Menag Beri Apresiasi Kerukunan Umat Beragama di Kaltim

January 12, 2026 by  
Filed under Berita

IKN – Menteri Agama Republik Indonesia, Nasaruddin Umar, memberikan apresiasi tinggi terhadap indeks kerukunan umat beragama di Provinsi Kalimantan Timur. Nasaruddin Umar menekankan Kalimantan Timur merupakan salah satu contoh daerah dengan tingkat toleransi yang melampaui rata-rata nasional.

Kami berharap Kalimantan Timur dapat terus mempertahankan nilai-nilai kerukunan yang sudah sangat baik ini, bahkan menjadikannya contoh bagi daerah lain,” ujar Nasaruddin Umar saat memberikan keterangan di area VIP Bandara Sultan Aji Muhammad Sepinggan Balikpapan, Minggu (11/1/2026).

Menag menyampaikan optimismenya terhadap pemindahan Ibu Kota Nusantara (IKN) ke Kalimantan Timur. Menurutnya, IKN bukan sekadar pemindahan pusat pemerintahan, melainkan simbol keadilan, pemerataan, dan produktivitas bagi bangsa Indonesia di masa depan.

“IKN ini dibangun di atas asas keadilan dan pemerataan,” ujarnya.

Menag juga mengajak seluruh elemen jajarannya di wilayah Kalimantan Timur untuk terus memperkuat peran mereka sebagai pilar stabilitas sosial. Ia meminta ASN Kemenag menjadi garda terdepan dalam merawat kerukunan umat beragama.

“Kita tidak ingin pembangunan fisik IKN berjalan pesat, namun fondasi kerukunannya rapuh. ASN Kemenag harus hadir untuk memastikan bahwa moderasi beragama bukan sekadar jargon, melainkan nafas kehidupan bermasyarakat di Kalimantan Timur,” kata Nasruddin.

Selain membahas isu strategis nasional, Nasruddin Umar menyempatkan diri melaksanakan salat subuh berjamaah perdana di Masjid Negara Nusantara bersama warga IKN dan sekitarnya. Menag mengaku sangat terkesan dengan suasana ibadah yang dinilai sangat syahdu dan khusyuk, yang mencerminkan kedalaman spiritual masyarakat di wilayah tersebut.

Pesan utama dari kunjungan ini adalah pentingnya menjaga harmoni di tengah perubahan besar yang sedang terjadi di Kalimantan Timur, agar IKN tidak hanya menjadi pusat ekonomi baru, tetapi juga pusat peradaban yang rukun dan damai. (Win)

Kejuaraan Asia Mini Football 2026 Jadi Magnet di Palembang

January 12, 2026 by  
Filed under Olahraga

Yan Mulia Abidin, Ketua Komite Sepakbola Mini Indonesia (KSMI)

PALEMBANG – Palembang diproyeksikan menjadi magnet kegiatan internasional lewat penyelenggaraan serangkaian agenda berskala besar yang terpusat di Jakabaring Sport City (JSC), Palembang, Sumatera Selatan.

Perhelatan Kejuaraan Asia Mini Football 2026 akan dilangsungkan 24 April hingga 4 Mei 2026. Sebanyak 12 negara peserta sudah memastikan kesiapannya untuk beraksi.

“Peserta masih terkonfirmasi sekarang 12 dari 16 negara. Mungkin bisa bertambah tapi kita lihat perkembangan nantinya,” kata Yan Mulia Abidin, Ketua Komite Sepakbola Mini Indonesia (KSMI).

Ajang ini tidak hanya berfokus pada pertandingan, tetapi juga pada pengembangan ekosistem olahraga dan pariwisata.

Yan Mulia Abidin, menyebut ada rangkaian agenda pembuka pada awal tahun sebelum Kejuaraan Asia Mini Football 2026 dimulai. Tahap pertama dijadwalkan berlangsung pada Februari 2026 dan menjadi fondasi penting sebelum turnamen utama digelar.

“Ada dua tahap dalam proses kita melaksanakan kejuaraan Asia Mini Football. Yang pertama pada 4 Februari sampai 7 Februari 2026. Kami akan rapat dan melakukan pengundian sekaligus mencari format untuk tim-tim masuk di grup mana,” kata Yan.

Beragam kegiatan pendukung telah disiapkan, mulai dari konser musik, festival budaya, festival UMKM, laga sepak bola mini yang mempertemukan para duta besar negara sahabat dengan figur selebritas, hingga penutup berupa fun run yang ditargetkan diikuti sekitar 100 ribu peserta.

Dari sisi teknis penyelenggaraan, Ketua Panitia Pelaksana, Agung Kurniawan memastikan koordinasi lintas sektor telah dilakukan secara intensif. Menurutnya, hal tersebut karena Kejuaraan Asia Mini Football 2026, butuh dukungan dari semua pihak.

“Kita telah bekerja sama erat dengan Pemerintah Kota Palembang, dinas-dinas relevan, penyelenggara konser, komunitas lokal, serta pihak internasional untuk memastikan setiap detail acara berjalan lancar, aman, dan memberikan pengalaman tak terlupakan bagi seluruh peserta dan pengunjung,” ujar Agung.

Sementara itu, kesiapan infrastruktur di JSC juga menjadi perhatian utama pengelola kawasan. Direktur Utama PT Jakabaring Sport City Meina Fatriani Paloh menyampaikan bahwa seluruh fasilitas telah dipersiapkan secara optimal.

“Kami telah melakukan pemeriksaan menyeluruh dan penyempurnaan terhadap infrastruktur mulai dari stadion untuk Piala Asia, lapangan mini football, area pameran untuk festival-festival, hingga ruang konser. Aksesibilitas, fasilitas pendukung, dan keamanan menjadi prioritas utama agar JSC dapat menjadi tuan rumah yang luar biasa bagi seluruh rangkaian acara ini,” ucap Meina.

Konsep besar yang diusung dalam Kejuaraan Asia Mini Football 2026 adalah sport tourism. Hal ini sejalan dengan kebijakan pemerintah yang tengah mendorong pengembangan pariwisata berbasis olahraga.

Selain pertandingan, Kejuaraan Asia Mini Football 2026 juga akan diramaikan dengan berbagai aktivitas pendukung. Penyelenggara menyiapkan ruang bagi pelaku UMKM serta hiburan musik yang dijadwalkan berlangsung hampir setiap hari.

Sekjen Komite Sepak Bola Mini Indonesia (KSMI) Daeng Supriyanto menegaskan keseriusan panitia dalam mengawal seluruh tahapan kegiatan. Ia ingin Kejuaraan Piala Asia Mini Football 2026 digarap secara maksimal karena banyak mata yang tertuju ke sana.

“Kami akan mengoptimalkan segala upaya mulai dari persiapan, pelaksanaan, hingga penutupan agar seluruh agenda dapat berlangsung sukses dan memberikan manfaat maksimal,” kata Daeng Supriyanto. (*)

Pikiran Disebut “Memakan Usia”, Stres Berlebih Dikaitkan dengan Penuaan Otak

January 11, 2026 by  
Filed under Serba-Serbi

Ungkapan “banyak pikiran bikin cepat tua” kini tak lagi sekadar pepatah. Sejumlah penelitian ilmiah menunjukkan bahwa stres kronis dan beban pikiran berlebih berhubungan dengan percepatan penuaan otak, bahkan membuat usia biologis otak tampak lebih tua dibanding usia sebenarnya.

Salah satu temuan penting datang dari penelitian berjudul Accelerated Brain Ageing During the COVID-19 Pandemic yang dipublikasikan dalam jurnal Nature Communications pada 2022. Penelitian yang dipimpin oleh Dr. Dorothee Auer dari University of Nottingham ini menggunakan pemindaian MRI dan kecerdasan buatan untuk mengukur usia biologis otak.

Hasilnya, kondisi stres berkepanjangan selama pandemi dikaitkan dengan percepatan penuaan otak rata-rata 5,5 bulan, bahkan pada individu yang tidak terinfeksi COVID-19.

Selain itu, studi lain yang dipublikasikan dalam jurnal Neurology melalui data Framingham Heart Study menemukan bahwa kadar hormon stres kortisol yang tinggi berkaitan dengan penyusutan volume otak serta penurunan fungsi kognitif, terutama pada orang dewasa paruh baya. Penelitian ini menegaskan bahwa tekanan psikologis tidak hanya berdampak pada kesehatan mental, tetapi juga memengaruhi struktur otak secara fisik.

Fenomena ini juga terasa dalam pengalaman sehari-hari masyarakat. Seorang narasumber muda di Samarinda, Nisa mengaku melihat langsung dampak beban pikiran terhadap perubahan fisik seseorang.

“Setuju sih, aku ngeliat temenku sendiri, dia jadi keliatan lebih tua sekarang karena disebabkan banyak pikiran,” ujarnya.

Para peneliti menjelaskan, penuaan otak tidak semata ditentukan oleh usia kronologis. Konsep biological brain age kini digunakan untuk menggambarkan kondisi otak berdasarkan struktur, jaringan saraf, dan fungsi kognitif. Faktor seperti stres berkepanjangan, kecemasan, pola tidur buruk, serta tekanan hidup disebut dapat mempercepat proses tersebut.

Di sisi lain, sejumlah riset juga menunjukkan, pengelolaan stres yang baik, aktivitas mental yang positif, serta pandangan hidup yang lebih adaptif dapat membantu memperlambat penurunan fungsi otak. Artinya, cara seseorang menghadapi masalah dan tekanan hidup memiliki peran penting dalam menjaga kesehatan mental jangka panjang.

Intimate Wedding Jadi Pilihan Gen Z

January 11, 2026 by  
Filed under Gaya Hidup

Preferensi Generasi Z terhadap konsep intimate wedding menandai perubahan cara pandang generasi muda dalam memaknai pernikahan. Berbeda dengan generasi sebelumnya yang identik dengan resepsi besar dan undangan ratusan tamu, Gen Z justru cenderung memilih pernikahan berskala kecil yang lebih personal dan intim.

Bagi Gen Z, pernikahan dipandang sebagai momen sakral yang seharusnya dinikmati bersama orang-orang terdekat, bukan sekadar ajang seremonial. Faktor kedekatan emosional, efisiensi anggaran, serta keinginan menghadirkan suasana yang lebih hangat menjadi alasan utama di balik pilihan tersebut.

Hal itu disampaikan Nadia (24), seorang Gen Z yang telah menetapkan intimate wedding sebagai konsep pernikahan impiannya.

“Aku pengin wedding yang benar-benar terasa. Yang hadir orang-orang terdekat yang tahu perjalanan kami. Intimate wedding itu wedding dream aku, karena lebih hangat, lebih tenang, dan aku bisa menikmati momennya tanpa terbebani banyak hal,” ujar Nadia.

Namun, di tengah tren tersebut, konsep intimate wedding belum sepenuhnya mudah diterima, terutama oleh kalangan orang tua. Dalam konteks budaya Indonesia, pernikahan masih sering dimaknai sebagai hajatan besar keluarga, simbol status sosial, sekaligus bentuk penghormatan kepada kerabat dan lingkungan sekitar.

Perbedaan sudut pandang ini kerap memunculkan dinamika tersendiri dalam proses perencanaan pernikahan. Banyak orang tua masih beranggapan bahwa pernikahan ideal adalah yang mengundang banyak tamu sebagai wujud menjaga relasi sosial dan nama baik keluarga.

Meski demikian, tren intimate wedding tidak serta-merta menghapus nilai budaya. Sebagian pasangan Gen Z memilih jalan tengah dengan tetap memasukkan unsur adat atau tradisi keluarga, namun dalam skala yang lebih sederhana dan terbatas. (intan)

Gen Z Pimpin Indeks Toleransi Beragama Indonesia 2025

January 11, 2026 by  
Filed under Religi, Sosial & Budaya

Di tengah masyarakat Indonesia yang semakin beragam, sikap toleran menjadi elemen penting dalam menjaga harmoni sosial. Perbedaan keyakinan, cara beribadah, hingga tradisi keagamaan kini menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari yang menuntut sikap saling menghargai. Menariknya, cara generasi muda memandang perbedaan tersebut menunjukkan kecenderungan yang semakin terbuka.

Berdasarkan data yang dilansir dari GoodStats Data, Generasi Z mencatatkan tingkat toleransi beragama tertinggi pada 2025 dengan skor 80,03. Angka ini berada di atas generasi lain, yakni Gen X (78,97), Baby Boomers (78,81), dan Milenial (78,77).

Data tersebut berasal dari Survei Indeks Kualitas Kehidupan Beragama Umat Islam Tahun 2025 yang dirilis Kementerian Agama melalui Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam bekerja sama dengan Alvara Strategic Research. Survei dilakukan secara kuantitatif terhadap 1.208 responden Muslim di 34 provinsi menggunakan metode multistage random sampling, dengan margin of error 2,89 persen.

Penilaian toleransi beragama dalam survei ini mencakup sejumlah indikator, antara lain penerimaan terhadap pelaksanaan ibadah agama lain, sikap tidak mencela keyakinan berbeda, penolakan terhadap tindakan persekusi, serta tidak menyebarkan ujaran kebencian berbasis agama.

Tingginya tingkat toleransi Gen Z juga tercermin dari pandangan generasi muda terhadap perbedaan keyakinan. Nadya (22), salah satu Gen Z, menilai keberagaman agama seharusnya tidak menjadi sumber konflik.

“Menurutku, agama itu urusan masing-masing sih. Yang penting saling menghormati dan nggak ikut campur keyakinan orang lain,” ujarnya.

Karena itu, penguatan nilai toleransi tetap perlu dijaga melalui pendidikan, keteladanan tokoh masyarakat, serta kebijakan yang mendorong kerukunan. Sikap terbuka Gen Z dinilai dapat menjadi modal sosial penting bagi masa depan Indonesia yang lebih harmonis, tanpa mengesampingkan nilai-nilai keimanan yang diyakini setiap pemeluk agama. (intan)

« Previous PageNext Page »

  • vb

  • Pengunjung

    1188597
    Users Today : 4296
    Users Yesterday : 5952
    This Year : 125107
    Total Users : 1188597
    Total views : 11298046
    Who's Online : 38
    Your IP Address : 216.73.216.159
    Server Time : 2026-01-23