Jasa Raharja Bontang dan Forum Komunikasi Lalu Lintas Gelar FGD

September 29, 2025 by  
Filed under Serba-Serbi

BONTANG – Sebagai upaya menekan angka kecelakaan lalu lintas di wilayah Kota Bontang, Penanggung Jawab PT Jasa Raharja Wil Bontang Krisnadi Kurniawan melakukan sinergi dengan forum komunikasi lalu lintas Wilayah Kota Bontang 29/09/2025

FGD ini diharapkan dapat memperkuat koordinasi antar instansi terkait dalam merumuskan langkah konkret untuk menurunkan angka kecelakaan di wilayah Kota Bontang. Pencegahan jauh lebih baik dan efektif dari pada penanganan. Selain itu, pentingnya edukasi keselamatan lalu lintas sejak usia dini serta penataan rambu dan fasilitas jalan sebagai langka preventif.

FGD ini di akhiri dengan penyusunan rencana aksi bersama antar instansi terkait yang mencakup peningkatan edukasi kepada pelajar dan masyarakat, patrol terpadu di titik rawan laka, serta evaluasi berkala terhadap kondisi jalan dan rambu lalu lintas melalui kolaborasi lintas sektor ini. (adv)

Kesultanan dan Forkopimda Kukar Ziarah Makam Aji Imbut

September 29, 2025 by  
Filed under Kutai Kartanegara

‎TENGGARONG– Bupati Kutai Kartanegara (Kukar) dr. Aulia Rahman Basri beserta Kerabat Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura, dan unsur Forkopimda Kukar melakukan Ziarah Makam Aji Imbut pendiri Kota Tenggarong dalam rangka Hari Ulang Tahun Kota Tenggarong ke–243 di Makam raja-raja dan Kesultanan Museum Tenggarong, Senin (29/9/2025).

‎‎Kegiatan bertemakan “Kota Raja Masa Depan Peradaban Nusantara”, dihadiri Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura Aji Muhammad Arifin, Wakil Bupati Kukar Rendi Solihin, Dandim 0906/KKR Letkol Czi. Damai Adi Setiawan, Ketua Tim Penggerak Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Kukar Andi Deescha Pravidhia Aulia, Wakil Ketua TP PKK Kukar Fety Puja Amelia, serta tamu undangan lainnya.

‎‎Kegiatan diawali dengan pembacaan sejarah singkat riwayat pendirian Kota Tenggarong oleh Camat Tenggarong Sukono. Dan sambutan dari pihak Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura.

‎‎Sementara, Bupati Kukar dr. Aulia Rahman Basri dalam sambutannya mengatakan atas nama Pemkab Kukar mengucapkan selamat hari Jadi Kota Tenggarong ke 243 di tahun 2025.

‎‎”Mari wujudkan Kota Tenggarong menjadi kota yang indah, nyaman, mempesona, dan berbudaya,” ujar dr. Aulia.

‎‎Aulia mengatakan Kota Tenggarong harus berbenah dan terus berkembang menjadi kota yang nyaman dan mempesona. Dimana menurutnya warisan sejarah dan eksistensi Kesultanan Kutai Kartanegara ing Martadipura yang terjaga hingga saat ini, harus di jadikan sebagai modal untuk menyambut IKN Nusantara sebagai Ibukota Politik di tahun 2028.

‎‎Melalui momentum tersebut, Aulia berharap agar semua pihak merefleksi dan berkontemplasi untuk lebih giat membangun Kota Tenggarong.

‎‎”Marilah kita memberi penghormatan atas jasa-jasa yang diberikan oleh para Sultan sekaligus ucapan terimakasih atas segala daya upaya yang diberikan orang-orang yang ikut andil membangun Kota Tenggarong seperti sekarang,” pungkasnya.

‎‎Kegiatan pun diakhir dengan ziarah, pembacaan doa, dan peletakan Bunga Lompo di Makam Aji Imbut Gelar Sultan M Muslihuddin (Raja Ke 15), Makam A. M. Salehuddin I (Sultan Kutai Ke 16), dan Aji Mohd. Sulaiman Chalifatul Mu’minin (Sultan Ke 17). (kk07).

Layanan Pertanahan Berikan Dampak Nyata terhadap Penambahan Nilai Ekonomi di Indonesia

September 29, 2025 by  
Filed under Nusantara

JAKARTA – Kegiatan pendaftaran tanah dan layanan pertanahan yang dijalankan Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) telah memberikan dampak nyata terhadap perekonomian nasional. Menurut Menteri ATR/Kepala BPN, Nusron Wahid, kontribusi tersebut terlihat dari penerimaan negara melalui Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB), Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP), Pajak Penghasilan (PPh), hingga Hak Tanggungan.

“Sampai tahun 2024 total nilainya sudah mencapai Rp576 triliun dan tahun ini diperkirakan akan naik lebih dari itu. Karena itu diharapkan, dampaknya dapat dirasakan langsung di masyarakat,” ujar Menteri Nusron dalam amanatnya pada Upacara Peringatan Hari Agraria dan Tata Ruang Nasional (HANTARU) 2025 di Jakarta, Rabu (24/09/2025).

Nusron menekankan arti penting kepastian hukum atas tanah yang berdampak langsung pada kesejahteraan rakyat. “Dengan kepastian hukum atas tanah, seorang petani bisa lebih mudah mengakses kredit untuk membeli pupuk atau alat produksi. Pelaku UMKM dapat menjadikan tanahnya sebagai agunan untuk memperbesar usaha. Keluarga kecil memiliki pegangan yang kuat untuk merencanakan masa depan anak-anaknya,” tuturnya.

Nusron menegaskan, kerja Kementerian ATR/BPN bukan hanya soal menghadirkan rasa aman terhadap tanah, tapi juga memperkokoh fondasi ekonomi bangsa. Bertepatan dengan momen 65 tahun sejak lahirnya Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA), ia juga mengingatkan jajarannya bahwa tanah dan ruang tidak otomatis melahirkan kesejahteraan.

“Dari tanah yang terdaftar tumbuh kepastian hukum, dari sawah yang terlindungi lahir ketahanan pangan, dari ruang yang tertata muncul kepastian peluang usaha dan investasi Inilah amanah besar kita bersama, memastikan tanah terjaga, ruang tertata, agar benar-benar menjadi sumber kehidupan, sumber keadilan, dan sumber harapan bagi seluruh rakyat Indonesia,” pungkas Menteri ATR/Kepala BPN. (LS/PMHAL)

Erau dan Sultan Kutai

September 29, 2025 by  
Filed under Opini

Catatan Rizal Effendi

PESTA budaya Erau di Kota Tenggarong berakhir Minggu (30/9) kemarin. Itu puncak acara. Ditandai dengan acara turun naga ke Sungai Mahakam dan belimbur. Ramai sekali. Ada ribuan orang terlibat. Karena itu tontonan menarik terutama belimbur, tradisi saling siram air sebagai lambang penyucian diri.

Erau adalah pesta budaya Kesultanan Kutai Kartanegara ing Martadipura yang berlangsung di Tenggarong, ibu kota Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar). Tahun ini acaranya berlangsung seminggu mulai tanggal  21 September. Penutupannya, 28 September persis  HUT ke-243 Kota Tenggarong.

Disaksikan Menpar Widiyanti Putri Wardhana, Gubernur Kaltim Rudy Mas’ud dan Bupati Kutai Aulia Rahman, Sultan Kutai memukul gol menandai dimulainya pesta budaya Erau 2025.

Acara pembukaannya dihadiri Menteri Pariwisata (Menpar)  Widiyanti Putri Wardhana, Gubernur Kaltim Rudy Mas’ud, Wagub Seno Aji, Bupati Kukar Aulia Rahman Basri dan wakilnya, Rendi Solihin. Sultan Kutai Aji Muhammad Arifin tampak ceria. Ia memukul gong dilanjutkan prosesi adat pendirian Tiang Ayu dan penyulutan api brong tanda dimulainya perayaan budaya terbesar di Kaltim tersebut.

Suasana kota Tenggarong selama seminggu diwarnai peristiwa budaya yang sangat menarik. Ada lomba seni budaya dan olahraga tradisional, bazar UMKM, Beseprah, bepelas sampai ziarah ke makam kesultanan. Puncaknya pada hari ketujuh ditandai ritual turun naga dan belimbur.

Turun naga atau “ngulur naga” adalah prosesi mengarak replika sepasang naga dari Keraton (sekarang Museum Mulawarman) lalu dilarung ke Sungai Mahakam, di depan museum. Naga itu kemudian dibawa ke Kutai Lama di Anggana, tempat asli kerajaan Kutai Kartanegara. Naga ini mensyiratkan sejarah dan asal usul raja pertama Kutai.

Konon, permaisuri dan raja pertama Kutai, Putri Karang Melenu dan Aji Batara Agung terlahir dari kejadian misterius. Yaitu dibawa oleh naga dari Sungai Mahakam. Itu sebabnya replika naga yang diarak warga sepasang dan diberi nama  Naga Bini dan Naga Laki.

Beberapa saat setelah ngulur naga, maka acara yang ditunggu-tunggu masyarakat berlangsung.  Yaitu belimbur. Ditandai dengan aksi Sultan yang memercikkan air tuli (air suci dari Kutai Lama) ke tubuhnya sendiri dan orang-orang terdekat dengan menggunakan mayang pinang.

Selanjutnya masyarakat boleh saling siram melambangkan rasa syukur dan penyucian diri. Air yang digunakan harus air bersih sesuai dengan titah Sultan. Semua orang yang terkena tidak boleh marah. Semua berbasah ria dan penuh dengan keceriaan seakan mendapat berkah besar.

Supaya acara berlimbur meriah, BPBD Kukar menurunkan sejumlah mobil pemadam. Lalu menyemprotkan air kepada kerumunan warga dan turis. Warga sendiri ada yang menggunakan ember dan gayung, atau membuat air dalam kemasan plastik.

KEMBALIKAN KERATON

Saya tidak sempat hadir pada acara pembukaan dan penutupan. Tapi Sabtu saya sempat singgah ke Tenggarong. Setelah menyantap martabak kareh Haji Baen di Loa Kulu, saya menuju Museum Mulawarman. Di sana berlangsung acara beluluh. Hampir tiap hari Sultan Aji Arifin melaksanakan ritual ini bersama kerabat kesultanan.

Saya didaulat ikut acara beluluh Sultan Aji Muhammad Arifin

Beluluh adalah ritual penyucian diri yang dilakukan Sultan untuk menghilangkan semua pengaruh negatif atau enerji jahat, baik yang tampak maupun tidak sebagai pembersihan diri dalam melaksanakan berbagai ritual Erau.

Sultan duduk di balai bambu yang dihiasi dengan berbagai anyaman janur. Lalu seorang tokoh spiritual adat Kutai yang disebut belian memimpin acara dengan membaca mantra dan melaksanakan tepong tawar. Kemudian Sultan bersama tamu kehormatan menarik anyaman janur dan melemparkan ke belakang.

Saya tak mengira ikut didaulat melakukan ritual tersebut. Ada kerabat kesultanan melihat saya hadir. Padahal tadinya saya hanya ingin menyaksikan seperti warga lainnya. Tidak itu saja, saya juga diajak bersama Sultan minum teh bersama selesai beluluh.

Aji Muhammad Arifin adalah Sultan Kutai ke-21 yang naik tahta menggantikan ayahnya, Aji Muhammad Salehuddin II yang meninggal dunia 5 Agustus 2018. Prosesi adat penabalan atau suksesi Sultan Kutai berlangsung di Keraton pada 15 Desember 2018.

Yang menarik, Sultan yang sudah berusia 74 tahun itu lahir tidak di kampung halaman. Tapi di kota Wassenaar, Provinsi Zuid-Holand Belanda ketika orangtuanya pasangan Salehuddin II dan Permaisuri Aji Ratu Aida berada di sana.

“Pak wali ini teman satu angkatan saya kuliah di Universitas Mulawarman,” kata Sultan memberitahu kerabat kesultanan. Di tahun 70-an kami memang pernah bersama. Kampus Unmul bukan di Gunung Kelua, tapi masih di kampus lama di Jl Pulau Flores, yang sekarang dimanfaatkan sebagai Balai Bahasa.

Pada kesempatan itu saya banyak memberi masukan kepada Sultan. Menurut saya, dengan semangat Erau 2025 dan menyambut Erau di tahun 2026 perlu dilakukan Gerakan Pemasalan Kebudayaan Kutai (GPKK) yang lebih masif terutama di wilayah Kaltim.

GPKK diperlukan untuk menjaga agar kebudayaan Kutai tetap terawat dan berkembang mengingat Kutai terutama kerajaan atau kesultanannya  punya arti penting dalam sejarah kerajaan dan kebudayaan di Tanah Air. Hampir sebagian besar wilayah Kaltim dulunya adalah wilayah Kesultanan Kutai.

Menpar Widiyanti juga menegaskan, Kesultanan Kutai sebagai saksi sejarah yang kaya akan budaya Nusantara. “Melalui Festival Erau kita tidak hanya merayakan budaya, tetapi juga merawat identitas dan kebanggaan bersama. Mari kita terus jaga warisan leluhur agar tetap menjadi bagian yang tak terpisahkan dari budaya Nusantara,” tandasnya.

Hal yang sama juga disampaikan Gubernur Rudy Mas’ud. “Erau adalah ruang berkumpulnya budaya adat yang menyimpan sejarah Kesultanan Kutai, karena itu harus dijaga dan dirawat,” ucapnya.

Ada beberapa kegiatan dan aksi yang bisa kita laksanakan dalam GPKK. Di antaranya mengusulkan kepada Pemerintah Pusat agar Museum Mulawarman dikembalikan ke daerah. Biar dikelola Pemkab Kutai dan Kesultanan Kutai dan dikembalikan fungsinya sebagai Keraton Kutai.

Selain didukung dana APBN dan APBD, sudah saatnya Kesultanan Kutai juga diberikan hak pengelolaan tambang seperti halnya Pemerintah memberikan kesempatan kepada ormas keagamaan dan lembaga masyarakat lainnya. Sangat ironis, hampir semua lokasi tambang ada di wilayah Kutai, tapi Kesultanan Kutai secara resmi tak punya wilayah tambang yang bisa dikelola.

Perlu gerakan yang masif membudayakan Bahasa Kutai sebagai program mulok atau muatan lokal di sekolah-sekolah dasar dan menengah. Lakukan kerjasama dengan Unmul dan Universitas Kutai Kartanegara (Unikarta) menjadi laboratorium Bahasa Kutai dan mencetak guru-guru yang pandai mengajarkan Bahasa Kutai. Bahasa Kutai adalah rumpun Bahasa Melayu, yang kaya dan menarik dari segi perbendaharaan bahasa, logat dan keindahan ucapan.

Dalam menyambut tamu-tamu penting seyogianya seni budaya Kutai lebih ditonjolkan tanpa mengesampingkan yang lain. Kutai kaya dengan seni budaya tari, arsitektur, pakaian dan kuliner serta cinderamata. Acara tepung tawar untuk tamu kehormatan sebaiknya menggunakan adat Kutai. Makanan khas Kutai juga tak kalah enak. Seperti nasi bakepor, gence ruan, rabo ruan, sate payau, telor ikan biawan,  sambal raja dan baung masak durian.

IKN perlu memberi apresiasi khusus terhadap budaya dan Kesultanan Kutai. Sebagian wilayah IKN adalah wilayah Kutai. Ketika Upacara 17-an pertama kali digelar di IKN, 17 Agustus 2024, Presiden Jokowi mengenakan busana Kesultanan Kutai. Sayang ada kesalahan teknis, sampai Sultan Kutai tak terima undangan. Nama jalan, gedung dan ornamen di IKN, selayaknya ada yang beraroma Kutai. Nama “Etam” sudah sangat popular di Kaltim. Ada Lamin Etam, Bumi Etam, bubuhan etam dan lainnya. Etam adalah Bahasa Kutai yang berarti “kita.”

Sultan Arifin sempat menyinggung rumah singgah Sultan di beberapa kota di Kaltim termasuk di Balikpapan. Dia menyinggung Wali Kota Rahmad Mas’ud pernah menjanjikan. Saya setuju di Kota Samarinda, Balikpapan dan Bontang ada rumah singgah Sultan. Atau Rumah Budaya Kutai, selain  berfungsi sebagai rumah singgah Sultan juga menjadi media informasi dan promosi kebudayaan Kutai. Saya usulkan yang di Balikpapan kalau bisa mengajukan permohonan ke Pertamina untuk mendapatkan rumah Pertamina di kawasan atas Lapangan Merdeka. View dan lingkungannya sangat bagus.

Tidak ada salahnya setiap pelaksaan Erau, Sultan menganugerahkan gelar kepada pejabat dan tokoh yang punya kepedulian ikut membangun daerah dan kebudayaan Kutai. Biar rasa memiliki, menjaga dan merawat Kesultanan Kutai semakin kuat.

Tiga belas tahun silam, tahun 2012, saya sebagai wali kota sempat mendapat gelar Raden Nata Praja Anum dari Sultan Salehuddin II. Perasaan “etam” bangga dan bertekad ikut memajukan kebudayaan Kutai. Makanya saya suka sekali makan nasi bakepor dan gence ruan. Nyaman “beneh” rasanya sambil menyaksikan Tari Topeng Kemindu dan Tari Ganjur, yang sangat unik dari Kesultanan Kutai.(*)

Mengulur Naga dan Belimbur Jadi Puncak Erau Adat Kutai

September 29, 2025 by  
Filed under Kutai Kartanegara

TENGGARONG – Prosesi mengulur naga dan belimbur merupakan acara puncak dari Erau yang menandai akan segera berakhirnya rangkaian acara adat Erau Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura. Belimbur dilakukan dengan memercikan air setelah naga diulur dan akan diambil air tuli yang dibawa dari perairan Kutai Lama tempat asal mula berdirinya kerajaan Kutai Kartanegara.

“Ini adalah momentum, betapa budaya adalah denyut nadi masyarakat Kutai, atas nama Pemerintah Provinsi Kaltim, kami mengucapkan terima kasih yang sebesar – besarnya kepada Pemerintah Kabupaten kutai Kartanegara (Kukar), Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura dan seluruh masyarakat yang telah merawat dan memeriahkan perhelatan akbar Erau ini ,” kata Wakil Gubernur Kaltim Seno Aji di acara Mengulur Naga dan Belimbur, di Museum Negeri Mulawarman Tenggarong, Minggu (28/9/2025).

Dikatakan Seno, Erau bukan hanya sekedar pesta rakyat, tapi juga napas peradaban, tradisi yang selalu ada yaitu mengulur naga melambangkan kebaikan yang mengalir dalam kehidupan masyarakat, sedangkan belimbur menjadi simbol mensucikan diri , solidaritas dan kegembiraan bersama. Nilai – nilai tersebut tidak hanya memperkaya identitas Kutai, tapi juga mengajarkan arti kebersamaan gotong royong keharmonisan dalam bermasyarakat.

“Erau merupakan aset berharga, menjadi motor penggerak wisata dan ekonomi kreatif serta promosi budaya internasional, Erau masuk dalam event kalender internasional yang dapat memperkuat branding Kaltim sebagai destinasi budaya,”sebutnya.

Sementara Bupati Kukar Aulia Rahman Basri mengatakan dari mengulur naga dan belimbur ada beberapa nilai – nilai yang bisa diambil hikmahnya, yaitu nilai kesakralan, dalam prosesi ada tahapan – tahapan yang harus dilalui yang tidak boleh dilompati, sehingga kesakralan dari acara bisa dijaga keabadiannya. Selanjutnya nilai yang bisa diambil adalah kesucian, dengan dikenakannya air ke badan dari air proses belimbur akan akan mensucikan diri.

“Dari belimbur juga, kita bisa mengambil hikmah syukur, dari proses ini seluruh masyarakat Kukar merayakan kesyukuran bahwa kita telah melaksanakan adat Erau dan diberikan nikmat oleh Allah SWT tinggal di Kukar dan kita juga bisa mengambil hikmah dari kesabaran dengan menyiramkan air kepada orang lain tidak boleh marah dan malah berbahagia dengan disiramkannya air belimbur tersebut,” kata Aulia.

Ia berharap dengan nilai – nilai yang ditanamkan saat melakukan proses sakral bisa diterapkan dalam kehidupan sehari – hari dan akan membawa kabupaten Kukar yang damai dan membawa kemakmuran bagi seluruh warga masyarakat Kukar. “Atas nama Pemkab Kukar mengapresiasi kegiatan Erau ini, kita harus menjunjung tinggi adat dan adab budaya yang dimiliki dan tepat hari ini Tenggarong genap berusia 243 Tahun, kita berharap Tenggarong semakin berbenah sebagaimana kita ketahui, Tenggarong adalah etalase Kukar, orang akan melihat Kukar sebagaimana orang akan melihat Tenggarong, karena Tenggarong kota warisan budaya dengan banyaknya bangunan heritage cagar budayanya dan orang yang tinggal di Kukar akan merasakan kebahagian dan kedamaian,”harap Aulia.

Setelah upacara pelepasan rombongan pembawa naga ke Kutai Lama, acara dilanjutkan dengan ritual beumban, begorok dan rangga titi. Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura ke XXI H Aji Muhammad Arifin dibaringkan diatas kasur berbungkus kain kuning. Tubuh Sultan kemudian diselimuti dengan kain kuning dan seorang sesepuh akan melakukan ritual. Selanjutnya upacara begorok, Sultan duduk diatas balai bambu kuning yang memiliki 41 tiang dan ritual pun kembali dilaksanakan dan yang terakhir adalah rangga titi. Sultan yang diiringi kerabat keraton, Ratu Sekar Asih, Bupati Kukar Aulia rahman Basri, Wakil Gubernur Kaltim Seno Aji, Wakil Bupati Kukar H Rendi Solihin, Sekda Kabupaten Kukar H Sunggono,Jajaran Forkopimda Provinsi, Forkopimda Kabupaten Kukar dan undangan lainnya menuju dermaga.

Sultan kemudian duduk diatas balai bambu. Sedangkan dewa dan belian mengucapkan mantra dan melakukan ritual tempong tawar. Sultan memasukkan bunga pohon pinang kedalam guci berisi air Kutai Lama dan memercikan air dengan tangannya kepada para kerabat dan tamu undangan. Prosesi tersebut menjadi pertanda dimulainya ritual belimbur oleh masyarakat.(kk06)

« Previous PageNext Page »

  • vb

  • Pengunjung

    1070856
    Users Today : 3273
    Users Yesterday : 4093
    This Year : 7366
    Total Users : 1070856
    Total views : 10545423
    Who's Online : 46
    Your IP Address : 216.73.216.188
    Server Time : 2026-01-02