Berpulangnya Kiai Hafal Umur

February 24, 2026 by  
Filed under Opini

Share this news

Catatan Rizal Effendi

SAYA menerima kabar du

Kiai Kasim Pallanju ketika menjadi khatib

KH Mohammad Kasim Pallanju, Minggu (22/2) atau 4 Ramadhan 1447 H sekitar pukul 18.30 Wita. Jenazah di semayamkan di rumah duka, Kompleks Perumnas Batu Ampar. Jenazah dimakamkan di Pemakaman Telindung, Senin (23/2) ba’da dzuhur.

Tidak disebutkan latar belakang kematiannya. Tapi setahu saya belakangan ini beliau jarang keluar karena kondisi kesehatannya semakin berat. Termasuk istri beliau, Hj Maisyah Kasim. Pertemuan terahkhir saya ketika menghadiri undangan pernikahan atau Walimatul ‘Ursy di Gedung Kesenian beberapa waktu lalu.

“Pak Wali ya,” katanya menyapa saya dengan tersenyum. Dia masih memanggil saya seperti saat saya menjadi wali kota. Hubungan kami terbilang akrab. Saya banyak berkomunikasi dan menerima masukan dari beliau ketika saya menjadi wali kota.

Beberapa hari sebelum Kiai Kasim meninggal, Ustaz Jailani, Munir Asnawi, Ustaz Ali Mansyur dan teman-teman lainnya datang menjenguk sepulang dari acara Gong Xi Fa Cai di kediaman Pak Charles, pemilik Hotel Platinum. Seakan memberi isyarat, beliau minta didoakan agar meninggal dalam keadaan husnul khotimah.

Menurut penuturan H Ali Munsjir Halim, mantan anggota DPRD yang juga keluarga almarhum, kondisi Kiai Kasim hari Minggu itu memang mengkhawatirkan. Hari itu beliau membatalkan syiamnya. Padahal sebelumnya terus berpuasa. Beberapa saat setelah memasuki magrib, beliau menghebuskan nafas terakhirnya.

Duka menyelimuti keluarga. Seorang cucunya tampak terbaring di sisi jenazah. Saya sempat melayat. Lalu ikut berdoa bersama Kepala KUA Balikpapan Selatan H Sandjoyo, S.Pdi dan Murtafiin, S.Ag, Kepala KUA Balikpapan Barat.

Di sana saya sempat bertemu Pak Kasmadi, Ketua RT setempat, yang baru saja viral gara-gara protes jalan. Ada juga Ketua FKUB  Balikpapan Drs H Hakimin, MM, yang juga mantan Kamenag. Ada juga Ustaz Sugianto, Ustaz Jaelani dan Kadis Perdagangan Haemusri.

Jenazah KH Kasim Pallanju dimakamkan di Kompleks Pekuburan Telindung. Sebelumnya ratusan pentakziah menyolatkannya di Masjid  Al Azhar Perumnas ba’da dzuhur. “Beliau orang baik, insyaallah husnul khotimah,” kata seorang warga.

PERNAH KETUA DPRD

KH Kasim Pallaju adalah salah seorang tokoh ulama di Balikpapan, yang banyak berkiprah untuk daerah. Sarat dengan pengalaman. Dia sempat meniti karier sebagai Kepala Pembinaan Mental (Kabintal) Kodam VI/Mulawarman dengan pangkat terakhir letnan kolonel (Letkol).

Karena pengalamannya yang luas, dia dipercaya Kodam memegang jabatan politik. Sempat menjadi Ketua DPRD Kabupaten Pasir (sebelum jadi Paser), Ketua DPRD Kabupaten Kutai sampai Ketua DPRD Kabupatan Bulungan, ketika masih bergabung ke Provinsi Kaltim.

Teman seangkatannya mengakui Kiai Kasim punya wawasan dan pandangan yang luas. Dia sukses memimpin DPRD, sehingga dipercaya berkali-kali dengan jabatan tersebut.

Di Balikpapan, Kiai Kasim aktif dikegiatan keagaaman. Pernah aktif menjadi pengurus Forum Kerukunan Umat Bergama (FKUB) dan Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Balikpapan.

Menurut Ustaz Jaelani, Kiai Kasim Pallanju dikenal sebagai kiai yang tegas dan punya disiplin kuat. Mungkin bawaan beliau ketika masih aktif sebagai seorang tentara. Setiap pertemuan beliau selalu datang lebih dulu. Kalau ada anggota pengurus yang terlambat, dia tak segan-segan memberi teguran.

Sebagai Ketua MUI, Kiai Kasim  selalu berprinsif dengan Fatwa MUI dalam mengambil keputusan. Ingatannya sangat kuat dalam berbagai hal yang menyangkut masalah keagamaan. Dia juga sangat menjunjung tinggi toleransi beragama. Akrab dengan tokoh-tokoh agama lain di antaranya Pak Charles, Pak Samuel dan lainnya.

Banyak kenangan yang diingat Ustaz Jaelani bersama Kiai Kasim. Jaelani mantan Kamenag Berau yang lama bertugas di Balikpapan. Dia dikenal sebagai tokoh agama yang aktif di berbagai organisasi keagamaan. Ada satu kebahagiaan yang dialami Kiai Kasim ketika mengikuti Rakor MUI se Kalimantan. Kiai Kasim mendapat hadiah umrah gratis.

Yang menarik Kiai Kasim sangat hafal menyebut umur beliau, tidak saja tahunnya, tapi juga dengan hitungan bulan, hari dan jam. Itu diucapkannya setiap ketemu kerabat termasuk dengan saya. ”Umur saya saat ini: 83 tahun, 12 hari, 7 jam, 30 menit,” begitu pernah dia ucapkan.

Unik juga. Terkadang saya tersenyum mendengar ucapan beliau soal umur. Tapi setelah saya renungi, ada makna yang mendalam di balik ucapan itu. Sepertinya beliau mengingatkan kepada kita bahwa umur yang bertambah adalah isyarat bahwa pada saatnya kita akan dipanggil Allah Subhanahu Wa Ta’la. Sebab, setiap mahluk hidup pada saatnya akan menerima kematian. “Kullu nafsin dzaiqotul maut,” begitu Kiai Kasim sering mengutip ayat Al-Qur’an ini.

Kiai Kasim termasuk ulama berumur panjang. Dia meninggal dalam usia 89 tahun. Beliau dilahirkan di Maroangin, Sulsel pada 5 September 1937. Delapan tahun sebelum Kemerdekaan. Jadi hafal betul dengan sejarah perjuangan Bangsa Indonesia termasuk yang di Sulawesi Selatan. Selamat jalan Kiai Kasim, insyaallah dilapangkan kuburnya.(*)


Share this news

Respon Pembaca

Silahkan tulis komentar anda...





Redaksi menerima komentar terkait artikel diatas. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak tidak menampilkan komentar jika mengandung perkataan kasar, menyinggung, mengandung fitnah, tidak etis, atau berbau SARA.

  • vb

  • Pengunjung

    1374848
    Users Today : 2318
    Users Yesterday : 5036
    This Year : 311358
    Total Users : 1374848
    Total views : 12386943
    Who's Online : 55
    Your IP Address : 216.73.216.149
    Server Time : 2026-02-24