Produk Nursalim Hasilkan Gula Kelapa Standar Swalayan
VIVABORNEO.COM, Kegiatan berawal dari sebuah bangunan sederhana, terciptalah olahan gula merah dan gula semut dengan kualitas rasa dan kemasan yang sangat menawan pembeli.
Pagi-pagi buta sebelum matahari bersinar terang, Nursalim (35 th )memanjat pohon kelapa untuk mengambil air nira yang dikucurkan dari tandan yang telah dipotong.Sebanyak 20 pohon kelapa di sekitar rumahnya di Kelurahan Tanjung Tengah Kecamatan Penajam, Kabupaten Penajam Paser Utara, menjadi tumpuan hidup bagi keluarganya.
Air-air nira segar ini akan segera diolah menjadi gula merah dan gula semut dengan proses pemasakan selama 5 jam.
“Prosesnya memang lama. Paling sulit membuat membuat gula semut. Karena jika waktu pemasakannya tdak tepat maka akan gagal,” ucap Nursalim di rumahnya, Minggu (22/1/2017).
Berbekal beberapa kali pelatihan yang diselenggarakan Dinas Perindustrian dan Koperasi Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) dan PT Chevron, dirinya menekuni usaha kerajinan gula kelapa ini 4 tahun terakhir
Menurut Nursalim, gula merah yang dihasilkannya sengaja dibentuk menjadi bola setengah lingkaran kecil-kecil agar berbeda dengan gula merah yang dihasilkan pengrajin lainnya.
Beda ini juga ditemui pada kemasan yang menggunakan plastic dan memiliki label. Selama ini gula merah tradisional menggunakan daun pohon aren sebagai membungkus dan memiliki ukuran besar-besar seukuran kepalan orang dewasa.
Proses pemasakan air nira kelapa ini harus dilakukan secepat mungkin karena air nira bisa rusak karena terus mengalami proses fermentasi. Nursalim hanya menggunakan kulit manggis untuk memperlambat proses fermentasi ini.
“Jadi semua gula yang dihasilkan melalui proses alami tanpa penggunaan bahan kimia. Selain lebih sehat, tentu ini akan menjdi salah satu keunggulan produk,” tegasnya.
Dengan harga jual Rp.6000 per bungkus untuk gula merah dan Rp. 12.000 per bungkus seberat 200 gram untuk gula semut, produksinya cukup laku dipasaran baik lokal di Kecamatan Penajam ataupun dikirim ke Balikppan, Samarinda hingga Tanah Grogot, Kabupaten Paser.
Oleh pengepul, produk gula milik Nursalim setelah masuk toko dan swalayan dijual Rp.7.000-8.000 per bungkus dan Rp.14.000 untuk gula semut.
Menurut Nursalim, dengan dikenalnya produk miliknya, urusan pemasaran menjadi salah satu tantangan yang dihadapi. Karena, selain memproduksi gula, dirinya juga disibukkan dengan urusan pesanan dan penjualan.
Nursalim berharap uluran bantuan instansi terkait untuk membantu pemasaran. rumah produksi dan rumah kemas, agar produk yang dihasilkan dapat lebih bersih, bermutu dan sesuai dengan syarat produksi pangan.
“Memang sudah banyak pemesanan dari kota-kota sekitar Penajam. Saya kewalahan. Makanya saya ingin mencari pembeli yang dapat menjadi mitra. Mereka beli gula curah tanpa kemasan dan dibungkus ulang di kota tujuan dengan bungkus dan label merek sama dengan produk saya,” jelas Nursalim.(vb/yul)
Respon Pembaca
Silahkan tulis komentar anda...