Fenomena Whip Pink, Dari Alat Dapur ke Isu Kesehatan Publik

February 5, 2026 by  
Filed under Serba-Serbi

Samarinda — Nama Whip Pink belakangan ramai diperbincangkan publik setelah dikaitkan dengan dugaan penyalahgunaan gas tertentu untuk mendapatkan efek euforia. Produk yang sejatinya digunakan dalam dunia kuliner itu kini menjadi sorotan karena potensi dampak kesehatan yang serius.

Whip Pink diketahui merupakan tabung gas pengocok krim (whipped cream charger) yang berisi nitrous oxide (N₂O) dan lazim digunakan oleh pelaku usaha makanan dan minuman untuk menghasilkan whipped cream secara cepat. Secara legal, produk ini dipasarkan sebagai peralatan dapur dan bukan zat terlarang.

Namun, dalam perkembangannya, gas nitrous oxide yang terkandung dalam Whip Pink disebut disalahgunakan dengan cara dihirup untuk memperoleh sensasi euforia sesaat. Praktik ini dinilai berbahaya karena dapat mengganggu sistem saraf dan pernapasan.

Dilansir dari DetikHealth Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI, Taruna Ikrar, menyebut pihaknya tengah mengevaluasi peredaran Whip Pink di pasaran. Ia menegaskan, penggunaan nitrous oxide di luar fungsi kuliner berpotensi membahayakan kesehatan, terlebih jika dilakukan tanpa pengawasan.

Secara medis, penyalahgunaan nitrous oxide dapat memicu kekurangan oksigen dalam tubuh, gangguan vitamin B12, hingga kerusakan sistem saraf jika digunakan berulang kali. Kondisi ini membuat zat tersebut berbahaya bila digunakan di luar standar industri dan medis.

Fenomena penyalahgunaan nitrous oxide sejatinya bukan hal baru di tingkat global. Di sejumlah negara, gas ini dikenal dengan sebutan “whippets” atau “nangs” dan kerap digunakan secara rekreasional di kalangan anak muda.

Di Inggris, misalnya, pemerintah secara resmi mengklasifikasikan nitrous oxide sebagai zat terlarang Kelas C sejak 2023 karena meningkatnya penyalahgunaan dan gangguan sosial yang ditimbulkan. Sementara itu, Belanda melarang kepemilikan dan penjualannya kecuali untuk kebutuhan medis dan industri.

Di Amerika Serikat, otoritas kesehatan juga mengeluarkan peringatan resmi terkait bahaya penggunaan nitrous oxide secara rekreasional setelah muncul sejumlah kasus gangguan kesehatan serius.

Mencuatnya isu Whip Pink di Indonesia dinilai menjadi alarm penting bagi pemerintah dan masyarakat untuk meningkatkan literasi publik terkait zat inhalan yang beredar bebas namun berisiko tinggi jika disalahgunakan.

Tasikmalaya, Kota Santri dengan Wajah Kehidupan yang Tenang

February 5, 2026 by  
Filed under Serba-Serbi

Tasikmalaya – Tasikmalaya dikenal luas sebagai salah satu kota santri di Jawa Barat. Julukan ini bukan sekadar label, melainkan tercermin dalam wajah kehidupan sehari-hari masyarakatnya. Ritme yang tenang, suasana religius, dan interaksi sosial yang tertib menjadi ciri khas yang masih bertahan hingga kini.

Keberadaan ratusan pesantren di Tasikmalaya membentuk karakter wilayah ini sejak lama. Pesantren tidak hanya berfungsi sebagai lembaga pendidikan keagamaan, tetapi juga menjadi pusat pembentukan nilai dan etika sosial. Aktivitas mengaji, shalat berjamaah, hingga kegiatan keagamaan lainnya berjalan berdampingan dengan kehidupan masyarakat sekitar.

Bagi Alfi, perempuan asal Bandung yang telah lama tinggal di Tasikmalaya dan mengenyam pendidikan di pesantren, suasana kota santri memberikan rasa aman dan nyaman.

“Di Tasik itu hidupnya terasa lebih teratur. Ada waktu belajar, waktu ibadah, dan waktu istirahat,” ujarnya. Menurut Alfi, lingkungan pesantren turut membentuk kebiasaan hidup yang tidak tergesa. “Segala sesuatu dijalani pelan-pelan, tapi terarah,” katanya.

Wajah kehidupan yang tenang juga tercermin dari interaksi sosial masyarakat Tasikmalaya. Sikap saling menghormati, menjaga tutur kata, dan menghargai ruang privat menjadi kebiasaan yang tumbuh secara alami. Keramaian tetap ada, namun jarang terasa bising. Kegiatan berlangsung dalam batas yang tertib.

Selain kehidupan religius, Tasikmalaya juga memiliki kekayaan budaya dan alam yang mendukung suasana tenang. Kawasan pedesaan dengan hamparan sawah, perbukitan, serta aliran sungai menjadi latar kehidupan sehari-hari. Banyak warga menghabiskan waktu dengan aktivitas sederhana yang dekat dengan alam.

Fakta menariknya, julukan kota santri tidak membuat Tasikmalaya tertutup terhadap perubahan. Pendidikan umum, aktivitas ekonomi, dan pariwisata tetap berkembang. Namun, nilai religius dan kesederhanaan tetap menjadi fondasi. Modernitas hadir tanpa menggeser identitas utama.

Alfi menilai, ketenangan Tasikmalaya justru menjadi kekuatan. “Banyak orang sekarang cari tempat yang bisa bikin mereka berhenti sejenak. Tasik itu salah satunya,” ujarnya. Ia menyebut, suasana religius dan kehidupan yang tertib memberi ruang bagi refleksi diri.

Someah Hade ka Semah, Kebiasaan Lama yang Masih Hidup di Jawa Barat

February 5, 2026 by  
Filed under Serba-Serbi

Tasikmalaya – Ungkapan someah hade ka semah telah lama menjadi bagian dari identitas masyarakat Sunda. Frasa ini bukan sekadar pepatah, melainkan pedoman bersikap yang masih hidup dan dipraktikkan dalam keseharian warga Jawa Barat. Ramah kepada tamu, terbuka pada pendatang, dan menjaga tutur kata menjadi cerminan nilai yang terus diwariskan lintas generasi.

Dalam kehidupan sehari-hari, sikap someah tampak dalam hal-hal sederhana, senyum saat menyapa orang baru, tutur bahasa yang halus, hingga kebiasaan mempersilakan tamu sebelum kepentingan pribadi. Nilai ini tumbuh dari budaya agraris masyarakat Sunda yang terbiasa hidup berdampingan dan saling bergantung satu sama lain.

Bagi masyarakat Sunda, tamu bukan sekadar orang yang datang, tetapi bagian dari hubungan sosial yang harus dijaga dengan penuh hormat. Keramahan dianggap sebagai bentuk adab sekaligus cara merawat harmoni. Tidak heran, sikap someah kerap menjadi kesan pertama yang dirasakan pendatang saat berada di Jawa Barat.

Intan, perempuan Sunda yang kerap berinteraksi dengan berbagai latar belakang budaya, menilai nilai someah hade ka semah sangat membantunya dalam kehidupan sosial.

“Dari kecil aku diajarin buat ramah ke siapa pun. Bukan basa-basi, tapi memang kebiasaan,” ujarnya. Menurut Intan, sikap tersebut membuatnya lebih mudah beradaptasi, termasuk saat berada di lingkungan baru. “Orang jadi lebih terbuka kalau kita datang dengan sikap baik,” katanya.

Nilai someah juga tercermin kuat dalam lingkungan pesantren. Intan mengungkapkan, kebiasaan menyambut tamu dan menjaga tutur kata menjadi bagian dari pendidikan karakter. “Di pesantren, kita diajarin menghormati siapa pun, entah itu tamu, teman, atau orang yang lebih tua,” ucapnya.

Di tengah perubahan zaman dan arus digital yang kerap memicu interaksi serba cepat, nilai someah hade ka semah tetap relevan. Meski bentuknya menyesuaikan konteks, esensinya masih sama: menjaga perasaan orang lain dan menciptakan ruang yang aman dalam berinteraksi.

Sikap ini juga menjadi penyeimbang di tengah budaya individualistik yang mulai tumbuh. Keramahan dan kesantunan dianggap sebagai cara sederhana menjaga hubungan sosial agar tetap hangat dan manusiawi. Bahkan di ruang digital, sebagian masyarakat Sunda masih berupaya membawa nilai tersebut dengan memilih kata yang lebih hati-hati saat berpendapat.

Bagi Intan, someah hade ka semah bukan berarti selalu mengalah. “Ramah itu bukan lemah. Kita tetap bisa punya pendirian, tapi cara nyampeinnya dijaga,” ujarnya. Ia menilai nilai ini justru mengajarkan kedewasaan dalam bersikap. (*)

Ngaliwet dan Ngariung, Tradisi Orang Sunda yang Merawat Kebersamaan

February 5, 2026 by  
Filed under Serba-Serbi

Tasikmalaya – Di tengah kehidupan yang semakin individual, masyarakat Sunda masih memegang kuat tradisi ngaliwet dan ngariung sebagai cara sederhana merawat kebersamaan. Tradisi ini bukan sekadar aktivitas makan bersama, melainkan ruang bertemunya rasa, cerita, dan ikatan sosial yang tumbuh secara alami.

Ngaliwet merujuk pada kegiatan memasak dan menyantap nasi liwet secara bersama-sama. Biasanya dilakukan di atas daun pisang, tanpa meja dan kursi, dengan posisi duduk melingkar. Sementara ngariung berarti berkumpul, bercengkerama, dan berbagi waktu tanpa sekat. Keduanya kerap berjalan beriringan dan menjadi bagian dari kehidupan sosial orang Sunda sejak lama.

Secara historis, tradisi ngaliwet berakar dari kehidupan agraris masyarakat Sunda. Nasi liwet awalnya dimasak oleh para petani di sawah sebagai bekal makan bersama setelah bekerja. Dari kebiasaan sederhana itu, ngaliwet berkembang menjadi simbol kebersamaan, egaliter, dan rasa syukur atas hasil alam.

Menu ngaliwet dikenal sederhana namun kaya rasa. Nasi dimasak dengan santan, bawang, dan serai, lalu disajikan bersama lauk seperti ikan asin, ayam goreng, tahu, tempe, sambal, lalapan, serta tak jarang ditambah pete atau jengkol. Semua lauk diletakkan di tengah, tanpa piring pribadi, menegaskan nilai kebersamaan dan kesetaraan.

Tradisi ini masih hidup hingga kini, termasuk di lingkungan pesantren. Intan, perempuan Sunda yang menempuh pendidikan di pesantren, mengaku ngaliwet menjadi salah satu momen yang paling ia rindukan.

“Di pesantren, ngaliwet itu bukan cuma soal makan. Itu waktu buat duduk bareng, ngobrol, ketawa, dan ngerasa dekat satu sama lain,” ujarnya.

Menurut Intan, ngaliwet kerap dilakukan pada momen tertentu, seperti akhir pekan, libur, atau saat ingin melepas penat bersama. “Kadang nggak perlu acara besar. Cukup niat ngariung, masak bareng, lalu makan rame-rame. Justru itu yang bikin hangat,” katanya.

Selain mempererat hubungan, ngaliwet juga mengajarkan nilai kesederhanaan dan kebersamaan. Semua orang makan menu yang sama, duduk sejajar tanpa pembeda. Tidak ada hirarki, tidak ada jarak. Nilai ini menjadi ciri khas budaya Sunda yang menjunjung harmoni dalam kehidupan sosial.

Fakta menariknya, tradisi ngaliwet kini tidak hanya bertahan di desa atau lingkungan tradisional. Di kota-kota besar, ngaliwet sering diadopsi sebagai konsep kebersamaan dalam komunitas, organisasi, hingga keluarga muda. Meski dikemas lebih modern, esensi ngariung tetap dijaga. (intan)

Mekkah dan Madinah, Kota Ramai Tanpa Deru Motor

February 4, 2026 by  
Filed under Serba-Serbi

Arab Saudi – Selama berada di Mekkah dan Madinah, saya tidak pernah merasa kota ini “kosong kendaraan”. Mobil pribadi, taksi, dan bus jamaah justru lalu-lalang hampir tanpa henti, terutama di jalan-jalan utama, area hotel, dan jalur antar kawasan. Namun ada satu hal yang mencolok, hampir tidak ada sepeda motor.

Di sekitar Masjidil Haram dan Masjid Nabawi terutama di area pelataran, plaza, dan jalur pejalan kaki yang mendominasi bukan kendaraan kecil, melainkan bus besar, mobil operasional, dan arus manusia yang berjalan kaki. Tidak terdengar raungan knalpot motor, tidak ada pengendara yang menyelip di antara jamaah.

Fenomena ini bukan kebetulan. Pemerintah Arab Saudi memang membatasi keras penggunaan kendaraan roda dua di kawasan inti ibadah. Sepeda motor, skuter, dan kendaraan ringan tidak diizinkan masuk ke zona pedestrian Masjidil Haram dan Masjid Nabawi demi alasan keselamatan dan pengendalian massa. Kebijakan ini tercantum dalam pedoman keamanan dan transportasi jamaah yang dikeluarkan Kementerian Dalam Negeri Arab Saudi, terutama pada musim padat umrah dan haji.

Sementara itu, mobil dan bus tetap menjadi tulang punggung transportasi kota. Bus-bus besar pengangkut jamaah berhenti di titik-titik tertentu yang telah diatur, lalu jamaah melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Taksi dan kendaraan hotel juga tetap beroperasi, namun tidak masuk ke area pelataran masjid.

Bagi saya pribadi, perbedaan ini terasa unik. Di banyak kota besar, kendaraan roda dua justru paling gesit dan mendominasi jalan. Namun di Tanah Suci, ritmenya dibalik, kendaraan besar diatur rapi, kendaraan kecil disingkirkan dari pusat ibadah, dan manusia diberi ruang untuk berjalan.

Berjalan kaki menjadi pengalaman yang tak terpisahkan dari ibadah. Dari hotel menuju masjid, dari satu gerbang ke gerbang lain, langkah kaki terasa menyatu dengan doa. Tanpa motor yang menyelip atau klakson yang memotong konsentrasi, suasana menjadi lebih tenang, meski tetap ramai.

Di Madinah, suasana ini bahkan terasa lebih lembut. Bus dan mobil tetap ada, tetapi bergerak perlahan dan tertib. Jamaah berjalan beriringan menuju Masjid Nabawi, seolah kota ini memang dirancang untuk membuat orang melambat, bukan mempercepat.

Ketiadaan motor di area inti bukan sekadar kebijakan lalu lintas. Ia membentuk pengalaman spiritual yang berbeda. Di kota yang biasanya identik dengan kecepatan, Mekkah dan Madinah justru mengajarkan satu hal sederhana: ibadah tidak butuh tergesa, dan kedekatan tidak selalu ditempuh dengan kendaraan tercepat. (intan)

« Previous PageNext Page »

  • vb

  • Pengunjung

    1318477
    Users Today : 702
    Users Yesterday : 7595
    This Year : 254987
    Total Users : 1318477
    Total views : 12028911
    Who's Online : 48
    Your IP Address : 216.73.216.15
    Server Time : 2026-02-13