Bubur Peca dan Rindu Ramadan Lama di Masjid Shiratal Mustaqiem

February 23, 2026 by  
Filed under Berita

SAMARINDA – Tradisi berbuka puasa dengan bubur peca di Masjid Shiratal Mustaqiem tidak hanya menarik jamaah sekitar Samarinda Seberang, tetapi juga warga dari berbagai penjuru kota yang datang untuk merasakan suasana Ramadan yang dinilai semakin jarang ditemui.

Sejak siang hari, bubur peca mulai dibagikan kepada jamaah. Menu khas yang hanya hadir saat Ramadan ini dikenal dengan tekstur lebih padat dan cita rasa gurih-rempah yang kuat, berbeda dari bubur pada umumnya. Dimasak menggunakan tungku kayu, aroma khasnya menjadi bagian dari pengalaman berbuka di masjid tertua di Samarinda tersebut.

Anjani (24), warga KS Tubun, mengaku sengaja datang untuk merasakan atmosfer Ramadan yang kental.

“Saya datang ke sini untuk ikut merasakan berbuka puasa dengan vibes yang sangat kental. Ketika berbuka di sini bisa mengingatkan saya pada masa kecil,” ujarnya, Sabtu (21/2/2026).

Hal serupa disampaikan Eka (40), warga Bengkuring, yang menjadikan kunjungan ke masjid ini sebagai agenda rutin setidaknya setahun sekali bersama keluarga.

“Saya senang datang ke sini karena suasananya beda. Ramadan-nya sangat terasa,” katanya.

Menurutnya, suasana kebersamaan seperti ini sudah semakin sulit ditemukan di kota-kota besar. Karena itu, ia ingin anak-anaknya ikut merasakan pengalaman yang sama.

“Saya juga mau mengajarkan anak-anak biar ikut merasakan suasana Ramadan yang berbeda di sini. Saya pertama kali makan bubur peca justru di sini,” ujarnya.

Tradisi bubur peca yang telah berlangsung lebih dari satu abad itu kini bukan sekadar warisan kuliner, tetapi juga ruang nostalgia bagi warga. Di tengah geliat kota yang terus berkembang, Masjid Shiratal Mustaqiem menghadirkan suasana Ramadan yang tetap sederhana, hangat, dan sarat makna. (intan)

Lebih dari Satu Abad, Bubur Peca di Masjid Tertua Samarinda Tetap Terjaga

February 23, 2026 by  
Filed under Serba-Serbi

bubur peca

SAMARINDA – Tradisi memasak dan membagikan bubur peca di Masjid Shiratal Mustaqiem kembali berlangsung pada Ramadan tahun ini. Tradisi yang telah ada lebih dari 100 tahun tersebut menjadi bagian tak terpisahkan dari sejarah masjid tertua di Kota Samarinda.

Masjid yang dibangun sejak 1881 dan rampung pada 1891 oleh Habib Abdurrahman bin Hasan Al-Habsyi itu tidak hanya dikenal sebagai ikon cagar budaya, tetapi juga sebagai pusat pelestarian kuliner khas Ramadan yang hanya muncul setahun sekali.

Bubur peca dimasak menggunakan beras, santan, serta racikan bawang dan rempah yang dihaluskan terlebih dahulu. Teksturnya lebih padat dibanding bubur ayam pada umumnya, dengan cita rasa gurih-rempah yang kuat. Proses memasak dilakukan menggunakan tungku kayu karena dianggap menghasilkan kekentalan dan aroma yang berbeda dibanding kompor gas.

Kepala juru masak, Mardiana Alus (60), mengatakan ia telah mengabdikan diri lebih dari dua dekade dalam tradisi ini dan merupakan generasi keempat penerus resep bubur peca.

“Rasanya seperti ada kebahagiaan tersendiri ketika saya memasak bubur peca di sini. Karena untuk dibagi-bagikan juga, untuk orang berbuka puasa,” ujarnya ketika ditemui, Sabtu (21/2/2026).

Setiap hari, tim memasak 25 kilogram beras atau sekitar 300 piring bubur. Jumlah itu bisa meningkat hingga 40 kilogram saat jamaah dari luar daerah datang. Dalam sehari, 18 kilogram bawang diolah, dengan proses memasak berlangsung sejak pukul 08.00 Wita dan distribusi dimulai selepas Dzuhur.

Pendanaan tradisi ini awalnya banyak dibantu oleh Haji Muhyar, tokoh masyarakat Samarinda Seberang, serta dukungan swadaya warga. Hingga kini, tradisi tersebut tetap bertahan berkat partisipasi jamaah dan komitmen pengurus masjid. (intan)

  • vb

  • Pengunjung

    1368437
    Users Today : 943
    Users Yesterday : 3520
    This Year : 304947
    Total Users : 1368437
    Total views : 12355874
    Who's Online : 40
    Your IP Address : 216.73.216.149
    Server Time : 2026-02-23