Ngemil Es Batu, Bahaya yang Sering Dianggap Sepele

January 10, 2026 by  
Filed under Kesehatan

Kebiasaan ngemil atau mengunyah es batu yang sering dianggap menyegarkan ternyata memiliki dampak negatif yang serius bagi kesehatan, terutama kesehatan gigi dan tubuh. Para ahli kesehatan gigi dan penelitian medis menunjukkan kebiasaan ini dapat menyebabkan kerusakan gigi, gangguan rahang, hingga menjadi tanda kondisi medis lain yang mendasar.

Salah satu penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal medis Medical Hypotheses menunjukkan, kebiasaan pagophagia, istilah medis untuk keinginan kompulsif mengunyah es batu sering dikaitkan dengan defisiensi zat besi atau anemia.

Studi ini menemukan, pada individu dengan anemia defisiensi besi, rasa ingin mengunyah es batu lebih tinggi dibandingkan dengan orang tanpa anemia, dan dalam beberapa kondisi dapat meningkatkan aliran darah ke otak sehingga meningkatkan respons kognitif pada subjek anemik yang diuji dalam penelitian tersebut.

Kajian lain yang tersedia melalui PubMed juga menggambarkan pagophagia sebagai kondisi yang sering terlihat pada pasien dengan anemia defisiensi besi, dan kebiasaan ini menerima perhatian di kalangan medis karena dampaknya pada kesehatan serta kemungkinan koneksinya dengan perubahan fisiologis tubuh.

Dampak Kesehatan yang Terbukti

1. Kerusakan Enamel dan Retakan Gigi
Menurut Cleveland Clinic, kebiasaan mengunyah es batu secara berulang dapat merusak lapisan pelindung gigi (enamel), menyebabkan retakan kecil yang lama-kelamaan berkembang menjadi keretakan besar, bahkan membuat gigi pecah atau membutuhkan perawatan restoratif yang kompleks seperti mahkota atau saluran akar.

2. Sensitivitas Gigi dan Nyeri
Es batu yang sangat dingin dan keras dapat menyebabkan sensitivitas pada gigi, membuat seseorang merasakan nyeri tajam saat mengonsumsi makanan panas atau dingin lainnya. Kerusakan enamel juga meningkatkan risiko pembentukan lubang gigi.

3. Gangguan Sendi Rahang (TMJ)
Tekanan yang berulang dari mengunyah es batu dapat menambah beban pada otot dan sendi temporomandibular (TMJ), yang dapat menyebabkan nyeri rahang kronis atau masalah fungsi rahang jangka panjang.

4. Tanda Potensial Masalah Kesehatan Lainnya
Kebiasaan yang kompulsif ini bisa menjadi tanda kondisi medis tertentu, seperti kekurangan zat besi atau anemia. Para peneliti menunjukkan bahwa pagophagia sering muncul bersamaan dengan kondisi kekurangan zat besi, meskipun mekanisme pastinya belum sepenuhnya dipahami secara ilmiah.

Berbeda dengan sebagian orang yang menghindari kebiasaan tersebut, Mariam, 23 tahun, justru mengaku gemar mengunyah es batu dalam kesehariannya. Menurutnya, kebiasaan itu muncul tanpa disadari dan terasa sulit dihentikan.

“Mungkin karena sensasi dingin dan renyahnya, jadi kecanduan dan akhirnya jadi kebiasaan,” ujar Mariam saat diwawancarai.
Namun, Mariam menyadari, kebiasaan tersebut bukan tanpa risiko, terutama setelah mengetahui dampak kesehatannya dari berbagai informasi medis.

Mariam pun memberi pesan kepada masyarakat, khususnya generasi muda, agar tidak meniru kebiasaannya secara berlebihan.

“Tapi ini nggak recommended ya. Bahaya juga soalnya buat kesehatan kalau lama-lama dan jadi kebiasaan,” tutupnya. (intan)

Upaya Pemenuhan Dokter Spesialis, Kukar Jalin Kerja Sama Dengan Unhas

January 8, 2026 by  
Filed under Kesehatan

MAKASSAR – Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) terus berupaya memenuhi kebutuhan dokter spesialis dan subspesialis di Rumah Sakit di daerah ini. Salah satu upaya yang dilakukan dengan menjalin kerja sama antara Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara dengan Universitas Hasanuddin yang tertuang dalam Perjanjian Kerja Sama Nomor: B-1627/KS/KSDN/074-10/07/2023 dan Nomor 16122/UN4.1/HK.07/2023.

Menindaklanjuti perjanjian kerja sama, Bupati Kukar dr. Aulia Rahman Basri melakukan kunjungan kerja ke Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin (UNHAS) Makassar. Selasa (6/1/2026).

Aulia menjelaskan, kunjungan kerja tersebut dilaksanakan dalam rangka evaluasi pelaksanaan kerja sama yang telah berjalan sekaligus koordinasi rencana perluasan kerja sama ke depan.

“Kerja sama ini sangat strategis untuk mendukung peningkatan kualitas layanan kesehatan di Kukar, khususnya dalam pemenuhan dokter spesialis dan subspesialis yang masih menjadi kebutuhan utama di rumah sakit daerah,” ujarnya.

Selain evaluasi, pertemuan juga membahas rencana pengembangan kerja sama dalam bentuk penyiapan dan pengembangan kompetensi putra-putri daerah sebagai tenaga layanan kesehatan, pengembangan kompetensi dokter spesialis, serta riset pemetaan kebutuhan tenaga kesehatan Pemerintah Daerah.

Menurut Bupati, langkah ini sejalan dengan komitmen Pemkab dalam Kukar Idaman Terbaik untuk meningkatkan layanan kesehatan yang berkualitas dan merata sesuai kebutuhan masyarakat.

“Melalui kolaborasi dengan UNHAS, kita berharap dapat mencetak SDM kesehatan unggul dari daerah sendiri serta memperkuat layanan kesehatan di seluruh wilayah Kukar,” tambahnya.

Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara berharap kerja sama yang telah terjalin dapat terus diperkuat dan diperluas demi mewujudkan pelayanan kesehatan yang prima bagi seluruh masyarakat Kukar. (kk04)

Gula, “Silent Killer” yang Luput dari Regulasi Ketat

December 27, 2025 by  
Filed under Kesehatan

SAMARINDA — Rokok, alkohol, dan narkoba selama ini dikenal sebagai tiga zat berbahaya yang peredarannya diawasi ketat karena sifatnya yang adiktif dan berisiko mematikan. Namun di tengah kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia, ada satu zat lain yang dikonsumsi hampir setiap hari, bersifat adiktif, berdampak serius bagi kesehatan, tetapi nyaris dianggap biasa, gula.

Gula hadir di hampir seluruh dapur masyarakat Indonesia, baik dalam bentuk gula pasir, gula aren, hingga gula yang tersembunyi dalam nasi, minuman kemasan, dan makanan olahan. Di balik rasanya yang manis, konsumsi gula berlebih dikaitkan dengan meningkatnya kasus obesitas dan diabetes, dua penyakit kronis yang kini menjadi ancaman serius kesehatan nasional.

Data kesehatan menunjukkan, dalam dua dekade terakhir, prevalensi obesitas di Indonesia meningkat hampir dua kali lipat. Diabetes melitus tipe 2 pun kini masuk dalam jajaran penyebab kematian tertinggi di Indonesia. Kementerian Kesehatan RI menyebut konsumsi gula berlebih sebagai salah satu faktor risiko utamanya.

“Konsumsi gula berlebihan merupakan faktor risiko utama diabetes melitus tipe 2 dan obesitas,” tulis Kementerian Kesehatan RI dalam sejumlah materi edukasi GERMAS.

Peringatan soal bahaya gula sebenarnya bukan hal baru. Sejak 1972, profesor nutrisi asal Inggris, John Yudkin, telah mengingatkan dunia lewat bukunya Pure, White and Deadly. Dalam buku tersebut, Yudkin secara terang-terangan mengkritik konsumsi gula yang berlebihan dan dampaknya terhadap kesehatan manusia.

“If only a small fraction of what we now know about the effects of sugar were revealed in relation to any other substance, that substance would be immediately banned,” tulis Yudkin.
(Jika hanya sebagian kecil dari dampak gula terjadi pada zat lain, maka zat tersebut sudah lama dilarang).

Pernyataan tersebut menuai kontroversi besar pada masanya. Yudkin bahkan mendapat tekanan dari banyak ilmuwan dan industri pangan karena berani mengungkap sisi gelap gula. Meski telah berlalu lebih dari 50 tahun, peringatan itu dinilai masih relevan hingga hari ini.

Profesor Nutrisi dan Epidemiologi dari Harvard T.H. Chan School of Public Health, Dr. Frank Hu, menegaskan gula bukan sekadar persoalan berat badan.

“Sugary drinks are a major contributor to obesity, type 2 diabetes, and heart disease,” ujar Hu.

Artinya, minuman manis menyumbang asupan gula tinggi tanpa memberi rasa kenyang, sehingga meningkatkan risiko obesitas, diabetes tipe 2, dan penyakit jantung secara bertahap.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pun telah lama mengeluarkan peringatan serupa. WHO menyebut tingginya konsumsi gula bebas sebagai ancaman serius bagi kualitas gizi dan kesehatan masyarakat.

WHO merekomendasikan konsumsi gula tambahan tidak lebih dari 10 persen total asupan energi harian, bahkan idealnya ditekan hingga 5 persen.

Berbeda dengan rokok dan alkohol, gula memiliki posisi unik karena secara alami terkandung dalam bahan pangan pokok seperti nasi, buah, dan umbi-umbian. Tubuh manusia memang membutuhkan glukosa sebagai sumber energi. Namun, masalah muncul ketika gula tambahan dikonsumsi secara berlebihan melalui minuman manis, makanan olahan, dan camilan populer.

Selain itu, gula telah menjadi bagian dari budaya makan, industri pangan, dan ekonomi global. Inilah yang membuat regulasi terhadap gula jauh lebih kompleks dibandingkan zat adiktif lainnya.

Kementerian Kesehatan RI sendiri menetapkan batas konsumsi gula harian maksimal 50 gram per orang per hari, atau setara dengan empat sendok makan. Namun dalam praktiknya, angka tersebut kerap terlampaui tanpa disadari, terutama karena gula tersembunyi dalam produk makanan dan minuman kemasan.

Meski bukti ilmiah terus bertambah dan kesadaran masyarakat mulai tumbuh, gula masih kerap dianggap ancaman sepele. Padahal, para ahli sepakat bahwa dampak gula bekerja perlahan, tanpa gejala instan, namun berujung pada penyakit kronis yang mematikan. (intan)

Tren Sosmed Detox, Jeda Digital Demi Kesehatan Mental

December 27, 2025 by  
Filed under Kesehatan

SAMARINDA — Di tengah dominasi media sosial dalam kehidupan sehari-hari, istilah sosmed detox kini menjadi tren positif yang mulai banyak dilirik oleh generasi muda hingga profesional. Praktik ini bukan sekadar gaya-gayaan, melainkan ada dukungan penelitian ilmiah yang menunjukkan manfaatnya bagi kesejahteraan mental.

Social media detox atau sosmed detox secara sederhana adalah periode waktu ketika seseorang secara sukarela menahan diri dari menggunakan platform media sosial, seperti TikTok, Instagram, Facebook atau X, untuk sementara waktu. Tujuan utamanya adalah mengurangi dampak negatif dari penggunaan berlebihan, termasuk stres, kecemasan, gangguan tidur, hingga perasaan kehilangan kendali setelah terlalu lama melakukan scrolling.

Beberapa studi terbaru menunjukkan, melakukan jeda dari media sosial membawa efek baik terhadap kesehatan mental.

Penelitian JAMA Network Open, sebuah penelitian terhadap ratusan orang dewasa muda menemukan bahwa melakukan sosmed detox selama satu minggu mampu mengurangi gejala depresi hingga hampir 25%, kecemasan 16%, dan masalah tidur sekitar 14%. Ini menunjukka jeda pendek dari media sosial dapat membantu menurunkan beban psikologis yang terkait dengan penggunaannya.

Namun, efek terhadap kepuasan hidup dan stres bisa bervariasi tergantung kondisi masing-masing individu, menunjukkan sosmed detox bukan solusi tunggal, melainkan bagian dari pendekatan kesejahteraan digital yang lebih luas.

Sosmed detox adalah mengurangi atau menghentikan sementara penggunaan media sosial untuk mendapatkan kembali kontrol atas waktu dan kesehatan mental. Ini bisa dilakukan dengan uninstal aplikasi sementara, menonaktifkan notifikasi, dan menetapkan jam tanpa layar (screen-free time).

Fokus pada aktivitas di luar dunia digital
Praktik ini seringkali dilakukan secara sukarela dan dapat disesuaikan dengan kebutuhan individu.

Wardah, seorang pekerja kreatif berusia 23 tahun, mengaku rutin melakukan sosmed detox ketika merasa burnout dan kehilangan kendali akibat terlalu banyak scrolling.

“Kalau sudah mulai merasa scrolling time makin panjang, screen time tidak terkendali, dan mood turun, aku langsung uninstall TikTok dan Instagram dari ponsel untuk beberapa hari,” ujarnya.

Wardah mengatakan, langkah sederhana itu sering kali membuatnya merasa lebih tenang, fokus kembali, dan jauh lebih produktif tanpa tekanan konten yang terus berdatangan dari feed sosial media.

Menurutnya, sosmed detox bukan berarti berhenti total dari internet, tetapi menata ulang bagaimana teknologi digunakan, sehingga tidak lagi menjadi sumber stres atau kecanduan.

Dalam era digital seperti sekarang, media sosial bisa memberi dampak positif seperti informasi terbaru, koneksi sosial, atau hiburan. Namun, keterlibatan berlebihan dengan platform-platform tersebut juga bisa menimbulkan “tekanan psikologis yang tak terlihat”, termasuk kecemasan, gangguan tidur, atau perasaan tidak pernah cukup. Penelitian tentang dampak interaksi sosial digital terus berkembang untuk memahami hubungan kompleks antara penggunaan media sosial dan kesehatan mental.

Dengan tren sosmed detox yang makin populer ini, banyak orang kini mulai menyadari pentingnya menyeimbangkan kehidupan digital dan offline, sehingga pengalaman teknologi jadi sesuatu yang lebih bermakna, bukan sekadar rutinitas yang melelahkan. (intan)

Program Magister Administrasi Rumah Sakit Unud Siapkan Pemimpin Kesehatan Masa Depan

December 12, 2025 by  
Filed under Kesehatan

DENPASAR — Universitas Udayana resmi meluncurkan Program Studi Magister Administrasi Rumah Sakit (MARS), sebuah program pascasarjana yang dirancang untuk menjawab kebutuhan industri kesehatan akan pemimpin rumah sakit yang adaptif dan berdaya saing global. Kehadiran program ini menjadi respons terhadap meningkatnya kompleksitas tata kelola rumah sakit, terutama di tengah transformasi digital dan tuntutan layanan kesehatan yang semakin tinggi.

Program MARS dirancang untuk mengintegrasikan ilmu administrasi, kebijakan kesehatan, serta teknologi digital dalam pengelolaan fasilitas kesehatan. Dengan kurikulum berbasis standar nasional dan internasional, program ini menaruh perhatian pada isu-isu mendesak seperti manajemen krisis kesehatan, keberlanjutan finansial rumah sakit, hingga penguatan etika kepemimpinan.

Dalam keterangannya, pihak universitas menyampaikan bahwa program ini memiliki visi menjadi pusat pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni dalam tata kelola administrasi rumah sakit dan kesehatan wisata yang unggul, bertanggung jawab, dan berkelanjutan di Indonesia. Upaya ini diperkuat melalui penyelenggaraan pendidikan berbasis outcome, penelitian lintas disiplin, serta pembangunan jejaring kerja sama dengan berbagai lembaga pemerintah maupun non-pemerintah di tingkat lokal, nasional, dan internasional.

Program ini berada di bawah arahan Direktur Pascasarjana Prof. I Nyoman Suprapta Winaya, S.T., M.A.Sc., Ph.D., bersama Koordinator Program Studi Dr. Luh Seri Ani, SKM., M.Kes., serta Ketua Task Force Prof. Dr. dr. Cokorda Bagus Jaya Lesmana, S.Ked., Sp.KJ (K), MARS. Kehadiran tim pengajar multidisiplin dari berbagai bidang kesehatan, manajemen, industri rumah sakit, teknik, ekonomi, hingga farmasi memperkuat kualitas akademik program ini. Beberapa di antaranya adalah Prof. Dr. Ir. I Wayan Budiasa, S.P., M.P., IPU, ASEAN Eng.; Dr. dr. I Ketut Suarjana, S.Ked., MPH; Dr. dr. I Wayan Gede Artawan Eka Putra, M.Epid.; DR. dr. Ni Made Sri Noviyanti, MPH; DR. dr. I B Fajar Manuaba, SpOG; serta sejumlah akademisi dan pakar lainnya.

Program MARS akan mulai berjalan pada Semester Genap Tahun Akademik 2025/2026 dengan kuota perdana sebanyak 30 mahasiswa. Pendaftaran dibuka hingga 6 Januari 2026 melalui situs resmi Universitas Udayana. Kurikulum mencakup 54 SKS yang terdiri atas mata kuliah inti seperti Manajemen Strategis Rumah Sakit, Analisis Kebijakan Kesehatan, serta Praktikum Lapangan di sejumlah rumah sakit mitra. Lulusan program ini diproyeksikan untuk dapat mengisi posisi strategis seperti direktur rumah sakit, manajer operasional, konsultan kebijakan kesehatan, hingga peran di BPJS, Kementerian Kesehatan, maupun sebagai akademisi.

Peluncuran MARS turut menandai penguatan kolaborasi Universitas Udayana dengan berbagai institusi layanan kesehatan, termasuk RSPTN Unud, RSUD Wangaya, RSUP Prof. Dr. I.G.N.G. Ngoerah, RSUD Bali Mandara, Persatuan Rumah Sakit Indonesia (PERSI), serta Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Kolaborasi ini memastikan bahwa kurikulum dan pelaksanaan pendidikan tetap relevan dengan dinamika lapangan.

Dengan kehadiran Program Magister Administrasi Rumah Sakit ini, Universitas Udayana menegaskan komitmennya dalam mencetak pemimpin kesehatan masa depan yang siap menjawab tantangan industri dan kebutuhan masyarakat. (*)

« Previous PageNext Page »

  • vb