Disergap Monyet di Uluwatu

November 23, 2025 by  
Filed under Opini

Share this news

Oleh: Intan Tarbiatul Wardah

DENPASAR – Senja mulai turun di Uluwatu, meninggalkan gurat oranye yang menyapu tebing-tebing curam dan pura yang berdiri gagah di ujung lautan. Angin sore membawa aroma garam dan suara ombak yang pecah di kaki batu karang.

Di tengah panorama yang memesona, para wisatawan mondar-mandir mencari spot foto terbaik, termasuk saya bersama Yana, yang akrab disapa Bunda.

Monyet di Uluwatu – Bali

Setelah puas berkeliling dan berfoto, rasa haus menyerang, saya memutuskan membeli beberapa botol air mineral dari pedagang terdekat. Bersama Bunda saya berjalan santai sambil membawa  sekantong kresek hitam berisi minuman.

Senja Uluwatu ternyata menyimpan “panggung” lain yang jauh lebih dramatis daripada sekadar pemandangan laut dan tebing. Langkah kami menuju area titik kumpul bersama yang disepakati yang tiba-tiba membuat saya terkejut. Dari sisi kiri, muncul seekor monyet abu-abu besar, diikuti beberapa lainnya yang berjalan mantap seolah menguasai wilayah. Dari depan, muncul lagi lebih banyak jumlahnya, dengan mata memperhatikan benda yang saya tenteng

Awalnya saya dan Bunda berjalan berdua tanpa menyadari keberadaan para “penyamun berekor” yang mendekat dengan percaya diri. Baru ketika beberapa turis di belakang tampak berhenti dan menatap, saya menyadari sedang masuk ke dalam “zona bahaya”.

Dengan ketenangan yang berpadu kepanikan kecil, saya Intan menoleh dan berkata cepat.

“Bunda, jalan duluan!,” teriak saya.

Bunda segera menyingkir, sementara saya masih berusaha mempertahankan plastik berisi minuman tersebut. Tapi hanya beberapa detik kemudian, seekor monyet besar mulai mempercepat langkah, diikuti yang lain. Gerakannya tegas, agresif, seperti sudah paham betul apa yang harus diambil.

Di hadapan ancaman puluhan monyet yang mendekat seperti gerombolan perampok terorganisir, saya segera membuat keputusan cepat, keputusan yang sangat masuk akal dalam ekologi Uluwatu. Botol-botol air beterbangan dan jatuh di tanah. Seperti adegan rebutan makanan dalam film dokumenter, para monyet langsung menyerbu, saling tarik, saling loncat. Benar-benar pemandangan yang tak pernah dibayangkan moment ini saya saksikan langsung.

 

Di tengah kekacauan kecil itu, beberapa turis yang berdiri di tangga menjerit memperingatkan.

“Your glasses! Your phone!,” teriaknya.

Saya memang menggunakan kacamata. Reputasi monyet Uluwatu memang terkenal mengambil kacamata atau ponsel yang dibawa turis.

Saya dengan refleks melepas kacamata, memasukkannya dengan sigap ke dalam tas bersama posel di genggaman. Semua dilakukan dalam hitungan detik.

Di depannya, gerombolan monyet mulai berpencar, puas dengan jarahan air mineral yang kini sudah berada di tangan (atau tepatnya dalam genggaman) mereka. Beberapa bahkan membawa lari botol itu sambil berteriak kecil, seolah merayakan kemenangan.

Setelah memastikan semua barang aman, saya menyusul Bunda. Saya berjalan perlahan melewati monyet-monyet yang masih sibuk menikmati botol-botol air tadi. Beberapa turis menatap dengan kagum, sebagian masih menahan tawa, dan beberapa lagi terlihat ngeri melihat aksi para monyet yang begitu terkoordinasi.

Mereka akhirnya sampai di area aman. Wajah Intan sedikit merah, antara lelah, deg-degan, dan geli. Bunda menatap saya sambil tertawa tak percaya.

Senja Uluwatu rupanya tak hanya menyuguhkan pemandangan indah. Ia memberikan cerita dramatis yang akan terus ditertawakan bertahun-tahun kemudian.


Share this news

Respon Pembaca

Silahkan tulis komentar anda...





Redaksi menerima komentar terkait artikel diatas. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak tidak menampilkan komentar jika mengandung perkataan kasar, menyinggung, mengandung fitnah, tidak etis, atau berbau SARA.

  • vb

  • Pengunjung

    1070860
    Users Today : 3277
    Users Yesterday : 4093
    This Year : 7370
    Total Users : 1070860
    Total views : 10545560
    Who's Online : 56
    Your IP Address : 216.73.216.188
    Server Time : 2026-01-02