Harga Kelapa Turun, Paksa Petani Buat Olahan Kopra
VIVABORNEO.COM, Melimpahnya pasokan kelapa santan atau kelapa tua di Kota Balikpapan, memaksa petani kelapa di Kelurahan Tanjung Tengah Kecamatan Penajam, Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), Kalimantan Timur, untuk mengolah kelapa-kelapa mereka menjadi olahan kopra.
Kopra adalah olahan kelapa tua yang dikeringkan menjadi berbagai produk turunan lainnya dalam bentuk chip atau potongan-potongan kecil. Proses pengolahan kopra ini dengan dua cara yaitu menjemur daging kelapa tualangsung di bawah terik matahari atau mengasapkan daging kelapa tersebut di bawah perapian.
Seorang pemilik kebun kelapa yang biasa memasok kelapa santan ke Kota Balikpapan, Marsuse (45 th) menuturkan melimpahnya kelapa mengakibatkan harganya turun hingga tidak bernilai ekonomis jika di jual ke luar wilayah Penajam.
“Biasanya kelapa tua per butirnya dijual tiga ribu hingga tiga ribu lima ratus per butirnya. Namun karena banyaknya kelapa-kelapa yang datang dari Mamuju Sulawesi Barat, harga kelapa hanya dihargai dua ribu dua ratus rupiah saja,” ucapnya kepada vivaborneo online MInggu (12/11/2017).
Marsuse melanjutkan, daripada merugi karena kelapa membusuk, dirinya dan keluarga mengolahnya menjadi kopra yang dihargai Rp.5 ribu per kilonya. Sedangkan untuk menghasilkan 1 kg kelapa kopra, diperlukan 3 butir kelapa segar tua.
Biasanya, Marsuse memasok daerah-daerah di sekitarnya seperti Samarinda, Tanah Grogot hingga Tenggarong Kabupaten Kutai Kartanegara. Namun, sejak melimpahnya kelapa dari Mamuju Sulawesi Barat, dirinya hanya mengirmkan sedikit kelapa ke Tanah Grogot dan pasar tradisional di Penajam saja.
Walau memperoleh keuntungan yang sedikit, dirinya masih bersyukura karena masih ada pengepul yang membeli olahan kopra. Musim hujan menjadi kendala pengolahan kopra karena penjemuran daging-daging kelapa ini memerlukan sinar matahari yang terik.
Sementara olahan kopra yang menggunakan tehnik pengeringan menggunakan asap, harganya lebih murah karena aroma asap pembakaran masih melekat pada proses lanjutan di pabrik.
Selain harga yang masih ekonomis, ternyata tempurung kelapa dan sabut kelapa juga masih dapat menghasilkan rupiah. Tempurung kelapa berisi 10 kg atau satu karung, dihargai Rp.4000. Sabut kelapa yang merupakan limbah dan biasanya hanya dibakar pemilik kelapa kini dihargai Rp7.500 per tumpuk atau per mobil pick up kecil.
“Kami berharap harga kelapa santan di Kota Balikpapan dapat naik dan stabil di harga tiga ribu lima ratus rupiah. Jika dibawah harga tersebut, lebih baik diolah menjadi kopra,” ujarnya pasrah.
Di wilayah pesisir Kabupaten PPU, Kecamatan Penajam, khususnya Kelurahan Tanjung Tengah, merupakan sentra produksi kelapa. Baik kelapa tua maupun konsumsi kelapa muda.
Produksi rata-rata per hari mencapai 10.000 butir per hari atau 300.000 butir per bulan. Masyarakat sekitar pesisir telah menanam pohon kelapa sejaktahun 1950-an.(vb/yul)
Respon Pembaca
Silahkan tulis komentar anda...