Topan, Mahasiswa Wirausaha Generasi Mandiri

Rumah magot
Memikul sampah, mendorong gerobak, menggergaji kayu, mengaduk semen . Begitulah pekerjaan fisik kasar yang dilakoni oleh anak muda kelahiran Samarinda, 23 Januari 1996.
“Saya sedang membangun rumah magot dan kolam budidaya ikan aquafonik.”ujarnya
Topan Yanuar Muslim, merasa prihatim banyak sampah organik yang hanya ditumpuk di tempat pembuangan akhir. Menurutnya itu akan menguap ke udara menjadi gas metana.
“Gas metana itu berpotensi merusak ozon,” kata Topan.
Topan, pemuda Samarinda yang pernah mengeyam penidikan di UNY Yogyakarta, program studi pendidikan olahraga. Kuliahnya terhenti di semester 10. Kembali ke Samarinda, kini kuliah di Politani Samarinda program studi giomatika D-3. Fasilitas maqot yang dibangunnya setelah proposal yang diajukannya ke Dikti terkait dengan pendidikan wirausaha mahasiswa disetujui.
Pembelajaran bidang pendidikan di Indonesia di samping menyiapkan bangsa yang cerdas, terampil, berbudi luhur juga membentuk generasi mandir, sepertinya diterapkan Topan, anak ke 4 dari 4 saudara pasangan Herry Suprihanto dengan Ayu Nurjanah,
“Pengolahan sampah organik ini di samping untuk menjaga kesehatan lingkungan hidup juga untuk memperoleh ekonomi secara mandiri. Sebab produknya nanti berupa pupuk organik, sayur organik, ikan, cacing dan magot yang bisa dijual, ” jelas Topan yang saat ini tinggal di jalan Antasari Samarinda. (Misman)
Respon Pembaca
Silahkan tulis komentar anda...