Telkomsel Berkolaborasi dengan BBC Studios Hadirkan Channel BBC News dan CBeebies di IndiHome TV

December 12, 2025 by  
Filed under Gaya Hidup

Jakarta – Telkomsel bersama BBC Studios hari ini mengumumkan peluncuran dua channel internasional baru di IndiHome TV, yakni BBC News dan CBeebies. Mulai Desember, pelanggan IndiHome TV dapat mengakses BBC News di channel 816 dan CBeebies di channel 301.

Kehadiran channel BBC News dan CBeebies merupakan wujud komitmen Telkomsel untuk menghadirkan pengalaman pelanggan yang lebih relevan dan berkualitas. Selain itu, kolaborasi ini juga menandai ekspansi signifikan kehadiran channel BBC Studios di pasar.

BBC News, yang disiarkan 24 jam dalam bahasa Inggris di lebih dari 200 negara dan wilayah, menghadirkan beragam liputan berita internasional yang kredibel, termasuk olahraga, cuaca, bisnis, isu aktual, dan program dokumenter. BBC News di televisi memberikan analisis mendalam dan independen terhadap berita terkini, serta mengulas cerita di balik peristiwa – bukan hanya apa yang terjadi, tetapi juga mengapa hal itu terjadi.

CBeebies merupakan rumah bagi program anak-anak pemenang penghargaan dari BBC seperti Bluey dan Hey Duggee. Saluran ini dipercaya oleh para orang tua karena menawarkan pengalaman interaktif yang aman, bebas kekerasan, dan dirancang oleh pakar perkembangan anak untuk mendorong imajinasi, interaksi sosial, keterampilan bahasa, serta nilai-nilai edukatif. Anak-anak juga dapat menikmati program favorit lainnya seperti Sarah & Duck, Go Jetters, dan Supertato.

Vice President Digital Lifestyle Telkomsel, Lesley Simpson menyambut baik kolaborasi bersama BBC Studios karena mencerminkan komitmen Telkomsel untuk terus memperkuat ekosistem digital yang inklusif dan berdaya guna bagi masyarakat Indonesia.

“Dengan menghadirkan konten global yang berkualitas seperti BBC News dan CBeebies melalui IndiHome TV, kami ingin membuka akses yang lebih luas terhadap informasi terpercaya dan hiburan edukatif untuk pelanggan.”

Dikatakan Executive Vice President dan General Manager Asia BBC Studios, Phil Hardman, misi Telkomsel adalah menghadirkan konten kelas dunia kepada audiens di seluruh dunia, karena kami percaya cerita memiliki kekuatan untuk memulai percakapan dan mengubah perspektif. Ini adalah kesempatan menarik untuk menghubungkan pelanggan IndiHome dengan liputan berita terpercaya dan program anak-anak pemenang penghargaan untuk pertama kalinya.

“Kami bangga bekerja sama dengan mitra terbaik seperti Telkomsel untuk mewujudkan tujuan bersama ini.”

Tonton IndiHome TV melalui perangkat TV, situs resmi indihometv.com, atau aplikasi IndiHome TV yang tersedia di Google Play Store dan App Store. Untuk informasi lebih lengkap mengenai IndiHome, kunjungi telkomsel.com/indihome. (*)

Efek Mi Instan Bagi Anak Kos

December 12, 2025 by  
Filed under Serba-Serbi

Kebiasaan mengonsumsi mi instan tiga kali seminggu kembali mendapat sorotan setelah sejumlah riset global menampilkan potensi risiko kesehatan jangka panjang. Meski belum ada bukti bahwa mi instan menjadi penyebab langsung kematian, konsumsi berlebihan disebut dapat meningkatkan peluang munculnya penyakit kronis seperti hipertensi, stroke, hingga gangguan jantung.

Riset dari Prefektur Yamagata, Jepang, yang melibatkan 6.725 peserta berusia 40 tahun ke atas, menemukan bahwa individu yang makan ramen lebih dari tiga kali per minggu memiliki risiko kematian 1,52 kali lebih tinggi dibanding mereka yang mengonsumsi satu hingga dua kali per minggu.

Temuan tersebut selaras dengan Harvard School of Public Health, yang mencatat konsumsi mi instan lebih dari dua kali seminggu berkaitan dengan peningkatan risiko metabolic syndrome, kondisi yang memicu potensi penyakit jantung, diabetes tipe 2, dan stroke. “Mi instan mengandung natrium tinggi, lemak jenuh, dan minim serat. Konsumsi berlebihan, terutama lebih dari dua kali seminggu, sangat terkait dengan sindrom metabolik, khususnya pada perempuan,” ujar peneliti Harvard, Hyun Shin, dikutip dari The Washington Post (2014).

Penelitian dalam Journal of Nutrition (2017) turut menunjukkan konsumsi mi instan dalam jumlah besar berhubungan dengan meningkatnya kadar C-reactive protein (CRP), penanda peradangan yang sering dikaitkan dengan risiko kematian dini. Studi di Korea juga mencatat perempuan yang makan mi instan lebih dari dua kali seminggu memiliki peluang 1,68 kali lebih besar mengalami sindrom metabolik.

Di Indonesia, tren konsumsi mi instan terus menanjak. Data World Instant Noodles Association (WINA) mencatat sekitar 14,68 miliar porsi mi instan dikonsumsi pada 2024, atau setara 19 porsi per kapita pada 2025. Pola hidup praktis masyarakat perkotaan, termasuk anak kos disebut menjadi faktor utama tingginya angka tersebut.

Bagi anak kos yang mengonsumsi mi instan lebih dari 2–3 kali per minggu, risiko meningkat akibat kandungan natrium tinggi, lemak jenuh, serta kecenderungan pola makan yang tidak seimbang. Risiko ini bertambah jika tidak diimbangi aktivitas fisik dan pola tidur yang teratur.

Adry (25), seorang mahasiswa rantau yang tinggal di Samarinda, mengaku sering mengandalkan mi instan karena mudah didapat dan tidak memerlukan waktu lama untuk dimasak. “Sebagai anak kos, mi instan itu penyelamat. Tinggal seduh, cepat jadi, dan rasanya aman di lidah. Kadang dalam seminggu bisa tiga kali makan,” ujarnya. Meski begitu, Adry menyadari konsumsi berlebihan dapat membawa dampak kesehatan. “Memang harus pintar jaga pola makan juga. Tapi kadang praktisnya menang,” katanya.

Sebagai catatan, mi instan pertama kali dikembangkan Momofuku Ando pada 1958 sebagai makanan praktis berumur simpan panjang. Namun popularitas yang meningkat di era modern kini dibarengi kekhawatiran terhadap dampaknya bagi kesehatan jika dikonsumsi berlebihan. (intan)

Fenomena Burnout Perempuan Muda di Era Digital

December 12, 2025 by  
Filed under Serba-Serbi

Ilustrasi Fenomena Burnout

Di tengah ritme kerja yang serba cepat dan dunia digital yang nyaris tak pernah tidur, banyak perempuan muda menjalani hari-hari yang dipenuhi tuntutan tinggi. Notifikasi pekerjaan yang muncul sepanjang waktu, standar kesempurnaan di media sosial, hingga ekspektasi untuk selalu produktif membuat keseharian mereka terasa seperti perlombaan tanpa garis akhir.

Dalam lingkungan seperti itulah, burnout perlahan tumbuh menjadi beban baru bagi perempuan usia 18–30 tahun, terutama mereka yang bekerja di sektor digital, kreatif, layanan, dan pekerjaan berbasis daring.

Riset global dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan pola yang sama. Forbes (Februari 2025) mencatat lebih dari 80% pekerja muda usia 18–34 tahun menunjukkan gejala burnout, menjadikannya kelompok paling terdampak dibanding generasi lainnya. Tren ini sejalan dengan laporan berbagai lembaga riset kesehatan mental internasional yang menyoroti meningkatnya kelelahan emosional di kalangan perempuan muda yang bekerja penuh waktu.

Di Indonesia, fenomena serupa juga teridentifikasi. Sejumlah studi dari universitas negeri mencatat beban kerja tinggi, tekanan peran sosial sebagai perempuan, serta ketidakseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi menjadi pemicu dominan burnout. Ketika jam kerja melebar hingga ke ranah pribadi dan ekspektasi sosial menumpuk, perempuan muda memiliki risiko lebih tinggi mengalami kelelahan psikologis berkepanjangan.

Peneliti Islamidiena Dheananda Putri dalam jurnal “Effect of Burnout and Work–Life Balance on Psychological Well-Being in Full-Time Working Women” menegaskan burnout berdampak langsung pada penurunan kesejahteraan psikologis perempuan pekerja. Dukungan organisasi dan work-life balance yang baik disebut berperan penting dalam mencegah kondisi tersebut.

Hal serupa juga disampaikan Gebrina Rezki dalam studinya “Burnout Among Working Mothers”. Ia menemukan, minimnya dukungan lingkungan kerja dan beban peran ganda membuat perempuan lebih rentan mengalami burnout tingkat tinggi.

Masuknya generasi muda ke industri digital pun membawa tantangan baru. Australia’s Women Agenda (2025) mencatat perempuan usia 20–30 tahun merupakan kelompok yang paling sering mempertimbangkan resign karena kelelahan mental akibat digital overload mulai dari pekerjaan yang tak mengenal jam selesai, hingga tekanan tampil sempurna di platform daring.

Alfi (24 tahun), pekerja kreatif, menyebut burnout sebagai “teman lama yang sering datang tanpa permisi”.

“Kerjaan online itu kelihatannya fleksibel, tapi sebenarnya tuntutannya besar. Notifikasi chat, revisi mendadak, deadline yang mepet, semuanya bisa muncul kapan saja. Aku jadi merasa harus selalu standby,” ungkapnya.

Ia bercerita, tekanan tidak hanya datang dari pekerjaan, tapi juga dari dunia digital itu sendiri.

“Melihat teman-teman lain aktif, produktif, dan kelihatan sukses itu bikin aku merasa harus bisa seperti mereka. Akhirnya, ada masa di mana aku capek banget, kehilangan semangat, bahkan bingung mau mulai dari mana,” katanya.

Alfi sempat mengambil cuti beberapa hari saat gejalanya makin berat.

“Aku akhirnya sadar, kalau enggak berhenti sebentar, aku bisa benar-benar jatuh. Setelah rehat, aku belajar batasin diri. Enggak semua hal harus direspons cepat,” tambahnya.

Burnout yang tidak ditangani dapat memicu sejumlah kondisi, seperti gangguan tidur, kelelahan emosional, menurunnya produktivitas, kecemasan dan depresi, serta melemahnya sistem imun. Kondisi ini juga berpotensi memengaruhi relasi sosial dan kualitas hidup sehari-hari. (intan)

Tekanan Usia 20-an Hantam Gen Z, Ekspektasi Hidup Jadi Sumber Kecemasan

December 11, 2025 by  
Filed under Serba-Serbi

Ilustrasi Gen Z menghadapi tekanan hidup

SAMARINDA — Memasuki usia dewasa awal seharusnya menjadi masa eksplorasi dan pencarian arah hidup. Namun bagi Gen Z, fase ini justru dipenuhi kecemasan, kebimbangan, dan tekanan yang datang dari berbagai penjuru. Dorongan untuk segera stabil secara finansial, berkarier gemilang, tampil sempurna, hingga memiliki rencana hidup yang “rapi” membuat masa 20-an terasa jauh dari kata ringan. Kondisi ini dikenal sebagai quarter-life pressure, fenomena yang kini makin sering muncul dalam percakapan anak muda Indonesia.

Quarter-life pressure merupakan periode ketika seseorang beralih dari masa remaja menuju kedewasaan, rentang usia 18–30 tahun. Pada fase ini, banyak perempuan mulai mempertanyakan arah hidup mereka, karier seperti apa yang harus diraih, bagaimana mengelola keuangan, relasi apa yang harus dipertahankan, hingga identitas diri yang masih mencari bentuk.

Temuan tersebut turut diperkuat sebuah studi bertajuk “Social Comparison and Quarter-Life Crisis in Generation Z, A Study of Instagram Users” (2025) oleh Maharani & Merida. Penelitian yang melibatkan 164 responden usia 20–28 tahun di Bekasi menunjukkan adanya hubungan kuat antara kebiasaan membandingkan diri di Instagram dengan meningkatnya gejala quarter-life crisis. Semakin sering seseorang terpancing menilai hidup berdasarkan pencapaian orang lain di media sosial, semakin besar tekanan psikologis yang mereka rasakan.

Tak hanya faktor internal, kondisi eksternal seperti ekonomi yang berfluktuasi, persaingan ketat di dunia kerja, serta dukungan sosial yang minim turut memicu meningkatnya tekanan pada generasi ini.

Salah satu perempuan muda yang merasakannya adalah “Tan” (23), warga Samarinda. Selepas kuliah, ia sering merasa tertinggal dari teman-teman sebayanya yang tampak lebih mapan. “Scroll Instagram malam-malam rasanya bikin sesak. Teman-teman sudah punya kerja tetap, pasangan, bahkan bisa travelling. Sementara aku merasa masih jauh dari semua itu,” ungkapnya.

Cerita Tan bukan pengecualian. Banyak Gen Z kini berada pada persimpangan antara tuntutan keluarga, kebutuhan finansial, dan keinginan menjalani hidup sesuai ritme sendiri kondisi yang sering meninggalkan rasa bingung dan kelelahan mental.

Media sosial sebagai pemicu tekanan
Paparan konten pencapaian membuat standar kesuksesan terasa semakin tinggi. Banyak anak muda merasa tertinggal hanya karena melihat unggahan orang lain yang tampak sempurna.

Ekonomi yang tidak menentu
Persaingan kerja yang semakin ketat dan kurangnya kepastian finansial membuat perempuan muda merasa harus mencapai stabilitas secepat mungkin, meski secara mental belum siap.

Minimnya ruang dukungan
Tekanan keluarga, tuntutan budaya, dan kurangnya figur pendamping membuat banyak perempuan 20-an memikul beban tersebut sendirian.

Meski demikian, berbagai penelitian menegaskan dukungan dari lingkungan baik keluarga, sahabat, maupun komunitas menjadi faktor penting dalam meredakan beban quarter-life pressure.

Maybank Perkuat Inklusi dan Literasi Keuangan ASEAN melalui “Maybank Regional Financial Education Excellence Awards” Ke-4

December 10, 2025 by  
Filed under Gaya Hidup

Jakarta – Maybank Foundation, lembaga sosial Maybank Group, hari  ini menyelenggarakan acara “Maybank Regional Financial Education Excellence Awards 2025” (FinEx) ke-4 di Jakarta, Indonesia, untuk mengapresiasi pencapaian luar biasa sekolah, tenaga pendidik, keluarga, dan siswa di Kawasan ASEAN dalam memperkuat literasi keuangan di kalangan anak sekolah.

Acara ini merupakan rangkaian puncak dari Cashville Kidz (CVK), program unggulan Maybank Foundation yang membekali anak-anak usia 9–12 tahun dengan keterampilan praktis untuk menumbuhkan kepercayaan diri, membangun kebiasaan finansial sehat, dan membuat keputusan keuangan yang bertanggung jawab sejak dini. Menggunakan pendekatan berbasis bukti melalui pre- dan post-assessment yang terstruktur, CVK secara berkelanjutan menyempurnakan kurikulum agar relevan dengan kebutuhan masyarakat yang terus berkembang di kawasan ASEAN.

Acara penghargaan “Maybank Regional FinEx” merupakan puncak dari program unggulan Maybank Foundation, Cashville Kidz (CVK), yang membekali anak-anak berusia 9–12 tahun dengan keterampilan penting untuk menumbuhkan kepercayaan diri dalam mengelola keuangan, serta membentuk kebiasaan finansial yang sehat dan bertanggung jawab sejak dini.

Sebagai salah satu pilar inisiatif Maybank Foundation, CVK dirancang dengan hasil pembelajaran yang terukur melalui pre- dan post-assessment yang terstruktur, sehingga perubahan perilaku serta peningkatan pemahaman peserta didik dapat dipantau secara jelas. Pendekatan berbasis evidence ini memungkinkan penyempurnaan kurikulum secara berkelanjutan, sehingga program tetap relevan, efektif, dan selaras dengan kebutuhan masyarakat yang terus berkembang di kawasan ASEAN.

Ajang penghargaan “Maybank Regional FinEx” ke-4 memberikan apresiasi atas pencapaian luar biasa dalam empat kategori:

  1. Best School Award diberikan kepada sekolah yang menunjukkan kepemimpinan visioner dan komitmen dalam memajukan literasi keuangan.
  2. Best Educator Award diberikan kepada pendidik yang menunjukkan dedikasi luar biasa dalam menginspirasi pembelajaran keuangan di kalangan siswa.
  3. Best Student Award diberikan kepada siswa yang memiliki pemahaman kuat dan antusiasme dalam menerapkan pengetahuan keuangan mereka.
  4. Best Family Award diberikan kepada keluarga yang telah menunjukkan peningkatan kebiasaan dan ketahanan finansial melalui program Cashville Kidz Family Budgeting.

Acara penghargaan tersebut dihadiri oleh Chairman Maybank Group dan Maybank Foundation, Tan Sri Dato’ Sri Ir. Zamzamzairani Mohd Isa; Komisaris Independen Dewan Komisaris Maybank Indonesia, Hendar dan Marina Tusin; Presiden Direktur Maybank Indonesia, Steffano Ridwan; Pembina Dewan Pembina Maybank Foundation, Datuk R. Karunakaran dan Budhi Dyah Sitawati; Chief Sustainability Officer Maybank Group, Datuk Shahril Azuar Jimin; Head of Maybank Group Corporate Affairs sekaligus CEO Maybank Foundation, Izlyn Ramli; serta CEO MoneyTree Asia Pasifik, Michael Reyes.

Menyadari bahwa literasi keuangan merupakan prioritas nasional di berbagai negara ASEAN dan menjadi fokus utama dari para regulator, berbagai kementerian, serta para pembuat kebijakan, acara penghargaan ini juga dihadiri oleh otoritas nasional yang berperan besar dalam mendorong mandat tersebut. Hadir di antaranya ada Kepala Direktorat Literasi dan Edukasi Keuangan OJK Indonesia, Cecep Setiawan, serta Ketua Tim Pekerja Peserta Didik Direktorat SMA Ditjen PAUD Dikdasmen, Kemendikdasmen, Asep Sukmayadi, S.Ip., M.Si. Kehadiran para pemangku kepentingan ini semakin menegaskan pentingnya penguatan edukasi dan literasi keuangan sejak tingkat sekolah.

Sebagai sebuah inisiatif regional yang berperan dalam membentuk generasi masa depan yang cakap secara finansial, acara ini juga mendapat dukungan kuat dari komunitas diplomatik ASEAN. Hadir di antaranya Duta Besar Malaysia untuk Indonesia, H.E. Amb. Dato’ Syed Mohamad Hasrin Tengku Hussin; Perwakilan Tetap Malaysia untuk ASEAN, H.E. Amb. Sarah Al Bakri Devadason; Perwakilan Tetap Filipina untuk ASEAN, H.E. Amb. Evangeline T. Ong Jimenez-Ducrocq; Perwakilan Tetap Singapura untuk ASEAN, H.E. Amb. Gerard Ho; serta Perwakilan Tetap Republik Demokratik Timor-Leste untuk ASEAN, H.E. Amb. Natércia Cipriana Coelho da Silva.

Kehadiran para perwakilan negara dan pemangku pementingan ini mencerminkan komitmen kolektif negara-negara anggota ASEAN dalam membangun masyarakat yang tangguh secara finansial di seluruh kawasan.

Dalam sambutannya, Chairman Maybank Group dan Maybank Foundation, Tan Sri Dato’ Sri Ir. Zamzamzairani Mohd Isa menegaskan kembali komitmen jangka panjang Maybank Grup dalam mendorong pemberdayaan finansial di seluruh ASEAN.

“Selama lebih dari satu dekade, Maybank tetap teguh pada keyakinan bahwa pembangunan berkelanjutan berawal dari literasi keuangan. Melalui inisiatif seperti Cashville Kidz, kami bertujuan menumbuhkan generasi muda yang cakap dan bertanggung jawab secara finansial, mampu membuat keputusan yang tepat, serta berkontribusi pada pertumbuhan inklusif di komunitas mereka.

Upaya kami, yang berlandaskan strategi M30 Maybank Group dengan fokus pada dampak positif bagi masyarakat, semakin menegaskan pentingnya membekali generasi muda dengan pengetahuan yang dapat mengubah masa depan mereka. Menyongsong dekade berikutnya, Maybank Foundation akan terus memperkuat kemitraan regional untuk memperluas akses edukasi keuangan, khususnya bagi komunitas prasejahtera, sehingga dapat mewujudkan kesejahteraan bagi semua.”

Tan Sri Zamzamzairani menambahkan, “Dengan lebih dari 610.000 penerima manfaat melalui program-program Maybank Foundation dan lebih dari 2,5 juta rumah tangga yang terdampak positif sejalan dengan Komitmen Keberlanjutan Maybank sejak 2021, misinya tetap jelas: memanusiakan layanan keuangan dan memastikan pendidikan berkualitas dapat diakses di seluruh ASEAN.”,

Di Indonesia, Maybank telah menerima dukungan berkelanjutan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah untuk penyelenggaraan program “Cashville Kidz” sejak 2019. Melalui kolaborasi strategis ini, program tersebut telah menjangkau lebih dari 18.800 siswa di 73 sekolah di berbagai wilayah di Indonesia, mencerminkan komitmen bersama Maybank Grup dalam memajukan literasi keuangan.

Program Cashville Kidz (CVK) Membangun Fondasi Literasi Keuangan Sejak Usia Dini

Sejak diperkenalkan pada 2013, program Cashville Kidz (CVK) telah berkembang menjadi salah satu inisiatif literasi keuangan berbasis sekolah terbesar di Kawasan ASEAN, menjangkau lebih dari 430.000 siswa serta melatih lebih dari 8.200 guru di 1.530 sekolah di delapan negara yaitu Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand, Vietnam, Filipina, Myanmar dan Kamboja.  Program ini diselenggarakan melalui kemitraan dengan MoneyTree Asia Pacific dan didukung para pemangku kepentingan pendidikan local. Program ini memadukan cerita animasi, pembelajaran interaktif, dan skenario kehidupan nyata untuk menghadirkan edukasi keuangan yang menarik, mudah dipahami, dan relevan bagi anak-anak.

Presiden Direktur Maybank Indonesia Steffano Ridwan menyampaikan antusiasmenya dan mengatakan, “Pencapaian yang kita rayakan hari ini mengingatkan kita bahwa literasi keuangan bukan sekadar pengetahuan—melainkan keterampilan hidup yang membangun ketahanan, kepercayaan diri, dan peluang. Literasi keuangan menjadi jembatan yang menghubungkan pendidikan dengan pemberdayaan, dan pemberdayaan dengan pertumbuhan yang inklusif.”

Sejak peluncurannya pada tahun 2023, Maybank Regional FinEx Awards telah menjadi platform untuk merayakan kemajuan kolektif komunitas pendidikan dan keuangan di Kawasan ASEAN dalam mewujudkan masyarakat yang lebih tanggap finansial dan inklusif. Maybank Regional FinEx Awards 2025 semakin menegaskan komitmen berkelanjutan Maybank terhadap Sustainability Strategic Priority di bidang Inklusi Keuangan, sejalan dengan aspirasi lebih luas Maybank untuk memberikan dampak kepada 2 juta rumah tangga di seluruh ASEAN pada 2025 melalui pendidikan, pemberdayaan komunitas, dan inovasi sosial. (*)

« Previous PageNext Page »

  • vb

  • Pengunjung

    1613690
    Users Today : 757
    Users Yesterday : 7733
    This Year : 550200
    Total Users : 1613690
    Total views : 13839065
    Who's Online : 50
    Your IP Address : 216.73.216.54
    Server Time : 2026-04-07