Dinas Sosial Kaltim Dirikan Dapur Umum di LokasiMusibah Kebakaran

February 27, 2026 by  
Filed under Religi, Sosial & Budaya

Paser – Dinas Sosial Provinsi Kalimantan Timur bergerak cepat hadir memberikan pelayanan penanganan bencana pasca kebakaran hebat yang terjadi, di Desa Muara Adang, Kecamatan Long Ikis, Kabupaten Paser, Kamis (26/2/2026) sore.

“Mulai hari ini kita mendirikan dapur umum untuk pemenuhan kebutuhan permakanan entitas bencana kebakaran yang menghanguskan  45 rumah, 58 KK dan 173 jiwa,” ujar Kepala Dinas Sosial Provinsi Kalimantan Timur Andi Muhammad Ishak melalui Kepala Bidang Perlindungan dan Jaminan Sosial Achmad Rasyidi, Jumat (27/2/2026) malam.

Pendirian dapur umum kerjasama Dinas Sosial Provinsi Kalimantan Timur, Dinas Sosial Kabupaten Paser, Tagana Kaltim, dan, perangkat setempat.

Hari pertama pendirian dapur umum menyiapkan sebanyak 370 porsi untuk  makan buka puasa. Setelah itu tim akan kembali menyiapkan untuk makan sahur dan akan tetap buka hingga beberapa hari ke depan.

Sembari pelayanan dapur umum berjalan tim petugas lapangan terus mendata dan melakukan kaji cepat mengidentifikasi kebutuhan lain yang mungkin diperlukan.

Berdasarkan informasi di lapangan kebakaran dipicu dari percikan petasan yang menyambar minyak di kios Bahan Bakar Minyak (BBM) milik warga, lalu dengan cepat merembet ke bangunan lain yang mayoritas berbahan kayu. (AM)

Buka Puasa Bersama, Polres Kutai Barat Santuni Anak Yatim

February 25, 2026 by  
Filed under Religi, Sosial & Budaya

SENDAWAR– Polres Kutai Barat menggelar kegiatan buka puasa bersama insan pers sekaligus memberikan santunan kepada anak yatim, di Mapolres Kubar, Rabu (25/2/2026).

Kegiatan yang berlangsung penuh kehangatan tersebut dihadiri Wakapolres Kubar, Kompol Subari, Kabag Ops. Kompol Teguh dan jajaran pejabat utama Polres, para wartawan yang bertugas di wilayah Kutai Barat, serta anak yatim dari sejumlah panti asuhan dan pondok pesantren.

Wakapolres Kompol Subari mengatakan, kegiatan ini menjadi momentum untuk mempererat silaturahmi antara kepolisian dan insan pers, sekaligus memperkuat kepedulian sosial kepada masyarakat yang membutuhkan.

“Ramadan adalah bulan yang penuh berkah. Melalui kegiatan ini, kami ingin berbagi kebahagiaan dengan anak-anak kita sekaligus mempererat sinergi dengan rekan-rekan media yang selama ini menjadi mitra strategis Polri,” ujarnya.

Selain penyerahan santunan berupa bantuan uang tunai, kegiatan juga diisi dengan tausiah singkat menjelang waktu berbuka. Suasana kekeluargaan tampak saat seluruh peserta duduk bersama menikmati hidangan berbuka puasa.

Sementara itu, Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kutai Barat, Alfian Nur, menyambut baik kegiatan tersebut dan mengapresiasi inisiatif Polres Kutai Barat yang dinilai mampu membangun komunikasi yang lebih terbuka dan harmonis antara kepolisian dan media.

“Kami sangat berterima kasih dan apresiasi tinggi kepada bapak Kapolres dan jajaran yang berkenan mengadakan kegiatan buka bersama ini. Ke depan kami berharap sinergi antara kepolisian dan wartawan semakin baik, terutama dalam publikasi demi mendukung keterbukaan informasi serta menjaga situasi daerah tetap aman dan kondusif,” kata Alfian.

Momentum Ramadan ini diharapkan semakin memperkuat kolaborasi antara kepolisian dan insan pers dalam memberikan informasi yang akurat, berimbang, dan bermanfaat bagi masyarakat Kutai Barat. (arf)

Menapaki Malam Ramadan di Islamic Center

February 23, 2026 by  
Filed under Religi, Sosial & Budaya

Masjid Islamic Centre Samarinda

SAMARINDA — Malam kelima Ramadan di Masjid Islamic Center Samarinda berlangsung khusyuk. Ribuan jamaah memadati area dalam dan pelataran masjid yang berdiri megah di tepi Sungai Mahakam tersebut.

Masjid yang dikenal sebagai salah satu ikon Kota Samarinda itu memiliki arsitektur bergaya Timur Tengah dengan kubah utama besar berwarna hijau kebiruan yang menjulang, dikelilingi menara tinggi yang terlihat dari berbagai sudut kota. Pilar-pilar kokoh serta ruang utama yang luas memberi kesan agung, namun tetap terbuka bagi siapa saja yang datang beribadah.

Diresmikan pada awal 2000-an, masjid ini dibangun sebagai pusat kegiatan keagamaan dan syiar Islam di Kalimantan Timur. Sejak itu, Islamic Center tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga ruang pertemuan umat dalam berbagai momentum keislaman.

Di antara jamaah malam itu, Thalia (24), warga Samarinda Seberang, mengaku baru pertama kali melaksanakan tarawih di masjid tersebut. Ia sengaja datang untuk merasakan langsung suasana ibadah di lokasi yang selama ini hanya ia lihat dari kejauhan.

“Ingin merasakan suasana bertarawih di ikon Kota Samarinda. Sebelumnya belum pernah juga salat di sini, jadi ingin merasakan salat di masjid ini,” ujarnya usai salat.

Menurutnya, suasana tarawih terasa berbeda. Lantunan ayat suci Al-Qur’an menggema di ruang utama yang luas. Fasilitas kipas angin yang tersebar membuat jamaah tetap nyaman meski jumlahnya cukup banyak.

“Nyaman aja kok, banyak kipas juga jadi enggak gerah,” terangnya.

Tak hanya menjadi ruang spiritual, kawasan sekitar masjid juga hidup dengan aktivitas ekonomi Ramadan. Usai tarawih, jamaah berbaur di area bazar dan Pasar Ramadan yang menawarkan beragam jajanan. Thalia pun memanfaatkan momen tersebut untuk sekadar melihat-lihat dan membeli camilan. (intan)

Hangatnya Buka Puasa di Masjid Nurul Mu’minin Samarinda

February 19, 2026 by  
Filed under Religi, Sosial & Budaya

SAMARINDA — Suasana berbuka puasa di Masjid Nurul Mu’minin, Kota Samarinda, berlangsung hangat dan penuh kebersamaan. Meski tidak membludak, jemaah yang hadir tampak memenuhi koridor masjid dengan tertib, ramai, namun tetap terasa lapang.

Kegiatan buka puasa bersama ini rutin dilaksanakan setiap hari selama Ramadan. Menu yang disajikan tergolong sederhana. Namun, justru dalam kesederhanaan itu, kehangatan terasa lebih nyata. Warga duduk bersila berjejer, saling berbagi tempat dan senyum, meski sebagian besar tidak saling mengenal.

Pada hari itu, panitia menyediakan seporsi sop daging untuk para jemaah. Hidangan hangat tersebut disantap bersama setelah azan Magrib berkumandang. Tidak ada kemewahan dalam sajian, tetapi kebersamaan menjadi bumbu utama yang menguatkan rasa.

Aminah (24), salah satu jemaah, mengaku memilih berbuka di masjid tersebut karena ingin merasakan suasana buka bersama. Sebagai seorang perantau di Samarinda, ia tak ingin menjalani Ramadan seorang diri.

“Biar nggak sepi aja buka puasanya, dan biar bisa sekalian tarawih juga,” ujarnya singkat, Kamis (19/2/2026).

Baginya, berbuka di masjid bukan sekadar mengisi perut setelah seharian berpuasa, tetapi juga mengisi ruang hati yang rindu kebersamaan. Dari deretan saf yang terhampar hingga doa yang dilangitkan bersama, suasana itu menghadirkan rasa pulang meski tanpa ikatan darah. (intan)

Menahan Rindu di Kota Tepian, Kisah Ramadan Perantau Asal Purwakarta

February 19, 2026 by  
Filed under Religi, Sosial & Budaya

SAMARINDA — Menjalani Ramadan jauh dari kampung halaman menjadi pengalaman tersendiri bagi Ira Nur Ajijah, perantau asal Purwakarta yang kini sedang bekerja di Samarinda, Kalimantan Timur. Tahun ini menjadi kali kedua ia menjalani ibadah puasa di Kota Tepian.

Saat ditemui di Pasar Ramadhan, Gor Segiri Samarinda, Ira mengungkapkan perasaannya menjalani Ramadan sebagai anak rantau.

“Ada senang, ada sedih,” ujarnya singkat, Kamis (19/2/2026).

Perempuan yang merupakan anak bungsu di keluarganya itu mengaku kerap merindukan suasana berbuka bersama keluarga, terutama masakan sang ibu di kampung halaman. Menurutnya, Ramadan di rumah selalu identik dengan hidangan yang telah disiapkan sejak sore.

“Kalau di rumah biasanya dimasakin mamah. Kalau di sini terpaksa harus masak sendiri, atau paling pesan makanan online,” terangnya.

Meski demikian, ia tetap berupaya menikmati proses belajar mandiri selama berada di perantauan. Baginya, Ramadan jauh dari keluarga menjadi ruang untuk melatih kedewasaan sekaligus menguatkan diri.

Ira juga menuturkan, Ramadan tahun ini terasa berbeda dibandingkan tahun sebelumnya. Jika tahun lalu ia masih bisa membagi waktu dengan lebih longgar, tahun ini ia merasakan beban yang lebih berat karena pekerjaan yang tengah padat.

Sebagai seorang jurnalis di salah satu media di Kalimantan Timur, ritme kerja yang dinamis membuatnya harus tetap aktif meliput di tengah kondisi berpuasa. Ia tetap turun ke lapangan, mengejar narasumber, dan menyelesaikan tenggat waktu berita.

Kendati demikian, Ira berusaha menjaga semangatnya. Ia menilai pengalaman berpuasa di tanah rantau membentuk ketangguhan dan rasa syukur yang berbeda. Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, tetapi juga tentang mengelola rindu dan tanggung jawab dalam waktu yang bersamaan. (intan)

« Previous PageNext Page »

  • vb

  • Pengunjung

    1754463
    Users Today : 2443
    Users Yesterday : 4359
    This Year : 690973
    Total Users : 1754463
    Total views : 14795420
    Who's Online : 49
    Your IP Address : 216.73.217.119
    Server Time : 2026-05-06