“Cak…cak…cak…” Menggema Menembus Gelap

November 23, 2025 by  
Filed under Wisata

Share this news

Pertunjukan Tari Kecak

BADUNG- BALI – Tepat pukul 7 malam, langit Uluwatu jatuh dalam gelap yang pelan-pelan menelan cahaya. Hanya siluet tebing dan sinar obor yang menyala di tengah arena, membentuk lingkaran cahaya kuno yang terasa seperti gerbang menuju dunia lain.

Di waktu inilah Sanggar Tari Karang Boma Desa Adat Pecatu memulai pertunjukan Kecak, tarian Bali tanpa gamelan yang justru mengguncang karena kekuatan suara manusia. “Cak…cak…cak…” bergema seperti mantra purba, membawa para penonton masuk ke dalam kisah Ramayana yang diceritakan ulang dengan tubuh, napas, dan api.

Malam membuat segalanya terasa seperti mistis. Seolah bukan menyaksikan pertunjukan, tetapi justru sedang dipanggil menjadi bagian dari cerita.

Kecak lahir dari tradisi Sang Hyang, ritual trans untuk berkomunikasi dengan para leluhur. Dalam gelap yang hanya diterangi obor, unsur sakral itu terasa lebih kuat. Api menari, bayangan para penari bergoyang, dan suara “cak” menjadi denyut nadi dari sebuah warisan budaya yang hidup dari generasi ke generasi.

Kisah Ramayana pun mengalir, Kijang Emas muncul, Sita diculik Rahwana, Hanoman hadir sebagai penyelamat, hingga perang besar di penghujung cerita. Semuanya dihidupkan oleh tubuh, suara, dan cahaya api tanpa alat musik, tanpa efek. Murni manusia dan tradisi.

Di antara ratusan penonton malam itu, ada Ageng, seorang wisatawan yang untuk pertama kalinya menyaksikan Kecak secara langsung. Ia duduk di barisan tengah, wajahnya terpaku sejak lingkaran penari mulai bersuara.

“Saya sudah lihat cuplikannya di internet, tapi jam tujuh malam begini… suasananya beda sekali,” ujar Ageng, Sabtu (22/11/2025).

Malam yang gelap, suara ombak, angin… semuanya bersatu. Baru kali ini Ageng merasa pertunjukan bisa sampai ke hati. Dikatakan Ageng, adegan-adegan Ramayana terasa lebih hidup karena atmosfer malam membuat emosi penari dan penonton bertemu di tengah.

“Waktu Hanoman loncat-loncat di atas api, saya benar-benar merinding,” katanya.

Ageng bisa lihat wajah penonton lain tercengang. Semua ikut masuk ke dalam ceritanya. Menurutnya, pertunjukan malam memberi kesan spiritual yang tidak mungkin dirasakan pada siang hari.

“Api itu kelihatan lebih kuat saat malam. Suara ‘cak’ juga lebih bulat. Rasanya seperti tradisi ini sedang memeluk kita sebagai tamu,” tambahnya.

Dalam gelap, ekspresi penonton justru lebih tampak. Cahaya obor menyisakan sorot mata yang terkejut, tegang, atau terharu pada setiap pergantian adegan. Anak kecil memeluk orang tuanya saat Rahwana muncul. Turis-turis asing terdiam ketika Sita menjerit. Dan saat adegan perang besar, banyak yang tak sadar maju sedikit ke depan, seolah ingin lebih dekat dengan panggung.

Bagi Ageng, ini bukan sekadar tontonan. Kecak ini bukan hanya tarian yang ditonton.

“Saya merasa seperti duduk di antara legenda,” ujarnya.

Pertunjukan berakhir saat suara “cak” mereda, api mengecil, dan lingkaran penari menunduk memberi penghormatan. Tepuk tangan panjang menggulung dari barisan penonton, tapi yang tersisa adalah rasa hangat dari tradisi yang tetap hidup.

Malam pun kembali sunyi, kecuali gema ritual kuno yang masih menggantung di udara. (intan)

 


Share this news

Respon Pembaca

Silahkan tulis komentar anda...





Redaksi menerima komentar terkait artikel diatas. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak tidak menampilkan komentar jika mengandung perkataan kasar, menyinggung, mengandung fitnah, tidak etis, atau berbau SARA.

  • vb

  • Pengunjung

    1070453
    Users Today : 2870
    Users Yesterday : 4093
    This Year : 6963
    Total Users : 1070453
    Total views : 10541504
    Who's Online : 46
    Your IP Address : 216.73.216.188
    Server Time : 2026-01-02