Filosofi Bak Truk yang Relevan di Era FOMO & JOMO

February 1, 2026 by  
Filed under Opini

Share this news

Oleh : Riyawan S.hut *)

Di tengah perjalanan panjang di jalan raya, sering kali mata kita tertumbuk pada tulisan sederhana di bak truk. Kalimatnya singkat, bahasanya lugas, tapi maknanya dalam. Salah satunya berbunyi “ora perlu tenar, ora perlu sangar, ora perlu kowar-kowar, seng penteng rezeki lancar.”

Kalimat ini bukan sekadar hiasan atau candaan. Ia adalah potret cara pandang hidup yang jujur, membumi, dan tanpa disadari kalimat tersebut sangat relevan dengan fenomena modern seperti FOMO dan JOMO.

Tulisan di bak truk adalah suara jalanan. Ia lahir dari peluh, jam kerja panjang, dan realitas hidup yang tidak selalu ramah. Bagi para sopir, bak truk adalah kanvas, tempat menuangkan filosofi hidup yang tidak diajarkan di ruang seminar, tapi ditempa langsung di aspal panas. Dari situlah kita belajar bahwa hidup tidak selalu tentang terlihat hebat, tapi tentang bisa pulang dengan rezeki yang cukup dan hati yang tenang.

Makna “Ora Perlu Tenar, Ora Perlu Sangar, Ora Perlu Kowar-Kowar”

Di era digital, popularitas sering dianggap sebagai tolok ukur kesuksesan. Banyak orang berlomba-lomba tampil, bersuara keras, dan membangun citra. Namun, filosofi bak truk justru melawan arus itu dengan tenang.

“Ora perlu tenar” bukan berarti anti-sukses atau menolak kemajuan. Ini adalah pengingat bahwa tidak semua pencapaian harus disorot. Banyak pekerjaan penting yang berjalan dalam senyap. Sopir truk, misalnya, mungkin tak dikenal namanya, tapi tanpa mereka roda ekonomi bisa macet. Nilai seseorang tidak selalu sebanding dengan jumlah pengikut atau seberapa sering namanya disebut.

Lalu “ora perlu sangar” mengajarkan bahwa galak dan keras bukanlah simbol kekuatan. Di jalan raya, emosi mudah tersulut. Tapi mereka yang bertahan lama justru adalah yang sabar dan mampu menahan diri. Sikap tenang bukan tanda kalah, melainkan kecerdasan emosional. Hidup akan terasa lebih ringan saat kita berhenti merasa harus selalu terlihat dominan.

Sementara itu, “ora perlu kowar-kowar” menegaskan pentingnya tindakan dibandingkan omongan. Banyak orang terjebak dalam budaya pamer rencana dan pencapaian, padahal kerja nyata sering terjadi dalam diam. Prinsip ini mengajarkan fokus pada hasil, bukan validasi. Diam bukan berarti tidak punya apa-apa, tapi sedang sibuk membangun sesuatu.

Keseluruhan pesan ini mengarah pada satu tujuan utama yakni hidup yang tidak ribet, tidak penuh drama, dan tidak terkuras oleh tuntutan sosial yang tidak perlu.

Dari Bak Truk ke Media Sosial: FOMO yang Melelahkan

Kalau filosofi bak truk itu diterjemahkan ke konteks modern, ia seperti kritik halus terhadap FOMO (Fear of Missing Out). FOMO adalah rasa takut tertinggal, takut tidak ikut tren, takut tidak dianggap. Media sosial memperparah kondisi ini. Kita merasa harus selalu update, selalu terlihat sibuk, selalu punya cerita menarik.

Ironisnya, semakin kita mengejar pengakuan, semakin capek rasanya. Hidup jadi ajang perbandingan tanpa akhir. Melihat orang lain liburan, sukses, atau viral, kita lupa bahwa apa yang terlihat belum tentu utuh. FOMO membuat kita merasa kurang, padahal sebenarnya kita sedang baik-baik saja.

Di sinilah nasihat “ora perlu tenar” terasa menampar dengan lembut. Tidak semua momen harus dipamerkan. Tidak semua proses butuh penonton. Hidup bukan lomba siapa paling ramai, tapi siapa paling kuat bertahan.

Sikap “ora perlu sangar” juga relevan. FOMO sering memicu emosi berlebihan seperti iri, cemas, bahkan marah pada diri sendiri. Padahal, ketenangan adalah aset besar. Orang yang tenang cenderung lebih fokus, lebih jernih mengambil keputusan, dan tidak mudah goyah oleh hiruk-pikuk luar.

Sedangkan “ora perlu kowar-kowar” seolah berkata berhentilah menjelaskan hidupmu pada semua orang. Tidak semua orang perlu tahu rencanamu, dan tidak semua validasi itu penting. Energi yang kamu simpan bisa jadi bahan bakar untuk hal yang lebih berarti.

JOMO: Jalan Tenang Menuju Rezeki yang Lancar

Jika FOMO adalah kebisingan, maka JOMO (Joy of Missing Out) adalah ketenangan. JOMO mengajarkan kebahagiaan dari memilih untuk tidak selalu ikut. Bukan karena tidak mampu, tapi karena sadar apa yang benar-benar dibutuhkan.

JOMO sejalan dengan kalimat pamungkas bak truk “sing penting rezeki lancar.” Rezeki yang lancar bukan hanya soal uang, tapi juga ketenangan batin, kesehatan, dan waktu bersama keluarga. Semua itu sulit didapat jika hidup terus dikejar rasa takut ketinggalan.

Dengan JOMO, kita belajar memilah. Tidak semua undangan harus dihadiri, tidak semua tren harus diikuti, dan tidak semua perdebatan perlu dimenangkan. Kita mulai menghargai hidup yang cukup, bukan hidup yang kelihatan wah.

Penerapannya sederhana. Kurangi notifikasi yang tidak perlu. Nikmati waktu tanpa harus mendokumentasikan segalanya. Fokus pada pekerjaan dengan sungguh-sungguh, meski tidak selalu terlihat. Seperti sopir truk yang tetap melaju, meski namanya tak pernah terpampang di baliho.

Pada akhirnya, filosofi bak truk dan konsep JOMO bertemu di satu titik yakni hidup yang jujur pada diri sendiri. Tidak sibuk membuktikan apa-apa, tidak terjebak dalam kebisingan sosial, dan tidak lupa tujuan utama, rezeki yang lancar dan hati yang lapang.

Di dunia yang serba cepat, mungkin kita memang tidak perlu tenar, tidak perlu sangar, dan tidak perlu kowar-kowar. Karena sering kali, yang paling berharga justru datang pada mereka yang berjalan pelan, fokus, dan tahu kapan harus “ketinggalan”.

*) Pemerhati Sosial & Budaya

 


Share this news

Respon Pembaca

Silahkan tulis komentar anda...





Redaksi menerima komentar terkait artikel diatas. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak tidak menampilkan komentar jika mengandung perkataan kasar, menyinggung, mengandung fitnah, tidak etis, atau berbau SARA.

  • vb

  • Pengunjung

    1240594
    Users Today : 2531
    Users Yesterday : 6380
    This Year : 177104
    Total Users : 1240594
    Total views : 11577959
    Who's Online : 73
    Your IP Address : 216.73.216.157
    Server Time : 2026-02-01