Diperbudak Tren Sosmed

January 5, 2026 by  
Filed under Gaya Hidup

Media sosial kini tidak sekadar menjadi ruang berbagi informasi dan hiburan, tetapi juga membentuk pola pikir, gaya hidup, hingga tekanan sosial tersendiri bagi penggunanya. Tren yang silih berganti dengan cepat kerap membuat sebagian orang merasa “harus ikut”, sementara yang lain memilih menjaga jarak agar tidak terjebak dalam arus fear of missing out (FoMO).

Fenomena FoMO atau rasa takut tertinggal ini telah menjadi perhatian para peneliti. Penelitian yang dipublikasikan dalam International Journal of Business English and Communication menyebutkan, intensitas penggunaan media sosial memiliki hubungan signifikan dengan meningkatnya FoMO, terutama di kalangan mahasiswa. Pengguna cenderung lebih sering mengecek media sosial, membandingkan diri dengan orang lain, dan merasa cemas jika tidak mengikuti tren yang sedang ramai diperbincangkan.

Temuan serupa juga disampaikan dalam penelitian “Hubungan antara Intensitas Penggunaan Media Sosial dengan FoMO” yang dimuat di Character: Jurnal Penelitian Psikologi (Universitas Negeri Surabaya). Studi tersebut menunjukkan bahwa semakin tinggi frekuensi penggunaan media sosial, semakin besar kecenderungan individu mengalami FoMO, yang berdampak pada kondisi emosional dan fokus keseharian.

Bagi sebagian generasi muda, mengikuti tren dianggap sebagai bagian dari adaptasi sosial di era digital.

“Kalau saya tidak mengikuti tren, rasanya seperti ketinggalan zaman. Apalagi sekarang banyak obrolan dan isu yang berangkat dari media sosial,” ujar Dita (22), seorang gen z.

Menurut Dita, mengikuti tren tidak selalu berarti latah, selama dilakukan secara sadar dan selektif.

“Selama masih positif dan relevan, ikut tren itu membantu kita tetap nyambung dengan lingkungan sekitar,” katanya.

Pandangan ini sejalan dengan penelitian dalam Jurnal Audience: Jurnal Ilmu Komunikasi yang mengkaji fenomena FoMO di kalangan Gen Z pengguna TikTok. Studi tersebut menyebutkan, tren di media sosial sering menjadi sarana pembentukan identitas dan alat komunikasi sosial, sehingga ketidaktahuan terhadap tren dapat memunculkan rasa terasing dalam pergaulan.

Namun, tidak sedikit pula yang memilih mengambil jarak dari hiruk-pikuk tren media sosial demi menjaga kesehatan mental.

“Saya sempat merasa capek sendiri karena selalu merasa harus tahu tren terbaru. Lama-lama malah bikin stres,” ungkap Rio (25), seorang anak muda yang memilih untuk tidak mengikuti tren.

Rio mengaku mulai membatasi penggunaan media sosial setelah menyadari dampaknya terhadap produktivitas dan ketenangan pikirannya.

“Sekarang saya lebih pilih mana yang memang perlu diikuti. Tidak semua tren harus direspons,” tambahnya.

Pilihan Rio sejalan dengan penelitian yang dipublikasikan dalam Acta Psychologia, yang menyebutkan, FoMO berkontribusi terhadap penurunan kesejahteraan psikologis, seperti meningkatnya kecemasan dan tekanan sosial pada usia dewasa awal.

Dampak FoMO tidak berhenti pada tekanan psikologis. Penelitian dalam INSIGHT Jurnal Bimbingan Konseling menemukan adanya korelasi positif antara FoMO dan adiksi media sosial. Pengguna dengan tingkat FoMO tinggi cenderung menghabiskan waktu lebih lama di media sosial dan sulit mengendalikan kebiasaan daringnya.

Selain itu, studi yang dimuat dalam International Journal of Science and Society juga mengungkap, FoMO berpengaruh terhadap perilaku konsumtif, terutama pembelian impulsif yang dipicu oleh tren dan promosi di media sosial.

Fenomena “diperbudak tren sosmed” mencerminkan tantangan nyata di era digital. Tren bisa menjadi sarana ekspresi dan koneksi sosial, namun juga berpotensi menimbulkan tekanan jika diikuti tanpa kendali. (intan)

  • vb

  • Pengunjung

    1093487
    Users Today : 2068
    Users Yesterday : 4297
    This Year : 29997
    Total Users : 1093487
    Total views : 10709683
    Who's Online : 57
    Your IP Address : 216.73.216.88
    Server Time : 2026-01-07