Ayam Mahar dari IKN

August 19, 2026 by  
Filed under Opini

Share this news

Catatan Rizal Effendi

SAYA diperkenalkan ayam Mahar di Ibu Kota Nusantara (IKN). Saya pikir itu ayam yang dijadikan mahar pernikahan. Jadi yang menerima  pasti bahagia. Ternyata bukan. Ayam  Mahar itu artinya ayam yang diberi label dari akronim Maju Sejahtera. Lalu disingkat jadi Mahar.

Rasanya malu juga saya baru tahu ada ayam Mahar. Soalnya pengembangan pertamanya justru di Balikpapan, lalu kemudian masuk juga ke Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP) IKN.

Pak Didik menunjukkan telur dan ayam kampung Mahar di kawasan Nurseri KIPP IKN

Ketika saya dan Tim Rektorat Universitas Mulia (UM) Balikpapan dipimpin Plt Rektor Dr Agung Sakti Pribadi mengikuti Rekor Menanam 1.708 Pohon di IKN, Senin (15/8) lalu,  kami sempat diajak Fauzhul Idhi yang akrab dipanggil Pak Didik melihat tempat pengembangan ayam Mahar di IKN. Lokasinya di kawasan Nurseri KIPP IKN. Di situ kandangnya disebut “Kandang Bahagia,” karena ayam dibahagiakan dengan cara pemeliharaan bebas berkeliaran.

Pak Didik adalah alumni Universitas Gajah Mada (UGM) yang mendirikan perusahaan bernama CV Mitra Pesona Sejahtera.  Perusahaan ini  menjadi mitra strategis dalam pengembangan ayam Mahar bersama Fakultas Biologi UGM, Kagama Kaltim, Otorita IKN serta peternak lokal. Tujuannya untuk mengurangi ketergantungan terhadap pasokan telur dan daging ayam dari luar.

Asal tahu saja, 60 persen dari 20 ribu ton telur per tahun yang dibutuhkan Kaltim (termasuk IKN) didatangkan dari Jawa dan Sulawesi. Itu sebabnya harga telur cenderung tinggi karena ada beban biaya transportasi antar pulau.

Untuk program makan bergizi saja, kebutuhan telur di Kaltim mencapai 1,1 juta butir dalam sekali pelaksanaan. Atau 2,2 juta butir telur setiap pekannya. Belum termasuk kebutuhan daging ayamnya yang mencapai 169 ton atau 338 ton per minggunya.

Kalau tidak ada upaya dan program intensif dari hulu ke hilir, pasti sering terjadi kelangkaan telur dan daging ayam di daerah ini. Karena itu kehadiran program ayam Mahar menjadi salah satu solusi yang bisa dikembangkan.

Ayam Mahar adalah ayam kampung hibrida hasil persilangan ayam Arab, Mahkota dan Layer. Ini adalah hasil riset dari Fakultas Biologi UGM, yang dikembangkan di wilayah  IKN termasuk kawasan penyangga IKN seperti Balikpapan dan Penajam Paser Utara (PPU) guna mendukung kemandirian dan ketahanan pangan hewani di wilayah tersebut.

Hasil penelitian yang dipandu Dekan Fakultas Biologi UGM Prof Budi Setiadi Daryono itu berhasil menciptakan ayam kampung yang bisa dibudidayakan sebagai ayam pedaging (potong) dan ayam petelur unggul.

Keunggulannya karena dikenal lebih sehat , berkat cara perawatannya yang bersih serta pemanfaatan pakan organik yang mudah dibuat peternak. “Jadi ayam ini sangat adaptif dikembangkan termasuk di wilayah penyangga IKN,” ujar Pak Didik.

Saya sempat diperlihatkan sejumlah ayam Mahar di dalam kandang. Mereka hidup tetap bergerombol. Memiliki kepala cenderung bulat atau bantet. Postur tubuhnya cenderung lebih gemuk. Khusus betina memiliki jambul di kepala serta bulu brewok di sekitar telinga. Sedang yang jantan memiliki jengger bercabang yang memanjang ke belakang. Semua ayam Mahar memiliki warna kaki cenderung lebih terang atau putih bersih dibandingkan ayam kampung biasa.

DIBAGIKAN KE MASJID NUSANTARA

Menurut Pak Didik, perbanyakan populasi dan pusat pelatihan awal ayam Mahar digalakkan di area penyangga IKN seperti Kota Balikpapan khususnya di kawasan Karang Joang, Balikpapan Utara. Baru kemudian dimasukkan ke dalam KIPP IKN untuk program ketahanan pangan.

Di Karang Joang itu ada peternak bernama Sultan. Dia bersama kawan-kawannya sudah berhasil mengembangkan ayam Mahar dari 20 telur yang diberikan UGM menjadi ratusan ekor ayam Mahar. “Pertumbuhan ayam Mahar memang lebih cepat dari ayam kampung biasa,” ungkapnya.

Menurut dia, ayam Mahar relatif cepat bertelur karena tidak memiliki sifat mengeram. Pada usia 4,5 bulan ayam Mahar sudah mulai produksi, sedang ayam kampung biasa umumnya di atas 6 bulan. Ayam Mahar bisa bertelur antara 24 sampai 26 butir per bulan. Sedang ayam kampung biasa hanya separuhnya saja. Bentuk telur ayam Mahar cenderung lonjong tidak bulat seperti telur kampung ayam biasa.

“Jadi usaha ayam Mahar sangat menguntungkan dan memberikan harapan cerah bagi peternak lokal,”  kata Sultan. Apalagi  dia juga  sudah mendapat galur khusus ayam kampung pedaging.

Jika ada peternak lokal ingin mengembangkan ayam Mahar maka bisa berhubungan langsung dengan Pak Sultan di Karang Joang Km 15. “Datang saja ke kandang Ayam Mahar Gama Bemilang di Karang Joang,” kata Pak Didik.

Pembelian bibit (DOC atau anakan) umumnya menggunakan sistem indent (pesan terlebih dahulu), karena kapasitas mesin tetas di lokasi menyesuaikan dengan siklus bertelur indukan. Harga anak ayam Mahar yang berusia di bawah 1 bulan berkisar antara Rp7.500 hingga Rp12 ribu per ekor.

Rektor UM Agung Sakti mendukung pengembangan ayam Mahar di daerah penyangga IKN terutama Balikpapan. Selain mengurangi ketergantungan pasokan telur dari luar, juga bisa meningkatkan penghasilan peternak lokal. “Itu juga menjadi dampak positif dari IKN,” tambahnya.

Hasil telur ayam Mahar di kandang pengembangan IKN sampai saat ini belum dipasarkan secara komersial. Karena itu telur yang dihasilkan masih dibagikan secara gratis kepada jemaah Masjid Negara Nusantara. “Tiap habis salat Jumat, ada 200-an butir telur dibagikan kepada jemaah. Biar tambah sehat kerja dan ibadahnya,” kata Pak Didik penuh semangat.(*)


Share this news

Respon Pembaca

Silahkan tulis komentar anda...





Redaksi menerima komentar terkait artikel diatas. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak tidak menampilkan komentar jika mengandung perkataan kasar, menyinggung, mengandung fitnah, tidak etis, atau berbau SARA.

  • vb