Pelakor dan Daya Tarik Hubungan Terlarang

December 27, 2025 by  
Filed under Berita

SAMARINDA — Belakangan ini media sosial dipenuhi dengan berita perceraian selebritas dan kisah rumah tangga yang kandas karena perselingkuhan. Tidak sekadar menjadi konten viral, fenomena ini menjadi cerminan konflik relasi lebih luas dalam masyarakat Indonesia terutama meningkatnya kasus perselingkuhan yang kemudian memicu perceraian.

Fenomena pelakor, istilah populer di Indonesia yang merujuk pada orang ketiga dalam hubungan yang sudah berkomitmen kian menjamur.

Berdasarkan survei aplikasi kencan JustDating, Indonesia menempati posisi kedua di Asia dengan angka perselingkuhan hingga sekitar 40 persen dari responden yang mengaku pernah berselingkuh. Angka ini hanya kalah dari Thailand yang mencapai sekitar 50 persen. Survei juga mencatat perselingkuhan paling banyak terjadi di usia dewasa muda, yakni kelompok 30–39 tahun (32%), disusul 19–29 tahun (28%), dan 40–49 tahun (24%).

Temuan lain dalam survei itu juga menunjukkan perempuan di Indonesia mengakui perselingkuhan lebih tinggi dibanding laki-laki, yang menunjukkan dinamika sosial dan budaya yang berubah dalam hubungan intim.

Meskipun sering dipandang sekadar masalah perilaku moral, riset psikologis menunjukkan perselingkuhan merupakan fenomena yang dipengaruhi banyak faktor, termasuk kepuasan hubungan, komunikasi, dan dinamika emosional pasangan.

Menurut studi akademis, adanya hubungan antara tingkat kepuasan dalam hubungan dengan kecenderungan perselingkuhan. Ketidakpuasan emosional atau seksual menjadi salah satu faktor risiko yang signifikan.

Namun, penting untuk dicatat, pelaku perselingkuhan bukan sekadar “orang dengan gangguan kepribadian seperti NPD (narcissistic personality disorder) atau psikopat” secara otomatis. Hubungan antara kepribadian patologis dan infidelity memang pernah diteliti di beberapa studi psikologi, yang menunjukkan narsisisme dapat dikaitkan dengan sikap yang lebih permisif terhadap perselingkuhan, tetapi bukan berarti setiap pelakor adalah psikopat.

Di sebuah video YouTube populer dari kanal Satu Persen, disebutkan dalam sebuah survei, banyak peserta terutama perempuan menilai pria yang sudah punya pasangan terasa lebih menarik dibanding yang masih single.

Logika responden adalah, “pria yang sudah punya pasangan terlihat lebih stabil, mapan, dan punya ‘track record’ hubungan yang jelas daripada pria single yang ‘belum jelas perilakunya’.” Ungkapan ini mencerminkan fenomena sosial di mana daya tarik itu terkait dengan status hubungan seseorang, bukan hanya pada kualitas pribadi semata.

“Mereka yang sudah berkomitmen tampak punya daya tarik emosional yang lebih dalam,” kata salah satu partisipan dalam diskusi kanal tersebut. “Sementara pria yang masih sendiri sering dipandang belum teruji dalam menjaga komitmen.”

Dampak perselingkuhan sangat luas, bukan hanya rumah tangga yang hancur, tetapi gangguan emosional, kecemasan, kepercayaan diri yang merosot, hingga trauma interpersonal bagi pasangan yang menjadi korban. (intan)

  • vb

  • Pengunjung

    1071312
    Users Today : 3729
    Users Yesterday : 4093
    This Year : 7822
    Total Users : 1071312
    Total views : 10551650
    Who's Online : 46
    Your IP Address : 216.73.216.188
    Server Time : 2026-01-02