kejar program produksi 3 juta butir telur,” jelasnya.

Yang memberi nama Telur S adalah Wali Kota Samarinda, Andi Harun. “S” bisa diartikan sehat, bisa juga Samarinda. “He he bisa juga Syamsuddin,” kata Syamsuddin seraya terkekeh. “Kalau Balikpapan mau pesan, kami siap melayani. Sebab jargon kami, telur S untuk Indonesia,” katanya lagi.

Dia memastikan telur S memang telur sehat. Karena pengelolaan ayam petelurnya menggunakan teknologi probiotik. Telur ayam probiotik mempunyai kandungan yang berbeda dengan telur ayam biasa karena kaya  protein dan menyehatkan.

Telur S selain memberikan pilihan kepada masyarakat untuk mengonsumsi telur yang lebih sehat, juga dimaksudkan Varia Niaga dalam rangka pengendalian inflasi di kota Samarinda. Harga telur yang kerap fluktuatif karena sebagian didatangkan dari luar daerah, bisa dikendalikan dari segi stok dan harga dengan kehadiran Telur S, yang diproduksi di daerah sendiri.

Program ini juga mendapat sambutan masyarakat. Sebab produksi telurnya dikerjakan oleh warga kampung. Yang sudah dicoba di kawasan Loa Bakung dan Sambutan. Terus ditularkan ke kampung lain dan RT-RT, menjadi sumber pendapatan dan lapangan kerja baru seiring dengan program Bebaya, yang dicanangkan Wali Kota Samarinda.

Promosi Telur S itu disampaikan Syamsuddin ketika menjadi narasumber capacity building bertema “Mendorong Peran Perumda dalam Manajemen Stok,” yang dilaksanakan Bank Indonesia Balikpapan, Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) dan Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Balikpapan, Rabu (23/11) lalu.

Menurut Syamsuddin, Varia Niaga juga lagi menyiapkan pembangunan pabrik pakan ternak. “Biar harga telurnya makin bisa dijaga karena pakannya produksi sendiri,” kata Dirut yang awalnya PNS Kementerian Perhubungan ini.

Selain Syamsudin, acara yang diikuti Dirut Perumda Balikpapan, Paser, dan Penajam Paser Utara berikut anggota ISEI Balikpapan itu, juga mendapat pencerahan dari Prof Dr Muhammad Firdaus dari IPB Bogor dan Anugrah Esa, Direktur Perkulakan dan Retail PD Pasar Jaya Jakarta.

“Acara ini bagian dari aksi Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan, yang menggaungkan langkah-langkah pengendalian inflasi dari sisi suplai yang lebih integratif, masif dan berdampak nasional,” kata Bambang Setyo Pambudi, kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan.

Dia sengaja mengundang Perumda Varia Niaga dan Pasar Jaya yang sudah melaksanakan program ini untuk menginspirasi perumda-perumda lainnya terutama di Balikpapan, Paser, dan PPU dalam bidang ketahanan pangan. “Juga kita hadirkan Prof Firdaus yang terlibat dalam pengkajian masalah pangan dan inflasi,” kata Bambang.

Guru besar Departemen Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Manajemen IPB itu mengingatkan daerah agar punya Neraca Pangan, sehingga bisa menghitung dengan cermat kebutuhan dan persediaan pangan di daerah. Sehingga bisa diambil langkah dan solusi untuk mencegah kelangkaan stok.

Dia juga menyarankan BUMD Pangan melakukan kerjasama antardaerah (KAD) untuk menjaga pemenuhan stok pangan dan pengendalian harga. “Kerjasama sangat penting apalagi seperti Balikpapan, yang suplainya dari luar. Lebih-lebih dalam mengantisipasi pertambahan penduduk dengan hadirnya Ibu Kota Nusantara (IKN),” katanya.

Firdaus juga mengucapkan selamat kepada TPID Kaltim karena berhasil menjadi juara penanganan inflasi tahun 2021. “Kebetulan saya salah satu anggota tim juri,” kata guru besar, yang sekarang juga menjabat Atase Pendidikan dan Kebudayaan RI di Kuala Lumpur.

EMPAT MASALAH

Menurut Anugrah Esa tidak gampang Perumda Pasar Jaya dalam melaksanakan salah satu tugasnya membantu tersedianya pasokan, stabilitas dan keterjangkauan harga barang kebutuhan pokok di daerah DKI. Apalagi penduduk Ibu Kota ini jumlahnya sudah 11 juta lebih.

Seperti dialami beberapa daerah lain, setidaknya ada empat masalah berkaitan dengan pangan dan distribusi. Yaitu belum efektifnya rantai pasokan dari hulu ke hilir, 98 persen  pasokan pangan dari daerah lain, keterbatasnya daya dukung lahan pertanian, peternakan dan lingkungan serta peningkatan jumlah penduduk.

Sehubungan dengan itu, Perumda Pasar Jaya melaksanakan berbagai program untuk menjaga inflasi pangan, di antaranya program subsidi pangan murah, operasi pasar,  membuka Jakgrosir sebagai “kapal induk” dari semua program, grosir kecil DC Pasar Jaya, sampai menerapkan program cold storage dan CAS (Controlled Atmosphere Storage) untuk penyimpanan sejumlah sayur mayur dan daging.

CAS adalah kombinasi antara teknologi pendingin (refrigerator) dengan teknologi pengondisian udara yang mengontrol kadar kelembapan. Fungsinya untuk menahan laju pematangan atau pembusukan komoditas hortikultura yang disimpan di tempat tersebut.

Seperti disarankan Prof Firdaus, Anugrah mengakui kerjasama antardaerah sangat penting untuk menjaga ketahanan pangan di daerah kita. Selain juga harus benar-benar melaksanakan program pengendalian distribusi pangan secara sistemik.

Pasokan pangan kota-kota di Kaltim selama ini banyak yang datang dari Jawa Timur, Sulawesi Barat,  Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Tengah. Ada juga dari daerah tetangga seperti Kalsel dan Kalteng. Bahkan yang datang dari Kalsel itu, kata Perumda Paser, ada yang produksi dari daerahnya. Dibawa dulu ke Kalsel dan kembali dipasarkan ke Kaltim.

Fenomena ini kata Prof Firdaus memang terjadi di beberapa daerah. Dia juga mengingatkan banyak produksi pangan kita dijual ke negara tetangga seperti dari Kalimantan Utara ke Sabah, Malaysia Timur. Termasuk beras Krayan, yang sangat terkenal. “Karena itu KAD sangat penting diterapkan,” katanya.

Acara capacity building kemarin ditutup dengan makan soto. Saya jadi teringat rilis Kepala BI Balikpapan kalau  soto ikut berkontribusi terhadap inflasi di kota ini bulan September lalu. Beberapa minggu ini saya jadi sering makan soto singkong dengan lauknya daging kikil, jadi tidak menggunakan beras, ayam dan telur. Kecuali kalau ada Telur S yang dikirim gratis dari Pak Syamsuddin.(*)

Maratua Bersih dari Sampah Laut – Catatan Rizal Effendi

November 24, 2022 by  
Filed under Opini

Aksi bersih-bersih yang dilaksanakan Gubernur Isran Noor di Pulau Maratua

KETUA Tim Percepatan Kerjasama Strategis Pengembangan Kepulauan  Maratua, Dr Meiliana, SE, MM beberapa waktu terakhir sering terbang ke Maratua. Salah satunya memastikan bahwa program Maratua Bebas dari Sampah Laut (marine debris) bisa berjalan. Maklum sampah laut dan pesisir menjadi momok bagi kawasan dan pulau, yang dikembangkan sebagai objek wisata.

Seperti kita ketahui, Maratua di Kabupaten Berau yang luasnya 412 ribu hektare dengan penduduk sekitar 5.000 orang, tengah dikembangkan sebagai destinasi wisata dunia yang berkelanjutan dengan penerapan konsep ekonomi biru.  Karena itu pengelolaan sampah laut dan pesisirnya harus menjadi perhatian penting.

Beberapa waktu lalu Mei, panggilan akrab Meiliana, berdiskusi dengan Dr Myrna Asnawati Safitri, deputi Bidang Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam Otorita Ibu Kota Nusantara (IKN) untuk ikut menangani penanganan sampah di Maratua. Mei merasa perlu mengajak Myrna karena IKN berkepentingan juga dengan kehadiran Maratua.

Jika sampah laut tidak bisa dikendalikan, maka efeknya tidak saja berdampak terhadap lingkungan dan habitat di sekelilingnya, juga bisa membuat orang malas  datang ke tempat itu. Siapa yang mau datang ke tempat jorok dan penuh sampah. “Karena itu penanganan sampah laut dan pesisir menjadi perhatian tim percepatan,” kata Mei.

Mei, Rabu (23/11) kemarin kembali berada di Maratua. Acaranya sosialisasi, bimtek dan serah terima pembangunan Tempat Penampungan Sementara (TPS) dan Pusat Daur Ulang di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil, yang berlangsung di Kampung Teluk Harapan.  Ini bantuan dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).

Mei mengingatkan bahwa Menteri KP Sakti Wahyu Trenggono sudah memberikan arahan tentang prinsip pengelolaan laut. Yaitu untuk manusia, laut untuk ekonomi dan  laut untuk alam. Jadi semua aspek saling mendukung.

“Ya memang program bersih laut dan pesisir menjadi perhatian serius dari KKP,” kata Suryo Prasojo, Sub Koordinator Pencemaran  Direktorat Pendayagunaan Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (P4K) KKP, yang menyerahkan bantuan tersebut.

Ia menjelaskan, setidaknya ada 7 jenis sampah laut yang perlu mendapat perhatian kita semua.  Di antaranya yang terbanyak adalah plastik. Selain logam, gelas, kayu, kertas dan kardus, karet serta pakaian, sepatu dan bahan perabot rumah tangga.

Karena itu, ada 5 strategi yang dilakukan KKP dalam aksi nasional penanganan sampah laut. Yaitu melakukan gerakan nasional peningkatan kesadaran para pemangku kepentingan, pengelolaan sampah yang bersumber dari darat, penanggulangan sampah di pesisir dan laut,  mekanisme pendanaan serta penelitian dan pengembangan.

Alat pres sampah bantuan Kementerian Kelautan dan Perikanan untuk Maratua

Suryo berharap TPS dan Pusat Daur Ulang  yang dibangun dan disediakan oleh KKP bisa dimanfaatkan warga Maratua dengan efektif. Alat itu diserahkan kepada Kepala Kampung Teluk Harapan Abnir Dani Lutfi dan Ketua Kelompok Pengelola Sampah Danakan.

Bantuan tersebut terdiri dari motor tiga roda  pengangkut sampah, mesin pres sampah kering,  bangunan pelindung dan sarana pendukung lainnya. “Ini menjadi stimulans bagi masyarakat untuk dapat menggerakkan ekonomi (sirkular ekonomi) sekaligus melakukan penanganan sampah dengan baik,” begitu pesan khusus  Muhammad Yusuf, direktur Pendayagunaan Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil.

Dikatakan, Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono terus berkomitmen untuk memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai pengelolaan sampah di laut sesuai Perpres No 83/2018 tentang Penanganan Sampah Laut dengan target pencapaian pengurangan sampah laut sebesar 70 persen hingga 2025.

Beberapa waktu lalu Gubernur Isran Noor bersama masyarakat di Maratua melaksanakan gerakan aksi bersih-bersih di Pulau Maratua. “Kita tidak usah saling menyalahkan soal sampah ini, tetapi kita semua harus berbuat bersama-sama untuk menanganinya,” katanya.

Isran menegaskan kebersihan Pulau Maratua harus dijaga bersama karena keindahan pulau ini sudah terkenal di mancanegara. “Yang datang ke sini bukan saja turis domestik, tetapi juga wisatawan dari berbagai negara seperti China, Afrika dan Eropa,” tambahnya.

Menurut Mei, Tim Percepatan Maratua bersama Bupati Berau Sri Juniarsih MS baru saja melaksanakan pertemuan di Bali khusus membahas program kerjasama pengelolaan sampah dan peningkatan ekonomi masyarakat Maratua dengan pihak ketiga.

Mereka menghadirkan Dubes Negara Seychelles sebagai mitra Maratua, Nico Barito, Deputi Penanganan Sampah KLHK, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Kaltim, Deputi Otorita IKN, Dirjen PRL KKP dan Kadis LH Provinsi Bali. “Alhamdulillah kita banyak mendapat masukan untuk Maratua yang bersih dan indah,” kata Mei.(*)

 

 

Diplomasi Seraung FX Yapan

November 22, 2022 by  
Filed under Opini

Catatan Rizal Effendi

Bupati Kubar FX Yapan dan istri selaku ketua Dekranasda, Ibu Yayuk Sri Rahayu dan Wakil Bupati Edyanto Arkan menerima piagam rekor MURI.(foto: Info Kubar)

SAYA sudah lama tak ke Kutai Barat (Kubar). Termasuk lama tak bertemu bupatinya, FX Yapan  atau lengkapnya Fransiskus Xaverius Yapan. Pertemuan terakhir saya rasanya waktu peringatan HUT ke-65   Provinsi Kalimantan Timur,   di Samarinda. Sama-sama menerima panji, meski Balikpapan selalu yang terbanyak. Setelah tak jadi wali kota lagi, 31 Mei 2021, saya hanya tahu perkembangan sang bupati itu  lewat pemberitaan di media mainstream saja.

Tapi saya surprise melihat aksi seni budaya Kubar pada HUT ke-23 kabupaten tersebut, Sabtu (5/11) lalu, yang berlangsung di Taman Budaya Sendawar. Aksinya memasyarakatkan kembali topi seraung. Kubar berhasil memecahkan rekor MURI dengan pemakaian seraung sebanyak 11.500 atau tepatnya 11.553 buah.

Bayangkan menariknya suasana di taman tersebut. Karena seraung itu dipakai oleh para ASN di lingkungan Pemkot Kubar, bersama ribuan pelajar dari 16 kecamatan di kabupaten tersebut, termasuk juga bupati, anggota Forkompida serta ketua dan anggota DPRD.

Tentu belum pernah terjadi pemandangan seindah dan sebanyak itu. Karena itu MURI (Museum Rekor Dunia Indonesia)  memberikan penghargaan kepada Bupati FX Yapan dan wakilnya, Edyanto Arkan bersama Ketua Dekranasda Kubar Ibu Yayuk Seri Rahayu Yapan, yang tak lain istri bupati sendiri bersama wakilnya Hj Isdalena Arkan.

“Ini prestasi  luar biasa. MURI sangat menghargai karya eksotik ini. Kembangkan terus seraung sebagai warisan budaya, karena bernilai tinggi dan bisa menjadi kegiatan usaha masyarakat,” kata Direktur Operasional MURI Yusuf Ngadri.

Bupati Yapan mengaku senang aksi seraungnya berhasil menarik perhatian. “Kami senang bisa memecahkan rekor MURI. Tapi yang lebih penting lagi, kami senang bisa memajukan hasil kerajinan UMKM di daerah ini di antaranya kerajinan membuat seraung. Topi ini juga menjadi identitas budaya kita,” kata Bupati dan istrinya.

Seraung adalah topi khas suku Dayak. Mirip caping, topi yang dipakai petani di Jawa. Dibuat dari daun biru, sejenis daun palem yang lebar dan banyak tumbuh di hutan tropika basah Kalimantan. Atau terkadang dipakai juga daun sang, daun pandan dan daun kajang.

Tapi diakui seraung lebih artistik. Ada jahitan kain dan manik berwarna-warni. Jadi tidak sekadar untuk melindungi kepala dari sengatan panas matahari atau hujan, tapi juga bisa dikenakan para penari dalam upacara adat atau bisa juga jadi hiasan dinding. Makin banyak maniknya, makin mahal harga seraungnya.

Dulu setiap Pekan Olahraga Wartawan Nasional (Porwanas), kontingen PWI Kaltim selalu memakai seraung. Selesai acara defile, langsung diperebutkan warga yang menyaksikan. Terutama ibu-ibu. Saya tidak tahu apa teman-teman PWI Kaltim yang mengikuti Porwanas 2022 di Malang, Jatim mengulanginya.

Menurut Ibu Yayuk, berkat acara pemecahan rekor MURI itu, pengrajin seraung meraup keuntungan yang besar untuk pengembangan usahanya. Harga seraung yang biasanya berkisar 25 sampai 35 ribu rupiah per buah, tiba-tiba meningkat sampai di atas Rp60 ribu. “Saya berharap mereka lebih bersemangat lagi mengembangkan usahanya serta meningkatkan kualitas dan kreasi dari seraung, sehingga masyarakat luar dan turis semakin menyukai sebagai cenderamata,” tambahnya.

BANYAK CATATAN

Kubar berdiri tanggal 4 Oktober 1999. Tapi hari jadinya ditetapkan setiap 5 November, ketika mulai diisinya para pejabat pemerintahan Kubar tanggal 5 November 1999.  Kubar terbentuk dari pemekaran Kabupaten Kutai. Wilayahnya cukup luas, 20 ribu km2 dengan jumlah penduduk hanya sekitar 165 ribu orang.

Setelah Kubar terbentuk, Rama Alexander Asia menjadi bupati dan menyusul kemudian Ismail Thomas, yang sempat menjadi wakil Rama. Bupati selanjutnya FX Yapan,  yang sebelumnya pernah menjadi ketua DPRD Kubar. Yapan saat ini memasuki masa jabatan kedua bersama wakilnya, Edyanto Arkan. Masa baktinya berakhir 2024 menyusul diadakannya Pilkada serentak.

Yapan asli orang Kubar. Dia dilahirkan di Kampung Besiq, 18 Juli 1958. Lebih tua sebulan dari saya. Dia mempunyai 6 anak (dua di antaranya meninggal dunia), hasil pernikahannya dengan Yayuk Seri Rahayu, S.ST. Yapan alumnus Universitas 17 Agustus (Untag) Samarinda dan sekarang didaulat menjadi ketua alumni.

Empat tahun setelah pembentukannya, Kubar dimekarkan lagi dengan munculnya kabupaten baru bernama Kabupaten Mahakam Ulu atau disingkat Mahulu. Jadi Mahulu seperti cucu Kabupaten Kutai Kartanegara.

Kubar dijuluki Kota Beradat. Potensi sumber daya alamnya memang besar karena itu APBD Kubar hampir sama dengan Balikpapan. Di atas Rp 2 triliun. Tapi sebagian besar wilayahnya di 16 kecamatan dan 190 kampung tidak gampang dicapai.

Saya banyak catatan dan kenangan ketika masih menjadi wartawan. Saya sering masuk ke wilayah Kubar, sebelum dimekarkan. Hampir semua wilayah di kecamatannya pernah saya jelajahi.

Kalau saya ke Melak, saya sering menikmati durian di sana. Lalu ke Taman Kersik Luway, melihat keindahan koleksi anggrek yang tumbuh alami di atas hutan pasir seluas 15 ribu hektare khususnya anggrek hitam (Coelogyne Pandurata), yang sangat terkenal.

Saya lanjut ke Barong Tongkok, karena di sana ada bandara milik TNI AU. Ada hewan kuda dan lokasi perjudian khas warga setempat, yang disebut judi tongkoq. Jenis judi tongkoq sering dijumpai pada adat Dayak yang melaksanakan acara seperti Kuangkai, Guguh Taun dan pekan.

Betapa asyiknya kalau kita naik perahu ke Danau Jempang yang luasnya juga 15 ribu hektare. Seakan berada di tengah lautan jika lagi air pasang. Selain ada juga Danau Kojo, Danau Berambai, Danau Malinau, dan Danau Loa Maong. Semua danau ini penghasil ikan air tawar, yang banyak dikirim ke Tenggarong, Samarinda, dan sekitarnya. Mulai jenis ikan gabus, baung, biawan sampai udang galah.

Karena Kubar banyak dihuni warga Dayak, maka tak heran di sana banyak hunian berbentuk lamin, yang dikenal sebagai rumah panjang keluarga. Ada Lamin Tolan di Kampung Lambing, Muara Lawa miliki suku Dayak Benuaq. Umurnya sudah 200 tahun, asli dan unik. Suasananya semakin magis karena di sekitarnya terdapat Lungun, Templaaq, Kererekng dan Selokng, peti mati leluhur dan patung adat.

Mencimai, Benung, Engkuni Pasek dan Pepas Eheng adalah desa-desa yang dihuni suku Dayak Benuaq. Sekitar 7 km dari Terminal Kampung Tongkok dan sebagai pusat seni budaya Suku Benuaq. Di sana ada Museum Mencimai, yang menggambarkan kehidupan sesungguhnya kehidupan dan seni budaya warga di sana.

Dulu di Kubar ada tambang emas terkenal PT Kelian Equatorial Mining atau PT KEM, yang mendapat areal penambang seribu hektare lebih di Kampung Tutung, Kecamatan Linggang Bigung. Beroperasi sejak tahun 1992 dan berakhir sekitar 15 tahun kemudian dengan meninggalkan berbagai hal yang kontroversial terutama berkaitan masalah lingkungan dan nasib masyarakat setempat.

Saya beberapa kali diundang ke sana. Ada kebijakan perusahaan yang menarik. Sebagian sopir kendaraannya yang besar-besar dikemudikan oleh wanita, warga setempat. Saham PT KEM dikuasai The Anglo-Australian Rio Tinto Group dengan memproduksi 14 ton emas dan 10 ton perak per tahun.

Begitu emasnya habis, yang tinggal ributnya. Syukur Kubar masih mempunyai sumber daya alam yang lain, yang bisa menunjang gerak ekonominya. Mulai pertanian dan perikanan, perkebunan kelapa sawit, karet dan kopi  sampai penambangan batu bara. Tapi pengalaman dengan penambangan emas PT KEM harus menjadi pelajaran berharga.

Saya suka jika bertemu Yapan. Semangat dan suka bercanda juga. Yang penting Kubar berkembang sesuai motonya: Tanaa purai ngeriman.     Ini bahasa Dayak, yang artinya tanah yang subur, makmur dan berlimpah ruah. Dirgahayu ke-23 Kubar. Maju terus berkibar-kibar.(*)

 

*) Rizal Effendi

– Wartawan senior Kalimantan Timur

– Wali Kota Balikpapan dua periode (2011-2021)

 

Next Page »