Pulang Sebelum Gelap, Aturan Orang Tua yang Dulu Sakral

February 11, 2026 by  
Filed under Serba-Serbi

Share this news

Aturan pulang ke rumah sebelum gelap pernah menjadi kesepakatan tak tertulis di banyak keluarga Indonesia. Menjelang waktu magrib, jalanan kampung biasanya mulai lengang dari anak-anak. Bagi orang tua, batas waktu ini bukan sekadar soal jam, melainkan bentuk perlindungan, kedisiplinan, dan nilai yang ditanamkan sejak dini.

Dalam tradisi masyarakat Indonesia, khususnya di lingkungan yang masih kental dengan nilai religius dan budaya, waktu magrib dipandang sebagai momen peralihan. Anak-anak dianjurkan sudah berada di rumah, bersiap untuk ibadah, makan malam, dan berkumpul bersama keluarga. Selain alasan keagamaan, faktor keamanan juga menjadi pertimbangan utama. Gelap dianggap membawa risiko, terutama bagi anak perempuan.

“Dulu aku sering dimarahi habis-habisan kalau pulang pas menjelang magrib. Biasanya orang tua sudah nyariin ke mana-mana,” ujar Tarbiah, Gen Z yang kini hidup di perantauan. Ia mengingat betul bagaimana aturan itu terasa mutlak dan tak bisa ditawar saat masih tinggal bersama orang tua.

Menurutnya, kemarahan orang tua kala itu lebih banyak dipicu oleh rasa cemas. Komunikasi belum semudah sekarang, belum ada ponsel pintar atau pesan instan yang bisa memberi kabar cepat. Ketika anak belum pulang saat hari mulai gelap, kekhawatiran orang tua kerap berubah menjadi amarah.

Seiring bertambahnya usia dan hidup mandiri, aturan tersebut perlahan kehilangan konteksnya. “Sekarang, pas sudah dewasa dan hidup di perantauan, rasanya aturan itu sudah enggak berlaku lagi. Pulang malam jadi hal yang biasa, apalagi karena tuntutan kerja,” katanya.

Namun, kebiasaan lama itu rupanya tak benar-benar hilang. Setiap kali pulang ke rumah orang tua, pola yang sama kembali muncul meski dengan wajah yang lebih lembut.

“Sampai sedewasa ini pun, orang tuaku masih melakukan hal yang sama. Kalau aku belum pulang menjelang gelap, tetap dicariin. Bedanya, sudah enggak pakai marah-marah,” tutur Tarbiah. Ia menegaskan, sebagai anak perempuan, perhatian itu terasa lebih kuat.

Di tengah perubahan gaya hidup Gen Z yang lebih fleksibel dan mobilitas tinggi, kebiasaan ini kini lebih sering hadir sebagai pengingat, bukan larangan keras. Bagi sebagian anak, aturan itu mungkin terasa kuno. Namun bagi orang tua, kebiasaan tersebut adalah bahasa cinta yang tak pernah benar-benar usang. (intan)


Share this news

Respon Pembaca

Silahkan tulis komentar anda...





Redaksi menerima komentar terkait artikel diatas. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak tidak menampilkan komentar jika mengandung perkataan kasar, menyinggung, mengandung fitnah, tidak etis, atau berbau SARA.

  • vb

  • Pengunjung

    1312052
    Users Today : 1872
    Users Yesterday : 6221
    This Year : 248562
    Total Users : 1312052
    Total views : 11995410
    Who's Online : 39
    Your IP Address : 216.73.216.15
    Server Time : 2026-02-12