Menjadi Perempuan Perantau di Samarinda

February 5, 2026 by  
Filed under Opini

Samarinda – Intan namanya. Datang ke Samarinda pada 2023, membawa ransel berisi pakaian, harapan, dan keberanian yang belum sepenuhnya matang. Saat itu, ia tidak sendiri. Ada lima teman yang berjalan bersamanya. Mereka datang sebagai bagian dari program santri jurnalis dari pesantren. Mereka sama-sama belajar membaca kota baru, memahami ritme kehidupan yang berbeda, dan menata mimpi masing-masing.

Kini 2026. Waktu pelan-pelan mengerjakan tugasnya. Mereka tidak lagi berada di jalur yang sama. Satu per satu memilih kantor, jalan, dan kehidupan yang berbeda. Intan pun berdiri sendiri di kota ini, dengan orang-orang baru, lingkungan baru, dan versi diriku yang terus bertumbuh.

Secara profesi, aku adalah jurnalis. Tapi hidup, seperti biasa, tidak pernah mau hanya satu warna. Intan juga banyak bergelut sebagai content creative. Sebelumnya, Intan bahkan sempat menjadi podcaster. Peran-peran itu datang silih berganti, kadang bersamaan, kadang saling tumpang tindih. Samarinda memberiku ruang untuk mencoba, gagal, belajar, lalu mencoba lagi. Kota ini tidak menuntutnya menjadi seseorang yang sudah selesai, ia membiarkanku bertumbuh apa adanya.

Pelan-pelan, Samarinda berubah status. Dari kota tujuan kerja, menjadi rumah kedua. Rumah setelah Bogor tempat ia dilahirkan. Sebelum Samarinda, Intan juga pernah lama tinggal di Tasikmalaya karena mondok di sana. Setiap kota meninggalkan jejaknya sendiri dalam hidupku. Bogor mengajarkan tentang pulang, Tasikmalaya tentang disiplin dan ketahanan, sementara Samarinda mengajarkanku tentang bertahan sendirian.

Menjadi perempuan perantau di Samarinda adalah pengalaman yang memperluas banyak hal, sudut pandang, keberanian, dan batas zona nyaman. Intan belajar beradaptasi dengan budaya baru, ritme kerja yang cepat, dan tuntutan hidup mandiri. Ia belajar membuat keputusan tanpa bisa selalu bertanya. Belajar kuat, bahkan ketika tidak sedang ingin terlihat kuat.

Ada banyak hal menarik yang kutemui di sini. Orang-orang dengan latar belakang berbeda, cerita-cerita yang tidak akan kutemukan jika aku memilih tinggal di rumah. Samarinda memberiku “koleksi cerita” yang kelak akan menjadi kenangan masa muda tentang kerja keras, tentang bertahan, tentang mimpi yang dikejar tanpa peta pasti.

Namun, merantau tidak pernah sepenuhnya romantis. Ada bagian sunyi yang sering tidak diceritakan. Rasa rindu yang datang tiba-tiba. Rindu rumah, rindu keluarga, rindu menjadi anak bungsu yang tidak perlu selalu tampak mampu. Homesick kerap datang tanpa permisi, terutama di waktu-waktu sepi, ketika hari terasa terlalu panjang dan notifikasi ponsel terlalu senyap.

Kesepian juga bukan hal asing. Ada masa-masa ketika kota terasa ramai, tapi aku tetap merasa sendirian. Saat teman-teman yang dulu datang bersama kini sibuk dengan hidupnya masing-masing, aku belajar menerima fase “bersama” memang tidak selalu abadi. Ada saatnya kita harus berjalan sendiri, meski awalnya terasa berat.

Tapi justru di sanalah aku belajar. Bahwa kesepian tidak selalu musuh. Ia kadang menjadi ruang untuk mengenal diri sendiri lebih dalam. Mengerti apa yang benar-benar diinginkan, apa yang ingin dipertahankan, dan apa yang harus dilepaskan. Samarinda memberiku ruang itu, ruang untuk menjadi perempuan yang terus belajar tentang hidupnya sendiri.

Menjadi perempuan perantau di Samarinda bukan soal siapa yang paling kuat, tapi siapa yang mau terus bertumbuh meski rindu sering datang. Kota ini tidak selalu mudah, tapi ia jujur. Ia mengajarkanku bahwa rumah bukan hanya soal tempat lahir, melainkan tempat di mana kita berani bertahan dan berkembang.

Dan mungkin, untuk saat ini, Samarinda adalah rumah itu.

Fenomena Whip Pink, Dari Alat Dapur ke Isu Kesehatan Publik

February 5, 2026 by  
Filed under Serba-Serbi

Samarinda — Nama Whip Pink belakangan ramai diperbincangkan publik setelah dikaitkan dengan dugaan penyalahgunaan gas tertentu untuk mendapatkan efek euforia. Produk yang sejatinya digunakan dalam dunia kuliner itu kini menjadi sorotan karena potensi dampak kesehatan yang serius.

Whip Pink diketahui merupakan tabung gas pengocok krim (whipped cream charger) yang berisi nitrous oxide (N₂O) dan lazim digunakan oleh pelaku usaha makanan dan minuman untuk menghasilkan whipped cream secara cepat. Secara legal, produk ini dipasarkan sebagai peralatan dapur dan bukan zat terlarang.

Namun, dalam perkembangannya, gas nitrous oxide yang terkandung dalam Whip Pink disebut disalahgunakan dengan cara dihirup untuk memperoleh sensasi euforia sesaat. Praktik ini dinilai berbahaya karena dapat mengganggu sistem saraf dan pernapasan.

Dilansir dari DetikHealth Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI, Taruna Ikrar, menyebut pihaknya tengah mengevaluasi peredaran Whip Pink di pasaran. Ia menegaskan, penggunaan nitrous oxide di luar fungsi kuliner berpotensi membahayakan kesehatan, terlebih jika dilakukan tanpa pengawasan.

Secara medis, penyalahgunaan nitrous oxide dapat memicu kekurangan oksigen dalam tubuh, gangguan vitamin B12, hingga kerusakan sistem saraf jika digunakan berulang kali. Kondisi ini membuat zat tersebut berbahaya bila digunakan di luar standar industri dan medis.

Fenomena penyalahgunaan nitrous oxide sejatinya bukan hal baru di tingkat global. Di sejumlah negara, gas ini dikenal dengan sebutan “whippets” atau “nangs” dan kerap digunakan secara rekreasional di kalangan anak muda.

Di Inggris, misalnya, pemerintah secara resmi mengklasifikasikan nitrous oxide sebagai zat terlarang Kelas C sejak 2023 karena meningkatnya penyalahgunaan dan gangguan sosial yang ditimbulkan. Sementara itu, Belanda melarang kepemilikan dan penjualannya kecuali untuk kebutuhan medis dan industri.

Di Amerika Serikat, otoritas kesehatan juga mengeluarkan peringatan resmi terkait bahaya penggunaan nitrous oxide secara rekreasional setelah muncul sejumlah kasus gangguan kesehatan serius.

Mencuatnya isu Whip Pink di Indonesia dinilai menjadi alarm penting bagi pemerintah dan masyarakat untuk meningkatkan literasi publik terkait zat inhalan yang beredar bebas namun berisiko tinggi jika disalahgunakan.

Tasikmalaya, Kota Santri dengan Wajah Kehidupan yang Tenang

February 5, 2026 by  
Filed under Serba-Serbi

Tasikmalaya – Tasikmalaya dikenal luas sebagai salah satu kota santri di Jawa Barat. Julukan ini bukan sekadar label, melainkan tercermin dalam wajah kehidupan sehari-hari masyarakatnya. Ritme yang tenang, suasana religius, dan interaksi sosial yang tertib menjadi ciri khas yang masih bertahan hingga kini.

Keberadaan ratusan pesantren di Tasikmalaya membentuk karakter wilayah ini sejak lama. Pesantren tidak hanya berfungsi sebagai lembaga pendidikan keagamaan, tetapi juga menjadi pusat pembentukan nilai dan etika sosial. Aktivitas mengaji, shalat berjamaah, hingga kegiatan keagamaan lainnya berjalan berdampingan dengan kehidupan masyarakat sekitar.

Bagi Alfi, perempuan asal Bandung yang telah lama tinggal di Tasikmalaya dan mengenyam pendidikan di pesantren, suasana kota santri memberikan rasa aman dan nyaman.

“Di Tasik itu hidupnya terasa lebih teratur. Ada waktu belajar, waktu ibadah, dan waktu istirahat,” ujarnya. Menurut Alfi, lingkungan pesantren turut membentuk kebiasaan hidup yang tidak tergesa. “Segala sesuatu dijalani pelan-pelan, tapi terarah,” katanya.

Wajah kehidupan yang tenang juga tercermin dari interaksi sosial masyarakat Tasikmalaya. Sikap saling menghormati, menjaga tutur kata, dan menghargai ruang privat menjadi kebiasaan yang tumbuh secara alami. Keramaian tetap ada, namun jarang terasa bising. Kegiatan berlangsung dalam batas yang tertib.

Selain kehidupan religius, Tasikmalaya juga memiliki kekayaan budaya dan alam yang mendukung suasana tenang. Kawasan pedesaan dengan hamparan sawah, perbukitan, serta aliran sungai menjadi latar kehidupan sehari-hari. Banyak warga menghabiskan waktu dengan aktivitas sederhana yang dekat dengan alam.

Fakta menariknya, julukan kota santri tidak membuat Tasikmalaya tertutup terhadap perubahan. Pendidikan umum, aktivitas ekonomi, dan pariwisata tetap berkembang. Namun, nilai religius dan kesederhanaan tetap menjadi fondasi. Modernitas hadir tanpa menggeser identitas utama.

Alfi menilai, ketenangan Tasikmalaya justru menjadi kekuatan. “Banyak orang sekarang cari tempat yang bisa bikin mereka berhenti sejenak. Tasik itu salah satunya,” ujarnya. Ia menyebut, suasana religius dan kehidupan yang tertib memberi ruang bagi refleksi diri.

Tasikmalaya, Kota Tenang yang Menawarkan Wisata Alam Tanpa Riuh

February 5, 2026 by  
Filed under Wisata

Tasikmalaya – Di tengah tren wisata yang identik dengan keramaian dan hiruk pikuk, Tasikmalaya hadir sebagai pilihan berbeda. Kota dan kabupaten di wilayah selatan Jawa Barat ini menawarkan wisata alam yang tenang, jauh dari kesan ramai, sekaligus memberi ruang bagi pengunjung untuk bernapas lebih pelan.

Tasikmalaya dikenal memiliki bentang alam yang beragam. Dari pegunungan, sawah, sungai, hingga pantai di wilayah selatan, semua hadir dengan karakter yang masih alami. Banyak destinasi belum tersentuh komersialisasi berlebihan, sehingga suasana hening dan kedekatan dengan alam tetap terjaga.

Beberapa lokasi seperti kawasan perbukitan di kaki Gunung Galunggung, aliran sungai jernih, hingga pantai-pantai selatan Tasikmalaya kerap menjadi tujuan wisatawan yang mencari ketenangan. Di tempat-tempat ini, suara angin, air, dan langkah kaki lebih dominan dibandingkan bising kendaraan atau keramaian manusia.

Bagi Syifa, perempuan yang sudah lama tinggal di Tasikmalaya, ketenangan justru menjadi daya tarik utama daerahnya.
“Wisata di Tasik itu nggak bikin capek. Kita bisa datang, duduk, lihat alam, terus pulang dengan perasaan lebih ringan,” ujarnya. Menurut Syifa, Tasikmalaya cocok bagi mereka yang ingin menikmati alam tanpa harus terburu-buru. “Nggak perlu ke mana-mana, cukup menikmati yang ada,” katanya.

Ia menilai karakter masyarakat Tasikmalaya yang cenderung tenang dan bersahaja turut memengaruhi pengalaman berwisata. Interaksi dengan warga lokal terasa hangat dan tidak dibuat-buat. Wisatawan sering disambut dengan senyum dan sikap ramah, menciptakan suasana yang nyaman.

Selain alam, Tasikmalaya juga menawarkan wisata berbasis kearifan lokal. Desa-desa wisata, persawahan, serta kawasan pedesaan menjadi alternatif bagi pengunjung yang ingin merasakan suasana hidup yang lebih sederhana. Aktivitas seperti berjalan kaki menyusuri kampung, menikmati senja, atau sekadar duduk di saung menjadi pengalaman yang justru dicari banyak orang.

Fakta menariknya, Tasikmalaya juga dikenal sebagai daerah dengan budaya religius yang kuat. Hal ini turut membentuk ritme kehidupan yang lebih tertib dan tenang. Banyak wisatawan mengaku merasa aman dan nyaman karena suasana yang kondusif dan jauh dari kesan gaduh.

Bogor dalam Sepiring Kenangan, Jejak Rasa Sunda di Kota Hujan

February 5, 2026 by  
Filed under Wisata

Bogor – Bogor kerap dikenang sebagai kota hujan, kota dengan udara sejuk dan ritme hidup yang cenderung pelan. Namun bagi banyak orang, Bogor juga hidup dalam sepiring makanan. Di balik kabut dan rintik hujan, jejak rasa Sunda bertahan sebagai bagian dari ingatan kolektif warganya.

Kuliner khas Sunda di Bogor tumbuh dari kedekatan masyarakat dengan alam. Bahan-bahan segar seperti sayuran, ikan air tawar, dan hasil kebun menjadi fondasi utama. Olahannya sederhana, tidak berlebihan bumbu, namun kuat dalam rasa. Dari situlah muncul hidangan-hidangan yang tak hanya mengenyangkan, tetapi juga menghadirkan rasa pulang.

Menu seperti nasi timbel, pepes ikan, sayur asem, hingga sambal dadak menjadi wajah keseharian kuliner Bogor. Lalapan segar hampir selalu hadir, menegaskan kebiasaan masyarakat Sunda yang akrab dengan alam dan kesegaran bahan pangan. Cara makannya pun sering kali bersifat komunal, dimakan bersama dalam suasana santai.

Bagi Intan, perempuan Sunda yang kerap singgah di Bogor, makanan-makanan tersebut menyimpan kenangan personal.

“Kalau makan makanan Sunda di Bogor, rasanya beda. Ada suasana yang ikut yang tidak bisa dijelaskan,” ujarnya. Menurut Intan, hujan dan udara sejuk membuat pengalaman makan menjadi lebih bermakna. “Sederhana, tapi bikin tenang,” katanya.

Ia menilai kuliner Sunda di Bogor tidak bisa dilepaskan dari suasana kotanya. “Bogor itu pelan. Makanannya juga ngajarin kita buat nggak buru-buru,” ucapnya. Intan menyebut, banyak kenangan tentang obrolan panjang, tawa, dan kebersamaan yang tercipta justru saat duduk mengelilingi satu meja makan sederhana.

Selain makanan utama, Bogor juga dikenal dengan jajanan khas yang melekat dalam ingatan banyak orang. Asinan Bogor dengan rasa segar-asam, talas olahan, hingga berbagai kudapan berbahan singkong menjadi bagian dari perjalanan rasa kota ini. Jajanan tersebut kerap dijumpai di sudut-sudut kota, pasar tradisional, hingga pinggir jalan.

Fakta menariknya, kuliner Sunda di Bogor tidak hanya bertahan sebagai tradisi lama, tetapi juga terus beradaptasi. Banyak warung dan rumah makan yang tetap mempertahankan resep turun-temurun, meski berada di tengah kota yang terus berkembang. Di sanalah identitas rasa dijaga, meski zaman berubah. (*)

« Previous PageNext Page »

  • vb