Liburan Hemat Ala Gen Z di Tengah Keterbatasan Biaya

December 24, 2025 by  
Filed under Serba-Serbi

SAMARINDA – Di tengah tekanan ekonomi dan naiknya biaya hidup, generasi Z memilih cara yang lebih realistis dalam menghabiskan waktu liburan. Alih-alih bepergian jauh dengan anggaran besar, banyak anak muda justru mengadopsi konsep liburan hemat atau low budget traveling yang dinilai lebih adaptif dan sesuai dengan kondisi keuangan mereka.

Tren ini terlihat dari meningkatnya minat Gen Z terhadap liburan singkat di dalam kota, kunjungan ke ruang terbuka publik, hingga perjalanan bersama teman dengan sistem patungan. Bagi mereka, liburan tidak selalu soal destinasi mahal, melainkan pengalaman dan jeda sejenak dari rutinitas.

Salah satu mahasiswa di Samarinda, Ion (22), mengaku memilih liburan sederhana bersama teman-temannya karena keterbatasan biaya. Ia dan rekan-rekannya memanfaatkan waktu libur dengan piknik di ruang terbuka dan menjelajah kafe lokal.

“Kalau dipikir-pikir, yang penting itu kumpul dan suasananya. Kami lebih memilih tempat dekat, bawa bekal sendiri, dan atur pengeluaran bareng-bareng,” ujar Ion saat diwawancarai, Senin (23/12/2025).

Menurutnya, liburan hemat justru membuat perjalanan terasa lebih fleksibel dan tidak membebani secara finansial setelah liburan usai. Ia menyebut, kesadaran finansial menjadi salah satu pertimbangan utama Gen Z dalam merencanakan waktu libur.

Hal serupa juga dirasakan Adrizdan (23), pekerja lepas di bidang kreatif. Ia memilih melakukan liburan sederhana di rumah sambil membuat konten akhir tahun.
“Sekarang lagi banyak tren konten kilas akhir tahun. Jadi sambil liburan di rumah, aku bisa refleksi setahun ke belakang dan tetap produktif,” katanya.

Fenomena ini sejalan dengan kebiasaan Gen Z di media sosial yang kerap membagikan momen liburan sederhana, seperti foto perjalanan singkat, dump kenangan setahun, hingga ringkasan pencapaian pribadi. Liburan tidak lagi ditampilkan sebagai simbol kemewahan, melainkan sebagai ruang refleksi dan pemulihan diri. (intan)

Gen Z dan Budaya “Second Account” di Instagram

December 18, 2025 by  
Filed under Serba-Serbi

SAMARINDA — Generasi Z kian akrab dengan praktik penggunaan second account atau akun kedua di Instagram. Akun ini umumnya bersifat privat, dengan jumlah pengikut terbatas, dan dimanfaatkan sebagai ruang aman untuk mengekspresikan diri secara lebih jujur di tengah tekanan citra ideal di media sosial.

Fenomena ini bukan sekadar tren, melainkan bagian dari strategi sosial generasi muda dalam mengelola identitas digital. Jurnal Journal of Computer-Mediated Communication (JCMC) mencatat, penggunaan akun kedua muncul sebagai respons atas fenomena context collapse, yakni situasi ketika berbagai lapisan audiens, keluarga, teman, rekan kerja, hingga publik luas berkumpul dalam satu ruang digital yang sama. Kondisi ini membuat pengguna merasa perlu memisahkan konteks komunikasi mereka.

Sementara itu, melansir laporan Teens, Social Media and Technology dari Pew Research Center, mayoritas remaja dan dewasa muda saat ini semakin sadar akan isu privasi di media sosial. Kesadaran tersebut mendorong mereka untuk lebih selektif dalam membagikan konten, termasuk dengan membuat lebih dari satu akun untuk tujuan berbeda.

Di Indonesia, sejumlah penelitian lokal juga menunjukkan kecenderungan serupa. Studi tentang penggunaan second account di kalangan Gen Z menemukan, akun kedua digunakan sebagai ruang eksplorasi identitas, tempat berbagi keluh kesah, humor personal, hingga ekspresi emosional yang tidak ingin ditampilkan di akun utama.

“Satu akun memang untuk personal branding, sedangkan second account untuk bisa lebih bebas berekspresi. Dan tentunya follower yang aku izinkan juga terbatas, hanya orang-orang terdekat saja,” ujar Salamah, pengguna Instagram dari kalangan Gen Z.

Menurut Salamah, akun utama menuntut konsistensi citra dan estetika karena dapat diakses oleh banyak pihak dengan latar belakang berbeda. Sebaliknya, akun kedua memberi rasa aman karena audiensnya sudah memahami konteks personal yang ia miliki.

Pew Research Center menegaskan, literasi digital menjadi kunci penting dalam menghadapi dinamika ini. Pemahaman tentang privasi, kontrol audiens, serta dampak psikologis media sosial dinilai perlu diperkuat, baik di lingkungan keluarga maupun pendidikan. (intan)

Gen Z Kian Andalkan QRIS

December 16, 2025 by  
Filed under Gaya Hidup

SAMARINDA — Sistem pembayaran berbasis QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard) kian melekat dalam keseharian Generasi Z. Kelompok usia muda ini memandang metode pembayaran scan sebagai solusi transaksi yang praktis, cepat, dan sejalan dengan pola hidup digital yang serba instan.

Berdasarkan data Bank Indonesia, hingga Semester I 2025, jumlah pengguna QRIS telah mencapai 57 juta orang dengan cakupan 39,3 juta merchant di seluruh Indonesia. Sepanjang periode tersebut, volume transaksi tercatat menembus 6,05 miliar kali dengan nilai akumulasi sebesar Rp579 triliun. Angka ini disampaikan BI melalui laporan resmi kinerja sistem pembayaran yang dirilis pertengahan Juli 2025.

Tingginya adopsi QRIS di kalangan Gen Z juga diperkuat oleh hasil kajian akademik. Studi yang dipublikasikan melalui arXiv pada 2025 menunjukkan bahwa kemudahan penggunaan, manfaat langsung yang dirasakan, serta tingkat kepercayaan terhadap keamanan sistem menjadi faktor utama yang mendorong generasi muda memilih QRIS. Dukungan regulasi dari otoritas terkait turut memperkuat kepercayaan pengguna.

“Sekarang hampir semua transaksi pakai QRIS. Tinggal scan, selesai. Lebih simpel dan gak ribet bawa uang tunai,” kata Syifa (18).

Ia menambahkan, QRIS memudahkan pengelolaan keuangan karena riwayat transaksi tercatat langsung di aplikasi. “Mau nongkrong, bayar ojek, sampai jajan kecil, QRIS selalu kepakai,” ujarnya.

Dari sisi pertumbuhan transaksi, IDX Channel mencatat nilai transaksi QRIS sepanjang paruh pertama 2025 mengalami peningkatan signifikan dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Tren ini menandakan QRIS semakin menguat sebagai pilihan utama, khususnya di kalangan anak muda dan pelaku usaha skala kecil.

Sementara itu, laporan konsumen digital nasional 2024–2025 menunjukkan bahwa Gen Z cenderung memilih metode pembayaran instan untuk kebutuhan sehari-hari, mulai dari split bill, donasi, hingga transaksi bernilai kecil seperti minuman, transportasi, dan jajan harian. Fitur tambahan berupa promo, cashback, serta integrasi dengan dompet digital turut memperkuat daya tarik QRIS.

Meski pertumbuhannya pesat, penggunaan QRIS masih menyisakan tantangan. Penelitian arXiv 2025 mencatat, literasi keuangan digital belum merata, terutama di kalangan pelaku UMKM. Pendampingan dinilai penting agar penggunaan QRIS tidak hanya sebatas pemasangan kode, tetapi juga diiringi pemahaman pengelolaan dan pemanfaatan sistem pembayaran digital secara optimal. (intan)

  • vb

  • Pengunjung

    1105051
    Users Today : 1416
    Users Yesterday : 4433
    This Year : 41561
    Total Users : 1105051
    Total views : 10808797
    Who's Online : 60
    Your IP Address : 216.73.216.135
    Server Time : 2026-01-10