Sat Resnarkoba Polres Kutai Barat Ungkap Kasus Peredaran Narkotika di Barong Tongkok

February 6, 2026 by  
Filed under Serba-Serbi

Kutai Barat – Satuan Reserse Narkoba Polres Kutai Barat berhasil mengungkap tindak pidana peredaran narkotika di wilayah hukumnya. Pengungkapan tersebut dilakukan di wilayah Kecamatan Barong Tongkok, Kabupaten Kutai Barat , Rabu (4/2/2026) sore.

Kapolres Kutai Barat melalui Kasatresnarkoba menjelaskan, pengungkapan berawal dari kecurigaan petugas terhadap seorang pria yang melintas di pinggir jalan Gang Pemakaman, simpang Pemandian Kampung Barong Tongkok, sekitar pukul 15.30 Wita. Saat dilakukan pemeriksaan, petugas menemukan dua poket narkotika yang diduga jenis sabu-sabu yang disimpan di dashboard dan bagasi sepeda motor yang dikendarai pelaku.

Dari hasil interogasi awal, pria tersebut mengakui barang haram tersebut diperolehnya dari seorang perempuan yang merupakan istrinya. Berdasarkan pengakuan tersebut, petugas kemudian melakukan pengembangan dan berhasil mengamankan seorang perempuan di sebuah rumah di Kampung Jengan Danum, Kecamatan Barong Tongkok, pada malam harinya.

Dalam pengungkapan ini, petugas mengamankan dua orang tersangka, masing-masing seorang pria berinisial *HDP* dan seorang perempuan berinisial *RZ*. Keduanya diduga terlibat dalam jaringan peredaran narkotika jenis sabu-sabu di wilayah Kutai Barat.

Selain tersangka, polisi juga mengamankan sejumlah barang bukti berupa dua poket narkotika jenis sabu-sabu dengan berat kotor total sekitar 0,3 gram, dua unit telepon genggam, satu unit sepeda motor, dompet, bungkus rokok, potongan tisu, serta kartu SIM yang diduga digunakan dalam aktivitas peredaran narkotika.

Saat ini, kedua tersangka beserta seluruh barang bukti telah diamankan di Mapolres Kutai Barat guna menjalani proses penyidikan lebih lanjut. Keduanya disangkakan melanggar Pasal 132 Jo Pasal 114 ayat (1) Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika Jo Pasal 609 ayat (1) huruf a Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang KUHP.

Polres Kutai Barat menegaskan komitmennya untuk terus memberantas peredaran narkotika demi menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat serta menyelamatkan generasi muda dari bahaya narkoba. (*)

Mudah Lupa dan Sulit Fokus Bisa Jadi Tanda Stres

February 5, 2026 by  
Filed under Serba-Serbi

Samarinda — Lupa naruh barang, sulit fokus saat membaca, atau merasa otak “lemot” sering dianggap kurang tidur atau kebanyakan main gawai. Namun, sejumlah penelitian menunjukkan, stres berkepanjangan dapat memengaruhi fungsi kognitif, termasuk daya ingat, konsentrasi, dan kecepatan berpikir kondisi yang kerap disebut sebagai brain fog.

Secara ilmiah, stres memicu pelepasan hormon kortisol. Dalam kadar tinggi dan berlangsung lama, kortisol diketahui dapat memengaruhi hipokampus, bagian otak yang berperan penting dalam pembentukan memori dan proses belajar.

Penelitian di bidang neuropsikologi menunjukkan, individu dengan tingkat stres tinggi cenderung mengalami penurunan konsentrasi, kesulitan mengingat informasi baru, lambat mengambil keputusan.

Stres kronis juga dikaitkan dengan penurunan working memory, yakni kemampuan otak menyimpan dan mengolah informasi dalam waktu singkat kemampuan yang sangat dibutuhkan saat belajar dan bekerja.

Pakar kesehatan menjelaskan, saat stres, otak berada dalam mode bertahan (survival mode). Energi mental lebih difokuskan untuk menghadapi ancaman — bukan untuk berpikir jernih, menghafal, atau berkonsentrasi.

Akibatnya, meski secara fisik seseorang tampak baik-baik saja, secara mental ia bisa merasa cepat lelah saat berpikir, sulit menangkap informasi, mudah terdistraksi, dan merasa “kosong” atau lambat merespons.

Jika kondisi ini berlangsung lama, performa akademik dan pekerjaan bisa ikut terdampak.

Keluhan ini banyak diungkapkan Gen Z dalam percakapan sehari-hari maupun media sosial.

Seorang Gen Z menuturkan, Cipa 19 tahu. kerap merasa gagal fokus.

“Aku jadi gampang lupa dan gagal fokus, padahal nggak kurang tidur. Ternyata pas lagi banyak pikiran, otakku kayak penuh,” tuturnya.

Pengalaman ini menunjukkan, penurunan fokus bukan selalu soal kecerdasan, melainkan kondisi mental yang sedang terbebani.

Bagi generasi muda, kondisi ini sering berbahaya karena disalahartikan sebagai kemalasan atau kurang kompeten.

Penurunan daya ingat dan fokus bisa menjadi sinyal halus bahwa otak sedang kelelahan secara emosional. Bukan berarti rusak, tetapi membutuhkan waktu untuk bernapas.

Fenomena Whip Pink, Dari Alat Dapur ke Isu Kesehatan Publik

February 5, 2026 by  
Filed under Serba-Serbi

Samarinda — Nama Whip Pink belakangan ramai diperbincangkan publik setelah dikaitkan dengan dugaan penyalahgunaan gas tertentu untuk mendapatkan efek euforia. Produk yang sejatinya digunakan dalam dunia kuliner itu kini menjadi sorotan karena potensi dampak kesehatan yang serius.

Whip Pink diketahui merupakan tabung gas pengocok krim (whipped cream charger) yang berisi nitrous oxide (N₂O) dan lazim digunakan oleh pelaku usaha makanan dan minuman untuk menghasilkan whipped cream secara cepat. Secara legal, produk ini dipasarkan sebagai peralatan dapur dan bukan zat terlarang.

Namun, dalam perkembangannya, gas nitrous oxide yang terkandung dalam Whip Pink disebut disalahgunakan dengan cara dihirup untuk memperoleh sensasi euforia sesaat. Praktik ini dinilai berbahaya karena dapat mengganggu sistem saraf dan pernapasan.

Dilansir dari DetikHealth Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI, Taruna Ikrar, menyebut pihaknya tengah mengevaluasi peredaran Whip Pink di pasaran. Ia menegaskan, penggunaan nitrous oxide di luar fungsi kuliner berpotensi membahayakan kesehatan, terlebih jika dilakukan tanpa pengawasan.

Secara medis, penyalahgunaan nitrous oxide dapat memicu kekurangan oksigen dalam tubuh, gangguan vitamin B12, hingga kerusakan sistem saraf jika digunakan berulang kali. Kondisi ini membuat zat tersebut berbahaya bila digunakan di luar standar industri dan medis.

Fenomena penyalahgunaan nitrous oxide sejatinya bukan hal baru di tingkat global. Di sejumlah negara, gas ini dikenal dengan sebutan “whippets” atau “nangs” dan kerap digunakan secara rekreasional di kalangan anak muda.

Di Inggris, misalnya, pemerintah secara resmi mengklasifikasikan nitrous oxide sebagai zat terlarang Kelas C sejak 2023 karena meningkatnya penyalahgunaan dan gangguan sosial yang ditimbulkan. Sementara itu, Belanda melarang kepemilikan dan penjualannya kecuali untuk kebutuhan medis dan industri.

Di Amerika Serikat, otoritas kesehatan juga mengeluarkan peringatan resmi terkait bahaya penggunaan nitrous oxide secara rekreasional setelah muncul sejumlah kasus gangguan kesehatan serius.

Mencuatnya isu Whip Pink di Indonesia dinilai menjadi alarm penting bagi pemerintah dan masyarakat untuk meningkatkan literasi publik terkait zat inhalan yang beredar bebas namun berisiko tinggi jika disalahgunakan.

Tasikmalaya, Kota Santri dengan Wajah Kehidupan yang Tenang

February 5, 2026 by  
Filed under Serba-Serbi

Tasikmalaya – Tasikmalaya dikenal luas sebagai salah satu kota santri di Jawa Barat. Julukan ini bukan sekadar label, melainkan tercermin dalam wajah kehidupan sehari-hari masyarakatnya. Ritme yang tenang, suasana religius, dan interaksi sosial yang tertib menjadi ciri khas yang masih bertahan hingga kini.

Keberadaan ratusan pesantren di Tasikmalaya membentuk karakter wilayah ini sejak lama. Pesantren tidak hanya berfungsi sebagai lembaga pendidikan keagamaan, tetapi juga menjadi pusat pembentukan nilai dan etika sosial. Aktivitas mengaji, shalat berjamaah, hingga kegiatan keagamaan lainnya berjalan berdampingan dengan kehidupan masyarakat sekitar.

Bagi Alfi, perempuan asal Bandung yang telah lama tinggal di Tasikmalaya dan mengenyam pendidikan di pesantren, suasana kota santri memberikan rasa aman dan nyaman.

“Di Tasik itu hidupnya terasa lebih teratur. Ada waktu belajar, waktu ibadah, dan waktu istirahat,” ujarnya. Menurut Alfi, lingkungan pesantren turut membentuk kebiasaan hidup yang tidak tergesa. “Segala sesuatu dijalani pelan-pelan, tapi terarah,” katanya.

Wajah kehidupan yang tenang juga tercermin dari interaksi sosial masyarakat Tasikmalaya. Sikap saling menghormati, menjaga tutur kata, dan menghargai ruang privat menjadi kebiasaan yang tumbuh secara alami. Keramaian tetap ada, namun jarang terasa bising. Kegiatan berlangsung dalam batas yang tertib.

Selain kehidupan religius, Tasikmalaya juga memiliki kekayaan budaya dan alam yang mendukung suasana tenang. Kawasan pedesaan dengan hamparan sawah, perbukitan, serta aliran sungai menjadi latar kehidupan sehari-hari. Banyak warga menghabiskan waktu dengan aktivitas sederhana yang dekat dengan alam.

Fakta menariknya, julukan kota santri tidak membuat Tasikmalaya tertutup terhadap perubahan. Pendidikan umum, aktivitas ekonomi, dan pariwisata tetap berkembang. Namun, nilai religius dan kesederhanaan tetap menjadi fondasi. Modernitas hadir tanpa menggeser identitas utama.

Alfi menilai, ketenangan Tasikmalaya justru menjadi kekuatan. “Banyak orang sekarang cari tempat yang bisa bikin mereka berhenti sejenak. Tasik itu salah satunya,” ujarnya. Ia menyebut, suasana religius dan kehidupan yang tertib memberi ruang bagi refleksi diri.

Someah Hade ka Semah, Kebiasaan Lama yang Masih Hidup di Jawa Barat

February 5, 2026 by  
Filed under Serba-Serbi

Tasikmalaya – Ungkapan someah hade ka semah telah lama menjadi bagian dari identitas masyarakat Sunda. Frasa ini bukan sekadar pepatah, melainkan pedoman bersikap yang masih hidup dan dipraktikkan dalam keseharian warga Jawa Barat. Ramah kepada tamu, terbuka pada pendatang, dan menjaga tutur kata menjadi cerminan nilai yang terus diwariskan lintas generasi.

Dalam kehidupan sehari-hari, sikap someah tampak dalam hal-hal sederhana, senyum saat menyapa orang baru, tutur bahasa yang halus, hingga kebiasaan mempersilakan tamu sebelum kepentingan pribadi. Nilai ini tumbuh dari budaya agraris masyarakat Sunda yang terbiasa hidup berdampingan dan saling bergantung satu sama lain.

Bagi masyarakat Sunda, tamu bukan sekadar orang yang datang, tetapi bagian dari hubungan sosial yang harus dijaga dengan penuh hormat. Keramahan dianggap sebagai bentuk adab sekaligus cara merawat harmoni. Tidak heran, sikap someah kerap menjadi kesan pertama yang dirasakan pendatang saat berada di Jawa Barat.

Intan, perempuan Sunda yang kerap berinteraksi dengan berbagai latar belakang budaya, menilai nilai someah hade ka semah sangat membantunya dalam kehidupan sosial.

“Dari kecil aku diajarin buat ramah ke siapa pun. Bukan basa-basi, tapi memang kebiasaan,” ujarnya. Menurut Intan, sikap tersebut membuatnya lebih mudah beradaptasi, termasuk saat berada di lingkungan baru. “Orang jadi lebih terbuka kalau kita datang dengan sikap baik,” katanya.

Nilai someah juga tercermin kuat dalam lingkungan pesantren. Intan mengungkapkan, kebiasaan menyambut tamu dan menjaga tutur kata menjadi bagian dari pendidikan karakter. “Di pesantren, kita diajarin menghormati siapa pun, entah itu tamu, teman, atau orang yang lebih tua,” ucapnya.

Di tengah perubahan zaman dan arus digital yang kerap memicu interaksi serba cepat, nilai someah hade ka semah tetap relevan. Meski bentuknya menyesuaikan konteks, esensinya masih sama: menjaga perasaan orang lain dan menciptakan ruang yang aman dalam berinteraksi.

Sikap ini juga menjadi penyeimbang di tengah budaya individualistik yang mulai tumbuh. Keramahan dan kesantunan dianggap sebagai cara sederhana menjaga hubungan sosial agar tetap hangat dan manusiawi. Bahkan di ruang digital, sebagian masyarakat Sunda masih berupaya membawa nilai tersebut dengan memilih kata yang lebih hati-hati saat berpendapat.

Bagi Intan, someah hade ka semah bukan berarti selalu mengalah. “Ramah itu bukan lemah. Kita tetap bisa punya pendirian, tapi cara nyampeinnya dijaga,” ujarnya. Ia menilai nilai ini justru mengajarkan kedewasaan dalam bersikap. (*)

« Previous PageNext Page »

  • vb