Berikut Tips Berkendara Motor Bikin Tetap Aktif Bermobilitas Saat Berpuasa

March 6, 2026 by  
Filed under Gaya Hidup

JAKARTA– Bulan suci Ramadan selalu sukses membawa euphoria dan menghadirkan suasana yang khas di berbagai daerah di Indonesia karena aktivitas masyarakat tetap berjalan dinamis meski di tengah ibadah puasa. Kondisi tersebut tentu saja pola mobilitas masyarakat mengalami penyesuaian pada waktu-waktu tertentu seperti menjelang berbuka puasa atau sore hariketika kondisi lalu lintas cenderung lebih padat dibandingkan hari biasa. Kondisi tersebut menuntut seluruh pengguna jalan untuk meningkatkan kewaspadaan serta menjaga keselamatan selama perjalanan.

Bagi umat Muslim yang menjalankan ibadah puasa Ramadan sebulan penuh, aktivitas harian tetap harus dilakukan meski kondisi fisik berbeda dari biasanya. Rutinitas bekerja, bersekolah, hingga bermobilitas dari satu tempat ke tempat lainnya tetap membutuhkan energi dan konsentrasi. Situasi ini sekaligus menjadi momentum untuk melatih kedisiplinan dan pengendalian diri, khususnya saat berkendara, agar perjalanan tetap aman dan nyaman sepanjang Ramadan.

“Selama bulan puasa, pengendara perlu lebih peka terhadap kondisi tubuhnya sendiri karena seperti kelelahan, dehidrasi, dan menurunnya konsentrasi bisa meningkatkan risiko saat berkendara, terutama di jam-jam menjelang berbuka yang lalu lintasnya lebih padat. Maka dari itu, pengendara sangat penting untuk mempersiapkan diri dengan baik, mengatur waktu perjalanan, serta tetap mengedepankan keselamatan sebagai prioritas utama saat berkendara,” ujar Muhammad Arief, Trainer Yamaha Riding Academy (YRA) Indonesia.

Untuk bisa menjalani bulan puasa sekaligus bermobilitas dengan nyaman, Yamaha Riding Academy memberikan beberapa tips simple yang dapat diterapkan selama berkendaraa di bulan puasa:

1. Persiapan Fisik Sejak Sahur
Untuk menunjang aktivitas dan mobilitas seharian di bulan Ramadan, para pengendara sepeda motor tentu saja tetap perlu mengonsumsi makanan bergizi dan minum air yang cukup untuk menghindari terjadinya dehidrasi saat bermobilitas hingga sore hari. Tambahan konsumsi vitamin sebelum beraktivitas juga dapat membantu menjaga stamina agar tetap bugar.

2. Atur Waktu & Hindari Terburu-buru
Selain kondisi fisik pengendaranya yang perlu dipersiapkan dengan baik, tetapi mengelola waktu yang baik juga menjadi hal penitng untuk dipertimbangkan karena dapat membantu pengendara terhindar dari kebiasaan terburu-buru saat berkendara. Terlebih lagi saat sore menuju waktu berbuka puasa yang pastinya kondisi jalan cenderung lebih padat, pengendara diimbau untuk tidak tergesa-gesa atau bahkan jika memungkinkan bagi umat Muslim yang menjalani ibadah puasa namun masih dalam perjalanan saat waktu berbuka, salah satu manajemen waktu yang diperlukan adalah membawa bekal berupa makanan ringan dan air mineral untuk bisa melipir dan membatalkan ibadah puasa dahulu.

3. Jaga Emosi & Konsentrasi Saat Jam Padat
Pada waktu menjelang berbuka puasa, lalu lintas biasanya akan menjadi jauh lebih padat dibanding waktu sebelumnya, sehingga para pengendara diperlukan untuk tetap fokus, hindari emosi, serta lakukan akselerasi secara halus, dan hindari pengereman mendadak (hard braking) agar bisa saling menghargai dan menjaga kenyamanan selama bermobilitas.

4. Gunakan Riding Gear yang Nyaman
Tidak lupa juga untuk seluruh pengendara agar selalu menggunakan perlengkapan berkendara seperti helm, jaket, sarung tangan, celana panjang, dan sepatu agar dapat mengurangi terjadinya risiko yang tidak diinginkan. Pemilihan perlengkapan yang nyaman dan tidak panas menjadi hal penting juga untuk diterapkan saat berkendara selama berpuasa sehingga dapat menjaga energi tubuh.

Di samping itu, para pengendara juga disarankan untuk mengenali rute perjalanan dan mengantisipasi titik-titik yang rawan kepadatan, sehingga jika memungkinkan pilih jalur alternatif agar perjalanan lebih lancar. Kondisi pengendara yang sudah siap juga perlu didukung dengan kondisi sepeda motor yang prima sehingga perlu melakukan pengecekan rutin sebelum dikendarai karena kendaraan yang terawat dengan baik akan membantu menjaga performa tetap optimal sehingga pengendara tidak perlu mengeluarkan energi berlebih selama perjalanan.

Meal Prep Jadi Pilihan Gen Z untuk Tetap Makan Sehat di Tengah Kesibukan

March 5, 2026 by  
Filed under Gaya Hidup

SAMARINDA – Kesibukan sering membuat pola makan menjadi tidak teratur. Banyak orang akhirnya memilih makanan instan, camilan cepat saji, atau layanan pesan antar untuk mengisi perut di sela aktivitas. Namun kebiasaan tersebut perlahan berdampak pada kondisi tubuh, mulai dari mudah lelah hingga berat badan yang meningkat.

Di tengah situasi itu, konsep meal prep atau persiapan makanan beberapa hari ke depan mulai dilirik, khususnya oleh kalangan muda. Cara ini dinilai lebih praktis untuk menjaga pola makan tanpa harus memasak setiap hari.

Salah satu mahasiswa di Samarinda, Nabila  (21), mengaku mulai menerapkan meal prep sejak tahun lalu karena jadwal kuliah dan kegiatan organisasi yang padat.

“Awalnya sering banget beli makanan di luar karena praktis. Tapi lama-lama boros juga, dan kadang makannya jadi nggak teratur. Akhirnya coba meal prep setiap akhir pekan,” ujarnya saat ditemui, Kamis (5/3/2026).

Menurutnya, menyiapkan makanan untuk beberapa hari sekaligus justru membuat waktu lebih efisien. Ia biasanya memasak dua hingga tiga jenis lauk, sayur, dan sumber karbohidrat yang bisa dikombinasikan sepanjang minggu.

“Misalnya ayam panggang, tempe kecap, sama telur dadar sayur. Sayurnya bisa brokoli atau wortel kukus. Jadi tiap hari tinggal ambil dari kulkas dan panasin,” katanya.

Selain menghemat waktu, Nabila menilai meal prep juga membantu mengontrol pengeluaran. Ia mengaku pengeluaran makan bulanannya berkurang setelah rutin memasak sendiri.

“Kalau dulu hampir tiap hari beli makan, sekarang paling sesekali saja. Belanja bahan makanan seminggu sekali jadi lebih terencana,” tambahnya.

Meski demikian, ia mengakui ada tantangan saat pertama kali mencoba. Salah satunya rasa bosan dengan menu yang sama selama beberapa hari.

“Awalnya memang cepat bosan. Tapi sekarang biasanya bikin beberapa menu berbeda biar bisa diputar. Jadi nggak terasa makan yang sama terus,” jelasnya.

Untuk menjaga kualitas makanan, ia juga memperhatikan cara penyimpanan. Makanan disimpan dalam wadah tertutup dan diberi urutan konsumsi agar tidak terlalu lama di dalam kulkas. (intan)

Gen Z Akui Mudah Kehilangan Fokus Saat Ngobrol Tatap Muka

March 5, 2026 by  
Filed under Serba-Serbi

SAMARINDA – Percakapan tatap muka yang dulu terasa alami kini tidak selalu mudah bagi sebagian Generasi Z. Di tengah kebiasaan berkomunikasi melalui pesan singkat dan media sosial, interaksi langsung terkadang terasa lebih canggung atau bahkan cepat membosankan.

Seorang mahasiswa berusia 21 tahun, Rafi Pratama, mengaku dirinya sering tanpa sadar mengecek ponsel saat sedang berbicara dengan orang lain.

“Kadang lagi ngobrol tiba-tiba refleks lihat ponsel. Bukan karena lawan bicara tidak menarik, tapi karena sudah terbiasa ada notifikasi masuk,” ujarnya, Kamis (5/3/2026).

Pengalaman serupa juga dirasakan Nadya Putri, mahasiswi 22 tahun. Menurutnya, komunikasi melalui pesan digital terkadang terasa lebih nyaman dibanding percakapan langsung.

“Kalau lewat chat kita punya waktu untuk berpikir sebelum menjawab. Kalau ngobrol langsung kadang terasa canggung kalau ada jeda,” katanya.

Fenomena ini tidak hanya dirasakan oleh sebagian anak muda di Indonesia. Survei yang dilakukan oleh dalam laporan Mind Health Report menunjukkan kecenderungan serupa di kalangan Gen Z. Dilansir dari laporan tersebut, survei terhadap sekitar 2.000 responden berusia 18 hingga 28 tahun di Inggris menemukan sekitar 75 persen responden mengaku kesulitan mempertahankan fokus saat melakukan percakapan tatap muka.

Survei yang dilakukan bersama lembaga riset OnePoll itu juga mencatat sekitar 39 persen responden merasa terdorong untuk memeriksa ponsel ketika sedang berbincang dengan orang lain, terutama untuk melihat pesan atau notifikasi media sosial.

Meski demikian, sebagian anak muda mulai menyadari pentingnya menyeimbangkan kehidupan digital dengan interaksi nyata. Dalam survei yang sama, lebih dari separuh responden menyebut mereka mulai mencoba mengurangi waktu menggunakan media sosial demi menjaga kesehatan mental. (intan)

Ketika Generasi Layar Memilih Jeda

March 5, 2026 by  
Filed under Gaya Hidup

SAMARINDA – Fenomena “No Smartphone Challenge” kian ramai diperbincangkan di media sosial. Tantangan ini mengajak peserta untuk tidak menyentuh ponsel selama 24 jam hingga satu pekan. Menariknya, gerakan ini justru tumbuh dari generasi yang selama ini dilekatkan dengan citra paling dekat dengan layar, Generasi Z.

Di platform seperti TikTok dan YouTube, konten bertagar digital detox terus bermunculan. Namun di balik tampilan video yang estetik, tersimpan cerita yang lebih kompleks tentang kelelahan mental, tekanan ekspektasi digital, hingga upaya merebut kembali kendali atas waktu dan perhatian.

Dimas (21), seorang Mahasiswa di Samarinda memutuskan mengikuti tantangan tanpa ponsel selama 72 jam. Ia mengaku awalnya sekadar penasaran, tetapi pengalaman yang didapat jauh dari ekspektasi.

“Jam pertama biasa saja. Masuk jam keempat mulai terasa kosong. Rasanya seperti ada yang hilang, padahal cuma notifikasi,” katanya,  Kamis (5/3/2026).

Hari pertama diwarnai kegelisahan dan kebiasaan refleks meraba saku. Memasuki hari kedua, Dimas mulai menikmati percakapan tatap muka tanpa gangguan. Hari ketiga justru terasa paling jernih, ia menyadari betapa sering pikirannya terpecah hanya karena bunyi notifikasi.

Pengalaman serupa diungkapkan Livia (20). Ia memilih mengganti waktu bermain ponsel dengan menulis jurnal dan berjalan sore tanpa membawa gawai.

“Aku baru sadar, ternyata selama ini otakku jarang benar-benar diam,” ujarnya.

Sejak pandemi, aktivitas Gen Z semakin terkonsentrasi di ruang daring. Perkuliahan, pekerjaan lepas, hiburan, hingga relasi sosial bergantung pada perangkat digital. Intensitas itu perlahan melahirkan kelelahan digital kondisi ketika paparan layar terus-menerus memicu stres dan gangguan konsentrasi.

Selama ini, Gen Z kerap ditempatkan dalam narasi sebagai generasi yang sulit lepas dari ponsel. Akan tetapi, tren ini menunjukkan sisi lain: kesadaran kritis terhadap dampak teknologi.

Digital Nomad dan Sisi Sunyi di Balik Kebebasan

March 5, 2026 by  
Filed under Gaya Hidup

Digital nomad adalah istilah bagi individu yang bekerja secara jarak jauh dengan memanfaatkan teknologi digital, tanpa terikat kantor fisik, sekaligus menjalani gaya hidup berpindah-pindah tempat. Dengan bermodal laptop dan koneksi internet, mereka bisa bekerja dari rumah, kafe, coworking space, hingga luar negeri.

Fenomena ini berkembang seiring meningkatnya tren kerja remote dalam beberapa tahun terakhir. Kota-kota seperti Chiang Mai, Lisbon, dan Denpasar kerap disebut sebagai destinasi favorit karena biaya hidup yang relatif terjangkau serta komunitas pekerja global yang cukup mapan.

Di media sosial, gaya hidup ini sering digambarkan ideal, bekerja dari tepi pantai, rapat daring dengan latar matahari terbenam, atau menyelesaikan proyek dari kafe estetik. Namun, realitas di lapangan tidak selalu seindah unggahan Instagram.

Raka (30),  yang telah tiga tahun bekerja secara remote mengatakan fleksibilitas justru menuntut disiplin ekstra.

“Orang lihatnya bebas. Padahal kalau tidak punya manajemen waktu yang kuat, pekerjaan bisa tidak terkendali. Tidak ada atasan yang mengawasi langsung, jadi tanggung jawab sepenuhnya di diri sendiri,” ujarnya di Samarinda, Kalimantan Timur, Rabu (4/3/2026).

Menurut Raka, batas antara jam kerja dan waktu pribadi sering kali kabur. Ia mengaku pernah bekerja hingga larut malam karena menyesuaikan zona waktu klien di Eropa.

Koneksi internet yang tidak stabil masih menjadi kendala klasik, terutama di destinasi wisata yang infrastrukturnya belum merata. Gangguan teknis saat rapat daring atau pengiriman proyek bisa berdampak pada reputasi profesional.

Selain itu, perbedaan zona waktu dengan klien luar negeri membuat jam kerja menjadi tidak menentu. Kondisi ini berisiko memicu kelelahan mental jika tidak diatur dengan baik.

Persoalan visa juga menjadi tantangan tersendiri. Tidak semua negara mengizinkan pemegang visa turis untuk bekerja, meskipun pekerjaan dilakukan secara daring untuk klien di luar negeri.

Beberapa negara seperti Estonia dan Portugal telah menyediakan skema visa khusus digital nomad. Sementara di Indonesia, regulasi terkait kategori tersebut belum sepenuhnya jelas, sehingga sebagian pekerja remote berada dalam area abu-abu hukum.

Pada akhirnya, bekerja dari mana saja bukan berarti bebas dari beban. Ia hanya mengubah bentuk tanggung jawab. Bagi sebagian orang, pola ini memberi ruang tumbuh dan eksplorasi. Bagi yang lain, stabilitas tetap menjadi kebutuhan utama.

Digital nomad mungkin menawarkan kebebasan lokasi, tetapi tetap menuntut kesiapan finansial, emosional, dan profesional yang tidak sedikit. (intan)

« Previous PageNext Page »

  • vb

  • Pengunjung

    1455567
    Users Today : 2473
    Users Yesterday : 5108
    This Year : 392077
    Total Users : 1455567
    Total views : 12823257
    Who's Online : 47
    Your IP Address : 216.73.216.167
    Server Time : 2026-03-10