Masjid Negara dan Gereja Basilika Nusantara Siap Difungsikan Untuk Agenda Besar

February 14, 2026 by  
Filed under Religi, Sosial & Budaya

IKN – Wakil Menteri Agama RI, Romo Muhammad Syafi’I didampingi Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Kalimantan Timur, Abdul Khaliq melakukan peninjauan terhadap progres pembangunan rumah ibadah di Ibu Kota Nusantara (IKN), Kamis (12/2/2026). Dalam kunjungan tersebut, Wamenag.

Peninjauan ini bertujuan untuk memastikan kesiapan infrastruktur rumah ibadah dalam menyambut rangkaian agenda besar keagamaan nasional dalam beberapa bulan ke depan.

Wamenag menyampaikan dua ikon rumah ibadah, Masjid Negara dan Gereja Basilika Nusantara, siap difungsikan untuk agenda besar nasional dalam waktu dekat.

Ia menekankan kepastian kesiapan Masjid Negara sangat krusial, mengingat pada hari kedua Ramadan 1447 H, Menteri Agama RI, Nasaruddin Umar, dijadwalkan hadir untuk melaksanakan salat tarawih dan memberikan tausiyah.

“Pihak Otorita menyampaikan, Masjid Negara pada tanggal tersebut sudah bisa digunakan sepenuhnya. Hanya menunggu pemasangan karpet dan penyiapan meubeler, dan itu pun sedang dalam proses. Ini artinya, pada 2 Ramadan insyaallah aman,” ujar Wamenag optimis.

Tak jauh dari Masjid Negara, Wamenag juga meninjau Gereja Basilika Nusantara. Gereja ini dipersiapkan untuk menjadi tuan rumah Pertemuan Uskup se-Indonesia pada Mei mendatang.

Berdasarkan laporan Kepala Balai Penataan Bangunan, Prasarana, dan Kawasan Kalimantan Timur Kementerian Pekerjaan Umum, Efry Biaktama Meliala, fasilitas gereja termasuk rumah uskup dipastikan sudah bisa difungsikan paling lambat pada bulan depan. Namun, ada perhatian khusus pada elemen ikonik bangunan ini.

“Menjadi perhatian khusus tadi adalah terkait pemasangan lonceng dan salibnya, karena ini didatangkan langsung dari Belanda,” jelas Wamenag.

“Yang terpenting, pelaksanaan pertemuan uskup pada bulan kelima mendatang bisa dilaksanakan,” imbuhnya.

Selain kedua bangunan tersebut, Wamenag membawa kabar baik mengenai penguatan toleransi di IKN. Pemerintah telah menyiapkan lahan untuk pembangunan rumah ibadah agama lainnya, meliputi Gereja Kristen, Pura, Vihara, hingga Klenteng.

“Pihak Otorita IKN menyatakan lahannya sudah tersedia. Tinggal menunggu proses pembangunannya saja yang mungkin bisa dimulai pada tahun ini atau tahun 2027,” pungkas Wamenag.

Di sela-sela pendampingan, Kepala Kanwil , Abdul Khaliq, menyatakan kesiapan jajarannya di daerah untuk mengawal transisi pengelolaan rumah ibadah di IKN.

“Kanwil Kemenag Kaltim berkomitmen penuh untuk mendukung koordinasi teknis di lapangan,” ungkap Kepala Kanwil.

Ia menambahkan pembangunan rumah ibadah yang berdampingan di IKN merupakan simbol nyata moderasi beragama di Indonesia.

“Kami terus memantau progres ini bersama Otorita IKN. Bukan hanya soal fisik bangunan, tapi bagaimana nantinya rumah-rumah ibadah ini menjadi pusat harmoni dan kerukunan bagi seluruh umat beragama di Ibu Kota Nusantara,” pungkasnya. (Win)

Katamedia.co Salurkan Bantuan CSR ke Majelis Qolbun Salim

February 11, 2026 by  
Filed under Religi, Sosial & Budaya

Samarinda–  Media online Katamedia.co menyalurkan bantuan Corporate Social Responsibility (CSR) kepada Majelis Qolbun Salim yang berlokasi di Jalan KH Harun Nafsi, Samarinda Seberang, Rabu, (11/2/2026).

Bantuan tersebut diserahkan Direktur Katamedia.co, Ashar, dan diterima secara langsung oleh pimpinan Majelis Qolbun Salim, Habib Nasir. Penyerahan berlangsung dalam suasana sederhana, hangat, dan penuh kekeluargaan.

Direktur Katamedia.co, Adhar, mengatakan, bantuan CSR tersebut berasal dari kas perusahaan. Ia menyampaikan penyaluran bantuan ini merupakan bentuk kepedulian media terhadap kegiatan keagamaan serta kebutuhan jamaah majelis.

“Alhamdulillah, hari ini kami bisa berbagi melalui program CSR. Beberapa waktu lalu Katamedia.co mendapatkan sejumlah pekerjaan, baik dari pihak swasta maupun dari Pemprov Kaltim, sehingga dari rezeki tersebut kami sisihkan sebagian untuk disedekahkan,” ujar Adhar.

Menurutnya, media tidak hanya berperan sebagai penyampai informasi kepada publik, tetapi juga memiliki tanggung jawab sosial untuk hadir dan memberi manfaat nyata bagi masyarakat.

“Kami berharap bantuan ini dapat dimanfaatkan dengan baik dan kegiatan seperti ini bisa terus dilakukan secara berkelanjutan,” tambahnya.

Sementara itu, Habib Nasir menyampaikan rasa syukur dan terima kasih atas perhatian yang diberikan oleh Katamedia.co. Ia mengapresiasi kepedulian insan pers terhadap kegiatan majelis dan jamaah.

“Alhamdulillah, kami sangat bersyukur dan berterima kasih atas bantuan ini. Semoga Katamedia.co semakin maju, seluruh kru diberikan kesehatan dalam bertugas, dan rezekinya terus dilapangkan agar bisa berbagi secara berkelanjutan,” tuturnya.

Melalui kegiatan CSR ini, Katamedia.co berharap dapat mempererat hubungan dengan masyarakat sekaligus menumbuhkan semangat berbagi di tengah aktivitas jurnalistik. (*)

Pamali yang Dulu Ditakuti, Kini Sekadar Cerita Sebelum Tidur

February 11, 2026 by  
Filed under Religi, Sosial & Budaya

Pamali pernah menjadi semacam “alarm sosial” di tengah kehidupan masyarakat Nusantara. Larangan-larangan yang diwariskan secara lisan itu dulu dipercaya mampu menjaga keteraturan hidup, mulai dari etika, keselamatan, hingga harmoni dengan alam.

Namun seiring waktu, pamali perlahan bergeser makna dari sesuatu yang ditakuti, menjadi cerita yang hanya terdengar menjelang tidur.

Istilah pamali banyak ditemukan dalam budaya Sunda, Jawa, dan beberapa wilayah di Kalimantan serta Sulawesi. Secara umum, pamali berarti pantangan atau larangan adat yang tidak boleh dilanggar karena diyakini akan membawa akibat buruk.

Dalam budaya Sunda, pamali kerap dikaitkan dengan tata krama dan keselamatan. Sementara dalam tradisi Jawa, pamali sering diselipkan sebagai bentuk pengendalian perilaku anak-anak agar patuh pada norma keluarga.

Pamali lahir dari kebutuhan masyarakat tradisional untuk menyampaikan nilai tanpa penjelasan panjang. Pada masa lalu, ketika pendidikan formal belum merata, larangan yang dibungkus unsur mistis dianggap lebih efektif. Duduk di ambang pintu, misalnya, dianggap pamali karena bisa menghalangi jalan dan membahayakan orang lain. Sementara larangan memotong kuku di malam hari diyakini berkaitan dengan kondisi penerangan zaman dulu yang minim, sehingga berisiko melukai diri sendiri.

Larangan-larangan lain yang akrab di telinga generasi lama antara lain menyapu di malam hari, bersiul di dalam rumah, hingga tidur tengkurap. Meski alasannya kerap terdengar irasional, banyak pamali memiliki akar logis jika ditelusuri lebih dalam, mulai dari menjaga kebersihan, etika sosial, hingga kesehatan.

Namun, di tengah derasnya arus digital dan pola pikir yang semakin rasional, pamali tak lagi dipahami sebagai aturan mutlak. Bagi generasi Z, pamali lebih sering hadir sebagai nostalgia masa kecil.

“Aku dulu sering banget dibilang pamali sama ibuku. Duduk di lawang pintu, potong kuku malam-malam, itu pasti ditegur,” kata Aisyah (22), seorang mahasiswa asal Bandung. “Sekarang sih nggak takut, tapi anehnya kebiasaan itu tetap kebawa. Kayak refleks aja.”

Hal serupa diungkapkan Rizky (24), pekerja kreatif di Tasikmalaya. Menurutnya, pamali bukan lagi soal takut celaka, melainkan bentuk memori kolektif. “Pamali sekarang lebih kayak cerita pengantar tidur. Kita dengarnya sambil ketawa, tapi dulu itu serius banget,” ujarnya.

Pergeseran makna pamali menunjukkan perubahan cara generasi memahami tradisi. Pamali tidak sepenuhnya hilang, tetapi bertransformasi. Ia tetap hidup dalam bahasa ibu, dalam cerita keluarga, dan dalam ingatan masa kecil meski tak lagi berdiri sebagai aturan yang mengikat. (intan)

PWI Kubar Gelar Bhakti Sosial Donor Darah

February 9, 2026 by  
Filed under Religi, Sosial & Budaya

SENDAWAR – PWI Kabupaten Kutai Barat (Kubar) menggelar kegiatan bakti sosial donor darah, bekerja sama dengan Palang Merah Indonesia (PMI) dan Rumah Sakit Umum, Harapan Insan Sendawar (RSUD HIS), Kubar, Senin (9/2/2026).

Kegiatan donor darah yang dibuka Bupati Kubar, Frederik Edwin merupakan rangkaian peringatan Hari Pers Nasional (HPN) dan Hari Ulang Tahun PWI ke 80 tahun 2026,

Ketua PWI Kubar, Alfian Nur menyampaikan, aksi donor darah tersebut merupakan wujud kepedulian insan pers terhadap masyarakat. PWI Kubar menargetkan pengumpulan 80 kantong darah, sejalan dengan peringatan HUT ke-80 PWI.

“Pers tidak hanya menyampaikan informasi semata, tetapi juga harus hadir dengan kepedulian sosial, seperti donor darah ini menjadi bentuk nyata kontribusi pers untuk kemanusiaan,”ujarnya..

Sementara Bupati Kubar, Frederik Edwin mengatakan, kegiatan  ini sebagai momentum semangat solidaritas kemanusiaan, dalam pemenuhan kebutuhan stok darah di unit transfusi darah PMI RSUD HIS Kutai Barat. Sekaligus memperkuat peran PWI dalam pembangunan daerah.

Ia menyebut, peringatan HPN bukan sekedar peringatan seremonial tahunan semata, melainkan memiliki track record  penting bagi insan pers dalam berbangsa dan bernegara. Pers bukan hanya sekedar penyanji informasi, tetapi juga kritisi pemerintah pemgawal demokrasi, serta penegak sosial di tengah masyarakat.

“Melalui tema, Pers Sehat, Ekonomi Berdaulat, Bangsa Kuat. Kita diajak untuk memahami bahwa jika Pers sehat, profesional dan bermartabat akan mampu memberikan kontribusi yang lebih besar, tidak hanya sebagai gatekeeper dalam pembangunan berdemokrasi,”ujarnya.

Dikatakan, setetes darah yang di sumbangkan hari ini, sungguh sangat berarti bagi saudara saudari yang membutuhkan, dan menjadi bukti bahwa Pers hadir dan berbuat langsung di tengah masyarakat.

“Menyadari fakta penting dari kegiatan ini, saya mau menyampaikan pesan dan juga harapan, pertama agar insan pers terus menjaga profesionalisme,  integritas dan kesehatan, sehinnga mampu menjalankan fungsi jurnalistik secara bertanggung jawab dan bermartabat,”bebernya.

Bupati berharap kegiatan sosial kemanusiaan seperti ini dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan sebagai penggiat dari pengabdian  Pers kepada masyarakat dan daerah. Selain itu kegitan ini dapat memperkuat sinergi antara Pers, Pemda, serta seluruh masyarakat dalam mendukung pembangunan, menjaga persatuan, dan meningkatkan kepedulian, hususnya kepada penyelenggaraan pembangunan,”ungkapnya. (*)

Di Balik Sederhana, Kuliner Sunda Menyimpan Cerita dan Filosofi Hidup

February 5, 2026 by  
Filed under Religi, Sosial & Budaya

Tasikmalaya – Kuliner Sunda kerap dikenal sederhana, jauh dari tampilan mewah atau bumbu yang berlapis-lapis. Namun di balik kesederhanaan itu, tersimpan cerita panjang tentang cara hidup masyarakat Sunda yang menjunjung kebersahajaan, kebersamaan, dan kedekatan dengan alam.

Makanan khas Sunda umumnya lahir dari bahan-bahan lokal yang mudah dijumpai di lingkungan sekitar, seperti singkong, oncom, sayuran segar, hingga ikan air tawar. Cara pengolahannya pun tidak rumit. Meski demikian, setiap hidangan memiliki makna yang lebih dalam daripada sekadar pemenuhan rasa lapar.

Sebagai contoh, nasi liwet yang sering disajikan saat ngaliwet mencerminkan nilai kebersamaan. Hidangan ini tidak dimakan sendiri, melainkan dinikmati bersama-sama dalam satu hamparan daun pisang. Tidak ada porsi khusus, tidak ada pembeda. Semua duduk sejajar, berbagi lauk dan cerita.

Kesederhanaan juga tercermin pada kudapan tradisional seperti combro, misro, atau colenak. Combro, yang berasal dari istilah oncom di jero (isian oncom di dalam), menggambarkan cara masyarakat Sunda memanfaatkan bahan pangan hasil fermentasi menjadi hidangan bernilai rasa tinggi.

Misro dengan isian gula aren menghadirkan filosofi keseimbangan antara manis dan gurih, sementara colenak mengajarkan, singkong bahan yang sering dipandang biasa bisa menjadi sajian istimewa bila diolah dengan tepat.

Bagi Wardah, pecinta kuliner Sunda yang kini tinggal di Kalimantan, makanan-makanan tersebut menyimpan makna emosional tersendiri.
“Kuliner Sunda itu kelihatannya sederhana, tapi rasanya jujur. Nggak dibuat-buat,” ujarnya. Menurut Wardah, setiap kali pulang ke Jawa Barat, ia selalu menyempatkan diri mencari makanan khas Sunda. “Ada rasa tenang waktu makan makanan kampung sendiri. Kayak lagi diingatkan buat hidup nggak berlebihan,” katanya.

Wardah menilai kuliner Sunda mengajarkan cara menikmati hidup secara perlahan. “Makanannya nggak ribet, tapi bikin nyaman. Dari situ aku ngerasa, hidup juga seharusnya begitu,” ucapnya.

Selain bahan dan rasa, filosofi kuliner Sunda juga terlihat dari cara penyajiannya. Lalapan mentah, misalnya, menunjukkan kedekatan masyarakat Sunda dengan alam serta kebiasaan mengonsumsi makanan segar tanpa banyak proses. Sambal dadak yang dibuat secara langsung mencerminkan spontanitas dan kejujuran rasa.

Dalam kehidupan sehari-hari, makanan bukan hanya soal selera, tetapi juga sarana menjaga hubungan sosial. Banyak hidangan Sunda disiapkan untuk dimakan bersama, baik dalam keluarga, lingkungan tetangga, maupun komunitas. Tradisi ini menegaskan, makan adalah aktivitas sosial yang mempererat ikatan, bukan sekadar rutinitas individual. (intan)

« Previous PageNext Page »

  • vb

  • Pengunjung

    1457434
    Users Today : 4340
    Users Yesterday : 5108
    This Year : 393944
    Total Users : 1457434
    Total views : 12837770
    Who's Online : 61
    Your IP Address : 216.73.216.180
    Server Time : 2026-03-10