Bukan Sekadar Tren, Buku Self Improvement Jadi Penjaga Kewarasan Anak Muda

December 16, 2025 by  
Filed under Serba-Serbi

Share this news

SAMARINDA — Di tengah ritme hidup yang kian cepat dan tekanan sosial yang datang silih berganti, membaca perlahan kembali menemukan maknanya. Bagi sebagian anak muda, buku khususnya genre self improvement bukan lagi sekadar bacaan populer, melainkan ruang aman untuk menata pikiran dan menjaga kesehatan mental.

Pengalaman itu dirasakan Wardah (22), yang sejak SMA mulai menjadikan membaca sebagai bagian dari kesehariannya. Kini, di sela aktivitas yang padat, buku justru menjadi tempatnya berhenti sejenak, meredam riuh, dan memahami diri sendiri.

“Baca buku self improvement itu bukan buat jadi sempurna. Lebih ke pengingat supaya tetap waras dan sadar sama proses hidup,” ujar Wardah.

Ia menuturkan, buku-buku yang membahas pengelolaan emosi dan pola pikir sering membantunya melihat persoalan dengan sudut pandang yang lebih tenang. Salah satunya saat membaca Filosofi Teras karya Henry Manampiring, yang memperkenalkannya pada prinsip stoik tentang menerima hal-hal di luar kendali. Dari sana, Wardah belajar membedakan mana yang patut dipikirkan dan mana yang cukup dilepaskan.

Pada kesempatan lain, buku Atomic Habits karya James Clear juga memberinya kesadaran bahwa perubahan besar tidak selalu harus dimulai dengan langkah drastis.

“Dari situ aku ngerti, hal kecil yang konsisten justru lebih realistis dan bikin nggak gampang nyalahin diri sendiri,” katanya.

Apa yang dialami Wardah sejalan dengan temuan akademik. Penelitian University of Toronto yang dipublikasikan dalam Creativity Research Journal (2013) menunjukkan bahwa membaca literatur reflektif dan psikologis dapat meningkatkan empati serta fleksibilitas berpikir. Sementara itu, National Endowment for the Arts mencatat bahwa individu yang rutin membaca cenderung memiliki kemampuan berpikir kritis lebih baik dan tingkat stres yang lebih rendah.

Di era media sosial, buku self improvement juga kerap menjadi penyeimbang. Wardah mengaku, bacaan seperti Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat karya Mark Manson membantunya menyadari, tidak semua hal perlu direspons berlebihan.

“Kadang kita terlalu sibuk mikirin penilaian orang. Lewat buku, aku diajak buat memilah mana yang penting dan mana yang cuma bikin capek,” ujarnya.

Buku lain seperti Berani Tidak Disukai karya Ichiro Kishimi dan Fumitake Koga pun disebut memberi perspektif baru tentang kebebasan berpikir dan keberanian menerima diri sendiri tanpa terus-menerus bergantung pada pengakuan eksternal.

Meski kerap dicap sebagai tren sesaat, bagi Wardah dan banyak pembaca muda lainnya, self improvement justru menjadi bekal bertumbuh. Membaca bukan lagi soal mencari jawaban instan, melainkan proses berdialog dengan diri sendiri. (*)


Share this news

Respon Pembaca

Silahkan tulis komentar anda...





Redaksi menerima komentar terkait artikel diatas. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak tidak menampilkan komentar jika mengandung perkataan kasar, menyinggung, mengandung fitnah, tidak etis, atau berbau SARA.

  • vb

  • Pengunjung

    1107579
    Users Today : 3944
    Users Yesterday : 4433
    This Year : 44089
    Total Users : 1107579
    Total views : 10831705
    Who's Online : 56
    Your IP Address : 216.73.216.135
    Server Time : 2026-01-10