Ngaliwet dan Ngariung, Tradisi Orang Sunda yang Merawat Kebersamaan

February 5, 2026 by  
Filed under Serba-Serbi

Share this news

Tasikmalaya – Di tengah kehidupan yang semakin individual, masyarakat Sunda masih memegang kuat tradisi ngaliwet dan ngariung sebagai cara sederhana merawat kebersamaan. Tradisi ini bukan sekadar aktivitas makan bersama, melainkan ruang bertemunya rasa, cerita, dan ikatan sosial yang tumbuh secara alami.

Ngaliwet merujuk pada kegiatan memasak dan menyantap nasi liwet secara bersama-sama. Biasanya dilakukan di atas daun pisang, tanpa meja dan kursi, dengan posisi duduk melingkar. Sementara ngariung berarti berkumpul, bercengkerama, dan berbagi waktu tanpa sekat. Keduanya kerap berjalan beriringan dan menjadi bagian dari kehidupan sosial orang Sunda sejak lama.

Secara historis, tradisi ngaliwet berakar dari kehidupan agraris masyarakat Sunda. Nasi liwet awalnya dimasak oleh para petani di sawah sebagai bekal makan bersama setelah bekerja. Dari kebiasaan sederhana itu, ngaliwet berkembang menjadi simbol kebersamaan, egaliter, dan rasa syukur atas hasil alam.

Menu ngaliwet dikenal sederhana namun kaya rasa. Nasi dimasak dengan santan, bawang, dan serai, lalu disajikan bersama lauk seperti ikan asin, ayam goreng, tahu, tempe, sambal, lalapan, serta tak jarang ditambah pete atau jengkol. Semua lauk diletakkan di tengah, tanpa piring pribadi, menegaskan nilai kebersamaan dan kesetaraan.

Tradisi ini masih hidup hingga kini, termasuk di lingkungan pesantren. Intan, perempuan Sunda yang menempuh pendidikan di pesantren, mengaku ngaliwet menjadi salah satu momen yang paling ia rindukan.

“Di pesantren, ngaliwet itu bukan cuma soal makan. Itu waktu buat duduk bareng, ngobrol, ketawa, dan ngerasa dekat satu sama lain,” ujarnya.

Menurut Intan, ngaliwet kerap dilakukan pada momen tertentu, seperti akhir pekan, libur, atau saat ingin melepas penat bersama. “Kadang nggak perlu acara besar. Cukup niat ngariung, masak bareng, lalu makan rame-rame. Justru itu yang bikin hangat,” katanya.

Selain mempererat hubungan, ngaliwet juga mengajarkan nilai kesederhanaan dan kebersamaan. Semua orang makan menu yang sama, duduk sejajar tanpa pembeda. Tidak ada hirarki, tidak ada jarak. Nilai ini menjadi ciri khas budaya Sunda yang menjunjung harmoni dalam kehidupan sosial.

Fakta menariknya, tradisi ngaliwet kini tidak hanya bertahan di desa atau lingkungan tradisional. Di kota-kota besar, ngaliwet sering diadopsi sebagai konsep kebersamaan dalam komunitas, organisasi, hingga keluarga muda. Meski dikemas lebih modern, esensi ngariung tetap dijaga. (intan)


Share this news

Respon Pembaca

Silahkan tulis komentar anda...





Redaksi menerima komentar terkait artikel diatas. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak tidak menampilkan komentar jika mengandung perkataan kasar, menyinggung, mengandung fitnah, tidak etis, atau berbau SARA.

  • vb

  • Pengunjung

    1433093
    Users Today : 2639
    Users Yesterday : 7966
    This Year : 369603
    Total Users : 1433093
    Total views : 12686374
    Who's Online : 24
    Your IP Address : 216.73.216.130
    Server Time : 2026-03-05