FKLL Jasa Raharja Samarinda Dorong Peningkatan Keselamatan Berlalu Lintas

December 24, 2025 by  
Filed under Serba-Serbi

SAMARINDA – Jasa Raharja Kota Samarinda menyelenggarakan Forum Komunikasi Lalu Lintas (FKLL) bersama para mitra terkait, Senin (22/12/2025).

Kepala Cabang Jasa Raharja Samarinda, Patria Adiwibawa menjelaskan, forum ini merupakan wujud sinergi lintas instansi dalam upaya menekan angka kecelakaan lalu lintas serta meningkatkan keselamatan para pengguna jalan di Kabupaten Rembang.

Pada pertemuan tersebut, para peserta membahas pemetaan sekaligus evaluasi titik-titik rawan kecelakaan (black spot). Hasil pembahasan ini akan ditindaklanjuti melalui pemasangan papan dan spanduk imbauan keselamatan di lokasi-lokasi yang dinilai berpotensi tinggi terjadi kecelakaan. Langkah ini diharapkan mampu meningkatkan kewaspadaan masyarakat saat berlalu lintas.

Forum ini menjadi wadah komunikasi yang efektif untuk mengidentifikasi berbagai permasalahan di lapangan serta merumuskan solusi bersama, demi mewujudkan kondisi lalu lintas yang lebih tertib, aman, dan selamat. Kegiatan ditutup dengan kesepakatan untuk memperkuat koordinasi lintas sektor serta meningkatkan edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya keselamatan berkendara.

Seluruh anggota FKLL menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Jasa Raharja atas kontribusinya dalam upaya pencegahan kecelakaan, khususnya melalui penyediaan papan dan spanduk imbauan keselamatan. Mereka juga berharap kegiatan serupa dapat dilaksanakan secara berkelanjutan guna menurunkan angka kecelakaan dan fatalitas korban, terutama di wilayah Kabupaten Rembang.

Sebagai lembaga yang bertanggung jawab memberikan perlindungan dasar bagi korban kecelakaan lalu lintas jalan, Jasa Raharja menjalankan amanat undang-undang, yakni UU Nomor 33 tentang Dana Pertanggungan Wajib Kecelakaan Penumpang serta UU Nomor 34 Tahun 1964 tentang Dana Kecelakaan Lalu Lintas Jalan. Ketentuan inilah yang menjadi landasan utama dalam pelaksanaan program kerja Jasa Raharja untuk memberikan pelayanan dan perlindungan kepada masyarakat. (*)

Liburan Hemat Ala Gen Z di Tengah Keterbatasan Biaya

December 24, 2025 by  
Filed under Serba-Serbi

SAMARINDA – Di tengah tekanan ekonomi dan naiknya biaya hidup, generasi Z memilih cara yang lebih realistis dalam menghabiskan waktu liburan. Alih-alih bepergian jauh dengan anggaran besar, banyak anak muda justru mengadopsi konsep liburan hemat atau low budget traveling yang dinilai lebih adaptif dan sesuai dengan kondisi keuangan mereka.

Tren ini terlihat dari meningkatnya minat Gen Z terhadap liburan singkat di dalam kota, kunjungan ke ruang terbuka publik, hingga perjalanan bersama teman dengan sistem patungan. Bagi mereka, liburan tidak selalu soal destinasi mahal, melainkan pengalaman dan jeda sejenak dari rutinitas.

Salah satu mahasiswa di Samarinda, Ion (22), mengaku memilih liburan sederhana bersama teman-temannya karena keterbatasan biaya. Ia dan rekan-rekannya memanfaatkan waktu libur dengan piknik di ruang terbuka dan menjelajah kafe lokal.

“Kalau dipikir-pikir, yang penting itu kumpul dan suasananya. Kami lebih memilih tempat dekat, bawa bekal sendiri, dan atur pengeluaran bareng-bareng,” ujar Ion saat diwawancarai, Senin (23/12/2025).

Menurutnya, liburan hemat justru membuat perjalanan terasa lebih fleksibel dan tidak membebani secara finansial setelah liburan usai. Ia menyebut, kesadaran finansial menjadi salah satu pertimbangan utama Gen Z dalam merencanakan waktu libur.

Hal serupa juga dirasakan Adrizdan (23), pekerja lepas di bidang kreatif. Ia memilih melakukan liburan sederhana di rumah sambil membuat konten akhir tahun.
“Sekarang lagi banyak tren konten kilas akhir tahun. Jadi sambil liburan di rumah, aku bisa refleksi setahun ke belakang dan tetap produktif,” katanya.

Fenomena ini sejalan dengan kebiasaan Gen Z di media sosial yang kerap membagikan momen liburan sederhana, seperti foto perjalanan singkat, dump kenangan setahun, hingga ringkasan pencapaian pribadi. Liburan tidak lagi ditampilkan sebagai simbol kemewahan, melainkan sebagai ruang refleksi dan pemulihan diri. (intan)

Refleksi Akhir Tahun di Linimasa Gen Z

December 24, 2025 by  
Filed under Serba-Serbi

SAMARINDA – Menjelang pergantian tahun, linimasa media sosial dipenuhi unggahan reflektif. Mulai dari photo dump perjalanan selama setahun, rangkuman pencapaian akademik dan karier, hingga potongan momen sederhana yang dirangkai sebagai penanda waktu. Bagi banyak orang, terutama Gen Z, akhir tahun menjadi ruang untuk berhenti sejenak dan melihat kembali perjalanan yang telah dilalui.

Konten ringkasan akhir tahun ini kerap hadir dalam berbagai format kolase foto, video singkat dengan musik emosional, hingga catatan refleksi yang menyertai setiap unggahan. Tak jarang, unggahan tersebut menjadi cara seseorang mendokumentasikan proses hidup yang selama ini berjalan tanpa banyak disadari.

Alfi (24) seorang gen z yang mengikuti tren ini menuturkan, unggahan akhir tahun yang ia bagikan bukan semata untuk dilihat orang lain, melainkan sebagai pengingat personal.

“Kadang kita lupa sudah sejauh apa melangkah. Dengan merangkum satu tahun, aku jadi lebih menghargai proses yang sudah dijalani, meskipun tidak semuanya besar atau sempurna,” ujarnya.

Fenomena ini menunjukkan perubahan cara generasi muda memaknai pencapaian. Jika sebelumnya keberhasilan kerap diukur dari hasil besar, kini momen kecil seperti bertahan di masa sulit, belajar konsisten, atau berani mencoba hal baru juga mendapat tempat dalam narasi akhir tahun.

Namun, refleksi digital ini juga mengajak pengguna untuk lebih bijak dalam memaknai unggahan orang lain. Lisda (23), menyebut, setiap konten akhir tahun sejatinya hanya potongan cerita.

“Apa yang terlihat di media sosial itu bukan keseluruhan hidup seseorang. Semua orang punya fase jatuh yang tidak selalu dibagikan,” katanya.

Di tengah ramainya unggahan pencapaian, sebagian Gen Z memilih cara yang lebih sunyi dalam menutup tahun. Tidak sedikit yang menyimpan refleksi secara privat dalam jurnal, catatan digital, atau percakapan terbatas dengan orang terdekat.

Akhir tahun, dengan segala unggahan dan refleksinya, pada akhirnya kembali pada makna personal. Entah dibagikan ke ruang publik atau disimpan sendiri, momen ini menjadi pengingat setiap orang memiliki garis waktu yang berbeda. Merayakan proses, sekecil apa pun, menjadi cara sederhana untuk menghargai diri sebelum melangkah ke tahun yang baru. (intan)

Dianggap Menakutkan, Minat Nikah Anak Muda Menurun

December 22, 2025 by  
Filed under Serba-Serbi

SAMARINDA — Tren pernikahan di Indonesia terus mengalami penurunan dalam beberapa tahun terakhir. Sejumlah generasi muda menunda atau menolak menikah karena dianggap menakutkan. Fenomena ini disebut “marriage is scary” yang ramai diperbincangkan di jagat maya. Pandangan ini kini semakin mewarnai persepsi generasi muda terhadap institusi pernikahan, tak terkecuali di Provinsi Kalimantan Timur.

Kepala Kantor Wilayah (Kakanwil) Kementerian Agama Provinsi Kalimantan Timur, Abdul Khaliq, mengakui kekhawatiran generasi muda terhadap pernikahan turut dipengaruhi oleh tren sosial yang berkembang akhir-akhir ini.

“Saat ini memang terlihat tren pernikahan menurun. Banyak orang, khususnya anak muda, yang seakan-akan merasa takut untuk menikah,” katanya saat ditemui, Sabtu (20/12/2025).

Menurut Abdul Khaliq, selain faktor ekonomi, anak muda kerap melihat contoh-contoh perceraian di lingkungan mereka, yang kemudian memperkuat keyakinan bahwa pernikahan adalah sesuatu yang menakutkan.

“Padahal, pernikahan itu tidak serta-merta membuat seseorang menjadi miskin. Rezeki sudah ditentukan masing-masing,” ujarnya. Ia juga menekankan, pernikahan adalah bagian dari sunnah Rasulullah yang perlu didorong dengan kesiapan mental, ekonomi, dan pemahaman yang matang.

Fenomena Married Is Scarry ini juga bukan sekedar jargon belaka, survei menunjukkan sebagian Gen Z menempatkan pernikahan masih jauh dari prioritas hidup mereka, meskipun mayoritas tidak sepenuhnya menolak menikah di masa depan.

Data resmi Badan Pusat Statistik (BPS) mengonfirmasi tren penurunan pernikahan di Indonesia secara konsisten. Jumlah pernikahan nasional turun dari lebih dari 2 juta pasangan pada 2018 menjadi sekitar 1,47 juta pasangan pada 2024, atau turun hampir 30 persen dalam satu dekade.

Sementara itu, data tingkat perceraian di Indonesia masih menunjukkan angka yang relatif tinggi meskipun belakangan menurun dibanding puncaknya. Pada tahun 2024, tercatat sekitar 394.000 kasus perceraian di seluruh Indonesia.

Di tingkat lokal, Provinsi Kalimantan Timur juga mencatat dinamika signifikan. Pada tahun 2024, menurut data BPS Kaltim, tercatat 20.940 pernikahan dan 6.216 perceraian, yang berarti sekitar 29,7 persen dari pasangan yang menikah di wilayah ini berujung pada perceraian dalam periode yang sama sebuah gambaran yang menunjukkan tantangan dalam ketahanan rumah tangga di daerah.

Tren perceraian yang masih tinggi turut memperkuat rasa takut sebagian anak muda terhadap komitmen pernikahan. Meskipun angka perceraian nasional menunjukkan sedikit penurunan dibanding beberapa tahun sebelumnya, jumlahnya tetap signifikan. Faktor-faktor seperti pertengkaran terus-menerus, persoalan ekonomi, dan ketidaksiapan pasangan sering disebut dalam berbagai riset sebagai penyebab utama.

Kakanwil Kemenag Kaltim, Abdul Khaliq, menyatakan pentingnya edukasi pra-nikah dan pendampingan keluarga untuk menguatkan pondasi rumah tangga. “Pemahaman yang matang dan kesiapan diri sangat krusial agar pernikahan dilihat sebagai perjalanan hidup yang mulia, bukan sesuatu yang menakutkan,” ujarnya menutup. (intan)

Minyak Atsiri Endemik Kaltim Jadi Identitas Aroma Hotel

December 21, 2025 by  
Filed under Serba-Serbi

SAMARINDA – Universitas Mulawarman melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) bekerja sama dengan PT Swadaya Putra Jaya atau Mesra Group meluncurkan produk minyak atsiri berbahan tumbuhan endemik Kalimantan Timur. Produk tersebut ditetapkan sebagai identitas aroma Hotel Mesra International, sekaligus menjadi tonggak pemanfaatan riset perguruan tinggi ke dunia industri perhotelan.

Peluncuran ini merupakan hasil riset lintas disiplin yang melibatkan sejumlah fakultas di Universitas Mulawarman. Guru Besar Fakultas Ekonomi Unmul sekaligus Ketua Tim Pengusul riset, Prof. Rahmawati, menjelaskan, minyak atsiri dari sektor kehutanan memiliki karakter aroma yang lembut, segar, dan berkelas. Potensi tersebut dinilai sangat relevan dikembangkan sebagai sensor branding, khususnya di sektor hospitality.

Menurut Rahmawati, riset ini tidak hanya bertujuan menghasilkan produk beraroma khas, tetapi juga membuka peluang pemanfaatan hasil hutan bukan kayu secara berkelanjutan. Ia berharap pengembangan minyak atsiri ini dapat berlanjut hingga proses paten sederhana, sehingga implementasinya bisa diperluas tidak hanya di hotel, tetapi juga di lingkungan pemerintah daerah dan ruang publik di Kalimantan Timur.

“Kami berharap hasil riset ini tidak berhenti sebagai inovasi akademik, tetapi bisa digunakan secara luas, berkelanjutan, dan memberikan manfaat ekonomi, termasuk bagi UMKM dan ekosistem akademik,” ujarnya.

Pemanfaatan tanaman hasil hutan bukan kayu memiliki nilai strategis karena dapat menjadi sumber ekonomi alternatif tanpa harus merusak hutan. Produk minyak atsiri ini juga diharapkan dapat dipasarkan sebagai produk turunan, baik di hotel, lingkungan kampus, hingga jaringan alumni Universitas Mulawarman.

Wakil Dekan Bidang Akademik Fakultas Kehutanan dan Lingkungan Tropis Unmul, Prof. Harlinda Kuspradini, menyampaikan, riset ini berangkat dari sinergi dua bidang keilmuan, yakni ekonomi dan kehutanan. Kolaborasi tersebut melihat besarnya potensi biodiversitas hutan tropis basah Kalimantan Timur, khususnya tumbuhan aromatik yang selama ini telah lama ia teliti.

“Penelitian tumbuhan aromatik ini sebenarnya sudah kami lakukan bertahun-tahun. Dalam program KDRK ini, ide tersebut kemudian dikembangkan menjadi sensory branding dengan mengangkat kearifan lokal,” jelasnya.

Pada kurun empat bulan terakhir, tim peneliti melakukan uji coba terhadap 13 jenis minyak atsiri yang telah dihasilkan sebelumnya. Melalui proses seleksi dan analisis, termasuk melibatkan tim dari bidang psikologi, terpilih empat aroma unggulan, yakni berbasis kayu manis, kapur, serai, serta jenis tanaman aromatik endemik lainnya. Keempat aroma tersebut dinilai paling sesuai untuk menjadi ciri khas Hotel Mesra.

Harlinda menegaskan, aspek keberlanjutan menjadi perhatian utama tim peneliti. Pengambilan bahan baku dilakukan melalui proses bioprospeksi yang terkontrol, serta dibarengi dengan upaya budidaya tanaman aromatik untuk menjaga ketersediaan bahan baku di masa depan.

“Ada hulu dan hilir yang harus sama-sama dijaga. Kalau produknya laku, hulunya juga harus kuat dan lestari,” katanya.

Kolaborasi riset ini melibatkan empat fakultas, yakni Fakultas Ekonomi, Fakultas Kehutanan dan Lingkungan Tropis, FISIP, serta Fakultas Teknik.

Wakil Rektor I Bidang Akademik Unmul, Prof. Lambang Subagiyo, menilai inovasi minyak atsiri ini sebagai bentuk hilirisasi riset yang sejalan dengan konsep “kampus berdampak”.

Produk minyak atsiri Unmul sebenarnya telah memiliki paten dan dikembangkan selama lebih dari lima tahun, tidak hanya parfum, tetapi juga produk kesehatan dan kecantikan berbasis tanaman lokal. Namun, pemanfaatan dan branding di dunia industri baru mulai diperkuat melalui kerja sama dengan Hotel Mesra.

Dengan peluncuran ini, Universitas Mulawarman berharap inovasi minyak atsiri endemik Kalimantan Timur dapat menjadi identitas daerah, memperkuat daya saing industri perhotelan, serta membuktikan, riset akademik mampu memberikan dampak nyata bagi pembangunan ekonomi dan pelestarian lingkungan. (yud)

« Previous PageNext Page »

  • vb