Lonjakan Penggunaan AI Picu Kekhawatiran Konsumsi Energi

December 16, 2025 by  
Filed under Gaya Hidup

Share this news

SAMARINDA – Hari gini siapa yang tidak pernah pakai AI? Mulai dari menjawab soal pekerjaan rumah, bikin konten, menulis surat, sampai sekadar bertanya “aku lagi galau, gimana dong?”. Ya, generatif AI seperti ChatGPT telah menjadi mainan sehari-hari kita, murah dan tampak gratis.

Tapi jangan salah, penggunaan AI secara gratis itu sebenarnya tidak benar-benar gratis. Ada harga besar yang dibayar oleh planet ini, sering kali tanpa kita sadari.

Pada April 2025, CEO OpenAI, Sam Altman, menjawab sebuah tweet yang mempertanyakan biaya operasi AI ketika orang menggunakan kata sopan seperti “tolong” dan “terima kasih” dalam permintaan mereka.

“I wonder how much money OpenAI has lost in electricity costs from people saying “please” and “thank you” to their models,” ujar Tomie dengan akun @tomieinlove dalam tweet nya.

Maksudnya, banyak orang sering menambahkan basa-basi sopan ketika berinteraksi dengan chatbot, padahal jawabannya diberikan oleh mesin bukan manusia.

Lalu Altman pun membalas singkat pertanyaan dengan jawaban yang sontak saja bikin kaget para pembaca tweet nya.

“tens of millions of dollars well spent — you never know,” balasnya.

Yang berarti, puluhan juta dolar biaya listrik yang dikeluarkan, mungkin sepadan, tapi itu jumlah yang besar sekali.

Jika dikonversi secara kasaran, puluhan juta dolar itu bisa bernilai ratusan miliar rupiah, tergantung nilai tukar dan fluktuasi. Itu baru untuk listrik saja, belum termasuk biaya infrastruktur lain.

AI modern, terutama model generatif seperti ChatGPT, bukan perangkat kecil yang bisa dijalankan di ponselmu sendirian. Ia bergantung pada pusat data besar (data centers) penuh dengan ribuan chip GPU yang bekerja sepanjang waktu untuk memproses setiap permintaan.

Satu permintaan ChatGPT menggunakan hampir 10 kali listrik lebih banyak dibanding pencarian Google biasa.

Melansir dari International Energy Agency (IEA) dalam laporan Energy and AI. Data center global diperkirakan akan menggunakan sekitar 945 TWh listrik pada 2030, naik dari sekitar 415 TWh di 2024, dengan porsi besar karena AI.

Pusat data sudah menyumbang sekitar 1–2% konsumsi listrik global, dan persentase ini diproyeksikan naik dalam beberapa tahun mendatang karena AI berkembang pesat.

Angka-angka ini menunjukkan setiap operasi AI dari pelatihan model besar sampai memenuhi ratusan juta permintaan sehari memerlukan energi dalam jumlah besar, dan itu otomatis mengakibatkan biaya nyata, baik dari sudut listrik, emisi karbon, maupun sumber daya yang dipakai.

Energi yang digunakan AI umumnya masih bersumber dari jaringan listrik yang banyak mengandalkan bahan bakar fosil. Itu berarti semakin besar energi yang dibutuhkan, semakin banyak emisi karbon dan jejak lingkungan yang dihasilkan.

Jejak karbon AI dan pusat data sudah menyumbang sekitar lebih dari 2% emisi global, setara atau lebih tinggi dari sektor penerbangan.

Permintaan energi dari pusat data diprediksi bisa mencapai 3–4% total konsumsi listrik global pada 2030 jika tren saat ini berlanjut.

Belum lagi air yang digunakan untuk mendinginkan fasilitas fisik ini, sebuah aspek yang sering diabaikan namun tak kalah penting dalam pembicaraan lingkungan.

Maka dari itu muncul ironi besar, meskipun layanan AI tampak gratis karena kita tidak membayar langsung dengan kartu kredit, planet ini yang menanggung sebagian biayanya. Bukan hanya energi dan emisi tetapi juga potensi tekanan terhadap industri energi, persaingan pemakaian listrik dengan sektor lain, dan perluasan infrastruktur yang menggusur ruang hijau.

Beberapa tren penggunaan AI yang “iseng” seperti diminta menghitung dari 1 sampai 1 juta, sebenarnya membebani sistem lebih besar dari yang diduga. Setiap request sekecil apa pun tetap perlu komputasi intensif di pusat data di belakang layar. Semakin sering digunakan, semakin besar pula total energinya.

Bukan berarti kita harus menolak AI mentah-mentah. Teknologi ini sebenarnya punya potensi besar membantu solusi dunia, dari pengoptimalan penggunaan energi, penemuan inovasi bersih, hingga efisiensi sumber daya.

Namun, yang kita butuhkan adalah, kesadaran penggunaan AI yang bijak, tidak asal eksperimen tanpa tujuan.

Karena pada akhirnya, ketika “gratis” tampak terlalu nikmat, sering kali yang membayar adalah bumi kita sendiri. (tan)


Share this news

Respon Pembaca

Silahkan tulis komentar anda...





Redaksi menerima komentar terkait artikel diatas. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak tidak menampilkan komentar jika mengandung perkataan kasar, menyinggung, mengandung fitnah, tidak etis, atau berbau SARA.

  • vb

  • Pengunjung

    1107579
    Users Today : 3944
    Users Yesterday : 4433
    This Year : 44089
    Total Users : 1107579
    Total views : 10831712
    Who's Online : 57
    Your IP Address : 216.73.216.135
    Server Time : 2026-01-10