Dua Rakaat di Masjid Quba

February 3, 2026 by  
Filed under Religi, Sosial & Budaya

MADINAH – Masjid Quba berdiri sekitar lima kilometer dari Masjid Nabawi, Madinah. Jaraknya tidak jauh, namun cukup untuk membuat perjalanan ke sana terasa sebagai sebuah niat. Bangunannya kini tampil bersih dan lapang, dengan deretan kubah putih yang tersusun simetris. Tidak berusaha menyaingi kemegahan masjid besar lain di Madinah, tetapi menawarkan ketenangan yang langsung terasa sejak kaki menapak di pelatarannya.

Masjid Quba tercatat sebagai masjid pertama dalam sejarah Islam. Ia dibangun pada tahun 622 M, bertepatan dengan peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW. dari Makkah ke Madinah. Dalam perjalanan hijrah itu, Rasulullah SAW. singgah selama beberapa hari di perkampungan Quba. Di tempat inilah beliau bersama para sahabat meletakkan batu pertama pembangunan masjid, sebuah langkah awal yang menandai babak baru kehidupan umat Islam.

Sejarah tersebut membuat Masjid Quba tidak sekadar menjadi tempat ibadah, melainkan simbol permulaan. Di sinilah hijrah dimulai bukan dengan pidato atau penaklukan, tetapi dengan mendirikan ruang sujud.

Keutamaan Masjid Quba disebutkan secara tegas dalam hadis Nabi Muhammad SAW. Dalam riwayat Ibnu Majah dan An-Nasa’i, Rasulullah SAW bersabda:

“Barang siapa bersuci di rumahnya, kemudian datang ke Masjid Quba dan shalat di dalamnya dua rakaat, maka baginya pahala seperti umrah.”

Hadis ini yang kemudian melekat kuat dalam ingatan jamaah, dua rakaat yang setara umrah. Tidak ada syarat yang rumit. Tidak pula amalan yang panjang. Cukup bersuci, datang, dan shalat dua rakaat dengan niat yang sadar.

Di Masjid Quba, waktu terasa melambat. Jamaah datang dengan langkah pelan. Banyak yang memilih duduk sejenak sebelum shalat, menenangkan napas dan pikiran. Tidak ada dorongan untuk segera bangkit atau bergegas. Masjid ini seperti ruang singgah, tempat orang-orang mengingat kembali mengapa mereka datang jauh-jauh ke Madinah.

Sebagai jamaah perempuan yang pertama kali menginjakkan kaki di sini, saya merasakan, Masjid Quba menghadirkan suasana yang berbeda. Tidak ramai oleh lalu-lalang, tidak pula hiruk oleh suara. Dua rakaat shalat di masjid ini terasa sederhana, tetapi justru di situlah kekuatannya. Ia mengajarkan awal yang besar sering kali lahir dari langkah yang kecil.

“Shalat di Quba itu rasanya sangat berkesan ,” ujar seorang jamaah asal Indonesia yang saya temui di pelataran masjid. Kalimat singkat itu terasa mewakili banyak pengalaman serupa ibadah yang tidak melelahkan, tetapi meninggalkan jejak dalam hati.

Masjid Quba juga disebut dalam Al-Qur’an sebagai masjid yang dibangun atas dasar ketakwaan. Allah berfirman:

“Sesungguhnya masjid yang didirikan atas dasar takwa sejak hari pertama lebih pantas kamu shalat di dalamnya.”
(QS. At-Taubah: 108)

Banyak ulama menafsirkan ayat ini merujuk pada Masjid Quba. Sejak awal, masjid ini dibangun bukan hanya dengan batu dan tanah, tetapi dengan niat yang jernih dan tujuan yang lurus.

Seiring waktu, Masjid Quba telah mengalami beberapa kali perluasan dan renovasi. Kapasitasnya kini mampu menampung puluhan ribu jamaah, terutama pada akhir pekan. Namun nilai historis dan spiritualnya tidak berubah. Jamaah dari berbagai negara tetap datang dengan tujuan yang sama, menunaikan dua rakaat shalat sunnah, lalu berdoa. Tidak sedikit pula yang kembali datang lebih dari sekali selama berada di Madinah. (intan)

Pintu Romantis 338 Masjid Nabawi

February 3, 2026 by  
Filed under Religi, Sosial & Budaya

MADINAH – Di antara lebih dari 40 pintu yang mengelilingi Masjid Nabawi di Madinah, satu nomor menjadi pembicaraan tersendiri di kalangan jamaah Indonesia, Pintu 338. Tak ada catatan sejarah resmi yang menjulukinya dengan nama tertentu, namun di media sosial dan banyak tulisan perjalanan jamaah, angka ini kerap disebut sebagai “pintu romantis”. Istilah itu muncul bukan karena arsitekturnya, melainkan karena cerita sederhana yang berulang dari banyak pasangan.

Masjid Nabawi memiliki banyak gerbang yang diberi nomor dan warna tertentu untuk memudahkan jamaah mengenali arah dan lokasi. Pintu 338 sendiri berada di sisi selatan bangunan masjid, dekat kawasan perhotelan dan deretan pertokoan di sekitar kompleks Masjid Nabawi.

Secara fungsional, pintu ini tidak berbeda dengan pintu lain. Namun secara praktik, ia menjadi salah satu titik temu yang sering dipilih oleh suami dan istri setelah salat berjamaah. Aturan pemisahan area salat laki-laki dan perempuan membuat sebagian jamaah keluar melalui jalur yang berbeda. Di sinilah Pintu 338 dipilih sebagai tempat bertemu kembali. “Selesai salat, ketemunya di sini saja,” ujar seorang jamaah asal Jawa Barat yang saya temui di luar Masjid Nabawi, menyingkap kebiasaan yang kemudian viral di kanal media sosial.

Fenomena ini kemudian berkembang menjadi simbol yang sederhana dan dekat, kesabaran, kebersamaan, dan keharmonisan dalam ibadah. Tidak ada aturan tertulis, tidak ada ritual khusus. Yang ada adalah praktik berulang yang menjadi semacam kesepakatan tak resmi di antara jamaah.

Bagi saya, sebagai perempuan berusia 23 tahun yang juga pernah berjalan di sekitar Masjid Nabawi, Pintu 338 bukan sekadar angka di denah masjid. Saat itu saya melihat suami yang berdiri menunggu, dengan mata yang sesekali menatap jam tangan, dan istri yang datang dengan senyum ringan sehabis salat.

Momen ini berlangsung beberapa menit, tetapi bagi pasangan itu, sekilas tatap dan langkah bersama terasa seperti pengingat, ibadah dilakukan bersama, meski secara teknis dilakukan terpisah untuk sementara. Moment itu saya ingat bukan sebagai drama romantis, tetapi fragmen kecil kehidupan yang mencerminkan bagaimana manusia menata kebersamaan di tengah kerumunan yang besar.

“Saya ingin suatu hari datang bersama pasangan saya,” ujar seorang teman yang berada disamping saya.

Pintu 338 juga menunjukkan hal lain, bagaimana ruang publik bisa diberi makna oleh pengalaman kolektif. Ia tidak dicatat dalam sejarah, tidak dipatenkan dalam peta resmi sebagai “tempat romantis”, namun dari kebiasaan kecil, lahirlah cerita yang terus dibicarakan. Beberapa pasangan bahkan mengambil foto di depan pintu ini, bukan sebagai bentuk selebrasi emosional, tetapi sebagai tanda, mereka telah mengalami satu fragmen perjalanan spiritual bersama, bertemu kembali setelah sujud, setelah doa, setelah menjalani ritme ibadah yang intens.

Tentu semua itu tetap berlangsung dalam koridor kesopanan dan tatanan sosial yang berlaku. Tidak ada tindakan yang melanggar ketentuan tempat ibadah, semuanya berjalan dengan tertib dan penuh rasa hormat kepada sesama jamaah. (intan)

Sambut Hari Pers Nasional PWI Kubar Akan Gelar Donor Darah

February 2, 2026 by  
Filed under Religi, Sosial & Budaya

SENDAWAR – Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kutai Barat akan menggelar kegiatan bakti sosial donor darah untuk memperingati Hari Pers Nasional (HPN) Tahun 2026 dan Hari Ulang Tahun Ke-80

Ketua PWI Kubar, Alfian Nur acara ini digelar PWI Kubar dengan menggandeng Palang Merah Indonesia (PMI) Kutai Barat, Senin 9 Februari 2026.

“Kegiatan donor darah ini menjadi simbol kuatnya kolaborasi lintas sektor dalam menjawab kebutuhan nyata masyarakat, khususnya ketersediaan stok darah, ” ungkapnya, Senin (2/2/2026).

Ia menambahkan, semangat HPN tidak hanya dimaknai sebagai perayaan profesi, tetapi juga momentum memperkuat empati sosial.

Sementara itu Ketua Panitia, yang juga merupakan Sekretaris SIWO PWI Kubar, Kornelius Sunardi menuturkan kegiatan ini adalah wujud kepedulian sosial dan berdampak langsung bagi kemanusiaan, hal inilah yang menjadi alasan PWI Kubar memilih melakukan donor pada puncak peringatan HPN dan HUT PWI ke- 80.

“Melalui aksi donor darah kita ingin masyarakat mengetahui peran pers tak lagi sekadar menyampaikan informasi, tetapi juga hadir langsung di tengah masyarakat melalui aksi nyata,” tegasnya.

Untuk diketahui hingga saat ini sejumlah instansi pemerintah, BUMD, swasta, dan lembaga kemasyarakatan menyatakan kesiapannya untuk berpartisipasi dalam kegiatan bakti sosial donor darah  tersebut, diantaranya Pemkab Kubar, Polres Kubar, Kodim 0912 Kubar, Kejaksaan Kutai Barat, Diskominfo Kubar, PLN Rayon Melak, Kompi 2 Batalyon B Pelopor Kutai Barat, PT ITM Group TCM, BEK, TIS, NPR, GPK, PT. Perumdam Tirta Sendawar Kubar, PT BISM, RSUD HIS, Ansor Banser Kubar, sejumlah stakeholder lainnya juga menyatakan keikutsertaan dalam kegiatan tersebut. (arf)

Gema Shalawat Peringati Satu Abad NU

February 2, 2026 by  
Filed under Religi, Sosial & Budaya

SENDAWAR – Saling bersinergi Gerakan Pemuda Ansor dan Barisan Ansor Serbaguna (Banser) Kabupaten Kutai Barat (Kubar) menggelar istighosah doa bersama dalam rangka peringatan satu abad NU, di Sekretariat Pengurus Cabang Nahdatul Ulama (PCNU) Kubar, Kampung Srimulyo, Kecamatan Sekolaq Darat, Sabtu malam (31/1/2026).

Kegiatan  dihadiri Ketua Rois Syuriah KH Ahmad Asrori yang juga Ketua MUI Kubar, Wakil Ketua Rois Syuriah, KH Khus Syaiful, Kasat Bimas Polres Kubar, Iptu H Syamsul, serta pengurus Nusa NU Kubar, dan Fatayat Muslimah NU Kubar, serta Banom, dan juga Lembaga yang ada dibawah PCNU Kubar.

Plt Ketua PC GP Ansor Kubar, Fahrujiansyah Bachsan mengatakan, kegiatan ini tidak sekadar bersifat seremonial, sesuai dengan tema “Mengawal Indonesia Merdeka, Menuju Peradaban Mulia”. Hal ini merupakan refleksi perjalanan panjang organisasi sejak berdiri pada 1926, sekaligus penguatan identitas ke NU-an dan semangat kebangsaan di tengah masyarakat bumi Tanaa Purai Ngeriman.

“Kita berkumpul disini untuk membaca manaqib, dzikir dan doa bersama memohon perlindungan, keselamatan, kemaslahatan dan pertolongan Allah SWT disetiap aktifitas keseharian kita. Semoga kegiatan ini menjadikan kita semakin cinta NU dan manjadi kader militian sebagai mana perjuangan para pendiri NU terdahulu,” tuturnya.

Pria akrab disapa Ojiq ini menambahkan, peringatan satu abad NU ini merupakan kegiatan yang istimewa karena hanya akan terulang 100 tahun lagi. Peringatan satu abad ini sebagai momen belajar tentang sejarah NU berdiri. Sebab dalam perjalanan, banyak sejarah yang dilalui organisasi ini.

“Sejak 1926 sampai dengan saat ini NU selalu menegaskan NKRI harga mati. Intinya kegiatan ini kita mengenang dan meneladani para muassis dan masyayikh NU seperti Ansor dan Banser, merupakan pengawal para ulama atau penjaga keutuhan bangsa dan negara ini,” jelasnya.

Ojiq juga mengatakan, pengurus Ansor dan Banser, serta Pagar Nusa, serta Fatayah Muslimah NU Kubar, akan memiliki kegiatan rutin Lailatul Ijtima di Sekretariat PCNU Kubar. Selain itu, ada sejumlah kegiatan sosial yang rutin dilaksanakan setiap tahun, menyesuaikan dengan agenda keagamaan pada bulan Muharram.

“Tidak hanya itu, selama ini kami para pengurus telah rutin memobilisasi pasukan banser untuk pengamanan dalam membantu TNI-Polri diwilayah ini, mulai dari pengamanan rumah ibadah saat para saudara dan saudari kita umat Nasrani dalam menjalankan ibadahnya di gereja yang ada di Ibukota Sendawar,” pungkasnya.

 

Ketua Banser Kubar Musman Seno, yang juga ketua panitia kegiatan tersebut menerangkan, ada beberapa rangkaian kegiatan dalam peringatan satu abad NU di Kubar, yakni doa bersama untuk para pendiri dan pejuang NU, gema shalawat, khaul akbar, pemotongan nasi tumpeng dan doa untuk keselamatan bangsa.

Kegiatan ini seperti ini memiliki potensi yang cukup besar jika dikelola dengan baik. Hal itu salah satunya terbukti dengan kegiatan yang direncanakan secara sederhana ini bisa berjalan dengan baik. Secara efektif kepanitiaan ini dibentuk dan langsung bekerja.

“Kami berharap para pengurus NU, badan otonom dan semua warga NU bisa lebih solid dan kompak saling membantu,” pungkas Seno. (*)

Warga RT 52 Sungai Pinang Dalam Gelar Penjaringan Calon Ketua RT

January 31, 2026 by  
Filed under Religi, Sosial & Budaya

SAMARINDA – RT 52  Kelurahan Sungai Pinang Dalam Kecamatan Sungai Pinang menggelar kegiatan penjaringan calon Ketua RT untuk periode mendatang. Pemilihan dijadwalkan akan  dilaksanakan dengan melibatkan partisipasi aktif warga setempat, Rabu (04/2/2026)

Penjaringan calon Ketua RT ini sesuai dengan yang tertuang dalam Kemendagri Nomor 18 tahun 2018 tentang tata cara pemilihan calon ketua RT, bertujuan untuk menjaring warga yang bersedia dan memenuhi kriteria untuk memimpin serta mengoordinasikan kegiatan kemasyarakatan di lingkungan RT 52. Proses penjaringan dilakukan secara terbuka dengan memberikan kesempatan kepada warga untuk mengajukan diri maupun mengusulkan calon yang dianggap layak.

Ketua Panitia Penjaringan, Lurah Sungai Pinang Dalam Novi Kurnia,melalui sekretaris panitia penjaringan Ony Resita menyampaikan, kegiatan ini merupakan bagian dari upaya menjaga transparansi dan demokrasi di tingkat lingkungan.

“Kami berharap melalui penjaringan ini akan muncul calon Ketua RT yang amanah, peduli, dan siap bekerja sama dengan warga,” ujarnya.

Antusiasme warga terlihat dari kehadiran dan partisipasi dalam menyampaikan aspirasi serta usulan calon. Hasil penjaringan ini selanjutnya akan ditindaklanjuti pada tahapan pemilihan Ketua RT sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Dengan adanya kegiatan ini, diharapkan proses pemilihan Ketua RT 52 dapat berjalan lancar dan menghasilkan pemimpin yang mampu membawa lingkungan menjadi lebih tertib, rukun, dan sejahtera, yang tentunya bisa mencipatakan lingkungannya lebih bersih. (*)

« Previous PageNext Page »

  • vb

  • Pengunjung

    1603932
    Users Today : 3552
    Users Yesterday : 7365
    This Year : 540442
    Total Users : 1603932
    Total views : 13787047
    Who's Online : 65
    Your IP Address : 216.73.216.54
    Server Time : 2026-04-05