Gen Z Kian Sadar Pola Hidup Sehat

February 5, 2026 by  
Filed under Kesehatan

Samarinda — Kesadaran generasi Z terhadap pentingnya pola hidup sehat kian terlihat dalam keseharian mereka. Tidak sedikit anak muda yang kini mulai selektif memilih asupan makanan, mengurangi konsumsi camilan tinggi MSG, serta membiasakan diri minum air putih dan berolahraga secara rutin.

Perubahan gaya hidup ini muncul seiring meningkatnya informasi seputar kesehatan yang mudah diakses melalui media sosial dan pengalaman pribadi akan dampak pola hidup tidak sehat. Gen Z dinilai lebih reflektif dalam menjaga tubuh agar tetap bugar di tengah aktivitas yang padat.

Salah satu Gen Z, Katan (23), mengaku kini lebih nyaman mengonsumsi makanan sehat dibandingkan makanan instan. Ia menyebut, kebiasaan tersebut berawal dari keinginannya menjaga energi dan kondisi tubuh agar tetap stabil.

“Sekarang aku lebih suka makan buah, camilan yang nggak banyak MSG, dan pasti minum air putih. Badan rasanya lebih ringan dan nggak gampang capek,” ujar Katan, Rabu (4/2/2026).

Tak hanya soal makanan, Katan juga mulai melengkapi gaya hidup sehatnya dengan aktivitas fisik ringan. Menurutnya, olahraga menjadi pelengkap penting agar tubuh dan pikiran tetap seimbang.

“Olahraga itu pelengkap sih. Nggak harus berat, yang penting rutin. Jalan kaki atau stretching aja udah cukup buat bikin badan lebih enak,” tambahnya.

Fenomena ini menunjukkan adanya pergeseran pola pikir di kalangan Gen Z yang tak lagi semata mengejar kepraktisan, tetapi juga mempertimbangkan dampak jangka panjang bagi kesehatan. Kesadaran tersebut sekaligus menjadi sinyal positif, generasi muda mulai menempatkan kesehatan sebagai kebutuhan, bukan sekadar tren sesaat.

Rambut Rontok Bisa Jadi Penanda Stres

February 5, 2026 by  
Filed under Kesehatan

Rambut rontok kerap dianggap masalah perawatan semata. Namun, sejumlah penelitian medis menunjukkan, kerontokan rambut dapat menjadi penanda tubuh sedang berada dalam kondisi stres, terutama stres kronis. Fenomena ini semakin banyak dibicarakan, khususnya di kalangan generasi muda yang menghadapi tekanan akademik, pekerjaan, hingga tuntutan sosial.

Secara biologis, rambut memiliki siklus pertumbuhan yang terdiri dari fase anagen (tumbuh), katagen (transisi), dan telogen (istirahat). Saat seseorang mengalami stres berat, tubuh dapat mendorong folikel rambut masuk lebih cepat ke fase telogen, kondisi yang dikenal sebagai telogen effluvium, sehingga rambut rontok dalam jumlah lebih banyak dari normal.

Penelitian yang dimuat dalam National Institutes of Health (NIH) juga menunjukkan, hormon stres seperti kortisol berperan dalam menghambat aktivitas sel punca folikel rambut, sehingga memperlambat regenerasi rambut dan memperpanjang fase istirahat .

Sementara itu, studi cross-sectional yang dipublikasikan di PubMed Central (PMC) di Arab Saudi menemukan adanya hubungan signifikan antara tingkat stres tinggi dan kejadian rambut rontok pada responden dewasa .

Mayo Clinic menyebutkan, pada sebagian besar kasus telogen effluvium, rambut rontok bersifat sementara dan dapat tumbuh kembali setelah faktor pemicu stres teratasi, meskipun waktu pemulihannya berbeda pada tiap individu .

Namun, jika kerontokan berlangsung lama atau disertai penipisan yang tidak merata, pemeriksaan medis tetap dianjurkan untuk menyingkirkan kemungkinan penyebab lain, seperti gangguan hormonal atau alopecia areata.

Di media sosial dan forum diskusi daring, banyak Gen Z membagikan pengalaman pribadi mereka soal rambut rontok yang dikaitkan dengan stres.

“Waktu stres kuliah lagi parah-parahnya, rambutku rontok banget. Bangun tidur, lihat bantal isinya rambut semua. Itu bikin tambah panik,” tulis seorang pengguna tiktok.

Pengguna lain mengungkapkan, kerontokan justru terasa setelah tekanan berlalu,

“Pas masalahnya selesai, kukira badanku udah aman. Tapi dua bulan kemudian rambut mulai rontok parah. Baru sadar ternyata efek stresnya telat,” tulis yang lain dalam sebuah komentar di tiktok.

Fenomena rambut rontok akibat stres menjadi pengingat bahwa kesehatan mental dan fisik saling berkaitan. Meski sering kali bersifat sementara, para ahli menilai kondisi ini dapat menjadi alarm tubuh agar seseorang lebih memperhatikan keseimbangan hidup, mulai dari manajemen stres, kualitas tidur, hingga pola makan.

Bagi generasi muda yang hidup dalam ritme cepat dan penuh tuntutan, rambut rontok tak lagi sekadar soal penampilan, melainkan sinyal tubuh yang meminta jeda.

Ketua YJI Kaltim Senam Rutin Jantung Sehat di Stadion Kadrie Oening

January 18, 2026 by  
Filed under Kesehatan

SAMARINDA — Ketua Yayasan Jantung Indonesia (YJI) Cabang Kalimantan Timur Hj Wahyu Seno Aji hadir membersamai kegiatan rutin senam jantung sehat bersama Klub Jantung Sehat Stadion Kadrie Oening Samarinda, di Halaman Kadrie Oening Tower, Minggu (18/1/2026).

Wahyu Seni bersyukur bisa bergabung membersamai senam bersama.
“Selaku Ketua YJI Cabang Kalimantan Timur tidak hentinya kami terus mengajak masyarakat untuk menjaga kesehatan jantung, salah satunya melalui senam jantung sehat,” ujarnya.

Itu sebabnya sejak diamanahi sebagai Ketua YJI Cabang Kalimantan Timur dia secara aktif turun membersamai klub-klub jantung sehat yang ada. Ini sebagai apresiasi, dukungan, dan memangati masyarakat agar aktif berolahraga.

Dia berharap ke depan semakin banyak klub-klub jantung sehat dibentuk di lingkungan masyarakat. Dengan begitu diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat untuk rajin berolah raga melalui senam jantung sehat.

“Terimakasih atas kedatangannya. Semoga semua sehat. Semoga tetap semangat untuk terus datang giatkan senam jantung sehat agar semua sehat karena sehat itu mahal,” serunya mengajak masyarakat yang hadiri senam jantung sehat.

Sebelumnya, Ketua YJI Cabang Kalimantan Timur Hj Seno Aji telah beberapa kali membersamai senam jantung sehat Klub Jantung Sehat Assalam di Islamic Center Samarinda, dan Klub Jantung Sehat Cenderawasih Kelurahan Sambutan.

Ngemil Es Batu, Bahaya yang Sering Dianggap Sepele

January 10, 2026 by  
Filed under Kesehatan

Kebiasaan ngemil atau mengunyah es batu yang sering dianggap menyegarkan ternyata memiliki dampak negatif yang serius bagi kesehatan, terutama kesehatan gigi dan tubuh. Para ahli kesehatan gigi dan penelitian medis menunjukkan kebiasaan ini dapat menyebabkan kerusakan gigi, gangguan rahang, hingga menjadi tanda kondisi medis lain yang mendasar.

Salah satu penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal medis Medical Hypotheses menunjukkan, kebiasaan pagophagia, istilah medis untuk keinginan kompulsif mengunyah es batu sering dikaitkan dengan defisiensi zat besi atau anemia.

Studi ini menemukan, pada individu dengan anemia defisiensi besi, rasa ingin mengunyah es batu lebih tinggi dibandingkan dengan orang tanpa anemia, dan dalam beberapa kondisi dapat meningkatkan aliran darah ke otak sehingga meningkatkan respons kognitif pada subjek anemik yang diuji dalam penelitian tersebut.

Kajian lain yang tersedia melalui PubMed juga menggambarkan pagophagia sebagai kondisi yang sering terlihat pada pasien dengan anemia defisiensi besi, dan kebiasaan ini menerima perhatian di kalangan medis karena dampaknya pada kesehatan serta kemungkinan koneksinya dengan perubahan fisiologis tubuh.

Dampak Kesehatan yang Terbukti

1. Kerusakan Enamel dan Retakan Gigi
Menurut Cleveland Clinic, kebiasaan mengunyah es batu secara berulang dapat merusak lapisan pelindung gigi (enamel), menyebabkan retakan kecil yang lama-kelamaan berkembang menjadi keretakan besar, bahkan membuat gigi pecah atau membutuhkan perawatan restoratif yang kompleks seperti mahkota atau saluran akar.

2. Sensitivitas Gigi dan Nyeri
Es batu yang sangat dingin dan keras dapat menyebabkan sensitivitas pada gigi, membuat seseorang merasakan nyeri tajam saat mengonsumsi makanan panas atau dingin lainnya. Kerusakan enamel juga meningkatkan risiko pembentukan lubang gigi.

3. Gangguan Sendi Rahang (TMJ)
Tekanan yang berulang dari mengunyah es batu dapat menambah beban pada otot dan sendi temporomandibular (TMJ), yang dapat menyebabkan nyeri rahang kronis atau masalah fungsi rahang jangka panjang.

4. Tanda Potensial Masalah Kesehatan Lainnya
Kebiasaan yang kompulsif ini bisa menjadi tanda kondisi medis tertentu, seperti kekurangan zat besi atau anemia. Para peneliti menunjukkan bahwa pagophagia sering muncul bersamaan dengan kondisi kekurangan zat besi, meskipun mekanisme pastinya belum sepenuhnya dipahami secara ilmiah.

Berbeda dengan sebagian orang yang menghindari kebiasaan tersebut, Mariam, 23 tahun, justru mengaku gemar mengunyah es batu dalam kesehariannya. Menurutnya, kebiasaan itu muncul tanpa disadari dan terasa sulit dihentikan.

“Mungkin karena sensasi dingin dan renyahnya, jadi kecanduan dan akhirnya jadi kebiasaan,” ujar Mariam saat diwawancarai.
Namun, Mariam menyadari, kebiasaan tersebut bukan tanpa risiko, terutama setelah mengetahui dampak kesehatannya dari berbagai informasi medis.

Mariam pun memberi pesan kepada masyarakat, khususnya generasi muda, agar tidak meniru kebiasaannya secara berlebihan.

“Tapi ini nggak recommended ya. Bahaya juga soalnya buat kesehatan kalau lama-lama dan jadi kebiasaan,” tutupnya. (intan)

Upaya Pemenuhan Dokter Spesialis, Kukar Jalin Kerja Sama Dengan Unhas

January 8, 2026 by  
Filed under Kesehatan

MAKASSAR – Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) terus berupaya memenuhi kebutuhan dokter spesialis dan subspesialis di Rumah Sakit di daerah ini. Salah satu upaya yang dilakukan dengan menjalin kerja sama antara Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara dengan Universitas Hasanuddin yang tertuang dalam Perjanjian Kerja Sama Nomor: B-1627/KS/KSDN/074-10/07/2023 dan Nomor 16122/UN4.1/HK.07/2023.

Menindaklanjuti perjanjian kerja sama, Bupati Kukar dr. Aulia Rahman Basri melakukan kunjungan kerja ke Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin (UNHAS) Makassar. Selasa (6/1/2026).

Aulia menjelaskan, kunjungan kerja tersebut dilaksanakan dalam rangka evaluasi pelaksanaan kerja sama yang telah berjalan sekaligus koordinasi rencana perluasan kerja sama ke depan.

“Kerja sama ini sangat strategis untuk mendukung peningkatan kualitas layanan kesehatan di Kukar, khususnya dalam pemenuhan dokter spesialis dan subspesialis yang masih menjadi kebutuhan utama di rumah sakit daerah,” ujarnya.

Selain evaluasi, pertemuan juga membahas rencana pengembangan kerja sama dalam bentuk penyiapan dan pengembangan kompetensi putra-putri daerah sebagai tenaga layanan kesehatan, pengembangan kompetensi dokter spesialis, serta riset pemetaan kebutuhan tenaga kesehatan Pemerintah Daerah.

Menurut Bupati, langkah ini sejalan dengan komitmen Pemkab dalam Kukar Idaman Terbaik untuk meningkatkan layanan kesehatan yang berkualitas dan merata sesuai kebutuhan masyarakat.

“Melalui kolaborasi dengan UNHAS, kita berharap dapat mencetak SDM kesehatan unggul dari daerah sendiri serta memperkuat layanan kesehatan di seluruh wilayah Kukar,” tambahnya.

Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara berharap kerja sama yang telah terjalin dapat terus diperkuat dan diperluas demi mewujudkan pelayanan kesehatan yang prima bagi seluruh masyarakat Kukar. (kk04)

« Previous PageNext Page »

  • vb

  • Pengunjung

    1457433
    Users Today : 4339
    Users Yesterday : 5108
    This Year : 393943
    Total Users : 1457433
    Total views : 12837756
    Who's Online : 67
    Your IP Address : 216.73.216.180
    Server Time : 2026-03-10