Someah Hade ka Semah, Kebiasaan Lama yang Masih Hidup di Jawa Barat

February 5, 2026 by  
Filed under Serba-Serbi

Share this news

Tasikmalaya – Ungkapan someah hade ka semah telah lama menjadi bagian dari identitas masyarakat Sunda. Frasa ini bukan sekadar pepatah, melainkan pedoman bersikap yang masih hidup dan dipraktikkan dalam keseharian warga Jawa Barat. Ramah kepada tamu, terbuka pada pendatang, dan menjaga tutur kata menjadi cerminan nilai yang terus diwariskan lintas generasi.

Dalam kehidupan sehari-hari, sikap someah tampak dalam hal-hal sederhana, senyum saat menyapa orang baru, tutur bahasa yang halus, hingga kebiasaan mempersilakan tamu sebelum kepentingan pribadi. Nilai ini tumbuh dari budaya agraris masyarakat Sunda yang terbiasa hidup berdampingan dan saling bergantung satu sama lain.

Bagi masyarakat Sunda, tamu bukan sekadar orang yang datang, tetapi bagian dari hubungan sosial yang harus dijaga dengan penuh hormat. Keramahan dianggap sebagai bentuk adab sekaligus cara merawat harmoni. Tidak heran, sikap someah kerap menjadi kesan pertama yang dirasakan pendatang saat berada di Jawa Barat.

Intan, perempuan Sunda yang kerap berinteraksi dengan berbagai latar belakang budaya, menilai nilai someah hade ka semah sangat membantunya dalam kehidupan sosial.

“Dari kecil aku diajarin buat ramah ke siapa pun. Bukan basa-basi, tapi memang kebiasaan,” ujarnya. Menurut Intan, sikap tersebut membuatnya lebih mudah beradaptasi, termasuk saat berada di lingkungan baru. “Orang jadi lebih terbuka kalau kita datang dengan sikap baik,” katanya.

Nilai someah juga tercermin kuat dalam lingkungan pesantren. Intan mengungkapkan, kebiasaan menyambut tamu dan menjaga tutur kata menjadi bagian dari pendidikan karakter. “Di pesantren, kita diajarin menghormati siapa pun, entah itu tamu, teman, atau orang yang lebih tua,” ucapnya.

Di tengah perubahan zaman dan arus digital yang kerap memicu interaksi serba cepat, nilai someah hade ka semah tetap relevan. Meski bentuknya menyesuaikan konteks, esensinya masih sama: menjaga perasaan orang lain dan menciptakan ruang yang aman dalam berinteraksi.

Sikap ini juga menjadi penyeimbang di tengah budaya individualistik yang mulai tumbuh. Keramahan dan kesantunan dianggap sebagai cara sederhana menjaga hubungan sosial agar tetap hangat dan manusiawi. Bahkan di ruang digital, sebagian masyarakat Sunda masih berupaya membawa nilai tersebut dengan memilih kata yang lebih hati-hati saat berpendapat.

Bagi Intan, someah hade ka semah bukan berarti selalu mengalah. “Ramah itu bukan lemah. Kita tetap bisa punya pendirian, tapi cara nyampeinnya dijaga,” ujarnya. Ia menilai nilai ini justru mengajarkan kedewasaan dalam bersikap. (*)


Share this news

Respon Pembaca

Silahkan tulis komentar anda...





Redaksi menerima komentar terkait artikel diatas. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak tidak menampilkan komentar jika mengandung perkataan kasar, menyinggung, mengandung fitnah, tidak etis, atau berbau SARA.

  • vb

  • Pengunjung

    1418351
    Users Today : 4529
    Users Yesterday : 4812
    This Year : 354860
    Total Users : 1418351
    Total views : 12612484
    Who's Online : 87
    Your IP Address : 216.73.216.136
    Server Time : 2026-03-03