Mudah Lupa dan Sulit Fokus Bisa Jadi Tanda Stres

February 5, 2026 by  
Filed under Serba-Serbi

Share this news

Samarinda — Lupa naruh barang, sulit fokus saat membaca, atau merasa otak “lemot” sering dianggap kurang tidur atau kebanyakan main gawai. Namun, sejumlah penelitian menunjukkan, stres berkepanjangan dapat memengaruhi fungsi kognitif, termasuk daya ingat, konsentrasi, dan kecepatan berpikir kondisi yang kerap disebut sebagai brain fog.

Secara ilmiah, stres memicu pelepasan hormon kortisol. Dalam kadar tinggi dan berlangsung lama, kortisol diketahui dapat memengaruhi hipokampus, bagian otak yang berperan penting dalam pembentukan memori dan proses belajar.

Penelitian di bidang neuropsikologi menunjukkan, individu dengan tingkat stres tinggi cenderung mengalami penurunan konsentrasi, kesulitan mengingat informasi baru, lambat mengambil keputusan.

Stres kronis juga dikaitkan dengan penurunan working memory, yakni kemampuan otak menyimpan dan mengolah informasi dalam waktu singkat kemampuan yang sangat dibutuhkan saat belajar dan bekerja.

Pakar kesehatan menjelaskan, saat stres, otak berada dalam mode bertahan (survival mode). Energi mental lebih difokuskan untuk menghadapi ancaman — bukan untuk berpikir jernih, menghafal, atau berkonsentrasi.

Akibatnya, meski secara fisik seseorang tampak baik-baik saja, secara mental ia bisa merasa cepat lelah saat berpikir, sulit menangkap informasi, mudah terdistraksi, dan merasa “kosong” atau lambat merespons.

Jika kondisi ini berlangsung lama, performa akademik dan pekerjaan bisa ikut terdampak.

Keluhan ini banyak diungkapkan Gen Z dalam percakapan sehari-hari maupun media sosial.

Seorang Gen Z menuturkan, Cipa 19 tahu. kerap merasa gagal fokus.

“Aku jadi gampang lupa dan gagal fokus, padahal nggak kurang tidur. Ternyata pas lagi banyak pikiran, otakku kayak penuh,” tuturnya.

Pengalaman ini menunjukkan, penurunan fokus bukan selalu soal kecerdasan, melainkan kondisi mental yang sedang terbebani.

Bagi generasi muda, kondisi ini sering berbahaya karena disalahartikan sebagai kemalasan atau kurang kompeten.

Penurunan daya ingat dan fokus bisa menjadi sinyal halus bahwa otak sedang kelelahan secara emosional. Bukan berarti rusak, tetapi membutuhkan waktu untuk bernapas.


Share this news

Respon Pembaca

Silahkan tulis komentar anda...





Redaksi menerima komentar terkait artikel diatas. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak tidak menampilkan komentar jika mengandung perkataan kasar, menyinggung, mengandung fitnah, tidak etis, atau berbau SARA.

  • vb

  • Pengunjung

    1272126
    Users Today : 7164
    Users Yesterday : 7329
    This Year : 208636
    Total Users : 1272126
    Total views : 11763996
    Who's Online : 89
    Your IP Address : 216.73.216.141
    Server Time : 2026-02-05