Madinah dan Pengalaman Pertama Menemukan Ketenteraman

February 2, 2026 by  
Filed under Serba-Serbi

Share this news

MADINAH – Perjalanan pertama saya ke Madinah dimulai dari Jeddah melalui jalur darat yang memakan waktu sekitar lima hingga enam jam. Di dalam bus, suasana tidak sepenuhnya hening. Doa-doa dipimpin oleh muthowif, dilafalkan bergantian dengan suara pelan namun teratur, mengiringi langkah kami yang masih gelap oleh malam.

Menjelang pukul lima pagi, bus berhenti di sebuah rest area. Langit belum sepenuhnya terang ketika kami turun untuk menunaikan salat Subuh, sebuah jeda singkat sebelum Madinah benar-benar menyambut.

Madinah kerap disebut sebagai kota yang menenangkan. Pengalaman pertama saya di kota ini memperkuat anggapan tersebut. Tidak ada kesan tergesa atau hiruk pikuk yang menekan. Aktivitas berjalan tertib, ritme kota terasa stabil. Madinah tidak menampilkan kemegahan yang mencolok, tetapi justru menghadirkan ketenangan yang konsisten seperti sesuatu yang tidak perlu dipertontonkan untuk diyakini.

Data Kementerian Haji dan Umrah Arab Saudi mencatat, jutaan jamaah dari berbagai negara datang ke Madinah setiap tahun, terutama pada musim umrah dan haji. Namun, di tengah arus manusia yang besar itu, kota ini tetap terasa terkelola dengan tenang. Barangkali, di sinilah letak paradoks Madinah, ramai, tetapi tidak riuh.

Sebagai perempuan yang baru pertama kali menginjakkan kaki di Madinah, saya datang dengan sejumlah kegelisahan personal, tentang masa depan, tentang pilihan hidup, tentang rasa tertinggal yang kerap menghampiri usia dua puluhan. Namun Madinah tidak menawarkan jawaban cepat. Kota ini justru memberi jarak. Ia seperti ruang antara, tempat seseorang berhenti mengejar kepastian dan mulai berdamai dengan ketidakpastian itu sendiri.

“Di Madinah, saya merasa tidak sedang dituntut apa pun. Saya hanya diminta hadir,” catat saya dalam jurnal perjalanan. Senin,(16/1/2026).

Masjid Nabawi menjadi pusat dari denyut kota ini. Berdasarkan catatan otoritas setempat, masjid yang pertama kali dibangun Nabi Muhammad SAW. tersebut kini mampu menampung lebih dari satu juta jamaah, terutama setelah perluasan besar-besaran dalam beberapa dekade terakhir. Namun, di tengah kapasitas sebesar itu, suasana tetap terjaga. Ketika memasuki kawasan masjid, langkah seolah melambat dengan sendirinya. Suara diturunkan. Gerak menjadi lebih tertib.

Ziarah ke makam Rasulullah SAW. dilakukan dengan pengaturan ketat dan disiplin. Tidak ada ruang untuk euforia berlebihan. Di titik itu, saya haru dan takjub.

Di area yang sama dimakamkan Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Umar bin Khattab. Dua figur sentral dalam sejarah Islam yang kerap disebut sebagai simbol keteguhan dan keadilan.

Bagi banyak jamaah, Madinah kerap diposisikan sebagai tempat menenangkan hati sebelum memasuki rangkaian ibadah yang lebih padat di Mekkah. Dalam pengalaman saya, peran itu terasa nyata. Madinah mengajarkan iman tidak selalu tumbuh dari emosi yang meledak, tetapi dari keheningan yang dipelihara. (intan)


Share this news

Respon Pembaca

Silahkan tulis komentar anda...





Redaksi menerima komentar terkait artikel diatas. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak tidak menampilkan komentar jika mengandung perkataan kasar, menyinggung, mengandung fitnah, tidak etis, atau berbau SARA.

  • vb

  • Pengunjung

    1249227
    Users Today : 5053
    Users Yesterday : 6111
    This Year : 185736
    Total Users : 1249227
    Total views : 11625600
    Who's Online : 60
    Your IP Address : 216.73.216.157
    Server Time : 2026-02-02