Tahun Baru ke Kotabaru

January 6, 2026 by  
Filed under Opini

Catatan Rizal Effendi

TAHUN baru ke Kotabaru. Itu yang saya lakukan di penghujung tahun 2025 dan menyambut tahun baru 2026. Kotabaru yang saya maksud adalah kabupaten di Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel), yang dikenal dengan wisata alamnya yang eksotik.

Nama Kotabaru memang banyak. Selain di Kalsel, ada juga nama Kota Baru Parahyangan. Ini kota mandiri di Bandung dengan konsep garden city dan budaya Sunda.  Ada juga Kecamatan Kotabaru di Karawang yang berbatasan dengan Purwakarta.  Atau Kelurahan Kotabaru di Bekasi.

SJA mengajak kita wisata di Puncak Meranti

Saya datang ke Kotabaru bersama Pak Ali Noer dan Pak Zen. Teman akrab. Kami memenuhi ajakan Pak Sayed Jafar Alaydrus (SJA), mantan bupati Kotabaru dua periode (2016-2025), yang sekarang dipercaya menjadi ketua DPD Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura) Kalsel.

Meski lahir di Kotabaru, SJA juga saya anggap orang Balikpapan. Dia tinggal di Kampung Baru, Balikpapan Barat. Usahanya juga dirintis di Balikpapan. Minyak, SPBU, kapal penyeberangan (feri), galangan kapal dan lainnya. Malah dia sempat terpilih jadi Wakil Ketua Kadin dan Hiswana Migas. Nasabah premium Bankaltimtara. Jadi kesannya dia punya “dua kewarganegaraan.” Ya orang Kotabaru, ya juga orang Kampung Baru.

Kata saya, jika nanti ada pemekaran provinsi baru gabungan kabupaten/kota dari Kalsel dan Kaltim, maka pantas SJA jadi gubernurnya. Soalnya ada terdengar wacana pembentukan Provinsi Kalimantan Tenggara (Kalgara). Bisa jadi gabungan Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) dan Paser dari Kaltim, dengan Kotabaru, Tabalong dan Barito Utara dari Kalsel.  Bisa juga tambah Kutai Barat (Kubar) dari Kaltim atau Batulicin, Tanah Bumbu dari Kalsel.

Sejak kecil saya ingat ada lagu terkenal dengan baitnya “Kotabaru Gunungnya Bamega.” Judul lagunya “Paris Barantai.” Karya seniman orang Banjar H Anang Ardiansyah. Menggambarkan keindahan alam Kotabaru, khususnya Gunung Sebatung yang selalu diselimuti awan atau mega serta tentang kerinduan pada kampung halaman.

Meski sudah lama mengenal lagunya, terus terang saya baru dua kali ke sana. Maklum terbilang jauh. Jarak Balikpapan ke Kotabaru 348 km. Ditempuh lewat darat sekitar 8 sampai 9 jam. Lalu menyeberang dengan kapal feri milik SJA sekitar 30 menit.

Dari Kotabaru ke Banjarmasin juga masih jauh. Ditempuh 6 jam dengan jarak 261 km. Lewat Kandangan dan Batulicin. Sedang dari Kotabaru ke Banjarbaru, ibu kota Kalsel yang baru ditempuh 5 jam dengan jarak 229 km.

Kemarin saya ke Kotabaru lewat jalan tol Ibu Kota Nusantara (IKN). Jalan tol itu dibuka khusus untuk menyambut tahun baru. Jadi langsung padat. Seperti tol di Jakarta. Ada yang mau berlibur ke IKN, ada juga yang mau ke Kalsel. Kebetulan di Martapura lagi digelar hajatan Haul Guru Ijai atau Guru Sekumpul yang dihadiri jutaan jamaah termasuk dari Kaltim.

Zaman dulu Kotabaru pernah dipinjam Raja Gowa sebagai tempat berdagang. Itu sebabnya penduduk Kotabaru sebagian berdarah Sulawesi. Jadi di Kotabaru selain dihuni orang Banjar, banyak juga orang Bugisnya. Tak heran kalau coto makassar dan makanan Bugis lainnya banyak di Kotabaru.

Luas wilayah Kotabaru 9.442,46 km2 dengan penduduk sekitar 350 ribu jiwa. Sebagian memiliki mata pencaharian sebagai nelayan laut. Banyak ikan yang dijual di Balikpapan berasal dari  Kotabaru. Sekarang banyak juga warga Kotabaru jadi petani sawit.

Kotabaru agak beda dengan kabupaten lainnya di Kalsel. Karena letaknya di pulau. Makanya disebut Pulau Laut. Bayangkan Kabupaten Kotabaru memiliki 110 pulau. Betapa menantangnya jadi bupati di sini. Di kabupaten ini ada kota gaib modern yang diberi nama Kota Saranjana. Katanya dihuni bangsa jin. Ada filmnya. Apa benar ceritanya? Wallahualam.

LIHAT “APARTEMEN KEPITING”

Meski bukan bupati lagi, Sayed Jafar sangat dicintai warga dan mantan stafnya di pemerintahan. Dia sudah beberapa bulan meninggalkan Kotabaru, karena itu kehadirannya menjelang pergantian tahun disambut begitu ramai dan hangat.

Ada mantan camat jauh-jauh datang hanya untuk membawakan sebotol madu asli. Ada ustaz atau guru yang sangat memujinya.  “Rasanya hanya beliau (SJA) dari semua bupati Kotabaru yang berani datang ke semua wilayah Kotabaru,” kata guru Rapiansyah.

Menurut Alinoer, SJA selain kuat fisiknya, juga punya nyali besar. Tak ada pelosok di Kotabaru yang tidak dikunjunginya. Tak bisa naik mobil, dia naik motor. Juga naik kapal atau speedboat. “Saya pernah naik speedboat malam hari tak ada lampunya. Pak Bupati tenang saja. Malah dia yang mengemudi,” ujar Alinoer.

Banyak terobosan pembangunan yang dilakukan SJA terutama untuk menjadikan Kotabaru benar-benar jadi kota wisata. Ada Pantai Gedambaan, Siring Laut, Bukit Mamake Sarang Tiung, Wisata Puncak Meranti sampai pengembangan olahraga paralayang dan motocross kelas dunia. Dia sempat merancang lapangan golf, sayang belum terwujud. Itu juga salah satu hobinya.

Dalam acara menyambut tahun baru 2026, SJA memboyong pengurus dan kader Hanura dari Banjarmasin. Ada 80-an orang. Mereka menikmati alam Kotabaru. Ada yang diajak main jetski, salah satu olahraga kesukaan SJA. “Kita optimis Hanura Kalsel pada Pemilu 2029 nanti berjaya di Tanah Banjar,” kata Sekretaris DPD Hanura Kalsel, Hj Syarifah Santiyansyah, SH, M.Si, yang juga adik kandung SJA.

Sebelum pulang ke Balikpapan, persis 1 Januari 2026, kami sempat diajak Pak Sayed melihat tambak kepiting milik Pak Haji Kaspul. Kepitingnya ada yang dipelihara di tambak, ada juga yang dipelihara di dalam bangunan. “Ini namanya apartemen kepiting,” kata Haji Kaspul tersenyum.

Dia memelihara dan membesarkan kepiting bakau. Awalnya dia beli anakan atau kepiting muda hasil tangkapan nelayan. Lalu dia masukkan dalam jerikuen putih ukuran 20 liter yang ditumpuk-tumpuk seperti apartemen. Tiap jeriken berhubungan dengan jeriken lain dengan pipa air. Tiap satu jeriken, diisi satu kepiting. Tidak bisa dua atau lebih karena akan berkelahi.

Menurut Kaspul, kepiting itu harus bersih dan lengkap capitnya. Kalau ada satu capitnya patah, maka sudah tidak berharga lagi. Padahal harga satu kepiting itu antara seratus sampai 200 ribu rupiah. Harga satu kilonya sekitar Rp350 ribu. Satu kilo itu kira-kira isinya hanya 2 kepiting.

Mendekati Imlek, pemeliharaan kepiting semakin diintensifkan. Karena harganya naik sampai dua kali lipat. Bayangkan 1 kilo kepiting mencapai Rp500 sampai Rp600 ribu. Apalagi yang bertelur. Apa tidak hoki alias cuan?

Selesai melihat tambak, kami diajak pesta kepiting yang disiapkan istri H Kaspul, Hj Andi Kurnia. Dulu dia anggota DPRD Kotabaru dari PPP. Sekarang menjadi kader Hanura. Kami disuguhi hidangan masakan kepiting dengan segala rasa. Ada yang cuma direbus saja, ada yang dimasak santan, dan ada juga dimasak asam manis. Terakhir ditutup dengan hidangan coto Makassar dan cendol. Lengkap sudah kolesterolnya.

SJA tak mungkin lagi jadi bupati Kotabaru. Saya dengar dia menyiapkan putranya, Sayed Sultan Yasin Alaydrus yang  didorong meneruskan garis politiknya di kota ini. Dia juga kader Hanura dan sering tampil di tengah masyarakat. Sangat bersahaja dan potensial.

SJA sendiri juga punya banyak rencana. Mungkin 2029 nanti, dia mencalonkan diri menjadi  anggota DPR RI atau bisa jadi ikut Pilgub. Selain terus mengembangkan usahanya di Kalsel dan Kaltim. “Kita harus terus maju memperjuangkan hati nurani rakyat,” katanya bersemangat.(*)

  • vb

  • Pengunjung

    1098587
    Users Today : 3506
    Users Yesterday : 3662
    This Year : 35097
    Total Users : 1098587
    Total views : 10759075
    Who's Online : 53
    Your IP Address : 216.73.216.135
    Server Time : 2026-01-08