Cyber-Wisdom Education Untuk Mengaktualisasikan Nilai-Nilai Pancasila

June 1, 2023 by  
Filed under Berita, Opini

Oleh : Venna Puspita Sari

Venna Puspita Sari

Hampir 8 (delapan) dekade Pancasila ditetapkan menjadi dasar negara Indonesia, penerapan moral Pancasila masih menyimpan banyak persoalan pada kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia, khususnya pada era digital ini. Dimana banyak kondisi yang menggambarkan perilaku netizen tidak sesuai dengan nilai-nilai Pancasila.

Beberapa kasus yang banyak terjadi di dunia maya antara lain perundungan (cyberbullying), berita bohong (hoax), ujaran kebencian (hate speech), dan lain sebagainya. Berdasarkan laporan UNICEF tahun 2022, tercatat sebanyak 45% dari 2,777 remaja Indonesia kisaran usia 14-24 tahun pernah mengalami kasus cyberbullying. Selain itu, laporan Kominfo RI menunjukkan adanya indikasi 425 kasus hoax yang tersebar di website dan platform digital Indonesia pada triwulan pertama tahun 2023.

Belum lagi kasus yang sangat mencengangkan di Indonesia adalah persoalan etika dalam penggunaan media sosial. Berdasarkan data Microsoft (Digital Civility Index) pada tahun 2020 menunjukkan bahwa netizen Indonesia menempati peringkat tertinggi untuk kategori pengguna media sosial yang paling tidak sopan di Kawasan Asia Tenggara.

Padahal, survei Expat Insider 2022 oleh InterNations menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia merupakan pribadi yang ramah tingkat ke-7 sedunia. Hal ini tentunya menunjukkan bahwa transformasi kultur digital belum terlaksana dengan baik di Indonesia yang pada akhirnya mengakibatkan adanya degradasi moral Pancasila secara masif di era digital.

Fenomena-fenomena sosial tersebut secara tidak langsung menuntut adanya perkembangan karakter bangsa yang mampu beradaptasi dengan tuntutan digitalisasi. Sebagai wadah untuk menempa karakter bangsa, adapun lingungan sosial, keluarga, dan lembaga pendidikan memiliki peran signifikan untuk mendorong terjadinya transformasi karakter digital bukan hanya sebatas pemenuhan fasilitas teknologi, namun nilai-nilai apa yang perlu diajarkan untuk mempersiapkan generasi muda dengan karakter digital. Sehingga memunculkan pertanyaan, bagaimana peran Pancasila dalam mengembangkan nilai-nilai karakter bangsa di era digital.

Pembangunan tata nilai, mental, spiritual, dan karakter bangsa berbasis Pancasila akan mampu mengantarkan bangsa Indonesia menuju peradaban maju dalam menjawab tantangan zaman. Pancasila yang diklaim sebagai ideologi terbuka tentunya harus mampu beradaptasi dengan laju perkembangan IPTEK global, sehingga ideologi Pancasila akan tetap relevan bagi kehidupan sehari-hari masyarakat dulu, sekarang, hingga di masa mendatang.

Perkembangan Pancasila lintas generasi tentunya memiliki tantangan yang berbeda dan memerlukan solusi yang berbeda pula. Namun yang perlu digaris bawahi disini bagaimana menjaga Pancasila bisa tetap eksis secara materiil dan formil tanpa mengurangi nilai-nilai luhur yang terkandung didalamnya. Oleh karena itu, Pancasila sebagai sumber norma moralitas atau norma etika perlu dibumingkan kembali menjadi diskursus seluruh masyarakat untuk mengembangkan peradaban digital di Indonesia.

Sistem Etika dalam Pancasila

Pancasila merupakan sumber nilai dasar yang menjadi tumpuan persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia. Sila-sila yang terkandung didalamnya merupakan sistem nilai-nilai etika yang juga dijabarkan dalam suatu pedoman normatif maupun praksis. Etika mengkategorikan pembenaran atas predikat suatu hal yang dianggap baik dan buruk dalam perilaku manusia. Hal-hal yang dianggap baik inilah yang diharapkan dapat menumbuhkan kebajikan untuk melawan hal buruk yang dalam hal ini dimaknai kejahatan. Sehingga, dapat dikatakan bahwa etika mengatur perilaku hidup manusia dengan norma moral yang berlaku di masyarakat.

Sebagai suatu sistem etika, sila-sila Pancasila mencerminkan nilai etika yang menekankan pada dimensi nilai spiritual, humanis, solidaritas, mau mendengar dan menghargai pendapat orang lain, serta kepedulian atas nasib orang lain. Berdasarkan pemahaman tersebut, seharusnya nilai-nilai yang termuat dalam Pancasila dapat menjadi solusi atas degradasi moral bangsa, khususnya bagi orang muda yang kesulitan beradaptasi dengan digitalisasi. Namun mirisnya, fakta dilapangan menunjukkan bahwa perilaku masyarakat Indonesia masih belum cukup bijak untuk terjun ke dunia maya tanpa pedoman dan pengawasan. Hal ini dikarenakan belum adanya pembahasan khusus terkait pengembangan nilai-nilai dalam dunia maya.

Nilai etika yang terkandung dalam Pancasila merupakan nilai dasar sehingga lebih bersifat general. Padahal dalam fenomena sosial sebagaimana dijelaskan sebelumnya, diperlukan penanganan dengan metode khusus untuk mengatasi problematika etika dalam dunia maya. Sehingga dalam memerangi maraknya kasus cyberbullying, hoax, dan hate speech, Indonesia perlu mentransformasikan budaya digital dalam kehidupan sehari-hari melalui pengembangan konsep cyberwisdom education (Pendidikan Kebajikan di dunia maya) yang diadaptasi dengan nilai-nilai Pancasila yang tidak hanya berfokus pada Pendidikan formal namun juga informal.

Apa itu Cyber-wisdom?

Maraknya penggunaan media sosial yang tidak dapat terkontrol memiliki tantangan tersendiri bagi suatu bangsa, termasuk Indonesia. Sebenarnya, penggunaan sosial media sendiri memiliki batasan usia legal user yang dimulai dari 13 tahun atau setara dengan siswa kelas 1 SMP pada umumnya di Indonesia. Namun masih banyak anak dibawah umur tak terkecuali balita yang secara illegal difasilitasi ponsel pintar bahkan akun sosial media oleh walinya. Tentunya, hal ini memberikan beberapa konsekuensi pada illegal user tersebut dan lingkungan sekitarnya. Pasalnya, semua orang dapat mengakses internet secara anonim sehingga mereka dituntut untuk membuat keputusan moral yang tepat saat berinteraksi di dunia maya.

Apakah semua anak dibawah usia 13 tahun sudah mampu untuk melakukan tersebut? Inilah yang menjadi cikal bakal persoalan besar atas rusaknya etika generasi muda, dimana mereka dituntut untuk mengambil keputusan moral yang belum mereka pahami secara komprehensif karena keterbatasan praktik pendidikan moral itu sendiri khususnya dalam dunia maya. Hal ini merupakan fenomena global yang tidak hanya terjadi di Indonesia, namun juga di negara maju seperti Inggris.

Seorang guru besar pendidikan karakter di University of Birmingham Inggris, Tom Harrison, melakukan riset yang berfokus pada konsep cyber-wisdom sejak tahun 2021 dalam menjawab tantangan cyberbullying di Inggris. Menurut beliau, cyber-wisdom dapat diartikan sebagai melakukan hal yang tepat di waktu yang tepat pula saat berada di dunia maya, terlebih saat tidak ada yang melihat. Konsep ini diadopsi dari konsep Aristotelian yakni phronesis, yang dalam hal ini diartikan sebagai kebajikan praktis.

Etika kebajikan Aristotelian menekankan bahwa sangat penting untuk memahami kebajikan mana yang memungkinkan untuk diterapkan dalam kejadian berbeda. Sejalan dengan teori tersebut, Cyber-wisdom fokus pada praktik terkait situasi tertentu di dunia maya untuk meningkatkan perilaku bijak di dunia maya, yang dikembangkan dalam 4 komponen utama dari cyber-wisdom education, yakni literasi, penalaran, motivasi, dan refleksi diri. Sehingga, pengguna internet dapat memahami apa yang dimaksud dengan bijak di era digital.

Cyber-wisdom sebagai Aktualisasi Nilai Etika Pancasila

Aliran etika Pancasila merujuk pada aliran etika kebajikan. Aliran etika ini berorientasi pada kebajikan yang mengembangkan nilai kejujuran, murah hati, disiplin, belas kasih, dan sebagainya, yang didasarkan pada nilai-nilai keagamaan sebagaimana pemikiran Aristoteles terkait virtue ethics yang telah dijabarkan sebelumnya. Oleh karena itu, mengadopsi konsep cyber-wisdom untuk diterapkan pada Pendidikan di Indonesia merupakan gebrakan awal atas perbaikan moralitas bangsa di era digital.

Perlu diperhatikan bahwa konsep tersebut tidak dapat diadopsi seutuhnya di Indonesia mengingat adanya perbedaan ideologi, sosial, dan budaya. Cyber-wisdom yang diinisiasi oleh guru besar Inggris tersebut tentunya perlu disesuaikan dengan kondisi sosial dan budaya bangsa Indonesia yang multikultural, sehingga diperlukan penelitian dan kajian lebih lanjut terkait konsep pendidikan ini.

Namun, dari sini dapat disimpulkan bahwa cyber-wisdom berpotensi besar untuk diterapkan sebagai aktualisasi nilai-nilai etika Pancasila di era digital untuk mengatasi berbagai permasalahan moralitas sosial di dunia maya. Tepat pada peringatan hari lahirnya Pancasila ke-78 ini, refleksi penulis terkait perkembangan Pancasila dari masa ke masa telah melahirkan gagasan baru, yakni konsep etika Pancasila digital berbasis cyber-wisdom untuk membangun peradaban. Salam Pancasila!

*) Venna Puspita Sari

– Dosen Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Universitas Balikpapan

Manajemen Risiko dan Pencegahan Tindakan Kekerasan Pada Tenaga Kesehatan

May 31, 2023 by  
Filed under Opini

Oleh : drg. Cirska Nadia Putri

drg. Cirska Nadia Putri

Kekerasan pada tenaga kesehatan kembali terjadi. Insiden tersebut terjadi pada Senin, 24 April 2023 lalu. Dua dokter magang di Puskesmas Fajar Bulan Lampung, menjadi korban kekerasan dua orang pasien yang tengah berobat disana. Pasien tidak terima karena sakit yang dideritanya tidak kunjung membaik, padahal dokter yang merawat sudah memberikan perawatan sesuai SOP dan obat-obatan pun sudah diberikan. Dalam video yang viral di media sosial, memperlihatkan korban dicekik dan dibanting ke lantai.

Terdapat jejak panjang kasus kekerasan pada tenaga kesehatan di negeri ini. Satu bulan sebelumnya, dokter spesialis paru yang bertugas di Rumah Sakit Umum Daerah Nabire, Papua Tengah, tewas dibunuh pada 9 Maret 2023. Menurut data IDI Papua, sejak 2019 sampai Maret 2023, ada empat dokter yang menjadi korban kekerasan. Tiga dokter spesialis tewas dan satu dokter umum terluka berat.

Sementara berdasarkan data Komnas Perempuan, dalam rentang 2022-2023, ada 9 kasus kekerasan terhadap perempuan perawat yang dilaporkan ke mereka. Tiga di antaranya adalah kekerasan yang terjadi di tempat kerja yang dilakukan oleh atasan dan rekan kerja. Komnas Perempuan menyebut kekerasan pada perawat perempuan dilakukan oleh pasien, rekan kerja, maupun orang yang tidak dikenal.

Alasan yang memicunya pun kadang sepele, seperti saat ayah seorang pasien anak memukuli dan menjambak seorang perawat wanita di RS Siloam Palembang. Saat diperiksa, pelaku mengaku emosi karena melihat darah keluar dari tangan anaknya saat korban melepas infus. Sebagai seorang tenaga kesehatan, tentu saya ikut prihatin dengan rentetan kejadian ini.

Kekerasan terhadap nakes adalah risiko yang dapat menyebabkan cedera, tuntutan dan kerugian secara finansial pada ruang lingkup rumah sakit. Kekerasan terhadap nakes adalah realita yang tidak menguntungkan yang terjadi pada praktik medis.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), kekerasan di tempat kerja didefinisikan sebagai “insiden dimana staf dilecehkan, diancam, atau diserang dalam keadaan yang berkaitan dengan pekerjaan mereka”. Peristiwa kekerasan pada nakes termasuk cukup sering terjadi di Indonesia. Pelakunya rata-rata adalah keluarga atau penunggu pasien. Hal itu membuat para nakes mengalami rasa cemas sehingga berdampak terhadap kualitas pelayanan kesehatan dan muruah nakes sebagai nobile officium (profesi mulia).

Profesional medis yang menghadapi kekerasan diketahui dapat mengalami masalah psikologis seperti depresi, insomnia, stres pascatrauma, ketakutan, yang menyebabkan keengganan untuk bertugas di wilayah terpencil. Pada klinik dan rumah sakit, sangat besar kemungkinan pasien dan keluarga pasien mengalami kesedihan, frustasi, marah dan bingung.

Hal ini bisa bermanifestasi menjadi perilaku agresif yang membahayakan bagi tenaga kesehatan maupun pasien sendiri. Beberapa penyebab umum kekerasan terhadap nakes adalah ketidakpuasan pasien dengan perawatan yang diberikan, administrasi yang buruk, miskomunikasi, masalah infrastruktur dan penggambaran negatif tentang nakes di media. Seorang tenaga kesehatan, terutama dokter, harus membekali diri dengan pengetahuan keahlian yang terstandar untuk memastikan  keamanan diri sendiri dan orang lain.

Tenaga medis diharapkan mampu berkomunikasi dengan jelas, simpatik, dan memberikan peran kolaborasi antara pasien dan tenaga medis. Dengan menggunakan bahasa yang mudah dipahami, memastikan pasien paham dengan informasi yang diberikan serta bahasa tubuh yang baik penting dilakukan untuk membina hubungan baik dengan pasien.

Manajemen risiko di rumah sakit adalah kegiatan pengendalian yang menyeluruh berupa identifikasi dan evaluasi untuk mengurangi risiko cedera dan kerugian pada pasien, karyawan rumah sakit dan organisasinya sendiri sesuai standar Akreditasi (The Joint Commission on Accreditation of Healthcare Organizations/JCAHO).

Kekerasan terhadap nakes termasuk dalam kategori risiko di rumah sakit yang berhubungan dengan karyawan serta risiko keselamatan dan kecelakaan kerja. Manajemen rumah sakit harus mampu untuk mempertahankan lingkungan yang aman dan menyediakan perawatan dan kompensasi pekerja untuk cedera terkait dengan pekerjaan.

Program manajemen risiko yang terintegrasi digunakan untuk mencegah terjadinya cedera dan kerugian di rumah sakit. Risiko lainnya yang dapat terjadi jika terjadi adanya tindakan kekerasan adalah risiko reputasi dimana narasi media tak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya sehingga dapat mempunyai persepsi yang negatif terhadap nakes dan menurunnya kepercayaan publik terhadap rumah sakit.

Terdapat klasifikasi kekerasan di tempat kerja menjadi lima tingkat seperti yang dijabarkan menurut Kumari dkk (2020), yaitu:

  • Tingkat 1: pasien dan/atau penunggu pasien menyebabkan konflik kecil, misalnya argumen yang tidak diinginkan, berteriak, gerakan yang tidak ramah, dan ancaman emosional. Mempengaruhi sisi psikologis dari dokter dan mengganggu rutinitas sehari-hari.
  • Tingkat 2: kekerasan verbal yang berat, misalnya penggunaan kata-kata kasar, ancaman mati, berkomentar secara ofensif, baik secara langsung maupun menggunakan telepon.
  • Tingkat 3: kekerasan fisik (mendorong, menendang/memukul, menggunakan objek seperti pisau atau pistol, menampar, mencekik, menarik rambut, yang menyebabkan gangguan moral dan psikologis namun tidak ada cedera fisik.
  • Tingkat 4: kekerasan fisik yang menyebabkan cedera parah seperti gangguan penglihatan, gangguan pendengaran, dislokasi wajah, fraktur, dan gangguan psikologis.
  • Tingkat 5: kekerasan fisik yang menyebabkan cedera parah seperti gangguan penglihatan, gangguan pendengaran, dislokasi wajah, fraktur, dan gangguan psikolog.

Oleh karena itu, manajemen risiko kekerasan pada nakes sangat penting untuk dilakukan. Terdapat beberapa cara untuk mengatasi kemungkinan kekerasan. Keahlian dalam berkomunikasi kepada pasien secara baik penting dimiliki seorang tenaga kesehatan untuk mencegah terjadi agresi.

Pada pasien ataupun keluarga pasien yang agresif, umumnya tindakan de-eskalasi merupakan cara yang pertama kali dipilih untuk menenangkan pasien. Apabila pasien bertindak agresif dan membahayakan diri sendiri atau orang lain, bisa dipertimbangkan tindakan restriksi dengan restrain atau penggunaan obat penenang.

PENCEGAHAN

Pencegahan tindakan agresif membutuhkan keahlian dan kepemimpinan yang kuat dari tenaga medis. Tenaga medis diharapkan mampu berkomunikasi dengan jelas, simpatik, tidak menghakimi, dan memberikan peran kolaborasi antara pasien dan tenaga medis. Ketika bertemu dengan pasien atau keluarga pasien, perkenalkan diri dengan sopan dan bersahabat.

Menggunakan bahasa yang mudah dipahami, memastikan penerima informasi paham, dan bahasa tubuh yang baik penting dilakukan untuk membina hubungan baik dengan pasien. Apabila pasien mengalami disorientasi atau salah memberikan informasi, tenaga medis tidak perlu mengkonfrontasi atau bahkan mempermalukan pasien.

Membina hubungan yang baik tidak hanya pada pasien tetapi juga keluarga pasien. Keluarga pasien seringkali memiliki informasi yang dibutuhkan. Apa saja yang bisa memprovokasi pasien? Apa saja yang bisa menenangkan pasien? Keluarga juga terlibat dalam penentuan keputusan dan rencana perawatan pasien.

DE-ESKALASI

De-eskalasi adalah metode yang dilakukan, baik secara verbal maupun nonverbal, untuk menurunkan kemarahan dan agresi. Metode ini umumnya dilakukan dengan berkomunikasi, namun bisa ditambahkan pemberian medikamentosa terhadap pasien dengan agresi yang berat. Tujuan dari de-eskalasi adalah memberikan distraksi dan menenangkan pasien.Dalam melakukan de-eskalasi, tenaga medis diharapkan mampu mengenali tanda-tanda awal agresi. Tanda eskalasi yang bisa terjadi meliputi:

  • Bicara dengan nada keras
  • Pengguanaan bahasa yang tidak pantas, misalnya menggunakan bahasa yang tidak senonoh, melakukan intimidasi
  • Memaksakan tindakan yang tidak diperlukan
  • Menuduh tenaga medis berkonspirasi terhadap pasien
  • Agresi terhadap benda mati, misalnya melempar atau memukul
  • Tindakan agitasi, misalnya berjalan kesana-kemari, gerakan bola mata cepat, menginvasi ruang pribadi, mengepalkan tangan, mengatupkan rahang
  • Tidak mengikuti arahan dari petugas

Tindakan awal yang dilakukan adalah menjauhkan pasien agresif dari sumber yang memprovokasinya ke ruang yang lebih tenang dan nyaman, namun tidak mengisolasi tenaga medis. Ruangan tersebut harus bebas dari benda-benda tajam atau benda yang berpotensi membahayakan.

Tenaga kesehatan kemudian berkomunikasi dengan pasien untuk mengklarifikasi penyebab agresi dan mencari jalan keluar terbaik tanpa memprovokasi pasien. Tetap tenang dan bersahabat, kemudian menanyakan kepada pasien ”apakah ada yang bisa saya lakukan untuk membantu?”

Postur tubuh merupakan media komunikasi non verbal, dan de-eskalasi dilakukan dengan menjaga ketenangan emosional, tidak mengekspresikan kecemasan atau rasa frustrasi terhadap pasien, memvalidasi keluhan pasien, memberikan informasi dan dukungan emosional serta komunikasi yang disetujui bersama.

Apabila pasien atau keluarga pasien merespon dengan mengintimidasi dan menyakiti tenaga kesehatan secara verbal dan fisik , petugas rumah sakit harus mengimplementasikan konsekuensi yang sudah disepakati sebelumnya terhadap perilaku yang tidak aman dan tidak bisa diterima. Tindakan yang diambil bisa meliputi: Kode abu-abu (tanda tindakan agresif atau mengancam), peringatan tertulis dari petinggi rumah sakit, mengeluarkan pelaku dari rumah sakit lalu melakukan pertemuan lanjutan untuk meninjau kembali batasan yang ada.

MEDIKAMENTOSA

Ketika pemberian obat secara oral tidak memungkinkan atau dibutuhkan sedasi cepat, maka obat bisa diberikan melalui jalur parenteral. Pemilihan obat penenang berdasarkan gejala dan riwayat pasien. Obat antipsikotik lebih baik diberikan pada pasien psikosis, manik, atau delirium.

Benzodiazepine bekerja lebih baik pada gejala putus obat alkohol, epilepsi, penyakit Parkinson, atau demensia Badan Lewy. Apabila penggalian informasi kesehatan pasien tidak cukup untuk menentukan terapi pilihan, atau pasien sebelumnya tidak pernah menggunakan antipsikotik, diberikan lorazepam secara intramuskular. Lorazepam juga menjadi pilihan pada pasien psikosis dengan penyakit kardiovaskular

Penggunaan Intervensi Restriktif

Ketika de-eskalasi dan pemberian obat tidak mampu menenangkan pasien agresif, serta terdapat potensi tindakan yang mencederai diri sendiri dan orang lain, makan dapat dipertimbangkan intervensi restriktif. Restrain dilakukan oleh tenaga medis terlatih, baik secara manual atau mekanik. Restrain manual dilakukan secara fisik dengan tujuan imobilisasi pasien agresi secara aman.

Restrain mekanik menggunakan peralatan yang telah terstandar, misalnya dengan borgol atau sabuk pengikat. Restrain tidak dilakukan secara rutin dan harus dihentikan apabila pasien sudah tenang. Ketika melakukan restrain manual, tenaga medis harus menghindari menekan pasien ke lantai. Apabila terpaksa dilakukan, restrain dilakukan dengan posisi wajah menghadap ke atas dan tidak mengganggu jalan nafas dan sirkulasi pasien. Tidak dianjurkan melakukan restrain manual selama rutin selama lebih dari 10 menit.

KESIMPULAN

Tindakan kekerasan pada nakes semakin sering terjadi, tidak hanya dilakukan oleh pasien tetapi juga keluarga pasien. Tenaga kesehatan diharapkan memiliki pengetahuan, keahlian dan manajemen risiko yang mumpuni untuk mengatasi agresi pasien. Manajemen risiko di rumah sakit adalah kegiatan pengendalian yang menyeluruh berupa identifikasi dan evaluasi untuk mengurangi risiko cedera dan kerugian pada pasien, karyawan rumah sakit.

Tindakan awal yang dilakukan adalah mencegah agresi dengan kemampuan berkomunikasi, baik verbal maupun non verbal, yang baik serta memberikan peran kolaborasi terhadap pasien. Apabila terjadi eskalasi tindakan agresi, maka tenaga medis melakukan de-eskalasi dengan memisahkan pasien agresif ke ruangan tersendiri yang nyaman dan aman.

Kemudian dilakukan klarifikasi penyebab agresi dan mencoba bersama-sama mendiskusikan jalan keluar. Pada kasus dimana pasien tidak bisa ditenangkan secara komunikasi dan bertindak membahayakan diri sendiri atau orang lain, maka dipertimbangan intervensi restriktif dengan pilihan restrain dan obat penenang. Tindakan restriktif ini tidak dilakukan secara rutin dan memerlukan pemantauan tanda vital untuk memastikan keamanan pasien.(*)

*) drg. Cirska Nadia Putri

Dokter Gigi, Mahasiswi Pascasarjana Magister Manajemen Rumah Sakit Unisba

Referensi:

Kumari, dkk. 2020. Workplace violence against doctors: Characteristics, risk factors and mitigation strategies. J Postgrad Med. Jul-Sep;66(3):149-154

Reuni Akbar SMADA, Kenang Memori dan Hapus Kerinduan

May 30, 2023 by  
Filed under Opini

Oleh : Agung Masupriangono *)

Gaya angkatan 90

Keseruan reuni akbar 40 angkatan IKA SMADA yang dilaksanakan pertama kalinya di Plenary Hall – Samarinda Minggu 28 Mei 2023 lalu telah  mampu menarik kenangan memori masa lalu dan menghapus kerinduan serta pentingnya jalinan silaturahmi persaudaraan antar angkatan.

Catatan terakhir dari panitia yang dikelola Hasanuddin melaporkan, peserta telah mendaftarkan diri lewat koordinator angkatan mencapai 2.300 peserta. Jumlah ini mewakili 32 angkatan. Jumlah yang fantastis karena reuni akbar ini baru pertama kali digelar. Sebelumnya, reuni  kecil per angkatan hingga per kelas sudah seringkali dilaksanakan para Alumni Ika Smada.

Tidaklah mudah menyelenggarakan reuni akbar dengan peserta lintas angkatan. Ada jarak kejiwaan periodisasi angkatan ini. Ada 4 periodisasi Ika Smada yaitu periode per sepuluh tahunan. Mulai 1983-1993, 1993-2003, 2003-2013 hingga 2013-2023.

Usia Smada 40 tahun telah melahirkan kakek/nenek, anak hingga cucu yang pernah sekolah di SMAN 2. Juga adanya fanatisme sekolah yang diikuti kakak, adik, anak, cucu.

Dinamika dibalik sukses acara tentu tidak terlepas dari kerja keras Panpel yang juga terdiri dari lintas angkatan. Hampir setiap minggu dan hari, Panpel melakukan pembagian tugas dan merencanakan kegiatan per seksi untuk dibahas tuntas.

Endingnya dua minggu sebelum hari H seluruh persiapan telah tuntas dibahas. Promosi acara digaungkan lewat berbagai media yang ada. Mulai pemasangan baliho di tempat umum, kemudian woro woro lewat koordinator angkatan yang diteruskan ke koordinator kelas hingga diinformasikan lewat dialog TVRI, YouTube, Sosial Media dan tentunya WAG masing-masing alumni sangat efektif menghadirkan peserta akbar. Hal ini dibuktikan dgn kehadiran peserta dari luar daerah dan kota.

Suasana reuni akbar SMADA

Dalam sesi acara juga sudah diprediksi Panpel . Secara psikologis setiap angkatan akan membentuk barisan masing-masing. Lalu dengan keseruannya akan saling menyapa, bercanda dan sebagainya. Hingga acara yang disajikan panitia cenderung dikesampingkan. Oleh sebab itu panitia berpikir keras  setiap angkatan dan peserta dapat terlibat penuh dengan rangkaian acara ini. Salah satunya menghadirkan artis ibu kota yang berasal dari Kaltim yaitu Nadira Arisanty jebolan finalis X-Factor 2015 dan Nia Paramitha vokalis tahun 90 an dan diiringi band lokal ternama Hitam Putih dan Four Sessions.

Juga lagu dan tari mewakili angkatan tampil secara acak. Hingga tampilan Ketum Hadi Mulyadi sekaligus Wakil Gubernur menghibur peserta reuni dengan lagu dan permainan drum. Sesekali diselingi pencabutan nomor doorprize.

“Luar biasa heboh dan kompak,” kata Hamdani, guru purna tugas yang hadir saat diminta pendapatnya.

Beberapa peserta seperti Saladin sebagai Alumni klas fisik dari angkatan 87 menuturkan awalnya dia belum bisa memastikan kehadiran di acara reuni akbar ini. Kepada koordinator angkatan Faqih RM ia menyampaikan ketidakpastian ini dikarenakan dia berada di Suriname. Negara di bagian selatan benua Amerika. Diperlukan waktu 29 jam untuk sampai di Samarinda dengan transit via bandara internasional Schiphol di Belanda.

Setelah hadir Saladin merasakan capek dan jauhnya terbayar lunas. Acaranya pecah dan meriah. Bertemu dengan angkatan 87 mulai dari rekan di kelas 1 hingga klas fisik cukup mengobati kerinduan akan pentingnya bersilaturahmi lewat reuni akbar.

“Terima kasih,” kata Saladin ditujukan kepada panpel yang bekerja cerdas dan ikhlas tentunya.

Peserta dari angkatan 89 dituturkan Iwan Majid sebagai panpel  ada rekan satu angkatan 89. Rekannya  Aji M. Syarifuddin hadir ke reuni akbar dengan mengendarai sepeda motor dari Kabupaten Berau ke Samarinda. Ia memerlukan waktu 14 jam untuk tembus ke acara ini. Melewati hutan dan kota kota yang dilalui mulai Berau, Sangatta, Bontang hingga Samarinda.

“Luar biasa, atas nama panpel sangat mengapresiasi perjuangan rekan angkatan 89 ini,” kata Iwan Majid.

Kesuksesan acara reuni akbar 40 angkatan bukan kerja panpel sendiri tetapi keterlibatan seluruh Alumni. Kerja koordinator angkatan yang secara terus menerus menyosialisasikan dan mengajak angkatannya untuk hadir di acara ini sangat berperan, Koordinator angkatan menjadi LO (liasson officer) panpel dalam berkomunikasi lintas angkatan.

Semoga keberhasilan reuni akbar ini menjadikan pengurus besar IKA SMADA semakin solid dan bersemangat dlm menjalankan roda organisasi serta mampu menjalankan program/kegiatan yang bermanfaat untuk alumni, sekolah dan masyarakat secara umum. Kegiatan seperti bakti sosial kesehatan, peningkatan ekonomi kecil hingga keolahragaan diharapkan akan mampu dilaksanakan pasca reuni akbar.

*) Sekretaris Umum Ika Smada

HUT “Kepala Suku” RSPB

May 30, 2023 by  
Filed under Opini

Catatan Rizal Effendi

DIREKTUR Rumah Sakit Pertamina Balikpapan (RSPB)  dr M Noor Khairuddin, Sp.B, MPH didaulat seakan menjadi seorang kepala suku, lalu diarak naik becak. Itu terjadi di halaman RSPB Minggu (28/5) kemarin, mewarnai perayaan hari ulang tahun sang ahli bedah yang ke-56. Khairuddin  lahir, tumbuh berkembang, sukses  berkarier di Balikpapan. Dalam  lingkungan keluarga dekatnya pria berkumis lebat berpostur tinggi besar ini disapa dengan panggilan sayang “Nunung”.

“Selamat ulang tahun, Pak dokter Khairuddin. Kami semua senang di bawah kepemimpinan Bapak. Sehat dan sukses,” kata sejumlah karyawan, tim manajemen,  dokter dan tenaga kesehatan RSPB lainnya serempak.

Khairuddin tampak gagah dan bahagia mengenakan baju adat Dayak. Dia memang sudah hampir tiga tahun menjadi “kepala suku” di RSPB. Dia diangkat sebagai direktur RSPB menggantikan dr Syamsul Bahri, 8 Juli 2020. Sebelumnya Khairuddin wakil direktur. Saat itu saya masih menjabat wali kota.

“Pak Khairuddin diberi pakaian adat karena beliau putra daerah. Jadi selalu punya komitmen yang tinggi membangun daerahnya sendiri. Sengaja kita naikkan becak, supaya beliau tetap sebagai pemimpin yang merakyat dan selalu membela kepentingan rakyat,” kata Bu Lisa, Humas RSPB.

Dokter spesialis bedah lulusan Universitas Gajah Mada (UGM) ini kaget ketika saya datang di sela perayaan. Sengaja saya bawakan kado berupa sekeranjang pisang mahuli dan tomat, yang saya panen dari depan rumah saya di Balikpapan Regency. Paket yang sama pernah saya kirim juga ke dr Elies Pitriani Sp.P, yang saya anggap seperti keluarga sendiri.

Saya banyak berutang budi kepada dr Khairuddin. Termasuk ketika saya menjadi wali kota sibuk menangani pandemi Covid-19. Saya hormat karena dr Khairuddin sangat peduli dan mau bekerja sama dengan Pemerintah Kota. Dia bersama tim dokter lainnya juga menangani istri, menantu, dan dua cucu saya yang tersengat wabah Covid saat itu.

Perayaan HUT Khairuddin dirangkai dengan HUT ke-36 RSPB. RSPB yang berdiri di atas tanah seluas 34 hektare lebih itu, diresmikan oleh Dirut Pertamina Brigjen TNI Dr Ibnu Sutowo pada era Presiden Soeharto, 4 April 1987. Ibnu Sutowo juga yang membangun  kompleks Banua Patra termasuk Lapangan Merdeka.

Meski kelasnya masih setingkat di bawah RSUD Kanujoso milik Pemprov Kaltim, toh RSPB diakui sebagai salah satu rumah sakit rujukan terbaik tidak saja bagi  pekerja Pertamina dan keluarga, tetapi juga masyarakat umum. “Rasanya kelasnya beda kalau dirawat di RSPB,” kata seorang pasien.

Tiga hari lalu ada komentar seorang keluarga pasien bernama Ernita. “Terima kasih RSPB sudah melayani  kedua orang tua saya dengan baik. Padahal sudah mondar-mandir ke RS yang lain, tapi tak ada yang bisa. Pas ke Pertamina, langsung dilayani rawat inap. Pelayanannya juga oke,” katanya begitu.

“Mungkin ini RS yang menerima pasien BPJS dengan pelayanan terbaik. Semua staf ramah. Semoga tetap seperti ini. Kita patut bersyukur Balikpapan punya RS seperti ini,” kata Goeij.

Setidaknya ada 10 dokter spesialis dengan segudang pengalaman bertugas di RSPB. Ada dokter Muhammad Iqbal yang dikenal sebagai spesialis jantung, ada dr Alvarez, spesialis othopedi yang sering muncul di medsos, ada dr Aspian Noor, ahli obstetri dan ginekologi yang juga suami Kepala Dinas Kesehatan Kota dr Andi Sri Juliarty alias dr Dio. Selain itu ada dr Sentot, spesialis bedah onkologi, dr David, spesialis jantung dan pembuluh darah serta dr Rahmat, spesialis  plastic surgery.

Dengan mengenakan kaus merah, keluarga besar RSPB larut dalam keriangan dan  suka cita HUT. Ada sejumlah lomba digelar dengan disediakan berbagai hadiah. Mulai lomba band, lomba masak antarunit, lomba poster edukasi, lomba membuat video ucapan HUT RSPB, lomba futsal putra/putri, lomba tenis meja sampai lomba PUBG.

Saya mendapat kehormatan menerima bagian nasi tumpeng pertama dari dr Khairuddin. Bahkan pulangnya diberi 4 kotak kue. Cucu saya, Defa yang lagi latihan sepak bola di Lapangan Merdeka suka sekali. “Terima kasih, Kai, selamat ulang tahun dokter Khairuddin,” katanya gembira.

TETAP DI BALIKPAPAN

Menurut dr Khairuddin, dia sempat ditawari “hijrah” ke kantor korporasi di Jakarta. “Tapi saya minta izin tetap di Balikpapan untuk menuntaskan pembangunan dan pengembangan RSPB dan fasilitas kesehatan lainnya,”jelasnya.

Salah satunya mengembangkan klinik kesehatan milik Pertamina di Panorama, Rapak menjadi rumah sakit type C.  “Kalau di sana sudah rampung dan sudah beroperasi, maka RSPB akan kita kembangkan dan tingkatkan lagi,” kata Khairuddin.

Ada beberapa program pengembangan RSPB yang tengah dipersiapkan. Antara lain dibukanya Klinik Fertilitas bekerjasama dengan Morula IVF Indonesia, hyperbaric chamber, MCU one stop-service, perubahan ruang kamar rawat inap secara menyeluruh serta membuka klinik tumbuh kembang anak.

Sekarang ini RSPB dilengkapi pelayanan rawat inap termasuk kelas super VIP, instalasi gawat darurat (ICU/ICCU/PICU/NICU), kamar operasi, gedung layanan sport medicine, Cardiac Center, Eye Center, Diabetes Center, pelayanan poli, apotek dan fasilitas penunjang lainnya seperti laboratorium, rontgen dan CT Scan, USG4D, EEG, fisioterapi serta endoskopi.

RSPB juga punya fasilitas pendaratan helikopter untuk melayani pasien rujukan, yang biasanya dari pekerja Pertamina atau perusahaan pendukungnya di anjungan lepas pantai atau yang bekerja di daerah pelosok.

Khairuddin menyadari dengan adanya proyek perluasan kilang Pertamina (RDMP) Balikpapan dan dimulakannya pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN), maka keandalan pelayanan RSPB sangat dibutuhkan. Bahkan menjadi tuntutan untuk terus ditingkatkan.

Menurut dia, RSPB memiliki visi menjadi penyelenggara layanan kesehatan yang prima, terpercaya, serta memiliki keunggulan kompetitif yang berkelanjutan di Kaltim. Selamat ulang tahun dr Khairuddin, sukses dan terus mengabdi untuk kepentingan rakyat banyak. Dan selamat ulang tahun juga untuk RSPB yang hebat dan terpercaya.(*)

Tiga Hari Ibu Norbaiti

May 28, 2023 by  
Filed under Opini

Catatan Rizal Effendi

Isran Noor khusyuk berdoa bagi sang istri

MALAM tadi, Sabtu (27/5) berlangsung acara doa dan tahlilan hari ketiga  berpulangnya Ibu Hj Norbaiti binti Amlan Tasin, istri Gubernur Dr Isran Noor. Acara berlangsung di kediaman pribadi Gubernur, di Jl. Adipura 21, Sungai Kunjang, Perumahan Karpotek, Samarinda.

Selain sanak keluarga, datang juga sejumlah tokoh, ulama, dan pejabat. Juga para kepala OPD. Bahkan ada rombongan pendeta. Hadir juga Wagub Hadi Mulyadi dan mantan wagub, Farid Wadjdy, Danrem 091/ASN Brigjen TNI Dendi Suryadi serta mantan wali kota Bontang Dr dr Sofyan Hasdam dan istri.

Suasana duka masih menyelimuti keluarga. Semua merasa kehilangan. Wanita berusia 54 tahun kelahiran Loa Janan ini, dikenal aktif dalam berbagai organisasi. Selain sebagai ketua PKK dan Dekranasda, dia juga memangku jabatan ketua Kwarda Pramuka Kaltim.

Acara tahlilan berlangsung khidmat. Gubernur Isran yang langsung bertindak sebagai imam. Mulai salat maghrib, pembacaan surah Yaasiin, doa sampai salat Isya berjamaah. “Ketika membaca ayat Pak Isran agak sesenggukan, jadi kami ikut nangis juga,” kata Dr Meiliana, yang kebetulan bertetangga dengan kediaman Isran.

Meiliana yang sekarang ketua Percepatan Pengembangan Maratua terbilang akrab dengan Ibu Norbaiti.  Dia sering makan bersama dan berbagi cerita. “Rasanya Ibu Norbaiti seperti masih ada di tengah-tengah kita,” katanya.

Seperti kita ketahui bersama, Ibu Norbaiti meninggal dunia, Rabu (24/5) malam pukul 20.23 WIB di Rumah Sakit Pusat Otak Nasional (RS PON) Prof Dr dr Mahar Mardjono setelah tim dokter gagal mengatasi serangan penyakit kanker yang berjalan sudah setahun lebih.

Jenazah almarhumah setelah diterbangkan ke Balikpapan, melalui jalan darat dibawa ke Samarinda. Selanjutnya dimakamkan di halaman samping rumah pribadi, Kamis (25/5) menjelang salat zuhur. “Itu permintaan Ibu sebelum berangkat ke Jakarta untuk menjalani pengobatan,” kata Isran.

Saya sempat mengikuti acara prosesi pemakaman, yang dihadiri ribuan orang. Sebelumnya saya juga ikut menyambut kedatangan jenazah di Bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman, Sepinggan. Semua berduka dan mengenang Ibu Norbaiti yang kerap tampil bersahaja itu.

Ribuan postingan warganet memajang wajah Ibu Norbaiti yang tersenyum hangat. Penampilan Ibu Norbaiti mengingatkan saya kepada  istri Gubernur Kaltim Abdoel  Wahab Sjachranie, Ibu Ajang Ratmini, yang selalu tersenyum, teduh, dan bersahaja.

“Ibu tak pernah merumpi orang lain. Dia tak pernah su’udzon tetapi selalu berprasangka baik terhadap siapa saja. Saya banyak belajar dari beliau,” kata Meiliana.

Hal yang sama juga dirasakan oleh Wakil Gubernur Hadi Mulyadi. “Ibu itu penuh perhatian dan sangat baik kepada semua orang. Kami sudah seperti keluarga,” ujarnya. Hadi menyesal tak bisa menghadiri pemakaman Almarhumah karena sedang melaksanakan kunjungan kerja ke Thailand.

SUDAH SELESAI

Ada ungkapan menarik yang disampaikan Gubernur Isran Noor ketika melepas jenazah sang istri, Hajjah Norbaiti. “Beliau telah mengakhiri tugas itu dengan sangat baik di dunia dan sekarang menghadap ke hadirat Allah SWT,” kata Isran diapit Pangdam VI/ Mulawarman Mayjen TNI Tri Budi Utomo dan Kapolda Kaltim Irjen Pol Drs Imam Sugianto M.Si.

Isran mengaku banyak kenangan indah dan manis bersama Ibu Norbaiti. Dia tak bisa melupakan semua itu. Norbaiti menunjukkan sikap istri yang bijaksana, pendamping suami dan anak yang tangguh, serta punya semangat tinggi untuk ikut berkontribusi kepada pembangunan daerah, bangsa, dan negara.

Selain menjadi pendamping suami, ibu tiga anak, Norbaiti juga sempat menjadi anggota DPR RI. Bahkan dia juga ikut Pilkada Bupati Kutai Timur.

“Atas nama Almarhumah saya juga menyampaikan permohonan maaf jika ada perilaku dan sikap Almarhumah yang kurang berkenan terhadap Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak semasa hidup,” ujar Isran.

Meski masih dalam suasana duka, Isran tetap aktif bertugas.  Sabtu kemarin, ia terpilih sebagai ketua Ikatan Alumni Keluarga Pelajar Mahasiswa Kalimantan Timur (IA KPMKT) pada Mubes yang berlangsung di Rumah Ulin Arya, Samarinda. Sebelumnya, Isran juga ketua Umum Ikatan Alumni Univeristas Mulawarman (IKA Unmul).

“Saya berharap para tokoh dan pemuka masyarakat yang tergabung dalam IA KPMKT ikut berperan dalam pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) terutama dalam menyiapkan SDM lokal, yang berintegritas dan punya daya saing yang tinggi,” tandas Isran.

Pekan ini, seperti hari berkabung bagi Kaltim. Selain kepergian Ibu Norbaiti, kita juga berbela sungkawa atas berpulangnya Ibu Hj Siti Soehalmi binti H Muhammad Qamaruddin (istri alm H Anwar Chanani/ibunda mantan wakil wali kota Balikpapan Heru Bambang),  Hj Djumiati binti Hasbullah Zamzam (istri Prof Daddy Ruchiyat) dan Drs H Nazrin M.Si (kepala Biro Perekonomian Setdaprov Kaltim 2017-2022).

Saya dan teman sempat bermain golf di lapangan golf Pertamina, Gunung Bakaran, Jumat (26/5), dua hari lalu. Salah seorang kedi mendadak mendapat serangan jantung di hole 9. Nyawanya tidak tertolong. Ia meninggal dunia. Saya dan pemain lain sangat berduka. Padahal sudah berbulan-bulan saya tak mengayun stick. Saya beristigfar. Jika ajal sudah waktunya, tak ada yang bisa mencegah. Innalillahi wa inna ilayhi raaji’uun. Kullu nafsin dzaikatul maut.(*)

« Previous PageNext Page »

  • vb

  • Pengunjung

    1623300
    Users Today : 4516
    Users Yesterday : 5851
    This Year : 559810
    Total Users : 1623300
    Total views : 13899223
    Who's Online : 41
    Your IP Address : 216.73.216.42
    Server Time : 2026-04-08