Ibu Suka Warna Pink

May 25, 2023 by  
Filed under Opini

Catatan Rizal Effendi

Ibu Norbaiti mengenakan baju pink me-launching Program Gizi Keluarga

SALAH seorang tokoh wanita yang sangat berduka dengan kepergian Ibu Hajjah Norbaiti Isran Noor adalah Dr Meiliana, mantan Plt Sekprov Kaltim yang sekarang sebagai ketua Percepatan Pengembangan Pulau Maratua. “Saya tak bisa melupakan Ibu karena saya kenal  beliau sejak masih bujang,” katanya semalam.

Tentu tidak sekadar kenal, tapi Mei juga sering bersama-sama. Tidak saja dalam acara formal, tetapi juga di waktu santai. “Ibu suka makan dan bekesahan, cocok jadinya dengan aku,” katanya mengenang almarhumah.

Kalau lagi menjenguk Ibu Norbaiti di Jakarta, Mei sering membawakan roti pisang samarinda kesukaan almarhumah “Kami asyik bekesahan. Saya tidak boleh pulang kalau belum makan siang,” ujarnya.

Seperti kita ketahui, Ibu Norbaiti dilaporkan meninggal dunia Rabu (25/5) malam sekitar pukul 20.23 WIB di Rumah Sakit Pusat Otak Nasional (RS PON) Jakarta setelah menjalani penanganan intensif dari tim dokter di sana. Ia sudah lama mengidap kanker di bagian otak, sehingga harus menjalani kemoterapi berkali-kali.

Gubernur Isran Noor yang tengah berada di Yogyakarta membatalkan kegiatannya di kampus Universitas Gajah Mada (UGM). Dia langsung terbang ke Jakarta menemani istrinya di masa kritis bersama anak dan keluarganya. “Saya kehilangan seorang istri dan ibu yang baik. Dia selalu menemani saya dalam suka dan duka,” kata Isran dalam suasana berkabung.

Isran menemani jenazah istrinya dari RS PON sampai diterbangkan dengan pesawat Garuda ke Balikpapan. Selanjutnya dibawa ke rumah duka di Jl Adipura No 21 Samarinda untuk dimakamkan. Ribuan ucapan duka cita disampaikan warga Kaltim baik melalui media sosial maupun mengirimkan karangan bunga.

Bersama tim PKK, panen lombok besar

Menurut Mei, banyak hal yang diceritakan Bu Norbaiti jika mereka bertemu. Mulai soal dua cucunya yang lucu, soal makanan sampai masalah yang berat dan berbau politik. Maklum wanita kelahiran Loa Janan 54 tahun lalu itu, pernah  menjadi anggota DPR RI dan pernah menjadi calon bupati Kutai Timur.

Itu menunjukkan di balik penampilan Ibu Norbaiti yang tenang dan humanis, tersimpan semangat dia memajukan bangsa dan negara termasuk ketika dia menemani Isran dalam berbagai perjuangan khususnya  mulai menjadi bupati Kutai Timur sampai menjadi gubernur Kaltim.

Sebagai wakil rakyat, dia pernah duduk di Komisi VI yang membidangi masalah energi sumber daya mineral, riset dan teknologi serta lingkungan hidup. Ini membutuhkan wawasan yang luas, mengingat Indonesia termasuk Kaltim sangat mengandalkan potensi sumber daya mineralnya dan mempunyai dampak yang luas terhadap lingkungan.

Ternyata kehadiran Ibu Norbaiti di Komisi tersebut sangat berarti dan banyak memberi andil pemikiran untuk menjadi kebijakan Pemerintah. “Beliau sangat inspiratif dan menjadi salah satu idola aku,” kata Mei, yang saat ini menjadi bakal calon anggota DPRD Kaltim dapil Samarinda. Ini langkah pertama Mei memasuki dunia legislatif. Dia dicalonkan oleh Partai Golkar sebagai wakil perempuan yang dinilai sangat potensial.

Mei mengaku warga Kaltim sangat kehilangan wanita yang sangat bersahaja tersebut. “Ibu Norbaiti juga suka mengenakan busana warna pink, yang menggambarkan wanita yang penuh kepedulian, serta menampakkan aura kelemahlembutan,” kenangnya.

Selamat jalan Ibu Norbaiti binti Amlan. Jasa dan pengabdianmu selalu kami kenang. Senyummu menjadi penyejuk kehidupan. Insya Allah husnul khatimah.(*)

Norbaiti Isran Noor, Istri Gubernur Kaltim Wafat

May 24, 2023 by  
Filed under Opini

Catatan Rizal Effendi

Gubernur Isran Noor dan istri, Hj Norbaiti

INNALILLAHI WA INNALILLAHI ROJIUN. Kabar duka datang dari Jakarta. Istri Gubernur  Kaltim, Hajjah Norbaiti Isran Noor, AMd, SH telah tiada. Dia meninggal dunia Rabu (24/5), malam tadi pukul 20.23 WIB di Rumah Sakit Pusat Otak Nasional (RS PON).

Berita duka ini  baru mulai ramai di media sosial sekitar pukul 22.00 malam. Semua saling mengecek kebenarannya. Di WA Group Wartawan Legend, kepastian berita tersebut setelah wartawan Charles Siahaan memosting ucapan duka cita dari Kadis Kominfo Pemprov Kaltim HM Faisal.

Semua terkejut seraya mengucapkan bela sungkawa dan mendoakan agar semua kebaikan almarhumah diterima Allah SWT. “Ya saya mendapat kabar duka beliau sudah tiada,” ujar Dr Meiliana terisak-isak, yang kerap menyapa almarhumah dalam berbagai kesempatan.

Beberapa hari lalu saya sudah mendapat kabar Norbaiti kritis. Gubernur Isran Noor yang tengah berada di Yogyakarta mendadak membatalkan kehadirannya dalam diskusi IKN di kampus Fisipol Universitas Gajah Mada (UGM). Ia langsung terbang menuju Jakarta untuk menemui istrinya, yang tengah menjalani operasi.

Penanganan intensif sudah dilakukan tim dokter, tapi nyawanya akhirnya tak bisa diselamatkan. Ia dinyatakan meninggal dunia. Isran bersama anak dan keluarga luruh dalam kesedihan. Mereka tak mengira wanita berusia 54 tahun itu, yang mereka sayangi akhirnya pergi untuk selama-lamanya.

Norbaiti sudah hampir setahun berada di Jakarta untuk mendapatkan penanganan yang intensif atas penyakitnya. Di antaranya menjalani kemoterapi. Dia sempat pulang di antaranya pada HUT ke-66 Provinsi Kalimantan Timur, 9 Januari 2023. Meski dengan korsi roda, dia sempat hadir pada upacara di Gelora HM Kadrie Oening. Bahkan menerima penghargaan dari Pemerintah Provinsi Kaltim atas pengabdiannya yang luar biasa di bidang kesehatan masyarakat.

Di saat dia merayakan ultahnya ke-54, 30 Januari 2023 lalu, Norbaiti berada dalam perawatan di rumah sakit. Kue ultahnya  dipotongnya di atas tempat tidur. Tapi wajahnya kelihatan sangat bahagia didampingi sang suami dan ketiga anaknya.

Dia kembali ke Samarinda untuk mendampingi putri bungsunya Siti Annisa Isran yang melangsungkan pernikahan dengan Sayid Muhammad Fajar di Plenary Hall, GOR Kadrie Oening, Sabtu,  25 Februari lalu.

Saya sempat datang dan sempat menyalami kedua mempelai termasuk Pak Isran dan Ibu Norbaiti. “Terima kasih yang Pak, salam untuk Ibu Arita,” kata Ibu Norbaiti tersenyum. Kebetulan istri saya tak bisa hadir.

Jenazah Norbaiti diterbangkan ke Balikpapan, Kamis pagi ini dengan pesawat Garuda pertama. Selanjutnya melalui jalan darat menuju rumah duka  di Jl Adipura No 21 Samarinda. Diperkirakan jenazah tiba sekitar pukul 11.00. “Rencana dikebumikan di pemakaman Sungai Kunjang,” kata Kukuh, ADC Gubernur Isran Noor.

JUGA POLITIKUS

Norbaiti lahir di Loa Janan, 30 Januari 1969. Orang tuanya Amlan bin Tasin dan Mastika sudah tiada. Dia anak pertama dari empat bersaudara, yang menyelesaikan pendidikannya di Universitas Mulawarman.

Buah pernikahannya dengan Isran Noor, mereka dikarunia 3 orang anak. M Rahman Isran, Siti Rahmawati Isran dan Siti Annisa Isran.

Hidup mendampingi Isran, membuat Norbaiti juga tumbuh menjadi politisi perempuan yang andal. Dia pernah menjadi wakil rakyat dari Partai Demokrat tahun 2013. Dia masuk Senayan melalui pergantian antar waktu (PAW), menyusul terpilihnya Yusran Aspar menjadi bupati Penajam Paser Utara (PPU).

Di pileg 2014-2019, Norbaiti terpilih kembali menjadi anggota DPR RI dengan meraih suara terbanyak. Dia duduk di Komisi VI yang membidangi masalah energi sumber daya mineral, riset dan teknologi serta lingkungan hidup.

Setahun di sana,  Norbaiti maju sebagai calon bupati Kutai Timur periode 2016-2021, menyusul berakhirnya masa tugas Isran sebagai bupati Kutim. Dia diusung Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) dan Partai Keadilan Persatuan Indonesia (PKPI). Tapi yang terpilih sebagai bupati adalah Ismunandar.

Sebagai istri gubernur, dia aktif sebagai Ketua PKK, Bunda PAUD dan Ketua Dekranasda serta Ketua Kwarda Pramuka Kaltim. Tapi dia juga terlibat dalam berbagai organisasi kesehatan. Pernah menjadi Ketua Perkumpulan Pemberantasan Tuberkulosis, Ketua Yayasan Jantung Sehat dan Ketua Yayasan Kanker Indonesia.

“Ibu Norbaiti memang aktif di berbagai organisasi. Beliau sangat baik dan mengayomi kita semua di daerah-daerah. Selamat jalan Ibu, semoga husnul khotimah,” kata istri saya, Bunda Arita.(*)

Saksi Nikah di Bandung

May 21, 2023 by  
Filed under Opini

Catatan Rizal Effendi

Foto bersama di perkawinan putra Pak Hidayat di Bandung

PEKAN ini saya menghadiri tiga undangan resepsi pernikahan di Jakarta dan Bandung. Bahkan salah satunya saya diminta menjadi saksi. Ketiga undangan itu sangat istimewa karena semuanya undangan sahabat-sahabat saya. Tentulah saya bersemangat untuk menghadirinya. Sekalian bernostalgia.

Kebetulan saya juga harus  menengok cucu saya yang baru lahir, Abirayyan Salahuddin Akbar di Sentul Bogor. Dia anak kedua dari putri saya, Aisyah Febria l(Feby) yang menikah dengan Bakhtiar Rizki Akbar. Alhamdulillah sehat, meski ibunya  sempat mendapatkan perawatan khusus pasca melahirkan.

Istri saya, Bunda Arita sudah beberapa minggu di Sentul menemani Feby dan anaknya. Itu sebabnya dia tak bisa ikut acara pendaftaran caleg, Kamis (11/5) lalu. Istri saya dicalonkan Partai Nasdem menjadi bacaleg DPRD Kaltim daerah pemilihan (Dapil) Balikpapan. “Biar tambah kuat wakil perempuan dari Balikpapan di DPRD Kaltim,” jelasnya.

Terbang dari Balikpapan Minggu (14/5) pagi, saya langsung menuju Carani Ballroom Sasana Kriya Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Di sana saya menghadiri resepsi pernikahan dr Nahesa Bella Kusumadewi dengan Lettu (Inf) Tri Ageng Widhi Nugroho, S.T.Han.

Bella adalah putri  Kol Inf (Purn) Heri Setya Kusdiantana dan Ibu Nurlita Sarie. Sedang Tri Ageng adalah putra kebanggaan Pak Suparno dan Ibu Jami.  Mereka menikah pagi hari dan siangnya dilanjutkan acara resepsi.

Saya berkawan akrab dengan Pak Heri. Dia sempat menjadi Dandim 0905/Balikpapan mulai 2015 sampai tahun 2017 ketika saya menjadi wali kota. Lalu dia  menjadi Asisten Teritorial (Aster) Kodam VI/Mulawarman. Memasuki purnatugas dia bergeser ke jabatan perusahaan BUMN, yang masih ada hubungannya dengan keamanan,  yaitu menjadi manager pengamanan Kilang Gas PT Badak NGL di Bontang sampai sekarang.

Menyaksikan putrinya bersanding, Pak Heri dan istrinya terlihat sangat bahagia. Maklum ini putri pertamanya yang menikah. Apalagi sang menantu juga dari TNI AD. “Alhamdulillah masih ada yang meneruskan spirit juang dan pengabdian prajurit TNI AD dalam keluarga saya,” katanya bangga.

Saya sempat bertemu dua mantan pangdam VI/Mulawarman, yakni Mayjen (Purn) Subiyanto (2018-2020) dan Letjen TNI Teguh Pudjo Rumekso (2021-2022), yang sekarang menjadi Sesmenko Polhukam bersama istri. Juga beberapa perwira yang pernah bertugas di Kodam dan Polda Kaltim.

Tidak saja  Pak Heri yang menggelar mantu, juga Marsda TNI Heddezul S.Sos. Dia pernah juga bertugas sebagai komandan Pangkalan Udara (danlanud) Dhomber Balikpapan tahun 2016. Jadi masih sama-sama dengan Pak Heri waktu bertugas. Saya bilang dulu kehadiran mereka bagian dari “the dream team” Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kota Balikpapan.

Putri Heddezul yang bernama Azzura Badzliana, S.Si disunting Lettu (Pnb) Deny Taufik Prianda S.Tr (Han), putra  Marsda (Purn) Dedy Permadi, SE dan Ibu Yulia Andriani, SE, AK. Berarti perkawinan di antara keluarga penerbang. Kabarnya Deny penerbang pesawat tempur F16.

Sayang acara resepsinya tidak bisa di udara. Cukup di darat saja,  di Gedung Puri Ardhya Garini Halim Perdana Kusuma, Jakarta Timur. Acara diawali dengan Upacara Militer Pedang Pora. “Alhamdulillah, tentu kami sangat bahagia,” kata Heddezul dan istrinya, Ibu Meili Ira.

Heddezul yang sekarang marsekal berbintang dua memangku jabatan penting sebagai Tenaga Ahli Pengkaji Bidang Ketahanan Nasional di Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) RI. Sejak tahun 2020 dia sudah di lembaga itu sebagai direktur Pengkajian Hankam.

Lemhannas mempunyai tugas membantu Presiden dalam menyelenggarakan pendidikan penyiapan kader bangsa dan pemantapan pimpinan tingkat nasional. Selain juga menyelenggarakan pengkajian yang bersifat  strategis mengenai berbagai permasalahan nasional, regional dan internasional. “Hasil kajian kita oleh Gubernur Lemhannas langsung disampaikan kepada Presiden,” kata Heddezul.

Dalam resepsi  putri Pak Heri dan Pak Heddezul, saya hadir bersama mantan kapolresta Balikpapan Kombes Pol Jeffri Dian Juniarta SH (sekarang bertugas di Pidana Siber Bareskrim Polri) dan pengusaha Ahmad Basir, yang juga ketua Nasdem Balikpapan.  Ada juga hadir Bu Yani Ajat, istri almarhum Kol (Pnb) Yani Ajat Hermawan (mantan Danlanud) bersama putra-putrinya. Sayang mantan Danlanal Balikpapan Kol Laut Irwan Sondang Parluhutan Siagian (sekarang Danpuslatdiksarmil Kodiklat) tak bisa hadir karena ada tugas di Surabaya yang tak bisa ditinggalkan.

SAKSI DI BANDUNG

Dari Jakarta saya ke Bandung. Di Kota Kembang ini saya dan istri, Bunda Arita menghadiri pernikahan putra pertama Pak H Muhammad Hidayat dan Ibu Hj Lita Boedihardjo, Helmy Rachman, AP, SE, ME, yang menyunting Briptu Annisa Cinthya Medina, putri kedua almarhum Agus Sumarsono dan Ibu Lia Herliana.

Malah saya diminta menjadi saksi mewakili  keluarga mempelai pria. Saya ikut bahagia. Sudah sering saya menjadi saksi pernikahan di Balikpapan. Itu “pekerjaan” baru saya setelah purnatugas sebagai wali kota.  Sampai Kepala KUA tak pernah lagi meminta KTP saya, karena sudah hafal data-data saya.

Pak Hidayat adalah pengusaha bengkel di Batu Ampar yang sukses. PT Dayat Tehnik, nama perusahaannya. Dia melayani perbaikan alat-alat di pertambangan dan perkapalan. Dia suka berdiskusi dengan saya. Cara tutur dan penyampaian pandangannya sangat dalam. Mengingatkan kita kepada orang-orang ahli filsafat atau ulama yang sudah bergelar sufi. Unik juga ada orang bengkel begitu.

Dia dan istrinya, Ibu Hj Lita bahagia sekali dapat menantu seorang polisi wanita yang cantik. “Ya ini kebahagiaan buat kami dan keluarga,” katanya bersemangat. Putranya yang sarjana dan master ekonomi mendapat pendamping yang serasi  seorang Polwan, kelahiran Bandung. Sempurna, seperti lagunya Andra and the BackBone.

Acara akad nikah berlangsung Jumat (19/5) sore di Hotel Gaia (The Altitude) Jl Dr Setiabudi 430 Bandung. Tempat nikahnya sangat eksotik. Berlatar belakang hutan dan pemandangan kota Bandung. Di tempat yang sama, petangnya dilaksanakan acara resepsi. Sejumlah kerabat dan keluarga berdatangan memberikan ucapan selamat. Terutama kerabat dari keluarga wanita, yang memang tinggal di Bandung. Istri saya didaulat nyanyi, sementara Ibu Hj Lita sambil joget membagi saweran.

Pak Hidayat juga memboyong Pak Kasmadi, Ketua RT di Kelurahan Batu Ambar yang sering didaulat menjadi MC serba bisa. Bisa menyanyi, bisa bergaya lucu dan bisa apa saja. Pak Kasmadi juga dikenal sebagai Duta Masker Covid karena rajin teriak-teriak menggunakan megafon  untuk mengingatkan masyarakat agar tetap menggunakan masker. Pak Kas juga nyanyi dan geger. Salah satu lagu “kebangsaannya” berjudul “Suci Dalam Debu.” Saya bilang lagu itu judul aslinya tayammum.

Sementara itu, di Dukuh Ngelo Desa Tambakromo Bojonegoro, Jatim, putri mantan ketua DPRD Balikpapan H Andi Burhanuddin Solong, SE, SH (ABS) dan Ibu Sakilah, dr Tendri Ayu Ampi Persada Putri dinikahkan dengan Fauzan Abimanyu ST, putra Suharto dan Ibu Mala Cherni. Sayang saya tak bisa hadir karena waktunya bersamaan. Ketua KKSS Adam Sinte hadir bersama Hapni Kanappe, Andi Mappafuli dan beberapa tokoh Balikpapan lainnya. Juga Rendi Ismail dan Ahmad Basir.

Sebelum berangkat, saya sempat menghadiri pernikahan putri pertama Drs Sjarifuddin Hs (SHs) dan Raden Roro Erna Setyowati, Rayi Kania Arimbi, S. Ikom dengan Muhammad Alfaruq, putra pertama almarhum Zainul Wahid dan Ainur Rahmah.

Acara resepsi pernikahan Rayi dan Alfa berlangsung di Global Sport, Jumat (5/5) malam. Saya dan teman-teman sempat jalan kaki sejauh 500 meter karena ada perbaikan jalan. “Jenderal (panggilan akrab SHs) sengaja ngerjai kita, supaya kita tahu kondisi jalan yang dilewati,” kata ABS bercanda.(*)

Jamaah Jumatan di Al Jabbar

May 20, 2023 by  
Filed under Opini

Catatan Rizal Effendi

Kang Emil melambai ke jamaah yang datang ke Masjid Al Jabbar

DATANG ke Bandung  beberapa hari lalu, saya sempatkan jumatan di Masjid Al Jabbar, kemarin. Sejak dari Balikpapan sudah saya niatin datang ke sana. Rasanya tidak pas juga sebagai ketua Masjid Agung At Taqwa, saya belum pernah singgah ke masjid yang dibangun dan dirancang langsung oleh Gubernur Jabar Ridwan Kamil tersebut.

Masjid Al Jabbar adalah salah satu masjid baru yang viral di jagat maya. Banyak dibicarakan umat Islam di Tanah Air. Terutama dari kemegahan, keunikan dan biaya pembangunannya. Selain Masjid Raya Sheikh Zayed Solo hadiah dari putra mahkota Uni Emirat Arab, Sheikh Mohamed bin Zayed Al Nahyan.

Saya terkagum-kagum ketika memasuki gerbang Masjid Al Jabbar. Auranya memang luar biasa. Masjid yang dibangun di atas lahan seluas 25 hektare di kawasan Kecamatan Gedebage itu, didesain agak beda dengan masjid-masjid di Tanah Air, yang umumnya memiliki kubah. Al Jabar tanpa itu. Alasan Ridwan Kamil tak ada dalil yang mewajibkan membangun masjid harus ada kubahnya. Malah kubah sering membuat suara jadi bergema.

“Inspirasi masjid ini adalah datang dari rumus matematika. Di bawah ada 10 bentuk kurva, di atasnya lima, kemudian jadi empat, jadi dua dan atasnya satu,” kata Kang Emil, panggilan akrab Ridwan Kamil seperti diberitakan detikJabar.

Dia menjelaskan, Al Jabbar juga berarti asmaul husna. Artinya mahaperkasa dan mahajuara. “Selain itu, nama Jabar juga akronim dari Jawa Barat,” tambahnya.

Masjid Al Jabbar juga populer disebut “masjid terapung.”  Karena dikelilingi danau retensi sebagai penyerap air yang datang dari utara menuju selatan kawasan kota Bandung. Danau yang mengelilingi masjid itu, sempat dijadikan “kolam renang” oleh anak-anak yang bermain di sana.

Seperti Al Zayed, Al Jabbar juga dipenuhi jamaah dan tamu wisata religi dari berbagai penjuru Tanah Air. Ribuan orang datang tiap hari. Hampir tiap sudut tak ada yang kosong. Daya tampung masjid ini bisa mencapai 50 ribu orang. Dilengkapi juga dengan museum sejarah Islam, sejarah Rasulullah dan 25 Nabi serta perkembangan Islam di Nusantara.

“Saya senang datang ke masjid ini. Selain bisa beribadah, juga menambah pengetahuan dan keimanan saya dengan mengunjungi museum sejarah Islam dan Rasulullah,” kata Ibu Salmah, jamaah yang datang dari Kalimantan Selatan.

Luar biasa rasanya bisa salat Jumat di Al Jabbar. “Kita di sini seperti di sarang lebah. Pasrah dengan kehendak Yang Kuasa,” kata sang khatib. Khotbahnya cukup singkat tapi mengena. Saya terpana karena sebagian besar jamaah Al Jabbar anak-anak remaja dan pemuda.

Tak ada laporan keuangan dari pengurus. MC hanya mengantar sebentar langsung azan. Saya lihat ada juga beredar beberapa kotak sedekah, tapi tidak dilakukan secara masif. Saya yang berada di saf 10 tak melihat ada kotak amal yang lewat di depan saya.

Tempat berwudhu di halaman Masjid Al Jabbar yang canti

Masjid Al Jabbar diresmikan akhir tahun 2022 tepatnya Jumat, 30 Desember. Biaya pembangunannya disebut Kang Emil sebesar Rp 1 triliun, yang disisihkan dari APBD Jabar. Urusan biaya ini yang dipersoalkan sejumlah warga termasuk LSM Beyond Anti-Corruption (BAC). Mereka mempersoalkan Pemda Jabar tidak transparan. Karena  ditemukan fakta bahwa anggaran pembangunan Al Jabbar bisa mencapai Rp 1,6 triliun.

BAC membuat petisi. Dan mendapat dukungan tidak kurang dua ribu orang. “Itu artinya masyarakat menaruh perhatian terhadap masalah pembiayaan pembangunan Al Jabbar. Kami teruskan ke Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) untuk dilakukan audit,” kata Dedi Hariyadi, Koordinator BAC.

Ridwan Kamil menjelaskan, pembangunan Masjid Al Jabbar merupakan hasil musyawarah perencanaan pembangunan (Musrenbang) dan aspirasi jutaan warga Jabar terutama umat Islam. “Tidak ada masalah penggunaan APBD karena itu kewenangan penyelenggara negara. Biasa dana APBD untuk membangun rumah ibadah, tidak saja masjid, juga gereja, pura dan rumah ibadah lainnya,” tambahnya.

SUDAH 10 MASJID

Saya berteman dengan Kang Emil ketika kami sama-sama menjadi wali kota. Sama-sama menjadi pengurus Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (Apeksi). Bahkan Ridwan Kamil pernah menjadi wakil ketua Aliansi Kabupaten Kota Peduli Sanitasi (Akkopsi) di mana ketuanya dipercayakan kepada saya.

Sebelum merintis karier di jalur politik, Ridwan Kamil dikenal sebagai  seorang arsitek berkelas dunia. Setelah lulus dari ITB, dia mengambil masternya di University of California, Berkeley, Amerika Serikat. Lalu menempuh program doktor di Dong-a University.

Dia sempat bekerja dan menjalankan profesinya sebagai arsitek di negeri Paman Sam. Lalu pulang ke Bandung mendirikan Urbane bersama teman-temannya. Urbane adalah firma yang banyak diberikan kepercayaan merancang desain berbagai bangunan, sehingga beragam penghargaan berhasil diraih.

Monumen tsunami Aceh yang bertema “Rumoh Aceh as Escape Hill” adalah karya Ridwan Kamil. Ia berhasil memenangi sayembara tingkat internasional pada tahun 2007 dalam rangka mengenang peristiwa dahsyat tsunami Aceh pada tahun 2004, yang merenggut sekitar 230.000  jiwa.

Saya bersama dua petugas Masjid Al Jabbar

Berkat kepopuleran dan kecerdasannya Kang Emil pada tahun 2013  didorong mengikuti Pilwali Kota Bandung dan menang. Jalan politik semakin terbuka sehingga tahun  2018 dia terpilih sebagai gubernur Jabar. Saat ini nama Kang Emil disebut-sebut juga sebagai salah satu calon wakil presiden.

Dari catatan yang ada, sudah 10 masjid yang didesain Kang Emil. Selain Al Jabbar juga Masjid Al-Irsyad (Bandung Barat),  Masjid Raya Asmaul Husna (Tangerang), Masjid Al-Safar (Rest Area Km 88 Tol Purbaleunyi), Masjid Raya Al-Azhar (Sumarecon, Bekasi), Masjid Jami’e Darussalam (Tanah Abang), Masjid Al-Kamil (Kabupaten Sumedang), Masjid Baiturahman (Yogyakarta) dan Masjid Kubah 99 Asmaul Husna (Makassar).

Selain di Tanah Air, Kang Emil juga  mendesain kembali Masjid Syeikh Ajlin di Gaza, Palestina yang hancur karena serangan Israel. Pembangunan kembali masjid tersebut merupakan hasil urunan bersama masyarakat Indonesia sebanyak Rp20 miliar. Akhir November tahun lalu, Masjid Ajlin sudah bisa dipergunakan kembali.

Kang Emil juga tengah merancang pembangunan Masjid Al-Mumtadz di Kawasan Cimaung, Kabupaten Bandung. Masjid ini dibangun di samping kawasan Islamic Center Baitul Ridwan, berdekatan dengan makam mendiang putranya, Emmeril Kahn Mumtadz (Eril). Sesuai namanya, masjid tersebut dibangun untuk mengenang Eril yang tewas tenggelam ketika berenang di Sungai Aare, Kota Bern, Swiss, 26 Mei 2022 lalu.

“Dear Eril. Rumah akhirmu berada di sebelah masjid. Masjid yang bertempat di kampung ibumu. Masjid yang didesain dan sedang dibangun oleh ayahmu. Dan, yang terpenting, masjid ini dinamai seperti namamu, Masjid Al-Mumtadz, yang dalam Bahasa Arab artinya terbaik,” begitu kata Ridwan Kamil dalam unggahan Instagramnya.(*)

 

Prestasi Etam di Kamboja

May 19, 2023 by  
Filed under Opini

Catatan Rizal Effendi

Pesilat Iqbal di tengah-tengah pengurus KONI Kaltim

SAYA sempat bertemu Ketua KONI Kaltim Rusdiansyah Aras di Hotel Bluesky Pandurata, Jakarta,  Senin (15/5) lalu. Dia dan rombongan pengurus lainnya juga baru tiba dari Kamboja mengawal 24 atlet Kaltim yang ikut berjuang membela kontingen Indonesia di arena SEA Games 2023, yang berlangsung di sana.

Wajahnya semringah, memberi isyarat bahwa anak-anak Kaltim sukses menyumbang medali. “Alhamdulillah, atlet-atlet kita mampu berjaya, mereka mempersembahkan tambahan medali untuk Indonesia sehingga melebihi target,” kata Rusdi, yang sempat bersama-sama saya menjadi wartawan Kaltim Post.

Dari perjuangan mereka di Kamboja, atlet Kaltim menyumbang 8 medali emas, 4 perak dan 5 perunggu dari 8 cabor yang diikuti. Hanya cabang E-Sport yang gagal menyabet medali, sedang lainnya sukses mengalahkan lawan-lawannya sampai di babak perebutan gelar.

Pegulat Muhammad Aliansyah (kedua dari kiri) menyabet emas di kelas 67 kg Greco Roman Putra

Ketujuh cabor yang sukses itu adalah  gulat menyumbang 3 medali emas, 2 perak, dan 2 perunggu. Lalu dayung (2 emas), cricket ( 1 emas, 2 perak), pencak silat (1 emas),  sepak bola (1 emas), hockey outdoor (1 perunggu),  dan obstacle race (1 perunggu).

Medali emas pertama dari atlet Kaltim datang dari pesilat putra Iqbal Chandra Pratama, yang turun di kelas F. Dalam duel final yang berlangsung di Chory Changvar International Convention and Exhibition Center, Iqbal menumbangkan pesilat Mohd Sharul Zecky Sulaiman dari negeri jiran Malaysia.

Rusdi menyaksikan langsung pertandingan  tersebut. Degdegan juga.  “Alhamdulillah saya lega begitu Iqbal dinyatakan sebagai pemenang,” kata Rusdi. Sementara Iqbal mengaku bangga  bisa mempersembahkan medali emas buat Indonesia. “Sejak awal saya optimis bisa mengalahkan Sharul,” kata pesilat yang sebelumnya juga pernah menjadi juara Asian Games 2018.

Dalam cabor gulat, Kaltim menurunkan 7 atletnya. Semua menyumbang medali. Di situ ada Zainal Abidin, Suparmanto, Annisa Safitria, Mutiara Ayuningtyas, Hamka Gulat Ardiansyah Darmansyah, dan M Aliansyah. Mereka didampingi pelatih Rudiansyah Darmasyah Samsu dan Suryadi Gunawan.

Dari arena Elephant Hall 1, Morodok Techno National Stadium, Phnom Penh, pegulat Suparmanto (63 kg Greco Roman Putra) dan Muhammad Aliansyah (67 kg Greco Roman Putra)  berhasil mempersembahkan medali emas. Ini  baru pertama kali mereka gapai  di arena SEA Games, makanya mereka sangat bangga. Satu lagi emas direnggut pegulat Mutiara Ayuningtyas. Sementara 2 perak diraih Zainal Abidin dan Hamka Gulat. Sedang 2 perunggu dari pegulat Annisa Safitria dan Ardiansyah Darmansyah.

Atlet dayung Kaltim asal Desa Kelumpang, Barong Tongkok, Kubar,  Harjuna yang bergabung dalam tim Traditional Boat Race (TBR) juga berhasil menyabet 2 medali emas. “Hebat, Harjuna dan teman-temannya mampu mempersembahkan emas. Ini kebanggaan kita,” kata Ketua PODSI Kaltim Abdul Rasid, yang juga ketua DPRD Kukar.

Sementara itu, Berlian Duma Pare dan Laili Salsabila yang bergabung dalam tim Cricket Indonesia juga mampu mempersembahkan  satu emas dan dua perak.

Sedang 5 perunggu selain 2 dari gulat, juga dipersembahkan oleh tim hockey outdoor putra dan putri. Lalu  satu perunggu lagi datang dari cabor baru yaitu obstacle race. Itu atas nama Angga Cahya, yang sebelumnya dikenal sebagai atlet panjat tebing.

Obstacle Race adalah lari halang rintang ekstrem. Ini cabang olahraga di mana pemain yang berjalan menggunakan kaki, harus mampu melewati berbagai rintangan dan hambatan.

BINTANG KALTIM

Salah satu bintang Timnas U-22 yang sukses meraih emas di Kamboja adalah Muhammad Taufany Muslihuddin. Dia pemain Borneo FC kelahiran Kota Raja, Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar).

Berkat gol pamungkasnya dari luar kotak penalti membuat Garuda Nusantara melaju ke babak final. Secara dramatis Indonesia mengalahkan Timnas Vietnam 3-2 meski dengan kekuatan 10 pemain saja. Sesuatu yang tak pernah terbayangkan. “Itu mukjizat,” kata seorang warga Tenggarong.

Menurut Zulkarnain, wartawan olahraga yang juga pengurus KONI Kaltim, penampilan Taufany memang sangat impresif. Dia yang berada di posisi gelandang bertahan, di luar dugaan berhasil membantu serangan di saat yang sangat dibutuhkan. “Luar biasa kehebatan anak Rondong Demang Tenggarong itu,” ulasnya langsung dari Olympic Stadium Phnom Penh.

Muhammad Taufany yang sukses mengantarkan Timnas U-22 ke babak final

Seperti kita ketahui bersama, dalam babak final Indonesia kembali meraih kemenangan dramatis dengan menumbangkan Timnas Thailand 5-2. Saya tak bisa melukiskan dengan kata-kata, betapa dahsyatnya kemenangan yang kita capai. Meraih medali emas, setelah 32 tahun puasa.

Dari Medan, Presiden Jokowi selain bersyukur dan mengucapkan selamat, dia juga mengajak sejumlah menteri yang mengikuti acara kunjungan kerjanya makan durian bersama. “Lega, lega,” katanya penuh semangat.

Saya yang ikut nobar di samping Hotel Bluesky Pandurata Jakarta larut dalam suasana kemenangan dengan penonton lain yang saya tidak kenal. Pokoknya kita bersatu penuh kegembiraan. Teman saya, Pak Wiwik sampai buka baju. Kebetulan saya juga pesan es durian. Kok pas dengan Pak Jokowi.

Saya lihat dari layar TV, ayah Taufany, Zukran yang nobar di Tenggarong bersama warga setempat juga melampiaskan kebahagiaan. “Rasanya campur aduk. Terima kasih ya Allah,” katanya terharu.

Bakat sepak bola Taufany turun dari sang ayah. Zukran pernah memperkuat tim Persatuan Sepak Bola Kukar (Persiku). Sedang Taufany yang kini berusia 21 tahun, mengawali kariernya ketika dia diikutkan sang ayah berlatih bola di sekolah sepak bola (SSB), yang berpusat di Stadion Rondong Demang Tenggarong pada tahun 2015. Kemudian berlanjut ke Sekolah Khusus Olahraga (SKOI) di Samarinda.

Berkat latihan yang keras, kelas permainan Taufany semakin terlihat. Dia sempat memperkuat Borneo FC U-16 dan  dipanggil untuk bergabung dengan Timnas Indonesia All Star. Lalu ditarik ikut serta dalam turnamen International Youth Championship 2021.

Dalam seleksi Timnas U-22 yang ketat dia lolos. Taufany akhirnya menjadi salah satu dari 20 pemain yang dipilih pelatih Indra Sjafri bermain di ajang SEA Games 2023 Kamboja. Asisten pelatih Bima Sakti asal Balikpapan yang mendampingi Indra Sjafri juga bangga ada anak Kaltim di antara pemain yang mereka asuh.

“Saya sangat bangga anak saya bisa bermain di Timnas. Saya ingatkan kepada Taufany, harus terus berlatih dan bekerja keras jangan cepat puas. Kita harus membuktikan bahwa anak Kukar juga bisa berprestasi,” kata Zukran penuh semangat.

Dari Balikpapan, cucu saya Defa berjingkrak-jingkrak melihat Timnas Indonesia juara. “Hebat Indonesia, Kai, Defa juga mau seperti itu,” katanya. Cucu saya yang duduk di kelas 3 SD ini beberapa kali memperkuat “timnas” sekolahnya dalam turnamen sepak bola mini. “MU gimana, Kai?” katanya menggoda saya.(*)

 

 

 

« Previous PageNext Page »

  • vb

  • Pengunjung

    1623548
    Users Today : 4764
    Users Yesterday : 5851
    This Year : 560058
    Total Users : 1623548
    Total views : 13900941
    Who's Online : 53
    Your IP Address : 216.73.216.42
    Server Time : 2026-04-08