Dewi Yull Ziarahi Norbaiti

February 3, 2026 by  
Filed under Opini

Catatan Rizal Effendi

PENYANYI dan pemeran film senior Dewi Yull beberapa hari lalu datang ke Samarinda. Misinya bukan hiburan, tapi syiar agama. Dia dibawa oleh Sahabat Dakwah Almahyra (SDA), yang berkedudukan di Cimahi, Jawa Barat.

Dari informasi di media sosial, SDA adalah tim dakwah yang aktif menyelenggarakan safari kajian, renovasi masjid, wakaf Quran serta aksi sosial di antaranya bagi-bagi beras gratis dan air bersih. Tim ini berkolaborasi  dengan berbagai pihak, termasuk Al-Azhar 30 dan  menghadirkan pemateri terkemuka seperti Habib Ahmad Al Habsy termasuk Dewi Yull dan Mommy Angie.

Dewi Yull bersama Hj Debby dan Bu Mei di pengajian Majelis Nurhasanah

Di Samarinda, Dewi Yull di antaranya mengisi acara di rumah Bunda Hj  Debby di Ruko Griya Niaga, Sempaja. Hj Debby punya kelompok pengajian bernama Majelis Nurhasanah. Mereka menggelar acara bersama Dewi Yull dengan tema : “Yakin Saja dengan Skenario-Nya.”

Tema itu sepertinya langsung terkait dengan jalan hidup yang dialami Dewi Yull. Sangat baik untuk menginspirasi dan memotivasi  sebuah keluarga yang mengalami kekurangan atau cobaan dari Tuhan.

Saat ini, Dewi Yull dalam usia 64 tahun mengalami kebutaan mata sebelah kanan akibat ablasi retina. Kondisi ini terjadi karena minus mata yang sangat tinggi mencapai minus 25.

“Di usia saya, Tuhan ambil dan cabut satu penglihatan saya. Paru-paru saya bagus, jantung saya  alhamdulillah juga bagus. Jadi disyukurin ajalah. Ngga ada manusia yang sempurna. Robot aja ngga sempurna,” kata Dewi Yull.

Menurutnya, semua orang di keluarganya punya kondisi khusus dan mereka saling mendukung satu sama lain. “Kita itu sama-sama cacat. Kita itu sama-sama punya kelemahan. Kalau ngga pakai kacamata dulu ngga bisa melihat, jadi Surya Sahetapy (tunarungu) sama almarhum kakaknya, Gizca juga tunarungu dan harus pakai alat bantu dengar. Kita sama-sama dari mereka kecil, sama-sama butuh alat bantu,” jelasnya.

Dewi Yull dengan nama asli Raden Ajeng Dewi Pudjijati dikenal sebagai artis empat dekade. Dia penyanyi pop sejak tahun 1977. Lagu duetnya yang terkenal bersama Broery Marantika di tahun 1995 dan 1988 adalah “Jangan Ada Dusta di Antara Kita” dan “Rindu yang Terlarang.” Berkat lagu itu dia mendapat Anugerah Musik Indonesia sebagai penyanyi duo Pop Terbaik.

Aktingnya di layar lebar juga mengesankan. Dia sempat dinominasikan sebagai Pemeran Utama Wanita Terbaik pada FFI tahun 1985 dan 1987 ketika bermain dalam film Kembang Kertas dan Penyesalan Seumur Hidup.”

Tahun 1979, Titiek Puspa mempertemukan Dewi dengan aktor kawakan Ray Sahetapy. Lalu mereka menikah dan dikaruniai 4 anak. Sayang perkawinan yang sudah berlangsung 23 tahun itu, akhirnya kandas. Mereka bercerai di tahun 2004.

Dalam acara pengajian di kediaman Bunda Hj Debby itu, banyak jamaah mengikuti program waqaf Al Quran. Mereka bersedekah dengan mendapatkan satu cetakan Kitab Al Quran. Sedekahnya bervariasi sesuai kemampuan masing-masing. “Saya bersedekah 3 juta rupiah. Ada yang sampai 5 juta,” kata Hj Meiliana atau Bu Mei, mantan Pj Sekdaprov Kaltim yang sekarang aktif di berbagai lembaga sosial.

Menurut Dewi Yull, dana yang terhimpun dimanfaatkan SDA untuk aksi syiar Islam. Membantu pembangunan rumah ibadah, pesantren termasuk juga berbagi beras gratis dan air bersih.

Hj Debby mengaku senang bisa mendatangkan Dewi Yull  bersama SDA. “Tentu bermanfaat untuk meningkatkan kesadaran kami dalam melaksanakan syiar Islam dan memahami serta menerima apa yang digariskan Allah kepada kami. Kita yakin skenario Allah itu terbaik untuk kita,” ujarnya.

SERING DIUNDANG PEMPROV

Hj Dewi Yull sering datang ke Kaltim. Dia salah satu penyanyi yang disukai Pemprov sejak era Gubernur Awang Faroek Ishak. Kebetulan Pak Awang suka bernyanyi, klop dengan kehadiran Dewi Yull dengan lagu-lagu lawasnya. Keakraban itu juga terjalin dengan Gubernur Isran Noor dan Ibu Hj Norbaiti Isran.

Itu sebabnya ketika berada di Samarinda kemarin, Dewi Yull menyempatkan diri melakukan ziarah ke makam almarhumah Ibu Hj Norbaiti di kediaman Pak Isran di Jl Adipura, Sungai Kunjang. Dia ditemani sejumlah ibu-ibu termasuk Bu Mei.

Norbaiti meninggal dunia pada Rabu, 24 Mei 2023 di Rumah Sakit Pusat Otak Nasional Jakarta karena sakit. Atas kesepakatan keluarga, jenazahnya dimakamkan di halaman samping rumah untuk memudahkan keluarga berziarah.

Sambil menaburkan bunga di pusara, Dewi Yull juga memanjatkan doa agar almarhumah hidup tenang di sisi Allah SWT. “Insyaallah beliau dalam keadaan husnul khotimah,” katanya dengan suara tenang.

Semasa hidupnya, Norbaiti dikenang sebagai istri gubernur yang sangat bersahaja dan disukai banyak orang. Dia sangat aktif sebagai ketua PKK dan Dekranasda. Juga sempat menjadi anggota DPR RI.

Sayang ketika dia berziarah, Pak Isran sudah berangkat ke Jakarta. Belakangan ini Pak Isran banyak tinggal di sana bersama anak cucunya. Beberapa hari sebelumnya Pak Isran pulang ke Samarinda di antaranya untuk memenuhi undangan Milad ke-21 Persekutuan Suku Asli Kalimantan (PUSAKA).

Pak Isran datang bersama mantan wakil gubernur Hadi Mulyadi. Kebetulan mereka berdua duduk sebagai Dewan Kehormatan. Ketua Umum DPP PUSAKA adalah Prof Dr Abdunnur, yang sekarang ini menjabat Rektor Universitas Mulawarman (UNMUL). Isran mendapat potongan pertama nasi tumpeng yang dilakukan Abdunnur.

“Semoga PUSAKA terus maju dan mampu berbuat terbaik untuk memperkuat persatuan masyarakat adat di Kalimantan khususnya Kaltim,” kata Isran.

Ketika akan meninggalkan acara di GOR Segiri, Isran sempat dicegat wartawan. Para wartawan memanggilnya “Kai.” Sebutan akrab untuk Pak Isran. Dia ditanya soal program Beasiswa Kaltim Tuntas (BKT) yang sukses dilaksanakannya dengan program Gratispol yang dikembangkan Gubernur Rudy Mas’ud dan Wagub Seno Aji.

Gaya Pak Isran tak berubah seperti dulu. Dia sengaja memberi kesan menghindar untuk memberi jawaban. Dia lebih banyak berkata:  “Apa itu? Hah. Aku tetulian wayah ini,” katanya tersenyum. Lalu dia mengucapkan potongan kalimat untuk diterjemahkan awak media sendiri. “Mulai anak yang dikandung sampai mahasiswa S7 dapat, pokoknya,” katanya sambil meninggalkan kerumunan awak media. Sehat selalu Pak Isran.(*)

Raudhah, Ruang Sempit yang Mengajarkan Luasnya Kesabaran

February 2, 2026 by  
Filed under Opini

Madinah – Raudhah bukan sekadar ruang kecil di dalam Masjid Nabawi. Lebih dari itu, ia adalah harapan panjang, doa yang terulang, dan pelajaran kesabaran di tengah sistem yang terus berubah. Terletak di antara rumah Rasulullah SAW. dan mimbar beliau, Raudhah disebut dalam hadis sahih sebagai “taman di antara taman-taman surga”, sebuah sebutan yang hidup dalam tradisi umat Islam lintas generasi dan menjadi magnet bagi jutaan jamaah dunia.⁣

Secara fisik, Raudhah memang sempit. Karpetnya berwarna hijau, berbeda dari dominasi karpet merah di sebagian besar area Masjid Nabawi. Namun di ruang kecil itu, doa-doa beragam bahasa dan kisah hidup berkumpul, naik bersama dalam hening yang terasa sakral. Ruang ini seperti botol kecil yang menampung gelombang kerinduan umat dari penjuru dunia.

Akses ke Raudhah telah berubah tajam dalam beberapa tahun terakhir. Dahulu jamaah hanya bisa memasuki Raudhah melalui tasreh, izin ziarah yang dikeluarkan oleh otoritas haji masing-masing negara, seperti yang kini sering terjadi dalam proses haji reguler. Namun transformasi digital di Arab Saudi memperkenalkan aplikasi Nusuk sebagai platform resmi untuk memesan izin kunjungan ke Raudhah, umrah, dan layanan ibadah lain di dua Masjid Suci. Sistem ini menggantikan sebagian besar metode manual sebelumnya dan menjadi standar global bagi jamaah yang datang dari luar negeri.

Pemerintah Arab Saudi melaporkan, transformasi digital berhasil meningkatkan kapasitas harian pemesanan ziarah Raudhah melalui aplikasi Nusuk menjadi sekitar 54.000 pemesanan per hari, sebuah lonjakan signifikan dari angka sekitar 7.000 sebelumnya. Hal ini menunjukkan upaya serius Kerajaan dalam menghadirkan layanan ibadah yang lebih tertata dan terukur.

Lebih jauh, pemerintah akhirnya menyelesaikan perluasan fisik di area Raudhah sehingga kapasitas harian dapat mencapai lebih dari 52 ribu jamaah per hari, melalui penambahan pintu masuk, manajemen kerumunan yang lebih canggih, dan pengaturan zonasi yang modern. Perubahan ini menjadi respons langsung atas lonjakan kunjungan jamaah global.

Data resmi terbaru menunjukkan lonjakan jumlah jamaah yang datang ke Masjid Nabawi dan sekitarnya. Pada paruh pertama Ramadan 1446 H / 2025, lebih dari 14 juta orang tercatat mengunjungi Masjid Nabawi, termasuk lebih dari 223 ribu jamaah laki-laki dan 155 ribu jamaah perempuan yang mendapat izin masuk Raudhah dalam periode itu.

Namun, data yang luar biasa itu sekaligus mencerminkan kenyataan yang tak terhindarkan, permintaan jauh melampaui kapasitas. Slot kunjungan Raudhah sering penuh beberapa minggu bahkan beberapa bulan sebelumnya, terutama pada musim ibadah utama. Civitas muslim di media sosial melaporkan, pemesanan untuk awal 2026 sudah sering terisi jauh sebelum tahun berjalan, memaksa jamaah untuk terus memantau aplikasi Nusuk setiap hari demi mendapatkan slot yang terbuka.

Saya mengalami ini sendiri. Saat mencoba memesan melalui aplikasi Nusuk, banyak slot yang tampak “fully booked” untuk pekan depan atau bahkan bulan berikutnya. Saya sempat berkata dalam hati, “Mungkin belum rezeki.” Itu bukan sekadar kata penenang, tetapi bentuk awal menerima akses ke tempat yang sangat diidamkan ini tak selalu bisa diraih dengan mudah oleh siapa pun.

Namun takdir bekerja dalam cara-caranya sendiri. Suatu malam, tanpa jadwal resmi yang tertera sebagai konfirmasi di aplikasi, akses ke Raudhah akhirnya dibuka bagi rombongan kami. Saat kaki pertama saya menginjak karpet hijau itu, seluruh dunia terasa menyempit, bukan karena ruangnya sempit, tetapi karena semua perhatian tertumpah pada satu titik, doa, sujud, dan hening yang panjang.

Saya shalat di sana dengan air mata yang jatuh tanpa komando, mengalir sebagai kata yang tidak sempat diucapkan. Tidak ada doa panjang yang direncanakan rapi hanya kata-kata pendek, patah, dan jujur. Di tempat yang disebut sebagai taman surga itu, saya tidak merasa seperti tamu istimewa. Saya merasa seperti manusia yang akhirnya diizinkan berhenti sejenak untuk bicara jujur kepada Tuhan.

Filosofi Bak Truk yang Relevan di Era FOMO & JOMO

February 1, 2026 by  
Filed under Opini

Oleh : Riyawan S.hut *)

Di tengah perjalanan panjang di jalan raya, sering kali mata kita tertumbuk pada tulisan sederhana di bak truk. Kalimatnya singkat, bahasanya lugas, tapi maknanya dalam. Salah satunya berbunyi “ora perlu tenar, ora perlu sangar, ora perlu kowar-kowar, seng penteng rezeki lancar.”

Kalimat ini bukan sekadar hiasan atau candaan. Ia adalah potret cara pandang hidup yang jujur, membumi, dan tanpa disadari kalimat tersebut sangat relevan dengan fenomena modern seperti FOMO dan JOMO.

Tulisan di bak truk adalah suara jalanan. Ia lahir dari peluh, jam kerja panjang, dan realitas hidup yang tidak selalu ramah. Bagi para sopir, bak truk adalah kanvas, tempat menuangkan filosofi hidup yang tidak diajarkan di ruang seminar, tapi ditempa langsung di aspal panas. Dari situlah kita belajar bahwa hidup tidak selalu tentang terlihat hebat, tapi tentang bisa pulang dengan rezeki yang cukup dan hati yang tenang.

Makna “Ora Perlu Tenar, Ora Perlu Sangar, Ora Perlu Kowar-Kowar”

Di era digital, popularitas sering dianggap sebagai tolok ukur kesuksesan. Banyak orang berlomba-lomba tampil, bersuara keras, dan membangun citra. Namun, filosofi bak truk justru melawan arus itu dengan tenang.

“Ora perlu tenar” bukan berarti anti-sukses atau menolak kemajuan. Ini adalah pengingat bahwa tidak semua pencapaian harus disorot. Banyak pekerjaan penting yang berjalan dalam senyap. Sopir truk, misalnya, mungkin tak dikenal namanya, tapi tanpa mereka roda ekonomi bisa macet. Nilai seseorang tidak selalu sebanding dengan jumlah pengikut atau seberapa sering namanya disebut.

Lalu “ora perlu sangar” mengajarkan bahwa galak dan keras bukanlah simbol kekuatan. Di jalan raya, emosi mudah tersulut. Tapi mereka yang bertahan lama justru adalah yang sabar dan mampu menahan diri. Sikap tenang bukan tanda kalah, melainkan kecerdasan emosional. Hidup akan terasa lebih ringan saat kita berhenti merasa harus selalu terlihat dominan.

Sementara itu, “ora perlu kowar-kowar” menegaskan pentingnya tindakan dibandingkan omongan. Banyak orang terjebak dalam budaya pamer rencana dan pencapaian, padahal kerja nyata sering terjadi dalam diam. Prinsip ini mengajarkan fokus pada hasil, bukan validasi. Diam bukan berarti tidak punya apa-apa, tapi sedang sibuk membangun sesuatu.

Keseluruhan pesan ini mengarah pada satu tujuan utama yakni hidup yang tidak ribet, tidak penuh drama, dan tidak terkuras oleh tuntutan sosial yang tidak perlu.

Dari Bak Truk ke Media Sosial: FOMO yang Melelahkan

Kalau filosofi bak truk itu diterjemahkan ke konteks modern, ia seperti kritik halus terhadap FOMO (Fear of Missing Out). FOMO adalah rasa takut tertinggal, takut tidak ikut tren, takut tidak dianggap. Media sosial memperparah kondisi ini. Kita merasa harus selalu update, selalu terlihat sibuk, selalu punya cerita menarik.

Ironisnya, semakin kita mengejar pengakuan, semakin capek rasanya. Hidup jadi ajang perbandingan tanpa akhir. Melihat orang lain liburan, sukses, atau viral, kita lupa bahwa apa yang terlihat belum tentu utuh. FOMO membuat kita merasa kurang, padahal sebenarnya kita sedang baik-baik saja.

Di sinilah nasihat “ora perlu tenar” terasa menampar dengan lembut. Tidak semua momen harus dipamerkan. Tidak semua proses butuh penonton. Hidup bukan lomba siapa paling ramai, tapi siapa paling kuat bertahan.

Sikap “ora perlu sangar” juga relevan. FOMO sering memicu emosi berlebihan seperti iri, cemas, bahkan marah pada diri sendiri. Padahal, ketenangan adalah aset besar. Orang yang tenang cenderung lebih fokus, lebih jernih mengambil keputusan, dan tidak mudah goyah oleh hiruk-pikuk luar.

Sedangkan “ora perlu kowar-kowar” seolah berkata berhentilah menjelaskan hidupmu pada semua orang. Tidak semua orang perlu tahu rencanamu, dan tidak semua validasi itu penting. Energi yang kamu simpan bisa jadi bahan bakar untuk hal yang lebih berarti.

JOMO: Jalan Tenang Menuju Rezeki yang Lancar

Jika FOMO adalah kebisingan, maka JOMO (Joy of Missing Out) adalah ketenangan. JOMO mengajarkan kebahagiaan dari memilih untuk tidak selalu ikut. Bukan karena tidak mampu, tapi karena sadar apa yang benar-benar dibutuhkan.

JOMO sejalan dengan kalimat pamungkas bak truk “sing penting rezeki lancar.” Rezeki yang lancar bukan hanya soal uang, tapi juga ketenangan batin, kesehatan, dan waktu bersama keluarga. Semua itu sulit didapat jika hidup terus dikejar rasa takut ketinggalan.

Dengan JOMO, kita belajar memilah. Tidak semua undangan harus dihadiri, tidak semua tren harus diikuti, dan tidak semua perdebatan perlu dimenangkan. Kita mulai menghargai hidup yang cukup, bukan hidup yang kelihatan wah.

Penerapannya sederhana. Kurangi notifikasi yang tidak perlu. Nikmati waktu tanpa harus mendokumentasikan segalanya. Fokus pada pekerjaan dengan sungguh-sungguh, meski tidak selalu terlihat. Seperti sopir truk yang tetap melaju, meski namanya tak pernah terpampang di baliho.

Pada akhirnya, filosofi bak truk dan konsep JOMO bertemu di satu titik yakni hidup yang jujur pada diri sendiri. Tidak sibuk membuktikan apa-apa, tidak terjebak dalam kebisingan sosial, dan tidak lupa tujuan utama, rezeki yang lancar dan hati yang lapang.

Di dunia yang serba cepat, mungkin kita memang tidak perlu tenar, tidak perlu sangar, dan tidak perlu kowar-kowar. Karena sering kali, yang paling berharga justru datang pada mereka yang berjalan pelan, fokus, dan tahu kapan harus “ketinggalan”.

*) Pemerhati Sosial & Budaya

 

Roy Marten ke Banjar

January 31, 2026 by  
Filed under Opini

Catatan Rizal Effendi

SETELAH nonton film Kuyank, Kamis (29/1), saya terbang ke Banjarmasin. Saya bersama M Alinoer Parewasi bergabung dengan rombongan Roy Marten yang terbang dari Jakarta. Kami memenuhi undangan mantan bupati Kota Baru Sayed Jafar Alaydrus (SJA) yang sekarang menjadi ketua DPD Partai Hanura Kalsel.

Roy Marten dan Sayed Jafar diwawancarai di Lontong Sayur Orari.

Roy Marten yang saya sebut, tak lain adalah aktor gaek berusia 73 tahun yang masih menarik perhatian. Aktor kelahiran Salatiga 1 Maret 1952 yang bernama lengkap Roy Wicaksono Abdul Salam itu tiada lain   adalah ayah Gading Marten, aktor muda yang dikenal juga sebagai presenter, penyanyi, dan pengusaha.

Saya dulu tergila-gila nonton filmnya Roy Marten. Salah satu yang saya ingat betul ketika dia main di film Cintaku di Kampus Biru (CKB) tahun 1976. Film itu mengambil lokasi di kampus Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta, yang sekarang lagi heboh dengan kasus ijazah.

Waktu itu saya masih kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Mulawarman (Unmul) Samarinda. Meski CKB film drama percintaan, tapi juga menggambarkan kehidupan mahasiswa tahun 70-an. Ada adegan aksi demonya. Tahun 1974 ada peristiwa Malari, Malapetaka 15 Januari 1974. Demo besar-besaran dari mahasiswa menentang kedatangan PM Jepang Kakuei Tanaka, yang menyebabkan 11 orang tewas, 137 luka-luka dan 750 orang ditangkap.

Di CKB, Roy bermain dengan artis Rae Sita dan Yatti Octavia. Lewat film ini Roy Marten pertama kali naik daun. Film ini diadaptasi dari novel berjudul Cintaku di Kampus Biru, karya novelis Indonesia Ashadi Siregar. Kebetulan Ashadi juga alumnus kampus UGM, Bulak Sumur.

Novel lain dari Ashadi yang juga difilmkan di antaranya Kugapai Cintamu, Terminal Cinta Terakhir, dan Sang Jagoan. Roy juga menjadi bintang utama dalam film Kugapai Cintamu.

Saya jadi akrab dengan Roy Marten

Dari pemain film, Roy juga dikenal di panggung politik. Juga pengusaha. Dia banyak kenal dengan berbagai kalangan elite. Mulai menteri sampai presiden. Juga berbagai tokoh pengusaha. Maklum dia tokoh hiburan populer.  Pernah meraih penghargaan Pemeran Utama Pria Terbaik pada FFI 1983 dan Aktor Terfavorit Panasonic Awards.

AKRAB DENGAN ANWAR FUADY

Kami sama-sama senang datang ke Banjarmasin atas undangan SJA. “Senang sekali bisa datang ke Banjar karena ini daerah menarik dan memesona, menarik perkembangan kotanya, menarik pariwisatanya dan menarik makanannya,” kata Roy dengan wajah semringah.

Roy datang bersama dua rekannya, yaitu Ali Imron dan Rames Hasmara. Rames berdarah India, dikenal juga sebagai produser film dan pengusaha fasilitas olahraga di antaranya cabang golf. “Saya mau bikin lapangan golf bagus dekat Bandara Sepinggan Balikpapan,” kata Rames.

Sosok Bupati SJA juga tak kalah menariknya. Meski tanah kelahirannya Kota Baru,  dia lama dibesarkan di Kampung Baru, Balikpapan. Dia berkembang menjadi pengusaha minyak dari Kampung Baru. Sama seperti keluarga Bani Mas’ud yang sekarang menjadi penguasa Kaltim. “Saya kenal dengan Pak Mas’ud, ayah mereka,” kata SJA.

Setelah purnatugas sebagai bupati, SJA aktif kembali sebagai pengusaha. Puluhan SPBU-nya ada di Kota Baru. Juga dia punya kapal feri penyeberangan dan dermaga dok kapal. Selain tetap aktif di panggung politik dengan memimpin Partai Hanura Kalsel.

Dulunya SJA aktif di Golkar lalu hijrah ke Hanura. “Hanura itu satu-satunya partai nasional berdarah Kalimantan. Soalnya ketua umumnya, Oesman Sapta Odang (OSO) dari Kalbar. Jadi wajib kita bela dan perjuangkan,” katanya bersemangat.

Sebagai “komandan” baru di Hanura Kalsel, selain melakukan konsolidasi organisasi, SJA secara masif mengampanyekan misi dan garis perjuangan Hanura di tengah masyarakat. Itu pula sebabnya dia juga mengundang Roy Marten yang akrab dengan pimpinan Hanura di pusat, baik dengan OSO maupun Anwar Fuady, orang film yang kini menjadi wakil ketua Dewan Penasihat DPP Hanura.

Dengan membawa Roy, masyarakat Kalsel jadi ramai menyambutnya. Sebagian besar minta foto bersama. SJA memanfaatkan momen itu dengan memperkenalkan Hanura dan menarik kader baru. “Saatnya Hanura di Kalsel merebut kursi di DPRD dan DPR RI. Tidak tertutup kemungkinan juga kursi gubernur,” jelasnya.

Roy sempat diajak ikut dalam kegiatan bakti sosial dengan menyerahkan bantuan kepada warga di Desa Teluk Selong Ulu, Kecamatan Martapura Barat, Kabupaten Banjar. Sebagian besar mereka terdampak musibah banjir yang terjadi beberapa waktu lalu. “Terima kasih Pak Sayed Jafar, terima kasih Pak Roy mau datang ke kampung kami,” kata warga bersemangat.

SJA juga mengajak Roy Marten berwisata kuliner. Sempat mau ke Pasar Terapung, akhirnya pesta makan Soto Bang Amat dan Lontong Sayur Orari. “Wow, enak banget,” kata Roy. Dia sempat tertawa melihat Pak Rames makan begitu lahap di Lontong Sayur Orari. Lima potong iwak haruan disikatnya.  “Luar biasa,” katanya berpeluhan.

Iwak haruan atau gabus dikenal sebagai salah satu ikan air tawar Kalimantan. Nama ilmiahnya Channa striata. Berkeluarga dengan ikan toman (Channa micropeltes), yang dikenal berkhasiat untuk meningkatkan sistem imun, agar tubuh lebih kuat melawan infeksi dan penyakit. Juga menyerap kalsium lebih baik, sehingga tulang dan gigi tetap kuat.

Sekretaris DPD Hanura, Hj Syarifah Santiyansyah, SH, M.Si yang juga adik kandung SJA bersama putra SJA, Sayed Sultan Yasin Alaydrus bahu membahu mempersiapkan acara di lapangan. Hj Santi pernah di Dewan dan sangat cekatan. Sedang Sultan dipersiapkan menjadi ketua DPC Hanura Kota Baru dengan misi merebut kursi di DPRD dan maju sebagai calon bupati. “Saya siap berjuang,” katanya penuh semangat. Saat ini Sultan juga aktif menjabat sebagai wakil ketua dan bendahara DPD Laskar Muda Hanura Kalsel.

Ketika saya share foto saya bersama Roy Marten, teman-teman di Group Domino KKSS bilang saya mau diajak main film sama Roy. Apalagi saya baru saja berteman dengan sutradara film “Kuyank”, Johansyah Jumberan dan produser film Rames Hasmara. Bisa jadi judulnya “Mantan Wali Kota.” He…(*)

Redy Borong Seribu Tiket Kuyank

January 27, 2026 by  
Filed under Opini

Catatan Rizal Effendi

JANGAN lupa dua hari lagi. Yaitu, Kamis, 29 Januari 2026. Ada pemutaran film menarik di seluruh bioskop di Indonesia terutama di Kalimantan. Mau tahu? Judulnya “Kuyank,” yang disutradarai anak Banjar yang mempunyai ngaran  Johansyah Jumberan.

H Redy Asmara bersama sutradara Johansyah Jumberan dan Jolene Marie serta bubuhan Banua Balikpapan setelah nonton bareng film Kuyank

Johan asli urang Banjar. Kalau bapander R-nya “betagar.” Tapi dia hebat. Memulai karier dari penulis skenario. Film pertamanya meledak dan heboh. Judulnya “Saranjana,” kota gaib di kawasan Pulat Laut, Kota Baru, Kalsel. Jumlah yang menonton di atas satu juta orang.

Kuyank dibaca kuyang sepertinya bakal menyamai Saranjana. Bahkan bisa lebih. Karena sudah viral di jagad media sosial. Ini cerita memang menarik dan penuh mistis. Hampir semua orang tahu, kuyang adalah sejenis hantu yang melegenda terutama di Kalimantan Selatan. Dia suka menghisap darah wanita hamil, orang yang tengah melahirkan atau anak-anak balita.

Dalam film Kuyank, Rusmiati yang diperankan Putri Intan Kasela terpaksa mempelajari ajian kuyang demi kecantikan dan keabadian. Ini gara-gara mertuanya mendorong sang suami, Badri (diperankan Rio Dewanto) disuruh poligami  alias babini dua untuk mendapatkan keturunan. Rusmiati gaer kehilangan Badri, sehingga dia nekat menjadi kuyang. Ceritanya menjadi seru karena Rusmiati “Kuyank” akhirnya diburu masyarakat, sementara Badri berusaha melindungi istrinya yang sangat dia cintai.

Adegan penyiraman air kembang ke Rusmiati di dalam guci untuk menjadi kuyang

Meski bergenre film horor, tapi Kuyank juga menghibur. Banyak adegan dan dialog yang mengundang tawa khususnya bagi mereka yang mengerti bahasa Banjar. Ada istilah bungas, yang menggambarkan wanita cantik. Ada lelaki baung yang menggambarkan lelaki kijil atau lanji.

Sutradara Kuyank, Johansyah Jumberan, Senin kemarin ada di Balikpapan. Dia datang bersama dua pemain yaitu Jolene Marie dan Dayu Wijanto. “Tadinya Rio Dewanto mau datang. Tapi terhalang jadwal syuting sinetron yang padat,” ujarnya.

Jolene Marie adalah ratu kecantikan, penyanyi dan runner-up kontes Puteri Indonesia 2019. Dia dilahirkan di Santa Ana, California. Dalam Kuyank, dia berperan sebagai Husnah, yang mengantarkan  Rusmiati menjadi kuyang. Dia juga kuyang. Sedang Dayu Wijanto adalah orang Jawa yang menyukai bidang seni dan olahraga. Pernah tinggal di New York dan pernah bekerja dengan BJ Habibie. Dia banyak ikut membintangi film nasional. Dalam Kuyank dia berperan sebagai Hj Saidah, mamanya Badri. Tampil nora dengan tangan dan leher penuh perhiasan emas. Maklum ceritanya mereka keluarga pedagang emas.

Johan sempat singgah di rumah tokoh senior Banjar Balikpapan, pengusaha H Redy Asmara di Balikpapan Baru. Di situ ada juga saya dan beberapa tokoh Banjar lainnya. Ada Bu Titis, Bu Erna, Rudi, H Syukur, Yatim dan lainnya. Sambil menikmati beberapa wadai Banjar, Johan bekesah sekitar film Kuyank, yang segera tayang di seluruh bioskop di Tanah Air.

Johan sempat membagi kaus dan pin Kuyank kepada H Redy. Ada juga parfum Kuyank. “Biar taingat terus dengan film Kuyank dan semua mau menonton,” ajaknya.

Menurut Johan, penggarapan film Kuyank benar-benar penuh perjuangan. Para pemain dia angkut dari Jakarta dan berdiam sebulan di Banjar. Biar mengerti budaya dan Bahasa Banjar. Propertinya tidak tanggung-tanggung. Beratnya sekitar satu setengah ton. “Semua kita bawa agar film Kuyank benar-benar bisa ditonton dan menarik,” ujarnya.

H Redy meyakini film Kuyank bakal sukses. Tidak saja disukai orang Banjar, tapi juga masyarakat Indonesia lain. Kuyang itu mirip parakang di Sulawesi Selatan atau leak di Bali.

Untuk memberikan dukungan, H Redy memborong seribu tiket Kuyank. Nanti akan dia bagi gratis kepada semua anak buah dan pekerjanya. “Biar semua bisa menonton dan film Kuyank sukses di Tanah Air terutama Kalimantan,” katanya bersemangat.

Tadi malam Johansyah mengajak H Redy dan bubuhan Banua Balikpapan menonton pemutaran perdana film Kuyank di XXI Balcony. Ratusan orang datang dan memuji film Kuyank memang menarik dan menunjukkan ada anak Banjar yang jago maulah film berlatar belakang kisah budaya daerah.

Dari Balikpapan, hari ini Johan bersama dua artisnya meneruskan kunjungan promosinya ke Samarinda. Dia tahu orang Samarinda juga tak sabar untuk menonton Kuyank. “Ajak bubuhan kita semua menonton Kuyank.  Sudah waktunya film Kalimantan juga berjaya di layar nasional,” kata Johan bahimat.

USUL FILM “BUAYA KUNING”

Sebagai urang Kalua, H Redy tertarik mengajak Johansyah menggarap film Buaya Kuning.  Dia siap bekerjasama karena cerita buaya kuning juga melegenda di Kalimantan Selatan termasuk di wilayah Kalimantan lainnya.

Kabarnya masih ada masyarakat tradisional Banjar yang maharagu buaya kuning. Adat ini masih dilestarikan di sepanjang Sungai Tabalong oleh masyarakat Kalua dan Amuntai. Sebagian orang percaya bahwa buaya kuning adalah jelmaan  para datu yang telah hidup sejak zaman Putri Junjung Buih. Ada juga yang mendapatkan buaya kuning melalui kembaran saat lahir.

Bagi orang Banjar, buaya kuning dipercaya sebagai mahluk gaib yang melakukan perjanjian dengan manusia berkaitan dengan ilmu kesaktian, kemakmuran atau kekayaan hingga panjang umur. Sebagai gantinya manusia dan anak cucunya kelak harus merawat dan memelihara buaya kuning tersebut melalui ritual Malabuh.

Upacara Malabuh itu ditandai dengan melarungkan sejumlah makanan di antara lakatan (ketan), hintalu bejarang (telur rebus), pisang, bubur habang dan bubur putih serta sejumlah makanan lainnya. Kalau ini tidak dilakukan, maka bakal ada anggota keluarga yang mengalami sakit atau bahkan kematian.

Menurut H Redy, jika legenda buaya kuning difilmkan, dia optimistis juga meledak di pasaran. Karena ceritanya sangat menarik dan penuh aroma mistis.

Johan sendiri mengaku tertarik memfilmkan buaya kuning, apalagi mendapatkan dukungan dari pengusaha H Redy. “Kita perlu mengangkat berbagai cerita dan budaya Banjar, biar orang tahu bahwa suku Banjar di Kalimantan juga kaya dengan budayanya termasuk cerita mistisnya,” kata Johansyah dengan wajah bahagia.

Sepulang nonton film Kuyank malam tadi, saya tidur dengan lampu yang terang. Saya takut tengah malam kuyang masuk ke kamar saya. Soalnya sejak dulu saya takut hantu. Ada kawal begayaan. “Kada usah takut, kuyang kada mau mahisap darah orang tuha. Darahnya pahit, kuyangnya bisa keracunan” katanya tertawa.(*)

« Previous PageNext Page »

  • vb

  • Pengunjung

    1475468
    Users Today : 3822
    Users Yesterday : 4620
    This Year : 411978
    Total Users : 1475468
    Total views : 13009305
    Who's Online : 58
    Your IP Address : 216.73.216.164
    Server Time : 2026-03-14