Makna Ketidakhadiran Presiden di HPN

February 9, 2026 by  
Filed under Opini

Catatan Hendry Ch Bangun
(Forum Wartawan Kebangsaan)

Presiden Republik Indonesia tidak hadir di puncak acara peringatan Hari Pers Nasional (HPN), bukan hal baru. Gus Dur tidak hadir di HPN Banjarmasin, lalu diwakilkan kepada Megawati Soekarnoputri, karena waktu itu Presiden kurang sreg dengan PWI yang masih dianggap sebagai warisan Orde Baru, saat PWI Pusat dipimpin Tarman Azzam.

Joko Widodo tidak hadir di HPN Batam karena baru saja keliling ASEAN setelah dilantik sebagai presiden dan selisih waktunya hanya 2 hari sehingga kehadirannya diwakilkan kepada HM Jusuf Kalla, saat kepemimpinan PWI Pusat dijabat Margiono.

Prabowo Subianto tidak hadir di HPN Banjarmasin karena disebut-sebut adanya dualisme di kepengurusan PWI Pusat, tidak ingin dianggap berpihak, meski sebenarnya yang terjadi adalah kudeta berbalut Kongres Luar Biasa yang tidak pernah diakui negara.

Hendry Ch Bangun

Setelah Kongres PWI di Cikarang, tahun 2025, yang terjadi setelah Hendry Ch Bangun setuju ada percepatan pemilihan pengurus baru untuk kesatuan PWI Pusat, semua berharap tidak akan ada lagi masalah. Apalagi jelas ada restu pemerintah, kongres dibuka Menkomdigi, diadakan di fasilitas Komdigi, dan pengurus baru disambut baik Menkomdigi.

Tetapi ternyata di Hari Pers Nasional di Serang, Banten, Presiden Prabowo Subianto tidak hadir. Maka tidak sedikit yang bertanya-tanya, ada apa di Jelambar? Persis pertanyaa kode buntut di tahun 1970-an yang jawabnya bisa apa saja. Terserah ditafsirkan sendiri. *

Sebagai Ketua Umum PWI Pusat yang terpilih secara sah di Kongres 2023 Bandung, saya merasa sedih bahwa Hari Pers Nasional yang ditetapkan melalui Keputusan Presiden no 5 tahun 1985, siapapun ketuanya saat ini. Presiden seperti tidak menghargai PWI, yang berkongres 9-10 Februari tahun 1946 di Solo, untuk menyatukan kekuatan wartawan se Indonesia, dan menyatakan tekad berdiri bersama para pejuang kemerdekaan untuk menjaga eksistensi dan kedaulatan Republik Indonesia.

Ya, wartawan tidak hanya berjuang melalui tulisan dan teriakan di depan mikrofon, untuk menunjukkan kepada dunia, bahwa Indonesia masih ada, bahwa kepemimpinan Soekarto-Hatta dengan Perdana Menteri Sjahrir, masih didukung puluhan juta rakyat. Bahwa seluruh komponen bangsa, para pekerja, pegawai negeri, dan rakyat setia pada perjuangan yang telah melahirkan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus tahun 1945. Itulah fakta lahirnya Keppres No 5 tahun 1985. Masak peringatan HPN tidak dihadiri Presiden yang membuat Keppres, siapapun presidennya?

Sungguh ironis karena PWI jelas ideologi kebangsaannya, dengan menempatkan Pancasila dan UUD 45 sebagai landasan berpikir, filosofi, dalam menjalankan profesi kewartawanan, persis seperti yang sering disampaikan dalam pidato Presiden Prabowo Subianto. PWI itu Merah Putih dan NKRI Harga Mati, tidak sekadar bersandar pada Humanisme Universal.

Orang bisa mengatakan, tokh ada Menko yang hadir atas nama pemerintah, menunjukkan bahwa pemerintah masih mengapresiasi dan menghargai wartawan, organisasi pers, organisasi perusahan pers, dan tentu Dewan Pers, sebagai pilar pelaksanaan HPN. Tetapi tetap saja seperti sayur tanpa garam, karena justru garamnya itulah yang memberikan vitalitas, energi, kekuatan bagi pers dan media yang saat ini sudah dalam tahap Vivere Pericoloso, kalau kita mengacu pada pidato Presiden Soekarno pada 17 Agustus 1964. Tahun yang “hidup penuh bahaya” atau “menyerempet bahaya”.

Semua sudah berteriak bahwa media saat ini sedang terpuruk karena iklan media massa, sudah habis disedot platform digital, media sosial, dan kegiatan informasi yang nonpers. Belanja media pemerintah di pusat dan daerah, tidak lagi menghidupi secara normal kegiatan media, apalagi untuk membuat kegiatan usaha baru seperti tahun 1990-an. Kesejahteraan wartawan sudah pada tahap gawat darurat. Peraturan Dewan Pers, tentang gaji minimal wartawan setara UMP, mungkin hanya bisa dijalankan beberap media.

Saya berani bertaruh 95 persen lebih media yang saat ini hidup, menggaji dengaan upah kompromi, sesuai kesepakatan bawah tangan. Daripada pensiun dini, daripada menganggur dan tidak bekerja. Media yang memiliki tersertifikasi faktual, yang harus mencantumkan bukti transfer atau bayar gaji sesuai ketentuan, hampir semua mengakali aturan itu. Ya media harus hidup dan kalau tidak tersertifikasi, sering tidak diberi iklan oleh Pemprov dan Pemkab/Pemkot atau menjadi mitra kerjasama.

Dalam kondisi nafas ngap-ngapan, kata orang pinggir Jakarta, kehadiran Presiden RI di puncak acara HPN, akan bisa memberi semangat, kepercayaan bahwa pemerintah serius dalam menjaga kehidupan pers. Saya pernah menyampaikan kepada Menkominfo Rudiantara dan Johny Plate, memberi perhatian lebih kepada pers, minimal dengan memberikan bantuan berupa Pendidikan dan pelatihan, peningkatan kompetensi secara gratis kepada SDM pers. Jawaban keduanya sama, pada saat ini Kominfo atau sekarang Komdigi, tidak punya tugas fungsi membina pers layaknya di zaman Orde Baru. Semua urusan diserahkan ke Dewan Pers, dan karena anggarannya berupa hibah, ya jumlahnya secukupnya saja. Untuk program yang langsung berkaitan dengan peningkatan kompetensi pers, mungkin saat ini tidak sampai Rp 10 milyar, untuk sekitar 100.000 wartawan (30.000an bersertifikat kompetensi) seluruh Indonesia.

Sangat ironis karena pers selalu diminta ikut menjaga kewarasan, kejernihan di ruang publik, tidak ada ujaran kebencian, hoaks, apalagi provokasi, dan sikap antipemerintah, sedangkan media disuruh hidup sendiri dalam kondisi alam dan udara pengap. *

Tentu saja pers akan tetap terus bertahan dengan seluruh daya upaya, agar tetap professional dalam segala tantangan dan hambatan yang ada. Tidak akan putus asa, walaupun mungkin akan banyak yang profesionalismenya berkurang dan mengambil jalan pintas dan mencederai Kode Etik Jurnalistik yang menjadi landasan etika dan operasional.

Sebagaimana dikatakan Ketua Dewan Pers Prof Dr Komarudin Hidayat di acara HPN, masyarakat (yang sehat) akan selalu mencari air yang jernis di tengah banjir (informasi) dan itu artinya kalau pers menyajikan informasi yang sesuai KEJ dan memberi kesehatan jiwa, maka dia akan hidup. Tetapi apakah pers sehat betul-betul bisa bertahan dengan baik, mengingat biaya operasional untuk mendidik SDM pers yang mumpuni, kompeten, taat KEJ, tidak lagi murah. Apalagi untuk menjalankana manajemen perusahaan pers yang sesuai etos bisnis yang etis dan bermoral.

Ketika UU Pers dilahirkan pada tahun 1999, semangat para tokoh pers begitu besar, yakin akan bisa mandiri, independent, tidak perlu uluran tangan pemerintah dan masyarakat, untuk kehidupan pers yang sehat. Sampai tahun 2000-an betul begitu. Tetapi ketika platform media mulai membesar, media sosial mulai merajalela, bahkan kita kecerdasan buatan semakin terasa ikut campur dalam memproduksi berita, keadaan sudah harus dianggap darurat.

Absennya Presiden Prabowo Subianto, jangan kita anggap wujud cueknya pemerintah pada pers, tetapi barangkali juga karena bentuk ketidanmampuan insan pers untuk berkomunikasi dengan beliau melalui bawahan Presiden: untuk menunjukkan keprihatinan, sambil memperlihatkan peran penting pers dalam ikut membangun bangsa, ikut menjaga kedaulatan bangsa, dan menjadi aspirasi masyarakat yang menjerit karena kesulitan ekonomi.

Selamat Hari Pers Nasional. Majulah pers Indonesia. Merdeka

Serang, 9 Februari 2026.

RM, Wali Kota Termuda

February 8, 2026 by  
Filed under Opini

Catatan Rizal Effendi

MEMASUKI usia kota Balikpapan 129 tahun, perlu juga warga kota tahu siapa saja yang pernah memimpin kota ini. Dari catatan yang ada, jumlahnya  sudah 10 orang, terhitung sejak Balikpapan ditetapkan sebagai kota pada tahun 1960 bersama Samarinda.

Wali Kota pertama adalah Aji Raden Sayid (ARS) Mohammad, bertugas pada 1960-1963. Lalu yang kedua Bambang Sutikno (1963-1965). Menyusul Imat Saili sebagai wali kota ke-3 (1965-1967), lalu Zainal Arifin sebagai wali kota ke-4 (1967-1973) dan Asnawi Arbain sebagai wali kota ke-5 (1974-1981).

Sedang wali kota ke-6 adalah Syarifuddin Yoes (1981-1989), kemudian Tjutjup Suparna sebagai wali kota ke-7 (1991-2001), Imdaad Hamid menjadi wali kota ke-8 (2001-2011), dan saya, Rizal Effendi sebagai wali kota ke-9 (2011-2021).

Rahmad Mas’ud (RM)  menjadi wali kota Balikpapan ke-10. Dia mulai bertugas 31 Mei 2021. Sekarang memasuki masa tugas yang kedua sejak dilantik serentak 20 Februari 2025 di Jakarta.

Saya mengenal pemimpin Kota Beriman sejak wali kota ke-6, Syarifuddin Yoes. Dia kolonel CZI yang akrab dipanggil Pak Yoes. Ketika dia menjadi Dandim 0901 Samarinda, saya sempat ditangkap Pak Yoes gara-gara melakukan aksi demo di kampus. Masih era Orde Baru. Saat itu saya adalah mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Mulawarman (Unmul) Samarinda.

Pak Yoes adalah wali kota yang sangat mencintai Persiba Balikpapan. Berkat kegigihannya, Persiba saat itu naik ke Liga Utama. Berkat Pak Yoes juga lahirlah koran pertama di Kaltim yang bernama ManuntunG, tempat saya bekerja sebagai wartawan. Dalam perkembangannya ManuntunG bertransformasi menjadi Kaltim Post, yang 5 Januari lalu merayakan HUT-nya ke-38.

Penerus  perjuangan Pak Yoes adalah Tjutjup Suparna. Sama-sama dari Kodam VI/Mulawarman. Pak Tjutjup juga kolonel yang suka bola. Saya dan Syarifuddin HS (“Bung Jenderal”) sering bermain bola dengan Pak Tjutjup dalam tim kesebelasan yang dinamai “Kasbon.” Tapi uniknya Pak Tjutjup tak mau menangani Persiba secara langsung. Dia banyak fokus dalam penataan kota yang bersih dan indah. Sampai Balikpapan menjadi Kota Adipura. Di era Pak Tjutjup lahirnya lagu hymne Balikpapan. Dia secara khusus mengundang Sam Bimbo, sang pengarangnya ke Balikpapan.

Tentang Pak Imdaad, saya mengenalnya sejak di Samarinda. Waktu itu dia menjadi Kepala Humas Pemda Kaltim. Saya sering mewawancarainya, karena saya wartawan. Dia yang menggagas konsep Balikpapan Madinatul Iman. Pak Imdaad memimpin kota sangat bersahaja. Dia juga pemimpin cerdas dan religius. Dia berjuang keras agar Balikpapan tidak gelap. Era Pak Imdaad adalah era kita kekurangan listrik, sampai dia beli genset dan berjuang mendapatkan gas dari Total.

Rizal Effendi

Berkat Pak Imdaad, saya mendadak beralih profesi dari seorang wartawan menjadi pemimpin kota. Pak Imdaad yang mengajak saya menjadi pasangan Pilwali. Sebelumnya Pak Imdaad didampingi Pak Mukmin Faisal sebagai wakil wali kota. Tapi pada Pilwali 2005, Pak Mukmin maju sendiri bersama Gunawarman.

SUKSES TANPA WAWALI

Dilihat dari sisi usia, RM boleh dibilang wali kota Balikpapan termuda. Ketika dia dilantik, usianya saat itu baru 45 tahun. Wali kota lainnya rata-rata di atas kepala 5. Saya saja waktu itu sudah berusia 53 tahun. Pak Imdaad pada usia 57 tahun. Pak Tjutjup juga terbilang muda. Waktu jadi wali kota usianya 46 tahun. Satu tahun lebih tua dari RM.

Rahmat juga wali kota satu-satunya dari unsur pengusaha. Lainnya dari perwira kepolisian, TNI dan birokrat. Saya juga di luar unsur itu. Soalnya profesi saya sebelumnya jurnalis.

Gelar pendidikan RM juga terbilang paling tinggi. Yang lain rata-rata setingkat S1 atau perwira kembang 3. Sedang RM bersama wakilnya sekarang, Bagus Susetyo sama-sama bergelar doktor (Dr). Artinya, dia sukses menempuh S1, S2, sampai S3. Gelar doktor diraih RM di Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Unmul.

Periode masa bhakti pertama (2020-2025), RM menjalankan tugasnya sendiri. Wakil terpilih saat itu, Thohari Aziz dari PDIP meninggal dunia akibat Covid sebelum dilantik. Tak ada penggantinya sampai akhir masa jabatan.

Meski memimpin kota sendirian, RM sukses mempertahankan prestasi kota. Balikpapan tetap peraih terbanyak penghargaan keberhasilan pembangunan tingkat provinsi. Rata-rata 15 sampai 17 penghargaan diraih tiap tahun. Balikpapan juga selalu meraih penghargaan kota bersih, Adipura Kencana dan Kota Tertib Lalu Lintas. RM kepala daerah pertama di Kaltim yang sukses meluncurkan program BPJS Gratis. Selain juga baju seragam sekolah gratis.

RM mirip Pak Tjutjup. Sangat perhatian dengan taman-taman. Kota semakin cantik dan smart. Apalagi posisi Balikpapan semakin strategis dengan adanya Ibu Kota Nusantara (IKN). Rahmat juga sukses menggelar beberapa even nasional. Termasuk pertemuan para wali kota se Indonesia, yang tergabung dalam Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (APEKSI).

Ayah dari 5 anak hasil perkawinannya dengan Hj Nurlena ini, juga jago berolahraga. Kalau main bola, dia striker tajam yang mampu mencetak gol. Bisa bulutangkis, apalagi golf. Makanya dia bangun lapangan golf pribadi bernama Royal Mahligai Golf & Country di Kariangau. Dia juga mengembangkan olahraga berkuda di Balikpapan.

Sebelum menjadi wali kota, RM lima tahun memangku tugas sebagai wakil wali kota (wawali) periode 2016-2021. Dia mendampingi saya. Ketika saya memutuskan berpasangan dengan RM pada Pilwali 2015, beberapa sesepuh kota menolak. Mereka cenderung mendukung pasangan lain. Bahkan hampir semua tim sukses saya angkat kaki. Tinggal Zaenal Abidin atau Pak Zen yang bertahan dan menemani saya sampai sekarang. Dia memang teman sejati. Dan saya menang bersama RM.

Ada yang bertanya setelah 2030 nanti, ke mana RM melangkah? Apakah kembali ke dunia usaha atau terus berkiprah di dunia politik. Banyak yang memperkirakan dia akan terus berada dan berjuang di jalur kekuasaan. Kondisi itu sangat memungkinkan, selain masih muda, dia juga punya kemampuan logistik yang sangat memadai.

Beberapa kemungkinan politik bisa dilakukan RM. Dia bisa lukir dengan kakaknya, Hasanuddin Mas’ud. HAMAS menjadi Wali Kota Balikpapan dan dia menjadi Ketua DPRD Kaltim. Nanti di 2035, setelah Rudy Mas’ud (HARUM) selesai jadi gubernur, maka dia yang masuk menggantikannya. Rudy pasti manargetkan dua periode menjadi orang nomor satu Kaltim.

Ada juga yang bilang RM tertarik masuk ke DPR RI. Ada ambisi lain yang ingin dicapai. Dari situ dia akan berjuang masuk ke Kabinet. Apalagi kalau nanti Golkar yang memenangi Pemilu. Minimal bisa meraih wakil menteri. Apa tidak hebat jadinya? Pasti dia menjadi orang Kampung Baru pertama yang berada di lingkaran presiden. Hebat dan seru kalau jadi kenyataan.(*)

Prabowo dan Balikpapan

February 7, 2026 by  
Filed under Opini

Catatan Rizal Effendi

SEBAGAI presiden, rasanya baru sekali Prabowo Subianto ke Balikpapan. Itu dilakukannya Senin, 12 Januari 2026 ketika dia meresmikan proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Kilang Pertamina Balikpapan yang bernilai Rp123 triliun.

Baliho Partai Gerindra di Jalan Jenderal Sudirman

Dari Bandara SAMS Sepinggan, Prabowo naik mobil Maung putih RI 1 menuju lokasi acara di Jl  Yos Sudarso atau Jalan Minyak sejauh 15 km. Mobilnya yang dikawal satuan Polisi Militer (PM), lurus bergerak melewati Jalan Marsma Iswahyudi Gunung Bakaran dan Jalan Jenderal Sudirman, yang menjadi pusat kota.

Sepanjang jalan dia berdiri di atas mobilnya menyambut warga dan anak sekolah yang mengelu-elukan kedatangannya. Warga dan anak-anak berebut menyalaminya. Ada balita yang dicium kepalanya.

Kita pikir selama perjalanan Prabowo hanya fokus melayani warga kota dan anak sekolah saja. Ternyata dia juga memerhatikan kondisi wajah kota mulai infrastruktur jalannya sampai bangunan dan berbagai pernak-pernik yang ada di kiri kanan jalan.

Ketika memberi arahan pada Rakornas Pemerintah Pusat dan Daerah Tahun 2026 yang diikuti seluruh gubernur, wali kota, dan bupati se-Indonesia di Sentul Bogor, Senin (2/2/2026), Prabowo menyinggung wajah kota yang perlu mendapat perhatian. Dia sempat menyebut nama Balikpapan. Termasuk beberapa kota lainnya, di antaranya Banjarmasin, Bogor, dan di Provinsi Bali.

Sebelum ke Balikpapan, Prabowo lebih dulu berkunjung ke Kalsel. Jadi dia masih ingat kondisi kedua kota itu. Dia juga menyinggung jalan ke Bogor terutama Hambalang, karena itu jalan menuju kediaman pribadinya. Sedang Bali berkaitan dengan sejumlah komentar dan aduan dari para turis yang datang ke sana.

“Dalam rangka Indonesia Asri, terus terang saja saya minta kepada kepala pemerintah, ya tolong tertibkan iklan-iklan, spanduk-spanduk yang terlalu banyak. Kalau saya ke Balikpapan dan Banjarmasin tidak  berbeda, spanduk-spanduk-spanduk. Kalau saya naik ke Hambalang, juga spanduk-spanduk-spanduk. Ada iklan ayam goreng, pesan satu dapat satu free. Kenapa harus besar-besar sih?” ujar Presiden heran.

Dia juga mengingatkan tentang kondisi di Bali. “Orang datang ke Bali karena ingin melihat Bali. Dia tidak ingin lihat iklan Kentucky Fried Chicken dan McDonald yang besar-besar,” tandasnya.

Selain itu Prabowo juga menyinggung lingkungan Bali yang cenderung kotor dan banyak sampahnya terutama di pantai-pantai. “Saya di Korea ketemu tokoh-tokoh, menteri, jenderal dan terkadang tentara. Dia tidak pakai basa-basi. Your Excellency, I just came from Bali. Oh, Bali so dirty now. Bali not nice. Wah, tapi saya terima itu sebagai koreksi,” katanya.

Presiden minta agar pemerintah daerah melakukan penertiban. “Tolong tertibkan, ajak bicara para pengusaha, KADIN, HIPMI, ya kan? Bicara dengan asosiasi pengusaha, you bikin iklan jangan terlalu besar,” begitu sarannya

Presiden juga menyinggung soal kabel listrik yang berseliweran. Mungkin yang dimaksudkan adalah kabel fiber optik, yang sudah menjadi  momok dan  pemandangan yang tidak nyaman hampir di semua kota. Kabel-kabel itu terpasang sangat semrawut. Terkadang berjuntai sampai ke bawah dan membahayakan mereka yang melintas.

RAMAI-RAMAI PENERTIBAN

Menyusul adanya sentilan dari Presiden Prabowo di Sentul, hampir semua kota-kota di Indonesia serentak langsung melakukan aksi penertiban dan pembersihan.

Saya lihat di video, di Balikpapan tim gabungan dari Satpol PP dan Badan Pengelola Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (BPPDRD) langsung beraksi. Sejumlah spanduk langsung diturunkan dan dibersihkan terutama sepanjang kawasan kota.

“Memang ada kaitan dengan Instruksi Presiden, karena itu Wali Kota memerintahkan kepada kami untuk melakukan penertiban di lapangan,” kata Siswanto, Kabid Penagihan dan Pembukuan BPPDRD bersama  Erik Gampu, Kasi Operasional dan Pengendalian Satpol PP, yang memimpin operasi.

Menurut Siswanto, spanduk, baliho atau lainnya yang tidak ada izin atau sudah habis masa izinnya, maka langsung mereka turunkan.  Selain itu, untuk menjaga estetika kota,  maka pihaknya mendorong peralihan media iklan yang biasa melalui baliho, billboard dan spanduk ke videotron digital.

Plt Kepala Dinas Pertanahan dan Penataan Ruang (DPPR) M Farid Rizal mengatakan, tahun 2026 ini mereka akan melanjutkan penataan infrastruktur kota melalui program pemindahan kabel udara ke bawah tanah. Langkah ini dilakukan sebagai upaya menciptakan wajah kota yang lebih rapi, aman dan modern.

Proyek ini mencakup pemindahan seluruh kabel utilitas, mulai dari jaringan Telkom, PLN hingga vendor lainnya. Ditandai dengan relokasi kabel optik Telkom ke bawah tanah.

Asisten I Pemkot Drs  Zulkifli mengakui sejauh ini kabel-kabel optik itu memang sangat mengganggu keindahan dan keamanan kota. Karena itu perlu dilakukan penataan. Pihaknya akan bekerjasama dan mengingatkan para vendor, yang terkadang melakukan pemasangan secara tidak tertib.

Kemarin, saya menyusuri jalan dari Bandara SAMS Sepinggan sampai Pelabuhan Laut Semayang. Saya lakukan pagi dan malam hari. Sebagian spanduk sudah tidak ada. Yang bertebaran spanduk HUT  ke-129 Kota Balikpapan. Tapi saya melihat ada suasana tidak sedap di depan Gang Mawar, Gunung Bakaran. Ada tumpukan sampah di mulut gang. Di situ juga ada spanduk dan baliho serta juntaian kabel optik yang tidak teratur.

Di sepanjang jalan ada sejumlah tempat pemasangan baliho besar. Tapi sebagian lagi kosong. Ada baliho di depan Pasar Baru yang berisi baliho  Partai Gerindra. Ada wajah Prabowo, Wagub Kaltim Seno Aji sebagai ketua Gerindra Kaltim dan tokoh Gerindra  lainnya.

Suasana pemandangan menarik dapat kita saksikan di Taman Bekapai pada malam hari. Ada air mancur dan tata warna lampu yang eksotik. Bagi saya Taman Bekapai itu punya kenangan sendiri. Sebab ketika saya masih menjabat wali kota, kita terpaksa harus merogoh kantong APBD sebesar Rp15 miliar, karena kita kalah gugatan dari warga sampai putusan kasasi di Mahkamah Agung (MA).

Saya tidak menemukan spanduk tentang ayam goreng beli satu dapat satu free seperti yang disinggung Presiden Prabowo. Mungkin bukan di kota Balikpapan. Padahal saya mau mengajak Pak Zen, teman baik saya. Dia yang beli satu, biar yang gratisnya untuk saya. He…he itu yang namanya paket hemat.(*)

Menjadi Perempuan Perantau di Samarinda

February 5, 2026 by  
Filed under Opini

Samarinda – Intan namanya. Datang ke Samarinda pada 2023, membawa ransel berisi pakaian, harapan, dan keberanian yang belum sepenuhnya matang. Saat itu, ia tidak sendiri. Ada lima teman yang berjalan bersamanya. Mereka datang sebagai bagian dari program santri jurnalis dari pesantren. Mereka sama-sama belajar membaca kota baru, memahami ritme kehidupan yang berbeda, dan menata mimpi masing-masing.

Kini 2026. Waktu pelan-pelan mengerjakan tugasnya. Mereka tidak lagi berada di jalur yang sama. Satu per satu memilih kantor, jalan, dan kehidupan yang berbeda. Intan pun berdiri sendiri di kota ini, dengan orang-orang baru, lingkungan baru, dan versi diriku yang terus bertumbuh.

Secara profesi, aku adalah jurnalis. Tapi hidup, seperti biasa, tidak pernah mau hanya satu warna. Intan juga banyak bergelut sebagai content creative. Sebelumnya, Intan bahkan sempat menjadi podcaster. Peran-peran itu datang silih berganti, kadang bersamaan, kadang saling tumpang tindih. Samarinda memberiku ruang untuk mencoba, gagal, belajar, lalu mencoba lagi. Kota ini tidak menuntutnya menjadi seseorang yang sudah selesai, ia membiarkanku bertumbuh apa adanya.

Pelan-pelan, Samarinda berubah status. Dari kota tujuan kerja, menjadi rumah kedua. Rumah setelah Bogor tempat ia dilahirkan. Sebelum Samarinda, Intan juga pernah lama tinggal di Tasikmalaya karena mondok di sana. Setiap kota meninggalkan jejaknya sendiri dalam hidupku. Bogor mengajarkan tentang pulang, Tasikmalaya tentang disiplin dan ketahanan, sementara Samarinda mengajarkanku tentang bertahan sendirian.

Menjadi perempuan perantau di Samarinda adalah pengalaman yang memperluas banyak hal, sudut pandang, keberanian, dan batas zona nyaman. Intan belajar beradaptasi dengan budaya baru, ritme kerja yang cepat, dan tuntutan hidup mandiri. Ia belajar membuat keputusan tanpa bisa selalu bertanya. Belajar kuat, bahkan ketika tidak sedang ingin terlihat kuat.

Ada banyak hal menarik yang kutemui di sini. Orang-orang dengan latar belakang berbeda, cerita-cerita yang tidak akan kutemukan jika aku memilih tinggal di rumah. Samarinda memberiku “koleksi cerita” yang kelak akan menjadi kenangan masa muda tentang kerja keras, tentang bertahan, tentang mimpi yang dikejar tanpa peta pasti.

Namun, merantau tidak pernah sepenuhnya romantis. Ada bagian sunyi yang sering tidak diceritakan. Rasa rindu yang datang tiba-tiba. Rindu rumah, rindu keluarga, rindu menjadi anak bungsu yang tidak perlu selalu tampak mampu. Homesick kerap datang tanpa permisi, terutama di waktu-waktu sepi, ketika hari terasa terlalu panjang dan notifikasi ponsel terlalu senyap.

Kesepian juga bukan hal asing. Ada masa-masa ketika kota terasa ramai, tapi aku tetap merasa sendirian. Saat teman-teman yang dulu datang bersama kini sibuk dengan hidupnya masing-masing, aku belajar menerima fase “bersama” memang tidak selalu abadi. Ada saatnya kita harus berjalan sendiri, meski awalnya terasa berat.

Tapi justru di sanalah aku belajar. Bahwa kesepian tidak selalu musuh. Ia kadang menjadi ruang untuk mengenal diri sendiri lebih dalam. Mengerti apa yang benar-benar diinginkan, apa yang ingin dipertahankan, dan apa yang harus dilepaskan. Samarinda memberiku ruang itu, ruang untuk menjadi perempuan yang terus belajar tentang hidupnya sendiri.

Menjadi perempuan perantau di Samarinda bukan soal siapa yang paling kuat, tapi siapa yang mau terus bertumbuh meski rindu sering datang. Kota ini tidak selalu mudah, tapi ia jujur. Ia mengajarkanku bahwa rumah bukan hanya soal tempat lahir, melainkan tempat di mana kita berani bertahan dan berkembang.

Dan mungkin, untuk saat ini, Samarinda adalah rumah itu.

Detik Pertama Melihat Ka’bah dan Luruhnya Segala Kendali

February 4, 2026 by  
Filed under Opini

Makkah — Tidak ada foto, video, atau cerita perjalanan yang benar-benar mampu menyiapkan seseorang pada detik pertama melihat Ka’bah. Semua bayangan yang pernah dibangun sebelumnya runtuh begitu saya berdiri di pelataran Masjidil Haram tempat jutaan manusia datang untuk sujud, berdoa, dan meleburkan diri dalam ritme ibadah yang sama.

Ketika saya tiba di sini pada pertengahan Januari 2026, suasana sudah sangat ramai. Berdasarkan data resmi yang dirilis oleh General Authority for the Care of the Affairs of the Grand Mosque and the Prophet’s Mosque, selama bulan Rajab 1447 Hijriah (sekitar Januari 2026), lebih dari 78,8 juta jamaah mengunjungi Dua Masjid Suci (Masjidil Haram dan Masjid Nabawi). Dari total itu, hampir 35 juta jamaah beribadah di Masjidil Haram sendiri, angka yang mencerminkan tingginya kunjungan di luar musim haji puncak sekalipun.

Malam itu, Masjidil Haram dipenuhi jamaah dari berbagai negara. Suara langkah kaki beradu dengan lantunan doa yang dilafalkan dalam berbagai bahasa. Lampu-lampu menerangi marmer putih yang dingin, sementara Ka’bah berdiri tegak di pusatnya.

Saya datang sebagai perempuan yang pertama kali menunaikan umrah. Di antara kerumunan yang padat, saya berjalan dengan perasaan yang tidak sepenuhnya bisa dinamai. Bukan takut, bukan pula percaya diri, lebih mirip pasrah yang sedang belajar caranya sendiri.

Ketika Ka’bah akhirnya terlihat tanpa penghalang, tubuh saya bereaksi lebih cepat daripada pikiran. Langkah melambat. Napas tertahan. Dada terasa sesak bukan karena lelah, melainkan karena segala pretensi tentang diri, tentang kuat, tentang rencana, tentang kendali seolah luruh tanpa diminta.

Masjidil Haram, masjid terbesar di dunia dan pusat ibadah umat Islam, tidak menawarkan keheningan mutlak. Suaranya hidup, lantunan doa, langkah kaki yang berpindah, isak yang tertahan, bahkan desis desakan ketika jamaah menyesuaikan posisi. Namun justru di tengah keramaian itulah, kesunyian batin terasa paling nyata. Saya menyadari, ini bukan tentang seberapa dekat posisi tubuh dengan Ka’bah, melainkan tentang seberapa jujur seseorang berdiri di hadapan Tuhannya.

Tawaf pertama saya dimulai dengan langkah yang belum sepenuhnya mantap. Putaran demi putaran mengelilingi Ka’bah membawa ritme sendiri. Arus manusia bergerak tanpa henti, memaksa setiap jamaah untuk menyesuaikan diri bukan saling mendahului.

Kerumunan yang padat bukan sekadar statistik, tetapi realitas yang nyata. Banyak jamaah harus berhenti beberapa kali untuk memberi ruang, menunggu celah, atau sekadar mencari tempat untuk menarik napas. Di antara dorongan halus dan arus manusia itu, saya merasa tawaf bukan hanya ritual fisik, tetapi juga pelajaran tentang kesabaran dan kebersamaan.

Sebagai perempuan, ada batas-batas yang harus dipahami dan kesabaran yang diuji. Tidak semua ruang mudah diraih, dan tidak semua doa terucap dalam keadaan nyaman. Namun dari situ saya memahami bahwa ketulusan sering lahir dari situasi yang tidak sempurna.

“Yang penting terus bergerak dan menjaga niat,” ujar seorang jamaah perempuan asal Indonesia yang berjalan di samping saya, suaranya tenggelam oleh lantunan takbir namun terasa teguh.

Masjidil Haram mempertemukan saya dengan wajah-wajah yang asing namun terasa dekat. Seorang perempuan lanjut usia yang berdoa sambil duduk di tepi jalur tawaf. Jamaah muda yang membaca doa dari layar ponsel. Seorang ibu yang menuntun anaknya, berusaha menjaga langkah kecil itu tetap seirama dengan arus. Di hadapan Ka’bah, perbedaan latar belakang, usia, dan bahasa melebur. Tidak ada penanda status, yang terlihat hanyalah manusia datang dengan harapan, pulang dengan doa yang dititipkan.

Ka’bah menjadi titik pusat arah kiblat sekaligus titik temu manusia dengan dirinya sendiri. (intan)

« Previous PageNext Page »

  • vb

  • Pengunjung

    1626033
    Users Today : 1578
    Users Yesterday : 5671
    This Year : 562541
    Total Users : 1626033
    Total views : 13914820
    Who's Online : 79
    Your IP Address : 216.73.216.42
    Server Time : 2026-04-09