Rambut Rontok Bisa Jadi Penanda Stres

February 5, 2026 by  
Filed under Kesehatan

Share this news

Rambut rontok kerap dianggap masalah perawatan semata. Namun, sejumlah penelitian medis menunjukkan, kerontokan rambut dapat menjadi penanda tubuh sedang berada dalam kondisi stres, terutama stres kronis. Fenomena ini semakin banyak dibicarakan, khususnya di kalangan generasi muda yang menghadapi tekanan akademik, pekerjaan, hingga tuntutan sosial.

Secara biologis, rambut memiliki siklus pertumbuhan yang terdiri dari fase anagen (tumbuh), katagen (transisi), dan telogen (istirahat). Saat seseorang mengalami stres berat, tubuh dapat mendorong folikel rambut masuk lebih cepat ke fase telogen, kondisi yang dikenal sebagai telogen effluvium, sehingga rambut rontok dalam jumlah lebih banyak dari normal.

Penelitian yang dimuat dalam National Institutes of Health (NIH) juga menunjukkan, hormon stres seperti kortisol berperan dalam menghambat aktivitas sel punca folikel rambut, sehingga memperlambat regenerasi rambut dan memperpanjang fase istirahat .

Sementara itu, studi cross-sectional yang dipublikasikan di PubMed Central (PMC) di Arab Saudi menemukan adanya hubungan signifikan antara tingkat stres tinggi dan kejadian rambut rontok pada responden dewasa .

Mayo Clinic menyebutkan, pada sebagian besar kasus telogen effluvium, rambut rontok bersifat sementara dan dapat tumbuh kembali setelah faktor pemicu stres teratasi, meskipun waktu pemulihannya berbeda pada tiap individu .

Namun, jika kerontokan berlangsung lama atau disertai penipisan yang tidak merata, pemeriksaan medis tetap dianjurkan untuk menyingkirkan kemungkinan penyebab lain, seperti gangguan hormonal atau alopecia areata.

Di media sosial dan forum diskusi daring, banyak Gen Z membagikan pengalaman pribadi mereka soal rambut rontok yang dikaitkan dengan stres.

“Waktu stres kuliah lagi parah-parahnya, rambutku rontok banget. Bangun tidur, lihat bantal isinya rambut semua. Itu bikin tambah panik,” tulis seorang pengguna tiktok.

Pengguna lain mengungkapkan, kerontokan justru terasa setelah tekanan berlalu,

“Pas masalahnya selesai, kukira badanku udah aman. Tapi dua bulan kemudian rambut mulai rontok parah. Baru sadar ternyata efek stresnya telat,” tulis yang lain dalam sebuah komentar di tiktok.

Fenomena rambut rontok akibat stres menjadi pengingat bahwa kesehatan mental dan fisik saling berkaitan. Meski sering kali bersifat sementara, para ahli menilai kondisi ini dapat menjadi alarm tubuh agar seseorang lebih memperhatikan keseimbangan hidup, mulai dari manajemen stres, kualitas tidur, hingga pola makan.

Bagi generasi muda yang hidup dalam ritme cepat dan penuh tuntutan, rambut rontok tak lagi sekadar soal penampilan, melainkan sinyal tubuh yang meminta jeda.


Share this news

Respon Pembaca

Silahkan tulis komentar anda...





Redaksi menerima komentar terkait artikel diatas. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak tidak menampilkan komentar jika mengandung perkataan kasar, menyinggung, mengandung fitnah, tidak etis, atau berbau SARA.

  • vb

  • Pengunjung

    1494242
    Users Today : 2715
    Users Yesterday : 6601
    This Year : 430752
    Total Users : 1494242
    Total views : 13138508
    Who's Online : 38
    Your IP Address : 216.73.216.33
    Server Time : 2026-03-18