Sulit Tidur Bisa Jadi Sinyal Stres

February 5, 2026 by  
Filed under Kesehatan

Share this news

Samarinda — Sulit tidur kerap dianggap hal sepele, apalagi di kalangan anak muda. Begadang, scrolling tanpa henti, atau pola tidur berantakan sering dinormalisasi. Namun, sejumlah penelitian menunjukkan, gangguan tidur bisa menjadi penanda stres psikologis yang tidak tertangani, terutama pada generasi muda yang hidup di tengah tekanan akademik dan tuntutan produktivitas.

Penelitian di bidang kesehatan tidur menunjukkan, stres memengaruhi sistem saraf dan produksi hormon seperti kortisol, yang berperan besar dalam mengatur siklus tidur-bangun. Ketika stres meningkat, kadar kortisol cenderung tetap tinggi pada malam hari, sehingga tubuh sulit memasuki fase tidur nyenyak.

Studi yang dipublikasikan oleh National Sleep Foundation dan sejumlah jurnal kedokteran menyebutkan, individu dengan tingkat stres tinggi lebih rentan mengalami insomnia, tidur tidak nyenyak, dan sering terbangun di malam hari. Kondisi ini bukan hanya mempersingkat durasi tidur, tetapi juga menurunkan kualitasnya.

Pakar kesehatan menjelaskan, saat stres, otak berada dalam mode siaga (hyperarousal). Secara fisik, tubuh mungkin berbaring dan memejamkan mata, tetapi secara mental, pikiran terus bekerja memikirkan tugas, masa depan, atau hal-hal yang belum selesai. Akibatnya, seseorang bisa, sulit terlelap meski sudah lelah, sering terbangun di tengah malam, bangun tidur dengan tubuh tetap terasa capek.

Jika berlangsung lama, kondisi ini dapat berkembang menjadi kelelahan kronis dan berdampak pada kesehatan mental maupun fisik.

Fenomena ini banyak dirasakan langsung oleh Gen Z. Yanti, perempuan berusia 23 tahun itu kerap merasakan sulit tidur.

“Badanku capek banget, tapi pas mau tidur otak malah muter. Mikirin kerjaan, mikirin hidup. Akhirnya tidur cuma 2–3 jam,” ujarnya, Rabu (4/2/2026).

Kurang tidur akibat stres tidak hanya berdampak pada rasa kantuk. Dalam jangka panjang, kondisi ini dikaitkan dengan, penurunan konsentrasi dan memori, emosi lebih mudah meledak, imunitas menurun, hingga meningkatnya risiko gangguan kecemasan dan depresi.

Bagi generasi muda, hal ini berpotensi mengganggu produktivitas, relasi sosial, dan kualitas hidup secara keseluruhan.

Gangguan tidur bisa menjadi alarm paling halus yang diberikan tubuh saat stres sudah terlalu lama dipendam. Bukan sekadar sinyal kelelahan, tetapi peringatan, pikiran dan tubuh membutuhkan jeda.


Share this news

Respon Pembaca

Silahkan tulis komentar anda...





Redaksi menerima komentar terkait artikel diatas. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak tidak menampilkan komentar jika mengandung perkataan kasar, menyinggung, mengandung fitnah, tidak etis, atau berbau SARA.

  • vb

  • Pengunjung

    1272113
    Users Today : 7151
    Users Yesterday : 7329
    This Year : 208623
    Total Users : 1272113
    Total views : 11763970
    Who's Online : 85
    Your IP Address : 216.73.216.141
    Server Time : 2026-02-05