Tasikmalaya, Kota Santri dengan Wajah Kehidupan yang Tenang

February 5, 2026 by  
Filed under Serba-Serbi

Tasikmalaya – Tasikmalaya dikenal luas sebagai salah satu kota santri di Jawa Barat. Julukan ini bukan sekadar label, melainkan tercermin dalam wajah kehidupan sehari-hari masyarakatnya. Ritme yang tenang, suasana religius, dan interaksi sosial yang tertib menjadi ciri khas yang masih bertahan hingga kini.

Keberadaan ratusan pesantren di Tasikmalaya membentuk karakter wilayah ini sejak lama. Pesantren tidak hanya berfungsi sebagai lembaga pendidikan keagamaan, tetapi juga menjadi pusat pembentukan nilai dan etika sosial. Aktivitas mengaji, shalat berjamaah, hingga kegiatan keagamaan lainnya berjalan berdampingan dengan kehidupan masyarakat sekitar.

Bagi Alfi, perempuan asal Bandung yang telah lama tinggal di Tasikmalaya dan mengenyam pendidikan di pesantren, suasana kota santri memberikan rasa aman dan nyaman.

“Di Tasik itu hidupnya terasa lebih teratur. Ada waktu belajar, waktu ibadah, dan waktu istirahat,” ujarnya. Menurut Alfi, lingkungan pesantren turut membentuk kebiasaan hidup yang tidak tergesa. “Segala sesuatu dijalani pelan-pelan, tapi terarah,” katanya.

Wajah kehidupan yang tenang juga tercermin dari interaksi sosial masyarakat Tasikmalaya. Sikap saling menghormati, menjaga tutur kata, dan menghargai ruang privat menjadi kebiasaan yang tumbuh secara alami. Keramaian tetap ada, namun jarang terasa bising. Kegiatan berlangsung dalam batas yang tertib.

Selain kehidupan religius, Tasikmalaya juga memiliki kekayaan budaya dan alam yang mendukung suasana tenang. Kawasan pedesaan dengan hamparan sawah, perbukitan, serta aliran sungai menjadi latar kehidupan sehari-hari. Banyak warga menghabiskan waktu dengan aktivitas sederhana yang dekat dengan alam.

Fakta menariknya, julukan kota santri tidak membuat Tasikmalaya tertutup terhadap perubahan. Pendidikan umum, aktivitas ekonomi, dan pariwisata tetap berkembang. Namun, nilai religius dan kesederhanaan tetap menjadi fondasi. Modernitas hadir tanpa menggeser identitas utama.

Alfi menilai, ketenangan Tasikmalaya justru menjadi kekuatan. “Banyak orang sekarang cari tempat yang bisa bikin mereka berhenti sejenak. Tasik itu salah satunya,” ujarnya. Ia menyebut, suasana religius dan kehidupan yang tertib memberi ruang bagi refleksi diri.

Someah Hade ka Semah, Kebiasaan Lama yang Masih Hidup di Jawa Barat

February 5, 2026 by  
Filed under Serba-Serbi

Tasikmalaya – Ungkapan someah hade ka semah telah lama menjadi bagian dari identitas masyarakat Sunda. Frasa ini bukan sekadar pepatah, melainkan pedoman bersikap yang masih hidup dan dipraktikkan dalam keseharian warga Jawa Barat. Ramah kepada tamu, terbuka pada pendatang, dan menjaga tutur kata menjadi cerminan nilai yang terus diwariskan lintas generasi.

Dalam kehidupan sehari-hari, sikap someah tampak dalam hal-hal sederhana, senyum saat menyapa orang baru, tutur bahasa yang halus, hingga kebiasaan mempersilakan tamu sebelum kepentingan pribadi. Nilai ini tumbuh dari budaya agraris masyarakat Sunda yang terbiasa hidup berdampingan dan saling bergantung satu sama lain.

Bagi masyarakat Sunda, tamu bukan sekadar orang yang datang, tetapi bagian dari hubungan sosial yang harus dijaga dengan penuh hormat. Keramahan dianggap sebagai bentuk adab sekaligus cara merawat harmoni. Tidak heran, sikap someah kerap menjadi kesan pertama yang dirasakan pendatang saat berada di Jawa Barat.

Intan, perempuan Sunda yang kerap berinteraksi dengan berbagai latar belakang budaya, menilai nilai someah hade ka semah sangat membantunya dalam kehidupan sosial.

“Dari kecil aku diajarin buat ramah ke siapa pun. Bukan basa-basi, tapi memang kebiasaan,” ujarnya. Menurut Intan, sikap tersebut membuatnya lebih mudah beradaptasi, termasuk saat berada di lingkungan baru. “Orang jadi lebih terbuka kalau kita datang dengan sikap baik,” katanya.

Nilai someah juga tercermin kuat dalam lingkungan pesantren. Intan mengungkapkan, kebiasaan menyambut tamu dan menjaga tutur kata menjadi bagian dari pendidikan karakter. “Di pesantren, kita diajarin menghormati siapa pun, entah itu tamu, teman, atau orang yang lebih tua,” ucapnya.

Di tengah perubahan zaman dan arus digital yang kerap memicu interaksi serba cepat, nilai someah hade ka semah tetap relevan. Meski bentuknya menyesuaikan konteks, esensinya masih sama: menjaga perasaan orang lain dan menciptakan ruang yang aman dalam berinteraksi.

Sikap ini juga menjadi penyeimbang di tengah budaya individualistik yang mulai tumbuh. Keramahan dan kesantunan dianggap sebagai cara sederhana menjaga hubungan sosial agar tetap hangat dan manusiawi. Bahkan di ruang digital, sebagian masyarakat Sunda masih berupaya membawa nilai tersebut dengan memilih kata yang lebih hati-hati saat berpendapat.

Bagi Intan, someah hade ka semah bukan berarti selalu mengalah. “Ramah itu bukan lemah. Kita tetap bisa punya pendirian, tapi cara nyampeinnya dijaga,” ujarnya. Ia menilai nilai ini justru mengajarkan kedewasaan dalam bersikap. (*)

Ngaliwet dan Ngariung, Tradisi Orang Sunda yang Merawat Kebersamaan

February 5, 2026 by  
Filed under Serba-Serbi

Tasikmalaya – Di tengah kehidupan yang semakin individual, masyarakat Sunda masih memegang kuat tradisi ngaliwet dan ngariung sebagai cara sederhana merawat kebersamaan. Tradisi ini bukan sekadar aktivitas makan bersama, melainkan ruang bertemunya rasa, cerita, dan ikatan sosial yang tumbuh secara alami.

Ngaliwet merujuk pada kegiatan memasak dan menyantap nasi liwet secara bersama-sama. Biasanya dilakukan di atas daun pisang, tanpa meja dan kursi, dengan posisi duduk melingkar. Sementara ngariung berarti berkumpul, bercengkerama, dan berbagi waktu tanpa sekat. Keduanya kerap berjalan beriringan dan menjadi bagian dari kehidupan sosial orang Sunda sejak lama.

Secara historis, tradisi ngaliwet berakar dari kehidupan agraris masyarakat Sunda. Nasi liwet awalnya dimasak oleh para petani di sawah sebagai bekal makan bersama setelah bekerja. Dari kebiasaan sederhana itu, ngaliwet berkembang menjadi simbol kebersamaan, egaliter, dan rasa syukur atas hasil alam.

Menu ngaliwet dikenal sederhana namun kaya rasa. Nasi dimasak dengan santan, bawang, dan serai, lalu disajikan bersama lauk seperti ikan asin, ayam goreng, tahu, tempe, sambal, lalapan, serta tak jarang ditambah pete atau jengkol. Semua lauk diletakkan di tengah, tanpa piring pribadi, menegaskan nilai kebersamaan dan kesetaraan.

Tradisi ini masih hidup hingga kini, termasuk di lingkungan pesantren. Intan, perempuan Sunda yang menempuh pendidikan di pesantren, mengaku ngaliwet menjadi salah satu momen yang paling ia rindukan.

“Di pesantren, ngaliwet itu bukan cuma soal makan. Itu waktu buat duduk bareng, ngobrol, ketawa, dan ngerasa dekat satu sama lain,” ujarnya.

Menurut Intan, ngaliwet kerap dilakukan pada momen tertentu, seperti akhir pekan, libur, atau saat ingin melepas penat bersama. “Kadang nggak perlu acara besar. Cukup niat ngariung, masak bareng, lalu makan rame-rame. Justru itu yang bikin hangat,” katanya.

Selain mempererat hubungan, ngaliwet juga mengajarkan nilai kesederhanaan dan kebersamaan. Semua orang makan menu yang sama, duduk sejajar tanpa pembeda. Tidak ada hirarki, tidak ada jarak. Nilai ini menjadi ciri khas budaya Sunda yang menjunjung harmoni dalam kehidupan sosial.

Fakta menariknya, tradisi ngaliwet kini tidak hanya bertahan di desa atau lingkungan tradisional. Di kota-kota besar, ngaliwet sering diadopsi sebagai konsep kebersamaan dalam komunitas, organisasi, hingga keluarga muda. Meski dikemas lebih modern, esensi ngariung tetap dijaga. (intan)

Mekkah dan Madinah, Kota Ramai Tanpa Deru Motor

February 4, 2026 by  
Filed under Serba-Serbi

Arab Saudi – Selama berada di Mekkah dan Madinah, saya tidak pernah merasa kota ini “kosong kendaraan”. Mobil pribadi, taksi, dan bus jamaah justru lalu-lalang hampir tanpa henti, terutama di jalan-jalan utama, area hotel, dan jalur antar kawasan. Namun ada satu hal yang mencolok, hampir tidak ada sepeda motor.

Di sekitar Masjidil Haram dan Masjid Nabawi terutama di area pelataran, plaza, dan jalur pejalan kaki yang mendominasi bukan kendaraan kecil, melainkan bus besar, mobil operasional, dan arus manusia yang berjalan kaki. Tidak terdengar raungan knalpot motor, tidak ada pengendara yang menyelip di antara jamaah.

Fenomena ini bukan kebetulan. Pemerintah Arab Saudi memang membatasi keras penggunaan kendaraan roda dua di kawasan inti ibadah. Sepeda motor, skuter, dan kendaraan ringan tidak diizinkan masuk ke zona pedestrian Masjidil Haram dan Masjid Nabawi demi alasan keselamatan dan pengendalian massa. Kebijakan ini tercantum dalam pedoman keamanan dan transportasi jamaah yang dikeluarkan Kementerian Dalam Negeri Arab Saudi, terutama pada musim padat umrah dan haji.

Sementara itu, mobil dan bus tetap menjadi tulang punggung transportasi kota. Bus-bus besar pengangkut jamaah berhenti di titik-titik tertentu yang telah diatur, lalu jamaah melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Taksi dan kendaraan hotel juga tetap beroperasi, namun tidak masuk ke area pelataran masjid.

Bagi saya pribadi, perbedaan ini terasa unik. Di banyak kota besar, kendaraan roda dua justru paling gesit dan mendominasi jalan. Namun di Tanah Suci, ritmenya dibalik, kendaraan besar diatur rapi, kendaraan kecil disingkirkan dari pusat ibadah, dan manusia diberi ruang untuk berjalan.

Berjalan kaki menjadi pengalaman yang tak terpisahkan dari ibadah. Dari hotel menuju masjid, dari satu gerbang ke gerbang lain, langkah kaki terasa menyatu dengan doa. Tanpa motor yang menyelip atau klakson yang memotong konsentrasi, suasana menjadi lebih tenang, meski tetap ramai.

Di Madinah, suasana ini bahkan terasa lebih lembut. Bus dan mobil tetap ada, tetapi bergerak perlahan dan tertib. Jamaah berjalan beriringan menuju Masjid Nabawi, seolah kota ini memang dirancang untuk membuat orang melambat, bukan mempercepat.

Ketiadaan motor di area inti bukan sekadar kebijakan lalu lintas. Ia membentuk pengalaman spiritual yang berbeda. Di kota yang biasanya identik dengan kecepatan, Mekkah dan Madinah justru mengajarkan satu hal sederhana: ibadah tidak butuh tergesa, dan kedekatan tidak selalu ditempuh dengan kendaraan tercepat. (intan)

Air Zamzam, Mata Air Keajaiban di Jantung Tanah Suci

February 4, 2026 by  
Filed under Serba-Serbi

Makkah, Arab Saudi — Air Zamzam bukan sekadar air biasa. Ia adalah cerita yang mengalir bersama sejarah, keyakinan, dan pengalaman jutaan manusia yang datang ke jantung Tanah Suci. Di antara bangunan-bangunan megah dan ritme tawaf yang bergerak tak henti, mata air Zamzam berdiri sebagai satu hal yang tak pernah luput dicari seperti magnet yang mengikat hajat dan harapan jamaah.

Kisah Zamzam bermula ribuan tahun silam, saat Nabi Ibrahim AS diperintahkan oleh Allah SWT untuk meninggalkan istri dan putranya, Ismail, di padang pasir yang kemudian dikenal sebagai Makkah. Ketika Hajar mencari air untuk anaknya yang kehausan, ia berlari antara dua bukit Shafa dan Marwah sebanyak tujuh kali. Ketika langkah kaki keduanya hampir putus asa, Allah mengirimkan mata air di bawah kaki Ismail.

Mata air itu disebut Zamzam, yang dalam bahasa Arab berarti “berdesir” atau “mendesis”, menggambarkan bunyi air yang keluar dari perut bumi. Sejak saat itu, Zamzam menjadi sumber kehidupan di tengah gurun, menjadi alasan berdirinya kota Makkah, dan kemudian magnet bagi umat Islam dari seluruh penjuru dunia.

Hingga kini, aliran air Zamzam berhasil dipertahankan melalui sistem sumur dan pemompaan modern yang sangat terjaga. Di sekitar Masjidil Haram, terdapat puluhan titik penyajian air Zamzam, mulai dari kran-kran kecil di area tawaf, dispenser otomatis di tempat-tempat strategis, hingga wadah besar yang dijaga petugas khusus.

Sebagian besar titik itu berada di area bawah tanah (bawah mata lantai marmer) yang dikenal sebagai Tannur Zamzam. Dari sini, jutaan liter air dipompa dan didistribusikan setiap hari selama jam ibadah, baik siang maupun malam termasuk pada saat kunjungan saya pada pertengahan Januari 2026, ketika Masjidil Haram dipenuhi jutaan jamaah dari seluruh dunia.

Secara spiritual, umat Islam percaya bahwa air Zamzam memiliki keberkahan besar. Dalam banyak riwayat, Nabi SAW. menganjurkan minum air Zamzam dengan niat yang tulus:

“Air Zamzam itu untuk apa ia diminum.”
(HR. Ibnu Majah dan Ahmad)

Artinya, setiap orang boleh mengambil maksud yang berbeda saat minum air Zamzam, apakah itu untuk kesehatan, kelancaran hajat, atau ketenangan batin selama niatnya baik dan sesuai syariat.

Secara ilmiah, sejumlah penelitian menunjukkan, air Zamzam memiliki kandungan mineral yang unik, termasuk kalsium, magnesium, natrium, dan bikarbonat, yang menjadikannya air yang relatif stabil dan aman dikonsumsi. Meski demikian, penelitian ilmiah tidak serta-merta membuktikan keberkahan spiritualnya, kepercayaan itu tetap berada di ranah keyakinan umat Islam.

Minum air Zam-zam adalah momen yang tidak ingin aku lewatkan, hari itu ketika aku selesai shalat, aku menghampiri salah satu titik air Zamzam di area Masjidil Haram pada siang hari yang sangat ramai. Antrian panjang terlihat mengular, mengular, hampir setengah mengelilingi lorong yang dipenuhi kran-kran kecil itu. Banyak jamaah tampak sabar menunggu giliran, berdiri di bawah terik matahari atau di sela-sela kerumunan yang bergerak pelan.

Aku pun berniat ikut mengantri, dengan harapan bisa menyeruput air itu seperti yang selama ini kuimpikan. Namun ketika aku hampir bergabung di belakang barisan panjang itu, sesuatu yang menakjubkan terjadi.

Seorang petugas yang menjaga titik air itu mendekat, berbicara dalam bahasa Arab sambil menunjuk ke arah air Zam-zam.
“Mau minum?,” ujarnya dalam bahasa Arab.

Aku hanya bisa mengangguk.

“Tentu,” ujar lelaki itu, kemudian mengambilkan segelas air Zamzam dan menyerahkannya kepadaku.

Masya Allah.

Di tengah kerumunan yang padat, ketika semua berjalan lambat dan penuh sabar, aku mendapatkan air itu dengan mudah. Tanpa antrian panjang, tanpa jeda panjang menunggu giliran. Semua itu, aku yakin, adalah pertolongan Allah, yang datang dalam bentuk yang paling sederhana dan penuh makna. Di antara jutaan langkah kaki yang berputar di sekitar Ka’bah, aku merasa seolah Allah berkata: “Ambillah ini sekarang.”

Air itu terasa manis di tenggorokan, bersih, dan sejuk. Dalam setiap tegukan, aku menaruh doa panjang yang tak terucap doa untuk keluarga di rumah, doa untuk perjalanan hidup yang belum usai, doa agar segala usaha jadi lebih berarti.

Sumur Zamzam tidak pernah kering, meski telah mengalir selama lebih dari 4.000 tahun. Lokasi asalnya tetap di bawah Ka’bah, meskipun sistem distribusi telah diperluas secara modern.

Air Zamzam adalah air mineral alami, tidak melalui proses penyaringan kimiawi; sumbernya langsung dari tanah suci.

Jumlah konsumsi per hari bisa mencapai jutaan liter, terutama saat musim haji dan umrah.

Setiap jamaah boleh membawa pulang air Zamzam, sesuai ketentuan masing-masing negara namun tetap ada batasan tertentu demi keselamatan transportasi udara. (intan)

« Previous PageNext Page »

  • vb

  • Pengunjung

    1495172
    Users Today : 3645
    Users Yesterday : 6601
    This Year : 431682
    Total Users : 1495172
    Total views : 13142603
    Who's Online : 42
    Your IP Address : 216.73.216.33
    Server Time : 2026-03-18