Tim Ahli Gubernur Kaltim

March 4, 2026 by  
Filed under Opini

Catatan Rizal Effendi

SAYA  hormat dan salut atas kesediaan Gubernur Haji Rudy Mas’ud (HARUM) meminta maaf atas kehebohan kasus pengadaan mobil dinasnya. Selain itu dia juga ikhlas mengembalikan atau membatalkan pembelian mobil mahal bernilai Rp8,5 miliar itu kepada penyedianya.

Penyedianya adalah CV Afisera Samarinda. “Itu mobil termahal yang pernah kami jual,” kata Subhan, sang direktur. Dia mengaku perusahaannya dipercaya ATMP Indomobil untuk memasarkan jenis mobil tersebut.

Subhan tak keberatan mobil yang sudah dibayar lunas Pemprov Kaltim itu dikembalikan. “Dana pembelian mobil itu harus dikembalikan  ke kas daerah dalam waktu 14 hari,” kata Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika, Muhammad Faisal dalam jumpa pers di Kantor Gubernur, Senin (2/3).

Subhan terkesan  tidak menuntut ganti rugi. Menurut Faisal, mobilnya berada  di Kantor Perwakilan Kaltim di Jakarta. Belum pernah dipakai dan masih ada bungkus plastiknya. Tapi ada awak media yang menelusuri ke sana tidak menemukan mobil mahal tersebut.

Sejumlah wartawan sempat bingung, ketika Gubernur HARUM menghadiri pelantikan Putri Amanda Nurramadhani (23) jadi Ketua KADIN Kaltim di IKN mengendarai Range Rover putih KT 1. Wartawan sempat bertanya. “Oh bukan,  itu punya Pak Gub pribadi tapi beda jenis,” kata Faisal.

Pelantikan Putri oleh Ketua KADIN Pusat  Anindya Novyan Bakrie berlangsung ketat. Ada sejumlah keamanan bertugas. Acara pelantikan yang tadinya direncanakan di Samarinda mendadak dipindahkan ke IKN. Aneh juga.

Ketua KADIN Kaltim yang baru, Putri Amanda Nurrahmandhani (kiri) bersama Gubernur Kaltim Rudy Mas’ud, Ketua Umum KADIN Pusat Anindya Novyan Bakrie dan Kepala Otorita IKN Basuki Hadimuljono.

Putri memang disorot. Baru berusia 23 tahun dan belum memenuhi syarat tapi tetap dipilih jadi ketua. Soalnya dia adalah keponakan gubernur. Putri kabarnya adalah putrinya Hj Syahariah Mas’ud, anggota DPRD Kaltim yang juga saudara kandung gubernur. Syahariah sendiri disebut-sebut calon kuat Ketua KONI Kaltim.

Di luar soal masalah mobil dan KADIN, kita juga perlu mencermati  pembentukan Tim Ahli Gubernur untuk Percepatan Pembangunan (TAGUPP) Kaltim yang diketuai mantan Gubernur Kaltara Dr Ir H Irianto Lambrie, MM. Irianto pada Pilkada sebelumnya adalah Ketua Tim Pemenangan Rudy Mas’ud-Seno Aji.

TAGUPP berkekuatan 47 orang. Ada nama besar seperti Bambang  Widjojanto dan Irfan Wahid di sana. Bambang Widjojanto sekarang berstatus sebagai pengacara. Dia dikenal sebagai aktivis anti korupsi dan pernah menjadi anggota KPK. Sedang Irfan Wahid yang akrab disapa Gus Ipang Wahid dikenal sebagai praktisi komunikasi politik yang ikut mensukseskan kemenangan Rudy Mas’ud-Seno Aji. Mereka duduk sebagai Dewan Penasehat bersama 6 nama lainnya.

Juga ada nama Hijrah Mas’ud, adik kandung gubernur sebagai Wakil Ketua I, yang selalu jadi omongan. Juga ada dosen Unhas, Dr Syahrir A Pasinringi, MS (Prof Cali), yang beberapa waktu lalu diangkat sebagai Ketua Dewas RSUD A Wahab Sjahranie (AWS) Samarinda. Dalam struktur TAGUPP, Prof Cali dipercaya sebagai Ketua Bidang Sumber Daya Manusia dan Kesejahteraan Rakyat.

Suasana rapat pertama TAGUPP Kaltim bersama Gubernur Kaltim Rudy Mas’ud

Hijrah dan Prof Cali sempat disorot Sudarno, mantan juru bicara Tim Kemenangan Rudy Mas’ud-Seno Aji. Sudarno sendiri ternyata juga masuk dalam TAGUPP. Namanya tercantum sebagai anggota Bidang Komunikasi Politik dan Komunikasi Publik. Makanya langsung ikut cuap-cuap soal urusan mobil dinas gubernur. Yang agak menarik Sudarno juga ikut meluruskan masalah penampilan istri gub. Padahal dia sendiri yang menyebut itu masalah pribadi.

Berdasarkan SK Gubernur Kaltim No 100.3.3.1/K.9/2026, TAGUPP berada di bawah koordinasi Biro Administrasi Pembangunan Sekretariat Daerah Provinsi Kaltim sebagai penyedia honorarium bulanan bagi para anggota TAGUPP.

Pengamat Kebijakan Publik dari Universitas Mulawarman, Saipul Bachtiar mengusulkan tim tersebut sebaiknya diberi nama Tim Sukses atau Tim Penasihat Gubernur. Ia menilai tim yang ada tidak mencerminkan esensi sebuah tim ahli, karena anggotanya didominasi tim sukses.

Dia juga menyorot masuknya sejumlah nama dari luar karena dianggap kurang memahami akar rumput permasalahan Kaltim. “Jangan sampai mereka mereka justru yang ingin mengatur Kaltim,” kata Saipul.

Dia juga mengkritisi beban finansial yang muncul akibat besarnya jumlah anggota tim. “Kalau uang pribadi gubernur ngga masalah, tapi ini kan uang rakyat, uang dari pajak. Jadi jangan sampai terbuang percuma,” katanya seperti diberitakan PROKAL.co.

Kemarin, Selasar.co merilis daftar honorium TAGUPP. Untuk jabatan ketua Rp40 juta per bulan. Wakil ketua Rp35 juta per bulan, koordinator bidang/divisi Rp30 juta per bulan, anggota bidang/divisi Rp20 juta per bulan  serta dewan penasihat Rp45 juta per bulan. Apakah angkanya memang sebesar  seperti itu? Saya belum membaca ada penjelasan resmi.

APA BOLEH DIBENTUK?

Menjelang pelantikan serentak 505 kepala daerah se Indonesia, 20 Februari 2025, saya sempat menulis tentang masalah pengangkatan staf khusus (Stafsus) dan tenaga ahli kepala daerah.

Saya mengutip ucapan Kepala Badan Kepegawaian Nasional (BKN), yang saat itu dijabat Prof Zudan Arif Fakhrullah. Dia menegaskan, semua kepala daerah yang baru dilantik dilarang mengangkat tenaga honorer baru, staf khusus dan tenaga ahli.

“Anggaran yang ada kita fokuskan untuk pengangkatan P3K, jadi jangan ada pengangkatan tenaga honor baru termasuk staf khusus  dan tenaga ahli baik yang nempel di kepala daerah maupun yang ditempelkan di OPD-OPD,” tegas Zudan kepada awak media di Kompleks Parlemen Senayan Jakarta, Rabu (12/2/2025).

Berdasarkan pengalaman, pos staf khusus dan tenaga ahli itu diada-adakan oleh kepala daerah untuk mengakomodasi sejumlah anggota tim sukses Pilkada, yang dianggap berjasa memenangkan sang kepala daerah.

Menurut Prof Zudan, jika ada kepala daerah yang tetap melanggar aturan yang telah disampaikan, maka akan dikenakan sanksi berat oleh pemerintah pusat. “Banyak yang bilang anggaran daerah terbatas, tapi kok masih angkat staf khusus dan tenaga ahli. Ini kan jelas-jelas tidak masuk akal,” tandasnya.

Saya tidak tahu persis apakah ada aturan baru sehingga Gubernur HARUM bisa membentuk TAGUPP. Tapi seorang pejabat Kemendagri yang saya hubungi tetap menyatakan bahwa pengangkatan staf khusus atau tenaga ahli tidak dibenarkan.

“Tidak ada dasar hukumnya. Bukankah di struktur pemerintahan sudah ada staf ahli. Jadi pengangkatan tim ahli berisiko jadi temuan BPK. Tidak tertutup kemungkinan kelak kalau mereka terima honor dari APBD akan diminta untuk dikembalikan,” ujarnya.

Menurut pejabat Kemendagri itu, kepala daerah boleh saja merekrut tim ahli sebanyak mungkin. Tapi harus di luar struktur pemerintahan daerah. “Dan yang terpenting semua pembiayaan termasuk honornya ditanggung secara pribadi oleh kepala daerah,” jelasnya.

Ketua TAGUPP Kaltim Irianto Lambrie menyatakan, tim mereka akan bekerja melalui kolaborasi intensif dengan Organisasi Perangkat Daerah (OPD), DPRD  serta pemerintah kabupaten/kota.

“Tugas kami adalah memberikan masukan secara objektif, ilmiah dan profesional demi kepentingan daerah dan masyarakat Kalimantan Timur,” jelasnya.

Menurut Irianto, pembentukan tim ahli bukanlah hal baru. Saat dia memimpin Kaltara, dia juga membentuk tim serupa meski dengan jumlah terbatas, hanya 11 orang dari kalangan akademisi, praktisi hukum dan tokoh daerah.

Irianto juga mengatakan, mereka mendapat mandat khusus dari gubernur untuk mencari strategi agar Kaltim tidak bergantung pada pusat. Pihaknya memastikan Provinsi Kaltim mampu memaksimalkan potensi PAD untuk menggerakkan pembangunan di daerah.

Saya tidak bermaksud menggunjing eksistensi  TAGUPP Kaltim. Apalagi sebagian saya juga kenal dan tahu kapasitas mereka. Cukup mumpuni. Tapi menurut saya, Gubernur HARUM harus memastikan pembentukan TAGUPP itu tidak menabrak aturan kalau biayanya mengambil dari kantong APBD. Jangan sampai ada lagi kebijakan yang merusak “marwah” gubernur. Kan repot kalau minta maaf lagi.(*)

Sahur dalam Tabuhan Tradisi

March 4, 2026 by  
Filed under Serba-Serbi

SAMARINDA — Bulan Ramadan bukan sekadar soal ibadah puasa, tetapi juga dipenuhi tradisi-tradisi unik yang diwariskan secara turun-temurun. Di Indonesia, salah satu tradisi yang paling dikenal menjelang waktu sahur adalah tradisi beduk sahur, sebuah kebiasaan komunitas muslim yang membangunkan warga untuk makan sahur dengan cara menabuh beduk atau alat pukul lain sambil berteriak “Sahur! Sahur!”. Tradisi ini tidak hanya menjadi penanda waktu, tetapi juga bagian dari kebersamaan muslim di berbagai daerah.

Di berbagai kampung, suara beduk, kentongan, hingga ember plastik yang dipukul bertalu-talu menjadi alarm tradisional sebelum azan Subuh berkumandang. Anak-anak hingga pemuda biasanya berkeliling lingkungan sambil menabuh alat seadanya. Tak jarang, kegiatan ini berubah menjadi arak-arakan kecil yang penuh semangat.

“Kalau di Indonesia itu biasanya ramai sekali,” ujar Afif Luthfi Murtadho, Mahasiswa asal Indonesia yang pernah menempuh pendidikan di Turki saat diwawancarai, Selasa (3/3/2026).

Menurutnya, tradisi ini tumbuh dari kultur komunal masyarakat Indonesia yang menjadikan Ramadan sebagai momentum kebersamaan, bukan hanya ibadah personal.

Menariknya, tradisi membangunkan sahur dengan tabuhan alat pukul juga ditemukan di Turki. Sejak era Kesultanan Ottoman, masyarakat di sana mengenal penabuh drum sahur yang disebut davulcu. Mereka berjalan kaki menyusuri permukiman pada dini hari sambil menabuh davul (drum tradisional) untuk mengingatkan warga agar bangun sahur.

Tradisi ini masih bertahan hingga kini, termasuk di kota besar seperti Istanbul. Para penabuh drum biasanya mengenakan pakaian khas dan memainkan ritme tertentu yang sudah dikenal warga setempat.

“Tradisi beduk sahur di Turki juga ada, cuma yang membedakan disini tidak seramai di Indonesia, beberapa pemuda menabuh drum seperti drum band. Tidak ada arak-arakan besar atau teriakan keras seperti di kampung-kampung Indonesia,” terangnya.

Meski atmosfernya berbeda, esensi keduanya tetap sama, membangunkan umat Muslim agar tidak melewatkan sahur sebelum fajar.

Di Indonesia, beduk sahur identik dengan riuh dan kebersamaan lintas usia. Sementara di Turki, tabuhan davul menjadi simbol warisan budaya yang dijaga sejak berabad-abad lalu. (intan)

Polres Kutai Barat Panen Raya Jagung di Siluq Ngurai

March 4, 2026 by  
Filed under Serba-Serbi

KUTAI BARAT – Polres Kutai Barat melaksanakan kegiatan Panen Raya Jagung serentak triwulan I Tahun 2026 di lahan industri pertanian Kampung Muhur, Kecamatan Siluq Ngurai, Kabupaten Kutai Barat, Selasa (3/3/2026).

Panen raya jagung dilaksanakan di lahan seluas kurang lebih 4,5 hektare dengan capaian hasil panen sekitar 2,3 ton jagung. Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya bersama antara Polri, TNI, dan masyarakat dalam mendukung program ketahanan pangan serta pemanfaatan lahan produktif di wilayah Kabupaten Kutai Barat.

Kegiatan panen raya dihadiri Kabag Ops Polres Kutai Barat Kompol Teguh, Kabag SDM Polres Kutai Barat AKP Ahmad Said, Kapolsek Jempang Iptu Andi Ahmad, Kapolsek Siluq Ngurai Ipda Ginanjar Wahyu Utomo, Kasat Samapta Polres Kutai Barat Iptu Nurman, serta perwakilan dari unsur TNI di antaranya Kapten Edi dari Brigif TP 85/BTC, Letda Czi David Nikkolas Gurusinga, dari Yon TP 827/MCY, dan Serma Subadilah dari Koramil Muara Pahu.

Turut hadir Ketua Kelompok Tani Juata Muhur, Nasir, perwakilan BPP Kecamatan Siluq Ngurai Fatnurrahman Fitrah Anuar, serta personel Polsek Siluq Ngurai dan Polsek Jempang yang ikut mendukung pelaksanaan kegiatan tersebut. (arf)

Empat Tahun di Turki, Mahasiswa Asal Indonesia Kisahkan Suasana Ramadan

March 3, 2026 by  
Filed under Serba-Serbi

SAMARINDA – Empat tahun menempuh pendidikan di Turki memberi pengalaman berbeda bagi Luthfi Afif Murtadho dalam memaknai bulan suci Ramadan. Pria kelahiran Sragen, Jawa Timur itu merasakan langsung bagaimana suasana Ramadan di Negeri Dua Benua berjalan dengan ritme yang tak sama seperti di Indonesia.

Pria yang akrab di sapa Afif itu memulai ceritanya dari hal paling sederhana yaitu waktu berbuka puasa.

Luthfi Afif Murtadho

“Kalau di Indonesia, sore hari itu identik dengan ngabuburit. Orang-orang keluar rumah, cari takjil, jalanan macet. Di Turki tidak seperti itu,” ujarnya, Selasa (3/3/2026).

Ia menjelaskan, menjelang Magrib suasana justru cenderung tenang. Warga lebih banyak berada di rumah atau berkumpul bersama keluarga. Tidak ada hiruk pikuk “war takjil” sebagaimana lazim ditemui di berbagai kota di Indonesia.

Menu berbuka pun sederhana. Air putih dan kurma menjadi pembuka, disusul sup hangat. Salah satu yang paling umum adalah mercimek çorbası, sup lentil khas Turki yang lembut dan gurih. Sup itu hampir selalu hadir di meja makan selama Ramadan.

“Biasanya tidak langsung makan berat. Setelah minum dan makan sup, kami bersiap ke masjid,” katanya.

Selepas salat Magrib dan Isya, jamaah langsung melanjutkan tarawih. Namun justru setelah rangkaian ibadah itu, suasana berubah menjadi lebih semarak.

Afif menggambarkan bagaimana kawasan masjid di berbagai kota, termasuk di Sivas tempat ia tinggal, dipenuhi warga. Anak-anak muda berkumpul, keluarga berjalan santai di pelataran masjid, dan masyarakat bercengkerama di sepanjang jalan.

“Ramainya itu malam hari. Orang-orang nongkrong, pemuda kumpul, masjid penuh, jalanan juga hidup,” tuturnya.

Ia menambahkan, makan berat justru lebih sering dilakukan setelah salat, bahkan ada yang menunggu hingga selesai tarawih untuk menikmati hidangan utama bersama keluarga atau teman.

Menurutnya, jika di Indonesia denyut Ramadan terasa kuat menjelang berbuka, di Turki justru atmosfer kebersamaan menguat setelah malam tiba. Aktivitas sosial dan interaksi masyarakat berlangsung hingga larut, namun tetap dalam suasana yang tertib dan religius.

Selain soal tradisi, durasi puasa di Turki juga kerap berbeda dengan di Indonesia karena dipengaruhi oleh musim dan letak geografis. Saat Ramadan jatuh di musim panas, waktu puasa dapat sangat panjang karena durasi siang yang lebih lama, beberapa pelajar Indonesia di sana pernah mencatat puasa bisa mencapai sekitar 18 jam saat musim panas. Sebaliknya, ketika Ramadan berlangsung di musim dingin atau awal musim semi, durasi puasa bisa lebih pendek, sekitar 12–13 jam per hari sesuai waktu matahari terbit dan terbenam setempat. (intan)

Jemaah Umrah Sultanah Aman di Tengah Ketegangan Timur Tengah

March 3, 2026 by  
Filed under Berita

ARAB SAUDI – Di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah yang berdampak pada sejumlah pembatalan dan penundaan penerbangan internasional, jemaah umrah Sultanah, Umroh Bareng Yuk, dipastikan dalam kondisi aman dan seluruh rangkaian perjalanan berjalan lancar.

Kabar tersebut disampaikan oleh Endro S Efendi, Tour Leader Sultanah yang juga Ketua Forum Pemimpin Redaksi SMSI Kalimantan Timur. Ia menyampaikan bahwa rombongan jemaah yang berangkat dari Jakarta pada 3 Maret 2026 telah mendarat dengan selamat di Jeddah menggunakan maskapai Oman Air dengan transit di Muscat.

“Alhamdulillah, jemaah landing dengan lancar di Jeddah tanpa kendala. Kondisi aman dan seluruh layanan berjalan sesuai rencana,” ujar Endro.

Dalam rombongan tersebut turut serta mantan Bupati Berau Agus Tantomo bersama putranya. Total jemaah dalam penerbangan ini berjumlah 37 orang.

Endro juga menyampaikan bahwa rombongan umrah Free Hainan yang sebelumnya berangkat pada 19 Februari 2026 telah kembali ke Tanah Air dan tiba di Samarinda pada Senin (3/3/2026) sore melalui Bandara APT Pranoto.

Sementara itu, secara terpisah, Owner Sultanah Julia Wingantini menyampaikan bahwa pada Ramadan tahun ini Sultanah menggunakan beberapa maskapai internasional, yakni Hainan Airlines, Oman Air, Saudi Airlines, serta IndiGo untuk melayani penerbangan umrah, termasuk program umrah full Ramadan. Hingga saat ini, seluruh maskapai tersebut tetap beroperasi normal tanpa kendala.

“Kami mohon doa dari semua pihak, semoga seluruh penerbangan dari keberangkatan hingga kepulangan jemaah berjalan lancar dan aman,” ujar Julia.

Untuk diketahui, dalam beberapa pekan terakhir situasi keamanan di kawasan Timur Tengah kembali memanas akibat eskalasi konflik regional. Kondisi tersebut berdampak pada pengaturan ulang rute penerbangan internasional, di mana sejumlah maskapai memilih menghindari wilayah udara tertentu demi alasan keselamatan, sehingga menyebabkan penundaan bahkan pembatalan penerbangan di beberapa negara.

Meski demikian, Endro menegaskan bahwa pelaksanaan ibadah umrah di Mekkah tetap berjalan aman dan kondusif. Namun di lapangan, terasa adanya peningkatan pengamanan yang cukup signifikan. Petugas keamanan terlihat jauh lebih banyak, baik di dalam Masjidil Haram maupun di lingkungan sekitarnya.

Di sejumlah ruas jalan, kehadiran aparat keamanan tampak sangat intens. Bahkan pada jalur Madinah–Mekkah yang biasanya minim pemeriksaan, saat ini terlihat banyak pos pemeriksaan kendaraan yang dilakukan oleh petugas keamanan. Hingga kini, belum diketahui secara pasti apakah peningkatan penjagaan tersebut berkaitan langsung dengan ketegangan geopolitik regional atau merupakan bagian dari pengamanan rutin selama bulan Ramadan.

Meski demikian, hingga saat ini belum ada informasi pembatalan penerbangan dari maskapai yang digunakan Sultanah. Endro menambahkan bahwa dirinya masih berada di Mekkah dan bersiap untuk kembali ke Tanah Air.

“Sampai saat ini belum ada informasi pembatalan dari maskapai. Semoga semuanya tetap aman dan lancar,” pungkasnya. (esf)

« Previous PageNext Page »

  • vb