Batu International Orchid Show 2022 Pamerkan Anggrek Jenis Baru Hasil SIlangan

September 27, 2022 by  
Filed under Serba-Serbi

BATU  – Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi, Abdul Halim Iskandar membuka Batu International Orchid Show 2022 di Balai Kota Among tani Kota Batu, Minggu (25/9/2022).

Abdul Halim Iskandar  menyampaikan peran pameran ini pada pembangunan ekonomi di desa-desa Kota Batu.

“Mudah-mudahan pameran hari ini bisa berjalan sukses dan transaksi terus meningkat, terima kasih Wali kota atas dukungannya kepada penggiat anggrek,” kata Abdul Halim.

Wali Kota Batu, Dewanti Rumpoko menyampaikan, pameran anggrek ini diikuti pembudidaya anggrek dari beberapa daerah. Tidak hanya dari Jawa Timur, bahkan dari luar Provinsi seperti Bali, Kalimantan Tengah, Jambi hingga Papua hingga luar negeri seperti Singapura, Malaysia dan Thailand.

Dewanti berharap melalui Batu International Orchid Show ini menjadi motivasi bagi petani anggrek dan mampu mengenalkan potensi tanaman hias di Kota Batu di mata dunia.

“Banyak warga Batu yang berhasil dan sukses menjadi pembudidaya anggrek seperti Kelurahan Dadaprejo,” kata Dewanti.

Dewanti juga mengungkapkan, pameran ini menjadi salah satu cara Pemkot Batu untuk pemulihan perekonomian.

“Selama 2 hari, 24-25 September ini, sudah ada transaksi senilai 2,2M yang berputar di pameran ini! Semoga Kota Batu bisa menjadi pusat anggrek di Indonesia,” ujar Dewanti.

Sementara itu, Ketua Dewan Pengurus Daerah PAI Jatim, Fathul Yasin menyampaikan, Kota Batu memiliki potensi untuk mengembangkan desa-desanya menjadi desa penghasil devisa.

Fathul menyampaikan, pergerakan transaksi anggrek sudah bergerak bahkan sebelum pameran.  Disebutkan, sudah Rp3,3 miliar yang berputar di Pameran Anggrek Internasional.

Pameran diikuti lebih dari 118 stan dari seluruh Indonesia, dengan 16 display nasional dan 4 display internasional.

Dalam pameran ini ada perlombaan anggrek dengan beberapa kategori meliputi The Best of Show yang dimenangkan Dendrobium Jatim Cettar milik Yayu Orchid. Sedangkan pada kategori Hybrid dimenangkan Phalaenopsis Taisiro Yuhdan x Yukimai oleh Eka Karya.

Untuk Best of Species dimenangkan oleh Schombogia Tansonia Yayu Orchid, dan Display tanaman anggrek dimenangkan DPD PAI Prov Bali.

Selain orchid show competition, pameran ini juga mengadakan workshop internasional. Peserta yang berpartisipasi juga akan mendapat sertifikat internasional. (Buang Supeno)

Kadis Kominfo Batu Nilai Kejadian Dalam Pembukaan Batu  International Orchid Show 2022,  Salah Paham

September 27, 2022 by  
Filed under Serba-Serbi

BATU – Kepala Dinas Komunikasi dan Informasi (Kominfo) Kota Batu Ony Ardianto menjelaskan, kejadian pelarangan liputan dan intimidasi oleh oknum Protokol dan Satpol PP Pemkot Batu  yang menimpa Wartawan Metro TV dan beberapa media online  saat berlangsungnya pembukaan Batu International Orchid Show 2022, Minggu ( 25/9/2022) merupakan kesalahan pahaman saja.

“Terus terang tidak ada niatan kami untuk menghalangi kerja wartawan dalam liputan, mungkin itu salah Paham. Saya atas nama Pemkot Batu mohon maaf, ” ungkap Kadis Kominfo Batu dalam jumpa pers di warung Cangkrukan depan  kantor Pemkot Batu, Senin (26/9/2022).

Dijelaskan, ruangan Graha Pancasila tempat berlangsungnya acara relatif sempit. Di dalamnya terdapat bunga anggrèk yang berasal dari beberapa  peserta lomba seluruh daerah, termasuk luar negeri. Karena itu maka dilakukan pembatasan untuk masuk kedalam ruangan.

Dikatakan Ony, karena kondisi ruang yang tidak besar, namun wartawan masih boleh masuk setelah rombongan undangan  keluar ruangan.

Ony menyampaikan pihaknya menyediakan waktu untuk konferensi pers di luar ruangan (door stop) serta foto maupun video yang dishare teman-teman  bagian Prokopim. Ini mungkin miss komunikasi  dengan teman – teman  protokol dan satpol PP di lapangan. Namun secara prinsip bukan bertujuan untuk menghalangi  media melakukan liputan.

“Karena saat di luar ruangan (pameran) diperbolehkan melakukan liputan, kalau dilarang jelas gga bisa masuk ke halaman Pemkot, ” lanjut Kadis Kominfo Batu.

Wartawan Metro TV Sam Legowo yang hadir dalam Jumpa Pers di warung Cangkrukan, merasa tidak puas dengan penjelasan Diskominfo Batu,apalagi oknum protokol yang telah melecehkan dirinya tidak hadir dalam pertemuan tersebut.

“Secara pribadi mungkin kami terima tapi menyangkut lembaga dan tindakan intimidasi yang membuat malu saya, seakan saya sebagai kriminal saja,dipegang lengan saya terus ditarik-tarik padahal di ruangan itu banyak tamu undangan.Saya kan punya harga diri dan privasi. Masa diperlakukan kayak maling saja.

Menurut Sam, karena tindakan ini dilakukan ketika dirinya sedang liputan atas tugas Medianya, maka sudah dilaporkan ke medianya.

“Perkara ini sudah kulaporkan ke kantor saya dan IJTI untuk meluruskan perkara ini, selanjutnya  mungkin dibawah ke Dewan Pers, ” ujarnya.

Sementara Wakil Walikota Batu Punjul Santoso, merasa kaget mendapat Laporan peristiwa itu. Namun dia belum bisa menjawab karena ingin mendapat informasi dari stafnya.

“Nanti setelah saya dapat laporan dan pulang dari dokter akan saya hubungi ” jelas Wawali Kota yang dihubungi via handphone dengan buru- buru bergegas ke Dokter

Sementara Ketua PWI Malang Raya Cahyono merasa prihatin dan menyayangkan atas kejadian pengusiran dan tindakan intimidasi yang dilakukan oknum protokol dan Satpol PP Pemkot kepada wartawan yang melaksanakan kegiatan Jurnalistik  liputan acara Batu Internasional Orchid Show 2022, di Graha Pancasila Pemkot Batu, Minggu (25/9/2022) malam

“Kegiatan itu terbuka, apalagi ada Menteri yang hadir. Bagi wartawan ini berita menarik dan dihadiri petani, pecinta dan kolektor anggrek dalam dan luar negeri layak diliput, kalau alasannya tempat sempit kan bisa diatur, apakah wartawan  mengganggu kegiatan dan merusak tanaman kan tidak.  ” ungkap Cahyono yang dihubungi melalui saluran handphone ketika dalam perjalanan menuju Ampelgading.

Dikatakan Cahyono,  ketika ada  seseorang atau lebih yang  melakukan tindakan yang terindikasi berusaha dan atau menghalang-halangi kegiatan jurnalistik, maka   tindakan tersebut adalah tindakan au melawan hukum positif yang berlaku di NKRI.

Namun demikian Cahyono akan melakukan klarifikasi terlebih dahulu dengan pihak Pemkot Batu, seperti apa persoalan itu sebenarnya.  (Buang Supeno)

Berpulangnya “Bupati Ungu” – Catatan Rizal Effendi

September 26, 2022 by  
Filed under Opini

Kain penutup keranda jenazah, karpet dan tembok berwarna ungu

SAYA mendapat kabar di grup “Wartawan Legend.” Mantan bupati Paser, H Ridwan Suwidi meninggal dunia Minggu (26/9) sore dalam usia 86 tahun. Berbagai ucapan belasungkawa disampaikan seraya mengirimkan doa semoga almarhum diterima di sisi Allah Swt dalam keadaan husnul khatimah. “Beliau salah satu pemimpin dan tokoh Kaltim terbaik, yang layak jadi panutan,” kata Gubernur Isran Noor.

Ridwan wafat dalam keadaan tenang di kediamannya, di Desa Tapis, Kecamatan Tanah Grogot. “Abah tidak sakit. Malah kira-kira dua minggu yang lalu diperiksa dokter. Mulai cek darah, hati, ginjal, dan lain-lain semuanya sehat,” kata Ridhawati Suryana, salah seorang putri almarhum yang pernah menjadi wakil ketua DPRD Paser.

Saya sudah lama tidak bertemu beliau. Ketika saya masih menjabat wali kota, saya masih sempat bersama-sama dalam pertemuan kepala daerah. Jauh sebelumnya, ketika saya masih menjadi wartawan, saya sering mewawancarai Ridwan sebagai anggota DPRD Kaltim. Dia terbilang tokoh kritis dan mau buka mulut jika ditanya berbagai masalah pembangunan.

Ridwan hidup mati berkiprah di Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Sempat menjadi sekretaris dan wakil ketua DPW PPP Kaltim. Tapi sebelumnya pernah menjadi ketua Cabang Muhammadiyah, pengurus MUI Paser dan ketua Persaudaraan Muslimin Kaltim.

Mencintai anak-anak sebagai calon-calon pemimpin Paser di masa mendatang

Karier di lembaga legislatif diawali tahun 1970 ketika menjadi anggota DPRD-GR Paser dan wakil ketua DPRD Paser. Lalu sejak tahun 1987 menjadi anggota DPRD Kaltim selama 20 tahun atau empat periode. Bayangkan hebatnya rekor DPRD beliau!

Ridwan merupakan salah satu tokoh yang memperjuangkan berdirinya Kabupaten Paser pada tahun 1959. Dalam usia 69 tahun, dia terpilih menjadi bupati Paser menggantikan  Drs. Yusriansyah Syarkawi. Terbilang tua. Karena itulah MURI menganugerahinya penghargaan sebagai “bupati tertua” di Indonesia.

Meski tua, semangat bekerja dan membangunnya melebihi yang muda. Dia suka belusukan ke desa-desa.  Melihat beratnya infrastruktur jalan dan fasilitas umum yang lain. Tak jarang jalan kaki atau naik sepeda motor. “Karena masifnya dalam membangun, sehingga warga menjuluki beliau sebagai ‘Bapak Pembangunan Paser’,” kata Ketua DPC PPP Azhar Baharuddin.

Tak jarang naik sepeda motor mengunjungi warganya di pelosok

Salah satu pembangunan infrastrktur peninggalan almarhum yang besar adalah pembangunan RSUD Panglima Sebaya dan kompleks perkantoran Pemkab Paser di Km 5, Tanah Grogot.

Dia memang tokoh pemimpin sederhana, yang memiliki pola pikir praktis. Yang penting bisa menyejahterakan masyarakat. Gaya pendekatan itu disukai masyarakatnya. Sehingga dia terpilih menjadi bupati selama dua periode dengan visi “Menuju Masyarakat yang Agamis, Sejahtera dan Berbudaya.”

“Kami tak bisa melupakan karya, kepedulian dan pengabdian Pak Ridwan untuk Kabupaten Paser, yang luar biasa. Kami mendoakan beliau masuk syurga sebagai imbalan atas kebaikan beliau,” kata Hidson Humrie, wartawan senior yang banyak meliput kiprah Bupati Ridwan di sana.

SERBA UNGU

Salah satu kebijakan Bupati Ridwan Suwidi yang unik dan kontroversial adalah pemakaian warna ungu, sebagai warna dan ciri khas Kabupaten Paser. Kantor, pagar, kendaraan umum termasuk rumah sakit yang megah semua dicat warna ungu. Termasuk juga telaga indah di depan RSU, yang diberi nama Telaga Ungu.

Saya tidak tahu persis kenapa beliau suka warna ungu. Padahal darah beliau PPP, yang warna dominannya hijau. Biasanya kebijakan warna kepala daerah mengikuti warna partainya. Terkadang serba kuning, serba merah, serba biru, putih, dan lainnya.

Tapi ketika saya menjadi wali kota, saya tidak menganut paham warna tertentu. Saya ikut saja dengan warna Pemkot Balikpapan, yang cenderung biru. Mungkin karena di pinggir laut dan langit jernih. Belakangan tak jauh beda dengan partai tempat saya berlabuh sekarang, Partai Nasdem.

Konon warna ungu itu memiliki arti dan makna yang sangat unik. Melambangkan kekuatan spiritual yang dalam, aspirasi yang tinggi, simbol kebangsaan, keajaiban dan penuh misteri. Di sisi lain ada juga yang mengartikan sebagai sesuatu yang luhur dan agung, bahkan orang yang mengenakannya terlihat menarik dan penuh pesona.

Kabar terakhir yang saya peroleh, kebijakan warna ungu di Kabupaten Paser sudah dicabut. Ketika saya berkunjung ke Tanah Grogot beberapa waktu lalu, saya lihat masih ada tersisa warna ungu di beberapa bangunan infrastruktur.

Pemakaman jenazah Ridwan Suwidi dilaksanakan Senin (26/9) sekitar pukul 10.00 pagi dengan inspektur upacara, Bupati Paser dr Fahmi Fadli. Dia dimakamkan di Jl Panjaitan, di samping kediamannya, di pemakaman keluarga. Hampir sebagian pejabat, tokoh dan masyarakat mendatangi rumah duka. Hadir juga wakil bupati, Forkompida, ketua dan seluruh anggota DPRD serta tokoh agama dan masyarakat.

Isak tangis mewarnai sanak keluarga yang ditinggalkan. Kain penutup keranda jenazah berwarna ungu. Begitu juga karpet tempat meletakkan keranda juga berwarna ungu. Pagar tembok sebagian rumahnya juga masih berwarna ungu.

Bupati Paser dr Fahmi Fadli melepas jenazah

“Kabupaten Paser telah kehilangan seorang  pemimpin yang kharismatik, yang telah mewarnai pembangunan di Bumi Daya Taka yang kita cintai. Beliau panutan kita dan banyak berjasa untuk daerah yang kita cintai ini. Kita ucapkan belasungkawa yang sedalam-dalamnya, semoga beliau mendapat  tempat terbaik di sisiNya,” kata Bupati.

Sayup-sayup saya mendengar suara Pasha Ungu menyanyikan lagu “Bila Tiba.” Sangat menyentuh. Penuh aroma religius. Dia mengingatkan kita. “Bila tiba saat berganti dunia. Alam yang sangat jauh berbeda. Siapkah kita menjawab semua pertanyaan.”

Selamat jalan, Pak Ridwan Suwidi. Kami yakin lapang jalannya Bapak di alam barzah. Insyaallah husnul khatimah.(*)

*) Rizal Effendi

– Wartawan senior Kalimantan Timur

– Wali Kota Balikpapan dua periode (2011-2021)

Si.Se.Sa Road Show Hadirkan Citra Kirana Brand Ambassador di Big mall Samarinda

September 26, 2022 by  
Filed under Gaya Hidup

SAMARINDA – Si.Se.Sa, brand fashion muslim terkemuka yang mengusung tagline Indonesia’s leading syar’i, menggelar road show dengan menghadirkan Citra Kirana Brand Ambassador Si.Se.Sa di Big Mall Jalan Untung Suropati Samarinda, Minggu (25/9/2022).

Roadshow Si.Se.Sa di Samarinda membuktikan ketangguhan bisnis busana busana muslimah syar’i di masa pandemi, sekaligus pembuktian kreativitas Si.Se.Sa yang tak pernah berhenti bertumbuh.

Kebutuhan dan tren busana syar’i yang semakin meningkat di kota Tepian Samarinda membuat Si.Se.Sa selalu siap untuk menjawab kebutuhan tersebut. Si.Se.Sa merupakan pioneer busana muslim syar’i di Indonesia dengan memfokuskan koleksi serta mengusung konsep busana syar’i fashionable dengan ciri khas feminin dan elegan.

Si.Se.Sa selalu berkarya dan berinovasi agar busana muslim syar’i semakin dicintai oleh para muslimah ataupun pecinta fashion syar’i. Si.Se.Sa juga aktif mengikuti perhelatan fashion show besar di dalam dan di luar negeri.

Dalam perjalanannya tahun 2011 Si.Se.Sa dinobatkan menjadi satu-satunya muslim fashion brand dari Indonesia yang menjadi co-branding partner dengan Swarovski Austria.

Road show di butik Samarinda berisi rangkaian acara Meet and Greet dengan Brand Ambassador Si.Se.Sa yaitu Citra Kirana. Kehadiran Citra diharapkan dapat menambah meriah road show di butik Samarinda yang beralamat di Big Mall L1 061A Jalan Untung Suropati Samarinda.

Para customer Si.Se.Sa (Si.Se.Sa lovers) di Samarinda dan di wilayah sekitarnya berbelanja dan ikut mengabadikan momen dalam sesi foto ekslusif bersama Citra Kirana.

Selain itu, road show di butik Samarinda, Si.Se.Sa mengadakan mini fashion show dan mengeluarkan koleksi exclusive untuk butik Samarinda.

“Pilihan koleksi Si.Se.Sa terbaru dengan warna-warna yang lembut dan cantik, nyaman digunakan sepanjang hari, dan cocok dikenakan untuk tampilan formal atau kasual sehari-hari hadir di butik Si.Se.Sa Samarinda,” ucap Citra Kirana.

Acara semakin meriah dengan adanya fun quiz dan sesi quick make-up class bersama co-branding partner yaitu Wardah. Tidak lupa kami ucapkan terima kasih kepada co-branding partner, Wardah @wardahbeauty_samarinda, Purbasari @purbasari_indonesia, Azalea @azaleabeautyhijab, Cleanface @cleanface_id, Nature Skin Care @natureskincare_id, dan Kispray @kispray_id yang telah berkolaborasi dalam rangkaian acara road show di butik Samarinda.

Road show Si.Se.Sa di butik Samarinda diharapkan dapat menjadi wadah dalam menjalin silaturahim dengan Si.Se.Sa lovers Samarinda dan wilayah sekitarnya dan diharapkan agar Si.Se.Sa lovers Samarinda dapat berbelanja dan mendapatkan koleksi favoritnya yang terbaru dan ekslusif.(red)

 

 

Erau Pasca Covid, Erau Kutai Lawas – Catatan Rizal Effendi

September 26, 2022 by  
Filed under Opini

Menyalakan api brong, api adat Kutai

SEUSAI jalan sehat Dies Natalis ke-60 Universitas Mulawarman, Minggu pagi kemarin, saya mendadak ke Tenggarong. Saya baru ingat ada acara pembukaan Erau Adat Pelas Benua 2022. Bubuhan etam pasti merindukan. Maklum sudah dua tahun tak digelar pesta adat Kutai itu gara-gara wabah Covid-19.

Saya nekat saja datang ke tempat acara yang dipusatkan di Museum Mulawarman, eks Istana Kesultanan Kutai Kartanegara. Acara berlangsung meriah. Alhamdulillaah, langit lagi cerah. Sultan Kutai Kartanegara, Sultan Adji Muhammad Arifin menandainya dengan menyalakan api brong bersama Wakil Gubernur Hadi Mulyadi, Bupati Kukar Drs Edi Damansyah M.Si, Wakil Bupati H Rendi Solihin serta anggota Forkompida lainnya.

“Alhamdulillah, erau bisa kita laksanakan lagi,” kata Sultan bersama kerabat Keraton bersukacita. Hal yang sama juga dirasakan warga Tenggarong. “Etam semua bahagia, kota kita mandi sepi lagi,” kata Iskandar yang akrab dipanggil Kondoi dalam Bahasa Kutai.

Sultan Kutai Adji Muhammad Arifin, Wakil Gubernur Hadi Mulyadi, Bupati Kukar Drs Edi Damansyah pada pembukaan Erau, Minggu kemarin

Erau 2022 dengan tema “Erau Kutai Lawas, Balik Asal Kutai Lawas, Tunduk Sabda Sang Meruhum” dirangkaikan juga dengan perayaan HUT ke-240 Kota Tenggarong. “Erau sudah menjadi kalender utama tiap perayaan HUT Kota. Apalagi acara ini pernah menerima penghargaan kategori festival budaya terpopuler di Tanah Air serta ditetapkan sebagai warisan budaya Indonesia,” tutur Bupati.

Edi Damansyah juga mendorong warganya agar memanfaatkan kegiatan Erau untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga melalui berbagai usaha, seperti kuliner, fasilitas akomodasi sampai pembuatan cenderamata.

Tenggarong sendiri didirikan pada tanggal 28 September 1782 oleh Raja Kutai Kartanegara XV, Aji Muhammad Muslihuddin, yang dikenal pula dengan nama Aji Embut.

Semula kota ini bernama Tepian Pandan ketika Aji Embut memindahkan dari Pemarangan. Oleh Sultan Kutai nama ini diubah menjadi Tangga Arung, yang berarti rumah raja. Makanya sering juga disebut Kota Raja. Belakangan, Tangga Arung lebih populer dicarangkan dengan sebutan Tenggarong sampai saat ini.

Saya pertama kali menonton Erau zaman Bupati Kutai Drs H Achmad Dahlan (1965-1970). Kebetulan salah satu putranya, Zairin Fauzi teman akrab saya sejak kami duduk di bangku Sekolah Menengah Ekonomi Pertama (SMEP) sampai SMEA. Saya diajak Zairin tidur di rumah dinas bupati kalau acara Erau digelar.

Acara Erau selain melaksanakan kegiatan adat, penampilan tari Kesultanan dan berbagai suku termasuk Dayak, juga dilaksanakan berbagai pertandingan olahraga. Tahun ini sejumlah kesultanan di Tanah Air termasuk yang di Kaltim juga diundang.

Erau dalam bahasa Kutai, eroh. Artinya ramai atau riuh. Dimaknai sebagai kegiatan sekelompok orang yang mempunyai hajat, yang dilaksanakan dalam berbagai suasana, mulai pesta budaya, hiburan sampai yang bersifat sakral.

Dalam sejarahnya, Erau pertama kali digelar pada upacara tijak tanah dan mandi ke  tepian ketika Aji Batara Agung Dewa Sakti berusia 5 tahun. Setelah dewasa dan diangkat menjadi Raja Kutai Kartanegara yang pertama (1300-1325), Erau diadakan lagi. Sejak itu Erau selalu dilaksanakan setiap penobatan raja-raja Kutai Kartanegara. Kemudian berlanjut pada pemberian gelar kepada pemuka masyarakat yang dianggap berjasa terhadap kerajaan.

Menurut Sekretaris Kesultanan, Awang Yacoub Luthman, ketika Aji Raja Mahkota Mulia Alam menjadi Raja Kutai pada 1525-1600, upacara Erau semakin berwarna. Nilai-nilai Islami melekat pada setiap kegiatan.

Berfoto dengan Bupati Kukar Edi Damansyah dan mantan anggota DPRD Kaltim Hj Encik Widyani S membelakangi kursi Sultan

Meski masa pemerintah Kesultanan sudah berakhir tahun 1960, tradisi Erau tetap dilanjutkan oleh Pemerintah Kabupaten Kutai sebagai peristiwa budaya, yang sangat menghibur dan bernilai tinggi sebagai objek pariwisata.

Karena itu, ketika menyampaikan sambutan kemarin, Wagub Hadi Mulyadi melihat Erau 2022 sebagai momentum kebangkitan pariwisata di Kutai Kartanegara termasuk di Provinsi Kalimantan Timur. “Erau harus kita jaga dan lestarikan. Dengan Erau kita sukseskan tahun kunjungan wisata di Benua Etam,” tandasnya.

BERLANGSUNG 2 MINGGU

Erau Adat Pelas Benua 2022 berlangsung dua minggu atau 14 hari dengan 14 kegiatan. Acaranya sendiri sudah berlangsung sejak tanggal 20 September lalu ditandai dengan haul jamak Raja dan Sultan, Sultan Menjamu Benua, Merangin I, II dan III, Beluluh dan Bepelas Sultan serta Mendirikan Tiang Ayu.

Naga yang dipersiapkan akan diturunkan ke Sungai Mahakam

Setelah pembukaan Minggu kemarin, masih ada lagi ritual  beluluh dan bepelas, ziarah ke makam Raja dan Sultan, pembacaan Maulid Berjanji, sampai puncaknya tanggal 2 Oktober nanti ditandai dengan pengambilan air tuli di Desa Kutai Lama (Kerajaan Kutai pertama di Anggana), Ngulur Naga, Begorok, Sultan Turun ke Tangga Titi, sampai acara yang ditunggu-tunggu warga dan wisatawan yakni belimbur atau saling siram siraman air.

Belimbur memiliki makna sebagai cara menyucikan diri. “Dengan memercikkan air ke tubuh di pesta Erau, diharapkan masyarakat bisa berjalan di jalur yang suci dan bersih, serta dijauhkan dari berbagai penyakit dan marabahaya lainnya,” kata Awang Yacoub.

“Nanti Bapak datang lagi ya pada acara belimbur,” kata Alvionita dan Farah, mantan Duta Wisata Tenggarong yang menemani saya masuk ke Istana. Saya tak menyangka mereka tahu dan meminta diberikan buku saya “Bukan Pak Wali Lagi.” Mereka juga mengajak warga masyarakat dan wisatawan datang ke Tenggarong, setidaknya pada puncak acara, Minggu, 2 Oktober nanti.

Menerima buku saya “Bukan Pak Wali Lagi”

Pulang dari Tenggarong, saya sempat singgah di warung pinggir jalan, di daerah Loa Kulu. Saya membeli tempe bungkus, gula merah, dan kue lidah sapi. Di tempat ini diakui kualitas tempe bungkusnya sangat baik. Begitu juga gula merah atau gula arennya. Apalagi si lidah sapinya. Rugi kalau tidak membeli dan mencobanya.

Saya salut warga di situ tetap semangat jualan produk UMKM. “Beneh, ada kegiatan Erau jualan kami tambah laku,” kata ibu penjualnya bersemangat. Selamat melaksanakan Erau. Dirgahayu ke-240 Kota Tenggarong. Terus BERSERI. Bena Benua Etam.(*)

*) Rizal Effendi

– Wartawan Senior Kalimantan Timur

– Wali Kota Balikpapan dua periode (2011-2021)

« Previous PageNext Page »

  • vb

  • Pengunjung

    1075821
    Users Today : 4216
    Users Yesterday : 4022
    This Year : 12331
    Total Users : 1075821
    Total views : 10589711
    Who's Online : 50
    Your IP Address : 216.73.216.188
    Server Time : 2026-01-03