Kulit Kusam dan Cepat Menua Bisa Jadi Tanda Stres

February 5, 2026 by  
Filed under Kesehatan

Samarinda — Kulit tiba-tiba tampak kusam, mudah berjerawat, atau garis halus terasa muncul lebih cepat sering dianggap akibat salah produk perawatan. Namun, para ahli menyebut, stres kronis dapat mempercepat penuaan kulit dan menurunkan kualitas regenerasi sel, bahkan pada usia muda.

Dalam dunia dermatologi, stres dikenal memicu pelepasan hormon kortisol, yang berdampak langsung pada kesehatan kulit. Kortisol berlebih dapat, menurunkan produksi kolagen dan elastin, memperlambat regenerasi sel kulit, meningkatkan peradangan, dan memperlemah skin barrier.

Sejumlah penelitian menunjukkan, stres berkepanjangan berkaitan dengan kulit lebih kering, tampak kusam, dan munculnya tanda penuaan lebih dini, seperti garis halus dan warna kulit tidak merata. Dalam kondisi stres, kulit juga lebih sensitif terhadap polusi dan sinar UV.

Selain itu, stres juga sering berdampak tidak langsung melalui, kurang tidur, pola makan tidak teratur, kebiasaan menyentuh wajah berlebihan, dan malas merawat diri.

Banyak Gen Z mengaku menyadari perubahan kulitnya justru saat sedang berada di fase hidup yang berat.

“Skincare nggak ganti, tapi mukaku tiba-tiba kusam. Pas kupikir-pikir, itu pas lagi capek mental dan kurang tidur,” ujar Sri.

Kulit kusam akibat stres bukan hanya soal penampilan. Dalam jangka panjang, gangguan skin barrier bisa membuat kulit lebih rentan terhadap jerawat, iritasi, dan infeksi ringan.

Bagi generasi muda, kondisi ini sering menurunkan kepercayaan diri dan memperburuk stres itu sendiri menciptakan lingkaran yang sulit diputus.

Sulit Tidur Bisa Jadi Sinyal Stres

February 5, 2026 by  
Filed under Kesehatan

Samarinda — Sulit tidur kerap dianggap hal sepele, apalagi di kalangan anak muda. Begadang, scrolling tanpa henti, atau pola tidur berantakan sering dinormalisasi. Namun, sejumlah penelitian menunjukkan, gangguan tidur bisa menjadi penanda stres psikologis yang tidak tertangani, terutama pada generasi muda yang hidup di tengah tekanan akademik dan tuntutan produktivitas.

Penelitian di bidang kesehatan tidur menunjukkan, stres memengaruhi sistem saraf dan produksi hormon seperti kortisol, yang berperan besar dalam mengatur siklus tidur-bangun. Ketika stres meningkat, kadar kortisol cenderung tetap tinggi pada malam hari, sehingga tubuh sulit memasuki fase tidur nyenyak.

Studi yang dipublikasikan oleh National Sleep Foundation dan sejumlah jurnal kedokteran menyebutkan, individu dengan tingkat stres tinggi lebih rentan mengalami insomnia, tidur tidak nyenyak, dan sering terbangun di malam hari. Kondisi ini bukan hanya mempersingkat durasi tidur, tetapi juga menurunkan kualitasnya.

Pakar kesehatan menjelaskan, saat stres, otak berada dalam mode siaga (hyperarousal). Secara fisik, tubuh mungkin berbaring dan memejamkan mata, tetapi secara mental, pikiran terus bekerja memikirkan tugas, masa depan, atau hal-hal yang belum selesai. Akibatnya, seseorang bisa, sulit terlelap meski sudah lelah, sering terbangun di tengah malam, bangun tidur dengan tubuh tetap terasa capek.

Jika berlangsung lama, kondisi ini dapat berkembang menjadi kelelahan kronis dan berdampak pada kesehatan mental maupun fisik.

Fenomena ini banyak dirasakan langsung oleh Gen Z. Yanti, perempuan berusia 23 tahun itu kerap merasakan sulit tidur.

“Badanku capek banget, tapi pas mau tidur otak malah muter. Mikirin kerjaan, mikirin hidup. Akhirnya tidur cuma 2–3 jam,” ujarnya, Rabu (4/2/2026).

Kurang tidur akibat stres tidak hanya berdampak pada rasa kantuk. Dalam jangka panjang, kondisi ini dikaitkan dengan, penurunan konsentrasi dan memori, emosi lebih mudah meledak, imunitas menurun, hingga meningkatnya risiko gangguan kecemasan dan depresi.

Bagi generasi muda, hal ini berpotensi mengganggu produktivitas, relasi sosial, dan kualitas hidup secara keseluruhan.

Gangguan tidur bisa menjadi alarm paling halus yang diberikan tubuh saat stres sudah terlalu lama dipendam. Bukan sekadar sinyal kelelahan, tetapi peringatan, pikiran dan tubuh membutuhkan jeda.

Stres Bukan Cuma Bikin Pusing, Bisa Picu Masalah Lambung dan Usus

February 5, 2026 by  
Filed under Kesehatan

Samarinda — Banyak orang mengira stres hanya berdampak pada suasana hati atau tidur. Padahal, studi terbaru menunjukkan, stres juga bisa memengaruhi sistem pencernaan, termasuk meningkatkan risiko gastritis, refluks, dan sindrom iritasi usus (IBS). Kondisi ini kerap dibahas oleh generasi muda yang mengalami tekanan hidup sehari-hari.

Para ilmuwan menemukan, keadaan stres memengaruhi brain-gut axis, jalur komunikasi antara otak dan usus sehingga dapat mengubah motilitas usus, sensitivitas perut, dan respons imun di saluran cerna. Perubahan ini bisa memicu gejala seperti nyeri lambung, kembung, diare, hingga konstipasi yang merupakan ciri khas IBS.

Penelitian lain juga menunjukkan, stres dapat meningkatkan produksi asam lambung, yang apabila berulang kali terjadi bisa mengiritasi mukosa lambung dan memicu gastritis radang pada lapisan lambung yang sering dialami oleh mahasiswa dan pekerja muda yang berada di bawah tekanan pekerjaan atau studi.

Para pakar gastroenterologi menjelaskan, saat stres, tubuh memicu respon “fight or flight” yang menyebabkan perubahan hormon dan neurotransmitter. Hal ini tidak hanya berdampak pada denyut jantung dan napas, tetapi juga motilitas usus, yaitu kemampuan saluran pencernaan dalam menggerakkan makanan di sepanjang sistem pencernaan. Perubahan ini bisa menyebabkan, peningkatan asam lambung, sensasi pedih ulu hati, rasa kembung, dan perubahan frekuensi buang air besar.

Dengan kata lain, stres bisa memicu gangguan pencernaan meskipun pola makan sebenarnya sudah diperhatikan sebuah tantangan yang banyak dialami generasi muda di tengah tekanan akademik maupun profesional.

Hal ini dirasakan oleh Adit, pria berusia 23 tahun itu kerap merasakan gangguan pencernaan ketika sedang stres.

“Waktu kerjaan numpuk banget, nggak cuma pusing, perutku sering mules, kayak ada pedih sampai ke kerongkongan. Itu bukan gara-gara makan pedas doang,” ujarnya, Rabu (4/2/2026).

“Stres bikin aku sering kembung dan sering bolak-balik toilet. Awalnya kupikir cuma masuk angin, eh pas baca ternyata bisa karena stres juga,” tambahnya.

Gangguan pencernaan akibat stres bukan sekadar rasa tidak nyaman. Jika terus berulang, kondisi seperti gastritis atau IBS dapat mengganggu kualitas hidup, pola makan, dan produktivitas seseorang terutama pada mereka yang berada di rentang usia produktif.

Para ahli merekomendasikan beberapa langkah pencegahan yang bisa dilakukan, seperti, m anajemen stres melalui olahraga ringan, meditasi, atau hobi, rutinitas makan sehat, teratur dan seimbang, hindari pola makan ekstrem saat stres, dan konsultasi medis jika gejala frekuentif atau kambuh berkepanjangan.

Gen Z Kian Sadar Pola Hidup Sehat

February 5, 2026 by  
Filed under Kesehatan

Samarinda — Kesadaran generasi Z terhadap pentingnya pola hidup sehat kian terlihat dalam keseharian mereka. Tidak sedikit anak muda yang kini mulai selektif memilih asupan makanan, mengurangi konsumsi camilan tinggi MSG, serta membiasakan diri minum air putih dan berolahraga secara rutin.

Perubahan gaya hidup ini muncul seiring meningkatnya informasi seputar kesehatan yang mudah diakses melalui media sosial dan pengalaman pribadi akan dampak pola hidup tidak sehat. Gen Z dinilai lebih reflektif dalam menjaga tubuh agar tetap bugar di tengah aktivitas yang padat.

Salah satu Gen Z, Katan (23), mengaku kini lebih nyaman mengonsumsi makanan sehat dibandingkan makanan instan. Ia menyebut, kebiasaan tersebut berawal dari keinginannya menjaga energi dan kondisi tubuh agar tetap stabil.

“Sekarang aku lebih suka makan buah, camilan yang nggak banyak MSG, dan pasti minum air putih. Badan rasanya lebih ringan dan nggak gampang capek,” ujar Katan, Rabu (4/2/2026).

Tak hanya soal makanan, Katan juga mulai melengkapi gaya hidup sehatnya dengan aktivitas fisik ringan. Menurutnya, olahraga menjadi pelengkap penting agar tubuh dan pikiran tetap seimbang.

“Olahraga itu pelengkap sih. Nggak harus berat, yang penting rutin. Jalan kaki atau stretching aja udah cukup buat bikin badan lebih enak,” tambahnya.

Fenomena ini menunjukkan adanya pergeseran pola pikir di kalangan Gen Z yang tak lagi semata mengejar kepraktisan, tetapi juga mempertimbangkan dampak jangka panjang bagi kesehatan. Kesadaran tersebut sekaligus menjadi sinyal positif, generasi muda mulai menempatkan kesehatan sebagai kebutuhan, bukan sekadar tren sesaat.

Rambut Rontok Bisa Jadi Penanda Stres

February 5, 2026 by  
Filed under Kesehatan

Rambut rontok kerap dianggap masalah perawatan semata. Namun, sejumlah penelitian medis menunjukkan, kerontokan rambut dapat menjadi penanda tubuh sedang berada dalam kondisi stres, terutama stres kronis. Fenomena ini semakin banyak dibicarakan, khususnya di kalangan generasi muda yang menghadapi tekanan akademik, pekerjaan, hingga tuntutan sosial.

Secara biologis, rambut memiliki siklus pertumbuhan yang terdiri dari fase anagen (tumbuh), katagen (transisi), dan telogen (istirahat). Saat seseorang mengalami stres berat, tubuh dapat mendorong folikel rambut masuk lebih cepat ke fase telogen, kondisi yang dikenal sebagai telogen effluvium, sehingga rambut rontok dalam jumlah lebih banyak dari normal.

Penelitian yang dimuat dalam National Institutes of Health (NIH) juga menunjukkan, hormon stres seperti kortisol berperan dalam menghambat aktivitas sel punca folikel rambut, sehingga memperlambat regenerasi rambut dan memperpanjang fase istirahat .

Sementara itu, studi cross-sectional yang dipublikasikan di PubMed Central (PMC) di Arab Saudi menemukan adanya hubungan signifikan antara tingkat stres tinggi dan kejadian rambut rontok pada responden dewasa .

Mayo Clinic menyebutkan, pada sebagian besar kasus telogen effluvium, rambut rontok bersifat sementara dan dapat tumbuh kembali setelah faktor pemicu stres teratasi, meskipun waktu pemulihannya berbeda pada tiap individu .

Namun, jika kerontokan berlangsung lama atau disertai penipisan yang tidak merata, pemeriksaan medis tetap dianjurkan untuk menyingkirkan kemungkinan penyebab lain, seperti gangguan hormonal atau alopecia areata.

Di media sosial dan forum diskusi daring, banyak Gen Z membagikan pengalaman pribadi mereka soal rambut rontok yang dikaitkan dengan stres.

“Waktu stres kuliah lagi parah-parahnya, rambutku rontok banget. Bangun tidur, lihat bantal isinya rambut semua. Itu bikin tambah panik,” tulis seorang pengguna tiktok.

Pengguna lain mengungkapkan, kerontokan justru terasa setelah tekanan berlalu,

“Pas masalahnya selesai, kukira badanku udah aman. Tapi dua bulan kemudian rambut mulai rontok parah. Baru sadar ternyata efek stresnya telat,” tulis yang lain dalam sebuah komentar di tiktok.

Fenomena rambut rontok akibat stres menjadi pengingat bahwa kesehatan mental dan fisik saling berkaitan. Meski sering kali bersifat sementara, para ahli menilai kondisi ini dapat menjadi alarm tubuh agar seseorang lebih memperhatikan keseimbangan hidup, mulai dari manajemen stres, kualitas tidur, hingga pola makan.

Bagi generasi muda yang hidup dalam ritme cepat dan penuh tuntutan, rambut rontok tak lagi sekadar soal penampilan, melainkan sinyal tubuh yang meminta jeda.

Next Page »

  • vb

  • Pengunjung

    1343846
    Users Today : 5877
    Users Yesterday : 5462
    This Year : 280356
    Total Users : 1343846
    Total views : 12200014
    Who's Online : 48
    Your IP Address : 216.73.216.15
    Server Time : 2026-02-17