Safari Masjid di Ramadan Pertama di Samarinda

March 5, 2026 by  
Filed under Religi, Sosial & Budaya

Share this news

SAMARINDA – Ramadan tahun ini terasa berbeda bagiku. Meski sudah hampir tiga tahun tinggal di Samarinda, ini adalah pertama kalinya bagi saya, Intan Tarbiatul Wardah, benar-benar menjalani Ramadan di kota ini. Sebelumnya, dua Ramadan terakhir dihabiskan di sebuah pesantren di Tasikmalaya. Sementara untuk Iduladha, sudah dua kali merayakannya di Samarinda.

Sebagai perempuan kelahiran Bogor, pengalaman Ramadan di pesantren tentu memiliki warna tersendiri. Hari-hari di sana dipenuhi dengan jadwal yang padat, mulai dari tadarus, kajian, hingga berbagai program pesantren yang membuat waktu terasa berjalan begitu cepat. Ramadan di pesantren ibarat sebuah orkestra yang ritmenya sudah tersusun rapi: sahur, subuh berjamaah, kajian, hingga ibadah malam berjalan dalam alur yang hampir tak pernah berhenti.

Sebenarnya saat itu saya punya kesempatan untuk pulang ke rumah. Namun aku memilih tetap tinggal di pesantren, bahkan sampai merayakan Idulfitri di sana. Keputusan itu kuambil karena ingin benar-benar merasakan atmosfer Ramadan hingga Lebaran di lingkungan pesantren.

“Di pesantren, Ramadan itu penuh kegiatan. Dari sahur sampai malam selalu ada program. Walaupun sebenarnya bisa pulang, waktu itu aku memilih tetap di sana karena ingin merasakan pengalaman berlebaran di pesantren,” kenangku.

Tahun ini ceritanya berbeda. Tanpa rutinitas pesantren yang padat, aku justru mencoba menikmati Ramadan dengan cara lain menjelajahi berbagai masjid di Samarinda melalui semacam safari ibadah, dari satu masjid ke masjid lainnya. Jika di pesantren Ramadan terasa seperti satu ruang yang penuh aktivitas, maka di Samarinda aku merasakannya seperti perjalanan kecil yang membuka banyak pintu pengalaman.

Perjalanan itu dimulai dari Masjid Baitul Muttaqien Islamic Center Samarinda, masjid megah yang berdiri di tepi Sungai Mahakam. Masjid ini dikenal sebagai salah satu yang terbesar di Indonesia, dengan luas kompleks mencapai puluhan hektare dan mampu menampung puluhan ribu jamaah. Kubah besarnya yang berwarna biru sering menjadi penanda bagi siapa pun yang melintas di tepian sungai.

Tarawih di sana menghadirkan suasana yang sangat ramai. Jamaah datang dari berbagai penjuru kota mulai dari keluarga, mahasiswa, hingga para pekerja yang baru saja pulang dari aktivitasnya.

“Pertama kali tarawih di Islamic Center rasanya luar biasa. Jamaahnya sangat banyak dan suasananya terasa megah. Tapi justru di situ terasa sekali kebersamaan Ramadan,” ceritaku.

Dari sana, langkahku juga sampai ke Masjid Nurul Mu’minin Pemprov Kaltim, masjid yang berada di kawasan kantor Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur. Suasana di sana terasa lebih tenang, dengan jamaah yang sebagian besar berasal dari lingkungan perkantoran dan warga sekitar.

Perjalanan itu berlanjut ke kawasan Simpang Lembuswana, kemudian ke daerah Loa Bakung untuk menunaikan salat di Masjid Jami’ Nurul Huda Loa Bakung. Di beberapa tempat, aku melihat hal-hal kecil yang justru membuat Ramadan terasa hangat seperti anak-anak yang berlarian di halaman masjid, atau jamaah yang saling menyapa setelah salam terakhir.

Sementara itu, salah satu masjid yang juga sempat aku kunjungi adalah Masjid Jami’ Shiratal Mustaqiem, yang dikenal sebagai masjid tertua di Samarinda dan berdiri sejak akhir abad ke-19. Masjid kayu itu menjadi saksi perjalanan panjang penyebaran Islam di kota tepian.

Namun saat berkunjung ke sana, aku hanya sempat menunaikan salat Magrib. Jaraknya yang cukup jauh dari tempat tinggalku membuatku tidak melanjutkan hingga salat tarawih.

“Waktu itu aku hanya sempat salat Magrib di Shiratal Mustaqiem karena jaraknya lumayan jauh. Tapi suasananya terasa sangat khas. Ada rasa tenang yang berbeda ketika berada di masjid yang sudah berdiri sejak ratusan tahun lalu,” ungkapku.

Selain masjid besar dan bersejarah, aku juga sering beribadah di masjid yang paling dekat dengan tempat tinggalku, yakni Masjid Nurul Inayaat di Jalan A. Wahab Syahranie, Sempaja. Di sana suasananya terasa lebih akrab karena jamaahnya sebagian besar adalah warga sekitar.

Bagiku, secara teknis ibadah tarawih tentu sama di mana pun, rakaatnya sama, bacaannya sama, dan tata caranya pun tidak berubah. Namun yang membuat pengalaman di setiap masjid terasa berbeda adalah suasana yang hadir di dalamnya.

Ada masjid yang terasa seperti lautan manusia, ada pula yang terasa seperti ruang kecil yang hangat. Seperti langit malam yang sama, tetapi setiap bintang memancarkan cahaya dengan caranya sendiri.

“Aku selalu tertarik dengan keindahan masjid-masjidnya dan suasana yang berbeda di setiap tempat. Walaupun salatnya sama, tapi atmosfernya selalu punya cerita sendiri,” kataku.

Safari masjid ini akhirnya membuat Ramadan pertamaku di Samarinda terasa lebih berwarna. Dari satu masjid ke masjid lainnya, aku merasa seperti sedang merangkai potongan-potongan pengalaman yang perlahan membentuk kenangan baru tentang Ramadan di kota ini. (intan)


Share this news

Respon Pembaca

Silahkan tulis komentar anda...





Redaksi menerima komentar terkait artikel diatas. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak tidak menampilkan komentar jika mengandung perkataan kasar, menyinggung, mengandung fitnah, tidak etis, atau berbau SARA.

  • vb

  • Pengunjung

    1432929
    Users Today : 2475
    Users Yesterday : 7966
    This Year : 369439
    Total Users : 1432929
    Total views : 12684183
    Who's Online : 58
    Your IP Address : 216.73.216.130
    Server Time : 2026-03-05